Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Beraninya kamu menantangku


__ADS_3

Tania yang merasa menang, apalagi begitu melihat Bara yang yang tidak membantah ucapan mamanya, dengan penuh percaya diri mengangkat kepalanya, dan melemparkan senyum manisnya pada Bara.


"Mas,maafkan aku ya! sumpah demi apapun, aku melakukan hal itu hanya ingin menarik perhatianmu, agar kamu menyadari kehadiranku dan anak kita Tristan,"ucap Tania sembari menyentuh lembut tangan Bara.


Bara tidak menanggapi ucapan Tania sama sekali. Pria itu dalam diamnya, justru menepis tangan Tania dan hendak beranjak keluar. Entah kenapa dia masih merasa kalau dia dan Tania sama sekali tidak pernah saling mencintai. Karena sekeras apapun dia mencoba mengingat, tetap bayangan kebersamaannya dengan Tania tidak pernah muncul. Padahal dia rutin minum obat karena benar-benar ingin ingatannya cepat kembali.


Baru langkahnya hendak mencapai pintu, tiba-tiba kepala Bara terasa pusing, hingga membuat pria itu terhuyung hampir jatuh. Beruntungnya sebelum dia jatuh, ada tangan Satya yang kebetulan baru tiba dan berniat menemui Bara, dengan sigap langsung menahan tubuh sahabatnya itu.


"Papa, kenapa?" tanya Bima yang kebetulan datang bersamaan dengan Satya.


Bara kemudian berusaha untuk berdiri tegak.


"Papa tidak apa-apa! papa hanya tiba-tiba merasa pusing saja," ucap Bara sembari tersenyum ke arah Bima.


Tania yang melihat sikap Bara yang masih memperlihatkan rasa sayangnya pada Bima, seketika menggertakan giginya merasa geram dengan perlakuan Bara itu.

__ADS_1


"Satya, bagaimana? apa postingan itu semua sudah di-takedown?" tanya Bara yang sepenuhnya masih belum tenang.


"Kata Adrian sudah! mudah-mudahan tidak ada yang menyimpan vide itu, sebelum di takedown. Karena memang postingan itu sudah banyak yang menyebarkannya," jelas Satya dengan lugas.


"Baiklah. Mudah-mudahan apa yang kamu katakan itu benar. Tapi bagaimana dengan perusahaan? apakah ada pengaruhnya?"


Satya tidak langsung menjawab dan terlihat sedikit berat hati untuk menyampaikan sesuatu.


"Emm, ada Bara. Ada beberapa investor yang menarik investasi mereka, karena katanya mereka tidak mau, bekerja sama dengan orang yang tidak bertanggung jawab pada keluarganya," tutur Satya dengan sangat hati-hati, karena dia yakin sahabatnya itu pasti sangat marah.


"Emm, hanya satu perusahaan yang besar, selainnya tidak terlalu. Tapi, perusahaan besar itu selalu mendatangkan keuntungan buat kita, tapi ya perusahaan kita juga tidak bisa dipungkiri kalau memberikan keuntungan lebih besar juga sih ke perusahaan itu,"Jelas Satya lagi.


Bara mengepalkan tangannya dengan sangat kencang, dan kembali menatap tajam ke arah Tania.


"M-Mas, Bara. Sekali lagi Maaf. Aku berjanji kalau nanti aku akan membuat klarifikasi agar perusahaan-perusahaan yang menarik investasinya itu bisa kembali menjalin kerjasama sama dengan perusahaanmu," ucap Tania, mencoba mengambil hati Bara.

__ADS_1


"Tidak perlu! Aku tidak membutuhkan bantuanmu untuk klarifikasi, karena bagiku itu tidak penting sama sekali. Kenapa? Karena aku juga tidak membutuhkan kerjasama dengan perusahaan yang bisa terpancing dengan hanya masalah seperti itu saja, tanpa melakukan penyelidikan lebih dulu," ucap Bara, di sela-sela rasa sakit di kepalanya.


Kemudian, Bara kembali menatap ke arah Satya. "Satya, kamu masukkan daftar perusahaan-perusahaan yang menarik investasinya itu, ke dalam daftar hitam perusahaan kita. Jadi, kalau mereka datang lagi untuk mengemis kerja sama, jangan diterima lagi!" titah Bara sembari beranjak pergi dan disusul oleh Satya.


Sebelum keluar dari kamar Bara, Bima lebih dulu menatap Tania dengan tatapan sangat tajam. "Kali ini, apa yang Tante lakukan sudah keterlaluan. Jangan salahkan aku, membuat Tante menyesal mendapatkan akibat dengan apa yang Tante lakukan hari ini," ucap Bima dengan nada dingin.


"Kamu mau mengancamku? silakan saja kalau kamu berani!" tantang Tania dengan sudut bibir tersenyum meremehkan.


Bima tersenyum smirk. "Baiklah! Tante yang menantang, aku akan terima tantanganmu! tunggu saja!" pungkas Bima, sembari melangkah pergi.


"Sialan! beraninya anak itu menantangku! belum tahu dia dengan siapa dia berhadapan," Tania menyeringai sinis.


"Sepertinya aku harus mendekati mama Elva lagi. Aku akan memainkan aktingku lagi dan meminta mama untuk meminta Bara, membuat surat warisan atas nama Tristan. Aku yakin pasti mama akan bersedia," Tania kembali tersenyum penuh muslihat.


tbc

__ADS_1


__ADS_2