Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Kamu harus hadir


__ADS_3

Tidak terasa Ayunda sudah berada di Indonesia selama satu bulan. Kalau boleh jujur, sebenarnya ingin sekali dia berkunjung ke rumah Bima,karena tidak bisa dipungkiri kalau dia sangat merindukan Clara mamanya pria itu. Tapi, lagi-lagi dia berpikir ulang untuk ke rumah itu, karena belum benar-benar yakin kalau dia nantinya akan sanggup menahan perasaannya ketika bertemu dengan Bima nanti atau tidak.


Untuk mengalihkan pikirannya, ia sudah mulai mengelola butiknya. Dari Game 'Ayu' makeover yang sering dimainkannya, benar-benar memberikan inspirasi untuk membuat design-design baru dan kekinian.


"Hallo, selamat datang di Ayu Fashion butik,ada yang bisa kami bantu, Nona?" terdengar suara karyawatinya menyapa dua orang wanita yang baru saja masuk ke dalam butik.


"Oh iya, Mbak! Kami mau mencari gaun yang cantik, mau dipakai buat reunian,"


"Oh, banyak, Nona. Sebelah sini!" karyawati itu menunjuk ke arah tempat di mana banyak gaun yang bergantungan.


Dua orang wanita itu, akhirnya melihat-lihat gaun yang memang benar-benar membuat mereka bingung memilih karena semuanya bagus.


"Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu? Mau nanya detail-detail designnya mungkin," melihat kalau dua wanita itu terlihat kebingungan, akhirnya Ayunda berinisiatif untuk mendekati kedua wanit itu.


"Oh iya, aku mau tanya yang ...." salah satu dari wanita itu menggatung ucapannya dan malah fokus melihat wajah Ayunda.


"Kamu Ayunda kan?" tanya wanita itu, dengan mata yang memicing.


"Iya, aku Ayunda," sahut Ayu, bingung.


"Ya, ampun Ayu! Kamu cantik sekali sekarang! Kamu tidak ingat aku?"


Ayunda memicingkan matanya berusaha mengingat sosok wanita di depannya itu.


Mata Ayunda sontak membesar begitu mengingat dua wanita yang ada di depannya itu. "Oh, aku ingat! Kalian berdua teman sekelasku di SMA. Kamu, Siska dan kamu Emma!" sorak Ayunda, tersenyum lebar


"Iya. Ternyata kamu ingat kami. Oh ya, ini butik kamu ya?" ucap Sisca


Ayu kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Wah, kamu hebat, bisa punya butik sebesar ini!" Emma juga buka suara, berdecak kagum sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.


"Ah, biasa aja. Aku rasa kalian juga hebat. Kita hebat dalam versi masing-masing," sahut Ayunda dengan senyum yang tidak pernah memudar.


"Oh ya, kalian tadi mau beli gaun kan? Mau acara apa biar aku pilihkan," lanjut Ayunda kembali, menghentikan basa-basi.

__ADS_1


"Oh, kebetulan kita bertemu di sini. Jadi sekalian saja kami mengundangmu, karena kamu tidak ada group kelas kita. Malam minggu nanti, alumni SMA kita semua jurusan akan ada reunian di sky hotel. Kamu datang ya? Ini undangannya," Sisca merogoh tasnya dan memberikan sebuah undangan mewah.


Ayunda menggigit bibirnya merasa enggan untuk menerima undangan itu, tapi dia tidak mau terlalu menampakkannya.


"Baiklah, akan aku usahakan untuk datang, kalau tidak ada halangan ya," pungkas Ayunda akhirnya.


"Ih, kamu harus datanglah! jarang-jarang lho, kita semua punya waktu untuk kumpul-kumpul!" celetuk Emma.


"Iya, aku pun sangat ingin datang, tapi aku tidak bisa prediksi, di hari itu aku ada hal penting yang harus dilakukan atau tidak. Tapi, kalau tidak ada akan aku usahakan untuk hadir,"


"Kamu harus hadirlah! Masa kamu tidak merindukan kami?" tiba-tiba dari arah pintu masuk, sudah berdiri Michelle dan Bimo di sampingnya.


Mata Ayunda membesar, terkesiap kaget melihat ke dua orang itu,apalagi ketika di awal dia mengira kalau yang datang bersama Michelle adalan Bima.


"Ka-kalian berdua kenapa bisa datang ke sini?" tanya Ayunda dengan suara yang gemetar.


Michelle dan Bimo tidak langsung menjawab, tapi Michelle malah menyapa Sisca dan Emma lebih dulu lalu berbasa-basi sebentar.


"Oh ya,Ayu, aku pilih yang ini saja dan Emma katanya suka yang ini. Bayarnya di mana?" ucap Sisca yang ternyata sudah menentukan pilihannya demikian juga Emma.


