
"Mas mau kemana?" Tania dengan cepat menghalangi langkah Bara ketika melihat tanda-tanda suaminya itu hendak keluar lagi setelah selesai mandi.
Bara sama sekali tidak menjawab. Pria itu hanya menatap Tania penuh intimidasi, memberikan isyarat agar wanita itu segera menyingkir dari hadapannya.
Melihat Tania yang belum juga berpindah dari depannya, tangan Bara terulur menyentuh lengan Tania dan dengan cepat menyingkirkan tubuh wanita itu ke samping dan langsung membuka pintu.
"Mas, kenapa tidak mau jawab? kamu mau kemana?" pekik Tania sembari menyusul Bara keluar, tidak peduli dengan pada penampilannya yang bisa terbilang seksi.
Bara sontak menghentikan langkahnya dan kembali berbalik dengan sorot mata yang menatap Tania dari atas sampai ke bawah. Penampilan yang memang sangat seksi dan sering diperlihatkan oleh istrinya itu,tapi sama sekali tidak bisa membuatnya berkeinginan untuk menyentuh wanita itu.
"Kamu jangan mengikutiku! malam ini aku mau tidur di kamar Bimo," sahut Bara santai tanpa ada beban sedikitpun.
"Apa? kamu mau tidur di kamar anak itu? kamu mau tidur di kamarnya kalau dia meminta, tapi coba kalau Tristan yang minta,apa kamu pernah mau? Harus berapa kali aku mengingatkanmu, kalau anak kandungmu itu Tristan, bukan Anak yang tidak tahu asal usulnya itu," Tania terlihat benar-benar meradang dan sangat emosional. Bahkan Napasnya sudah terlihat memburu.
Bara menatap sinis ke arah Tania dan memutar tubuhnya kembali, memutuskan untuk tidak memperdulikan keberatan yang diajukan wanita itu.
"Mas,kamu dengar aku nggak sih?" Tania menghentak-hentakkan kakinya, kesal dan Bara tetap tidak peduli. Pria itu tetap melangkahkan kakinya tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Arghhh, benar-benar brengsek!" pekik Tania sembari mengacak-acak rambutnya, hingga berantakan. Kemudian dia bukannya kembali masuk ke dalam kamar, malah turun ke bawah menuju lokasi lokasi kolam renang. Wanita itu kemudian menghempaskan tubuhnya duduk di atas dipan di dekat kolam renang.
Wanita itu menyenderkan tubuhnya dan kakinya berselonjor ke depan. Mata wanita itu tampak penuh dengan amarah, karena merasa tidak sangat berharga di mata Bara.
"Sayang, kenapa kamu malam-malam begini ada di sini?" seorang pria yang tidak lain adalah Dito tiba-tiba muncul dan duduk di dekat kaki Tania.
Tania sontak kaget melihat kemunculan Dito. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk memastikan ada tidaknya orang lain di sekitar mereka.
"Dito,kamu kenapa sih suka muncul tiba-tiba? kamu mau hubungan kita ketahuan?" ucap Tania dengan suara pelan tapi penuh tekanan.
Dito tersenyum mendengar ucapan kekesalan Tania. "Habisnya, sejauh apapun keberadaanmu, aroma tubuhmu selalu bisa aku cium, sehingga aku selalu tahu kamu ada di mana. Salah siapa buat aku candu," Dito mengerlingkan matanya, menggoda.
"Tapi, kamu harus tetap hati-hati. Jangan gegabah. Kalau kamu begini terus, bisa-bisa rencana kita untuk menguasai kekayaan keluarga Prayoga gagal," Tania mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Kamu tenang saja, Sayang. Jam segini pasti semua sudah pada tidur. Aku sudah memastikan hal itu," ucap Dito, dengan sangat yakin.
" Oh ya, kamu tahu tidak, penampilanmu sekarang, benar-benar memancingku. Aku sudah benar-benar merindukan tubuhmu. Apa kamu tidak ingin memberikan Tristan adik? aku rasa kamu harus berhenti mengkonsumsi pil KB,supaya Tristan punya adik," imbuh Dito kembali.
Plakkk
tangan Tania melayang memukul kepala supir pribadi sekaligus kekasih gelapnya itu.
"Kamu kalau bicara, tolong dipikir lebih dulu! kalau aku tiba-tiba hamil, semuanya pasti curiga, karena Bara tidak pernah menyentuhku sama sekali. Kalau kita mencelakainya lagi seperti dulu, ketika aku hamil Tristan, aku rasa cara seperti itu tidak akan berhasil lagi. Kalau ingatannya makin parah, nggak pa-pa,tapi bagaimana kalau ingatannya tiba-tiba pulih? bisa-bisa ketahuan kan kalau Tristan juga bukan anak kandungnya,tapi anakmu. Rencana kita akan benar-benar gagal Dito. Bukan hanya gagal,kita bisa dimasukkan ke dalam penjara," Tania berhenti berbicara sejenak untuk mengambil jeda, sekaligus untuk kembali melihat keadaan sekitar.
