
Karena perasaan Clara campur aduk antara bahagia dan merasa bersalah pada istri Bara, wanita itu memutuskan untuk menutup tokonya dengan cepat dan langsung pulang. Sebelum dia menutup tokonya, dia lebih dulu meminta Bimo untuk pulang lebih dulu, agar bisa tiba di rumah dengan waktu yang tidak terlalu jauh berbeda, karena mau tidak mau anaknya itu harus pulang menggunakan sepedanya.
Setelah tiba di depan rumah, Clara langsung turun dari atas motor dengan dua buket bunga yang dia taruh di depannya. Sementara Bimo menyusul dengan sepedanya.
Di teras rumah, tampak seorang wanita cantik yang langsung berdiri dan menghampiri Clara. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Arumi. Di tangan wanita itu ada sekotak kue yang bisa dipastikan kalau itu adalah kue ulang tahun untuk Clara.
"Arumi, sejak kapan kamu di sini? kenapa tidak menghubungiku?" sapa Clara sembari meraih dua buket bunga itu dari motornya.
Sementara itu, Bimo juga langsung menghampiri Arumi dan mencium punggung tangan wanita itu.
"Aku tadi sudah menghubungimu, tapi tidak kamu jawab, karena mungkin kamu lagi di jalan," mata Arumi teralih ke arah bunga yang ada di tangan Clara. "Itu bunga dari siapa?" tanya Arumi dengan alis bertaut.
"Oh ini? ini dari mantan suamiku. Tadi dia datang ke toko dan membelikan bunga ini sebagai hadiah ulang tahun," sahut Clara sembari melangkah untuk membuka pintu.
Arumi tersentak kaget, saking kagetnya, langkah wanita itu langsung terhenti.
Langkah Clara juga sontak terhenti dan menoleh dengan mata yang memicing
"Kenapa kamu berhenti? ayo masuk!" Clara membuka pintu lebar-lebar.
"Bunga itu dari mantan suamimu, apa selama ini kamu masih menjalin hubungan dengannya?" tanya Arumi dengan kening yang sedikit naik ke atas, curiga.
"Emm aku__"
"Ya ampun, Clara. Bagaimana bisa kamu masih berhubungan dengan mantan suamimu? katamu kamu tidak lagi pernah bertemu dengannya, tapi ternyata kalian berdua diam-diam masih berhubungan. Sadar, Clara Sadar! dia itu sudah beristri, jangan jadi orang ketiga yang bisa merusak rumah tangganya. Kasihan istrinya, Clara!" tanpa menunggu Clara selesai bicara, Arumi sudah lebih dulu mencerocos tidak jelas.
"Apaan sih, Rumi! aku belum selesai bicara, tapi kamu sudah main nyambar saja! aku sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan mantan suamiku itu!" nada suara Clara terdengar kesal.
__ADS_1
"Jadi, ini apa?" Arumi menunjuk ke arah dua buket bunga di tangan Clara.
"Kamu tunggu aku selesai bicara dulu Rumi! aku tekankan sekali lagi, kalau aku dan mantan suamiku sama sekali tidak punya hubungan. Hari ini adalah hari pertama aku bertemu dengannya setelah 7 tahun ini, dan aku juga kaget kenapa dia bisa datang ke tokoku," terang Clara dengan raut wajah serius dan melangkah masuk ke dalam rumah disusul oleh Arumi. Sementara Bimo sudah lebih dulu masuk tadi.
"Jadi kenapa kamu menerima bunga pemberiannya? harusnya kamu menolak, Clara. Kalau kamu menerimanya, takutnya dia merasa kalau kamu masih memberikan harapan padanya untuk bisa kembali bersama. Dan kamu tahu kan apa akibatnya? yang ada kamu sudah memberikan penderitaan pada wanita lain," ucap Arumi lagi panjang lebar tanpa jeda.
Clara tidak langsung memberikan tanggapan atas ucapan Arumi. Ia justru menarik napas dalam-dalam lebih dulu dan mengembuskannya kembali ke udara. Kemudian, dia menceritakan bagaimana bunga itu bisa ada di tangannya.
"Oh, seperti itu?" Arumi mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti.
"Waduh, kalau begitu bisa bahaya juga, Cla! itu berarti dia masih sangat mencintaimu dan berharap kamu kembali lagi padanya. Apalagi setelah dia tahu kalau ternyata kamu belum menikah. Bisa jadi, dia akan semakin gencar untuk mendengarkan hati kamu lagi. Jadi, jalan satu-satunya kamu harus membuka hatimu pada Kak Theo. Supaya mantan suamimu itu, menyadari kalau kamu itu bukan takdirnya lagi dan dia bisa mencintai istrinya dengan tulus. Karena kasihan istrinya itu, Cla kalau suaminya masih mencintai wanita lain. Coba tarik ke dirimu sendiri kalau itu terjadi padamu, rasanya pasti sakit kan?" lagi-lagi Arumi berbicara panjang lebar tanpa jeda dan berapi-api, berusaha merubah pikiran sahabatnya itu agar mau membuka hati pada Theo,kakak sepupunya. Menurutnya, ini adalah kesempatan bagus untuk membujuk sahabatnya itu.