Untuk kalian berdua," Ayunda menunjuk ke arah meja kasir.


Kedua wanita itu sontak melangkah dengan wajah bahagia ketika mendengar diberikan potongan harga.


"Kalian berdua belum jawab pertanyaanku tadi. Kalian kok bisa tahu aku di sini?" ulang Ayunda setelah Siska dan Emma menjauh.


"Kami ke rumahmu, karena kami dengar kamu sudah pulang ke Indonesia. Tante Tiara memberikan alamat ini. Apa kamu tidak mau memelukku, Yu? Kamu tidak merindukanku?"


Ayunda yang sebenarnya sangat merindukan sahabatnya itu, tidak bisa menahan diri lagi untuk tidak memeluk sahabatnya itu.


"Apa kamu juga tidak mau memelukku?" celetuk Bimo, sembari merentangkan tangannya.


"Sayang, jangan usil boleh tidak!" Michelle menatap tajam ke arah Bimo.


"Maaf,Sayang. Kan tidak salah memeluku sahabat sendiri," sahut Bimo cengengesan.

__ADS_1


"Tu-tunggu dulu! Sayang? Kalian berdua ....". Ayunda menunjuk Michelle dan Bimo bergantian dengan raut wajah bingung.


"Iya, kami berdua pacaran dan mungkin sebentar lagi akan tunangan," Bimo menarik pinggang Michelle dan merangkul dengan erat.


"Ke-kenapa bisa? Bukannya ...." Ayunda menggantung ucapannya, karena mulutnya tiba-tiba terasa kelu untuk menyebut nama Bima.


"Kamu salah paham. Bima sama sekali tidak mencintaiku dan aku juga sama," tegas Michelle yang membuat Ayunda mengrenyitkan keningnya karena masih gagal paham, mengingat kalau dulu dia mendengar sendiri pengakuan pria itu.


Melihat raut wajah Ayunda yang masih kebingungan, akhirnya Michelle menceritakan semua yang terjadi. "Kami kesal padamu, yang pergi tanpa pamit pada kami. Kami datang ka rumah mu, hari itu untuk menjelaskan agar kamu tidak salah paham lagi, tapi Om Adrian bilang kamu sudah pergi ke luar negri, dan ketika kami tanya ke mana, Om Adrian tidak mau kasih tahu. Kami melacak ke bandara, namamu terdaftar dalam pesawat penerbangan menuju Amerika, tapi ternyata kamu tidak di sana, Ayu," tutur Michelle panjang lebar.


Ayunda sontak terdiam, ketika ingatannya kembali ke masa saat itu, di mana saat itu dia sama sekali tidak pergi ke mana-mana.


"Kenapa saat itu, Papa tidak cerita ya kalau aku sebenarnya salah paham? bahkan sampai hari ini papa belum juga menjelaskan yang sebenarnya, dan aku masih mengira kalau Bima dan Michelle yang menjalin hubungan sebagai kekasih, dan bodohnya aku, menganggap ketika melihat Bimo merangkul Michelle saat kejadian Viona dan Rini, itu hanya sebatas sahabat," batin Ayunda.


Kenapa kamu diam, Yu? Apa kamu tidak percaya?" Michelle kembali buka suara, mengembalikan kesadaran Ayu.


"Oh, tentu saja aku percaya," Ayunda akhirnya tersenyum lebar.


"Aduh, terima kasih, Yu. Akhirnya aku merasa sedikit tenang karena kesalahpahaman di antara kita sudah selesai," Michelle memgembuskan napas lega.


"Sekarang bagaimana kamu? Apa kamu sudah memiliki kekasih, atau masih sama seperti Bima yang masih sendiri?"


Deg


Jantung Ayunda seketika berdebar, mendengar kalau Bima masih sendiri.


"Kenapa kamu diam, Ayu? Kamu masih sendiri juga ya? Atau jangan-jangan perasaan kamu pada Bima belum juga berubah?" tukas Michelle, menggoda.


"Eh,si-siapa bilang? Aku sudah memiliki kekasih kok. Dan perasaanku pada Bima benar-benar sudah hilang," sangkal Ayunda.


"Ah, yang benar?" mata Michelle memicing, curiga.


"Iya,aku tidak bohong!" tegas Ayunda, meyakinkan.


"Kalau begitu kamu pasti tidak akan keberatan kan, untuk hadir di acara reuni nanti? Sekalian bawa kekasihmu biar kami bisa kenal. Kalau kamu tidak datang, berarti ucapan kamu tadi bohong!" nada bicara Michelle tidak kalah tegas membuat wajah Ayunda berubah pucat.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2