"Lagian, siapa lagi yang akan kita fitnah, membuat Bara celaka? si Jamal dulu sudah berhasil kita fitnah dan mendekam di dalam penjara. Sekarang apa Jono, supir baru itu juga harus kita fitnah? sudahlah, lupakan niatmu, mau memberikan Tristan adik lagi!" lanjut Tania lagi setelah merasa keadaan sekitar benar-benar aman.
Ya, kecelakaan yang membuat Bara lupa ingatan dulu adalah hasil perbuatan Tania dan Dito. Itu karena, Tania saat itu sedang hamil, sementara Bara sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Tania ingin sekali menggugurkan, tapi Dito melarang keras karena bagaimanapun anak yang ada di rahim Tania itu adalah anaknya. Saat itu Dito mengancam akan memberitahukan hubungan mereka jika Tania nekad menggugurkan kandungannya.
Karena tidak ada jalan lain, mereka akhirnya berencana untuk melenyapkan Bara. Dengan membuat rem mobil Bara blong saat pria itu akan berangkat ke luar kota menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Jamal, supir pribadi Bara.
Tujuan mereka hanya satu,Bara meninggal dan Tania akan memainkan aktingnya, sedang hamil anaknya Bara. Sehingga nanti anak yang dikandungnya merupakan penerus satu-satunya keluarga Prayoga.
"Kenapa sih wanita secantik dan seseksi kamu sanggup dia anggurin? sedangkan aku, kamu berpakaian biasa pun tetap bisa membuatku ingin memakanmu! aku rasa Bara memang benar-benar impoten, seperti yang kamu katakan. Buktinya istri yang diceraikannya dulu juga kan tidak hamil saat itu. Jangan-jangan selama pernikahan mereka yang dua bulan itu,Bara juga belum pernah menyentuhnya dan berusaha membuat alibi untuk tidak menyentuh wanita itu," ucap Dito panjang lebar dengan menyelipkan sebuah nada mengejek.
Tania tertawa kecil dan mengangguk-anggukan kepalanya. "Mungkin juga sih? tapi kalau dia impoten, dia pasti akan menyangkal dong kalau Tristan anaknya? berarti dia tidak impoten dan sudah melakukan hal itu dengan wanita itu. Hanya saja memang kebetulan saja wanita itu belum hamil saat itu. Karena kalau dia sudah hamil, pasti saat itu dia akan menolak bercerai dengan Bara, iya kan?" kedua orang itu sibuk menduga-duga.
"Sudahlah, kita jangan membicarapkan dia lagi! benar-benar membuat moodku hancur," Tania memindahkan kakinya menginjak lantai dan berdiri hendak berlalu pergi.
Pergerakan wanita itu sontak kembali memancing libido Dito. Apalagi pakaian yang dipakai Tania benar-benar sangat tipis memperlihatkan pakaian dalam wanita itu dengan sangat jelas.
"Sayang, apa kamu benar-benar akan pergi begitu saja?" Dito yang sudah tidak bisa menahan diri lagi memeluk tubuh Tania dari belakang dan memberikan kecupan-kecupan di caruk leher dan di pundak wanita itu.
"D-Dito, jangan pancing aku! ingat kita berada di mana," Tania kini menggelinjang, karena wanita itu sudah mulai terpancing.
"Kita ke paviliunku saja. Aku yakin tidak akan ada yang melihat. Ayo!" Dito menarik tangan Tania yang akhirnya pasrah saja karena dirinya menyadari kalau tubuhnya sangat membutuhkan hal itu sekarang.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mendengar semua pembicaraan mereka, dan melihat apa yang mereka lakukan.
Sementara itu,di sebuah kamar tampak Bima yang sebenarnya memaksa dirinya untuk tidak tidur lebih dulu sebelum papanya tidur, dikarenakan tidak ingin kehilangan momen, bergerak turun dari ranjang dan melihat ke arah papanya yang tampak sudah terlelap.
"Papa mungkin sangat lelah hari ini, makanya bisa secepat itu tidur," batin Bima menatap dalam-dalam wajah Bara.
Kemudian anak kecil itu meraih ponselnya karena tadi sempat berbunyi pertanda ada pesan yang masuk.
Bima mengreyitkan keningnya, melihat siapa pengirim pesan itu. Kemudian anak kecil itu pun sedikit menjauh dari Bara dan membukanya.
Tbc
Kim Kang Hoon as Bima and Bimo
Bima
Bimo
Yoona as Clara
Jho Chang Wook as Bara
__ADS_1