Clara sontak bergeming mendengar ucapan panjang lebar dari Arumi. Wanita itu terdiam untuk beberapa saat karena menurutnya ucapan sahabatnya itu ada benarnya juga.
"Tapi, Rumi aku tidak memiliki perasaan apapun pada Kak Theo. Kalau aku mau menikah dengannya, kasihan dia nantinya" ucap Clara dengan nada lirih.
"Cla, rasa cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Aku yakin, kamu akan bisa cepat mencintai Theo kalau kamu sudah hidup bersama dengannya. Percaya deh padaku! anggap saja kamu melakukan hal ini demi supaya mantan suamimu itu bisa tulus pada istrinya yang sudah setia mendampinginya selama ini. Selain itu, anggap juga kamu melakukannya demi Bima yang pasti merindukan kasih sayang seorang ayah," lagi-lagi Arumi berusaha untuk meyakinkan Clara, karena menurutnya baru kalo ini sahabatnya itu antusias mendengarkannya.
"Bohong kalau aku tidak merindukan sosok seorang ayah, tapi aku tidak mau membuat mama menikah lagi hanya karena alasannya, supaya aku senang. Asal Tante tahu, yang paling membuat aku bahagia adalah melihat mamaku bahagia dengan pria yang dicintainya bukan karena demi aku! sekarang lebih baik Tante, memikirkan jodoh untuk Tante sendiri! " imbuh Bimo lagi dengan nada tegas.
Arumi seketika tercengang, terkesiap kaget mendengar ucapan Bimo. Hal yang membuat wanita itu kaget adalah tatapan mata anak itu yang tanpa sadar mengingatkannya pada tatapan seseorang.
"Bimo, jangan bicara seperti itu sama Tante Arumi. Itu benar-benar tidak sopan, Nak!" tegur Clara.
Kekagetan Arumi sudah mereda. Wanita itu sontak tersenyum dan mendekati Bimo.
"Maaf, kalau Tante membawa-bawa namamu! Tante hanya mau yang terbaik buat mamamu, Sayang!" Arumi mengusap-usap kepala Bimo dengan lembut dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Dari mana Tante tahu, kalau Om Theo yang terbaik untuk mamaku? Apa Tante bisa mempertanggungjawabkannya?" sorot mata Bimo semakin membuat Arumi mengingat pemilik wajah yang memiliki tatapan seperti anak kecil di depannya itu.
"Apa menurutmu, Om Theo tidak baik?" tanya Arumi balik.
"Aku tidak mengatakan kalau Om Theo orang yang jahat. Dia baik, aku tahu dan aku juga yakin akan hal itu. Tapi, apa menurut Tante, kebaikan om Theo bisa membuat mamaku bahagia?" cecar Bimo yang membuat Arumi mati kutu.
Terdengar helaan napas berat dan panjang dari Clara, mendengar ucapan anaknya.
"Bima benar, Rum. Selain karena alasan yang diberikan oleh Bima tadi, aku juga tidak mau menikah dengan kak Theo, hanya karena ingin menghindari Mas Bara," Clara kembali buka suara.
"Tu-tunggu dulu! siapa tadi nama mantan suamimu?" tanya Arumi dengan mata yang membesar.
"Bara. Kenapa?"
"Apa dia Bara Eduardo Prayoga?" tanya Arumi lagi.
"I-iya dari mana kamu tahu?" Clara semakin terlihat kebingungan.
"Astaga! kenapa baru kamu kasih tahu kalau Bara itu mantan suamimu?" nada suara Arumi mulai meninggi. "Pantas saja Bima, bisa mirip dengannya. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?" imbuhnya lagi.
"Bagaimana aku mau kasih tahu, kamu tidak pernah tanya sama sekali. Emangnya kenapa sih?" desak Clara yang semakin terlihat penasaran.
"Karena istrinya Bara itu, Tania. Sepupuku yang licik dan penuh drama. Yang pernah aku ceritakan dulu. Dia sudah memfitnahku dan orang tuaku, pada Tante Elva, makanya sampai sekarang aku dan orangtuaku tidak pernah menginjak rumah mereka lagi,"
Mata Clara membesar, benar-benar kaget.
"Jadi, itu berarti kalau Tania, adiknya Kak Theo?" pekik Clara dan Arumi menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
__ADS_1
"Tunggu dulu! jadi cerita mereka kalau dia dan Mas Bara menikah dulu karena saling mencintai itu, bohong?"lanjut Clara lagi dan lagi-lagi Arumi menganggukkan kepala, mengiyakan.
Tbc