
"Pa, kenapa Papa masih kekeuh memasukkan namaku di surat warisan itu? bukannya aku sudah mengatakan kalau Papa tidak perlu melakukannya? karena perusahaan papa akan tetap jatuh ke tangan orang yang tepat," protes Bima ketika dia dan papanya sudah berada di dekat mobil Bara.
Bara menyelipkan senyumannya dan mengelus rambut Bima dengan lembut.
"Bukan bermaksud apa-apa, Nak. Walaupun kamu bukan anak kandungku, tapi aku sudah aku anggap anak kandungku sendiri. Jadi, bagaimanapun nama kamu harus tetap ada, karena Papa tahu kalau kamu bukan tipe orang seperti yang Oma katakan," sahut Bara yang masih gagal paham dengan maksud ucapan Bima. Bara mengira kalau orang tepat, yang dimaksud Bima mendapatkan warisan keluarga Prayoga adalah memang Tristan bukan dirinya.
"Tapi, aku ini memang anak kandungnya Papa," bisik Bima pada dirinya sendiri.
"Ya, udah. Sekarang kamu masuk ke mobil, kita berangkat sekarang, nanti kamu bisa telat kalau kita masih asik bicara di sini," ucap Bara dengan tangan menarik handle pintu mobil, agar pintu mobil itu terbuka.
"Pa, aku sepertinya berangkat dengan Pak Jono saja. Kasihan Papa kalau harus mengantarkan aku dulu," tolak Bima sembari tersenyum tipis.
Bara sontak mengrenyitkan keningnya, bingung kenapa anaknya itu tiba-tiba menolak ajakannya. Padahal, biasanya anaknya itu begitu senang kalau dia mengajak berangkat bersama.
"Papa tidak perlu menatapku seperti itu. Aku senang berangkat bersama Papa, tapi kasihan Pak Jono yang katanya seperti makan gaji buta kalau tidak mengantar dan menjemputku sekolah," ucap Bima memberikan alasan yang masuk akal, karena dia mengerti maksud dari tatapan papanya itu.
"Oh, seperti itu? baiklah kalau begitu. Ya udah, Papa berangkat dulu ya! kamu juga langsung berangkat supaya tidak telat!" pesan Bara sembari mengelus-elus kembali rambut Bima.
Pria itu baru saja hendak memasukkan salah satu kakinya ke dalam mobil. Namun tiba-tiba rasa pusing yang hebat kembali menyerang kepalanya, hingga pria itu kembali terhuyung hampir jatuh. Beruntungnya Bima langsung menahan tubuh papanya itu.
"Papa, kenapa?" tanya Bima, panik.
__ADS_1
Bara tidak langsung menjawab. Pria itu menggelengkan kepalanya dengan gerakan cepat sembari memijat-memijat keningnya.
"Papa tidak apa-apa. Hanya saja, mulai dari tadi malam, Papa selalu merasa pusing. Ada bayangan- bayangan kejadian yang selalu datang kepikiran Papa. Tapi, sayangnya bayangan kejadian itu tidak jelas sama sekali," terang Bara yang membuat sebuah senyuman tipis dan hampir tidak terlihat muncul di sudut bibir anak laki-laki itu.
"Jadi, bagaimana sekarang, Pa? apa masih pusing? kalau pusing biar Pak Jono saja yang bawa mobilnya," ucap Bima yang masih memperlihatkan rasa khawatirnya.
"Tidak perlu,Nak! Papa sudah tidak pusing lagi. Ya udah, Papa berangkat sekarang ya!" Bara masuk ke dalam mobil dan sebelum pintu mobil ditutup,Bima tidak lupa untuk mencium punggung tangan papa kebanggaannya itu.
Kemudian, Bima mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Jono,yang sudah standby menunggu di samping mobil. Karena memang sebelumnya, Bima sudah mengirimkan pesan kalau dia memintaku dirinya untuk bersiap mengantarkannya.
"Pak Jono, ayo kita berangkat!" ucap Bima sembari masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Bima mengeluarkan ponselnya,membuka sesuatu lalu menempelkannya handsfree ke telinganya. Sebuah senyuman sinis, tiba-tiba tersungging di sudut bibirnya.
"Kenapa, Tuan muda? nanti Tuan Bara bisa marah kalau tahu Tuan Bimo tidak ke sekolah," ujar Jono dengan nada berat sembari meliriknya Bima dari kaca spion di atasnya kepalanya.
Bima kemudian memperdengarkan sesuatu pada Jono, yang membuat pria paruh baya itu tersenyum sembari mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti dengan rencananya Bima.
"Bapak mengerti kan, kenapa aku tidak masuk?" tanya Bima memastikan sembari mengerlingkan matanya.
"Iya,aku mengerti Tuan. Jadi kemana kita sekarang?"
__ADS_1
"Kita ke tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah ini saja," sahut Bima dan Jono mengangguk, mengiyakan.
"Oh ya, Pak Jono. Apa handphone yang aku minta jadi Bapak bawa?"
"Ada, Tuan. Ini dia!" Jono merogoh saku celananya menggunakan tangannya yang nganggur, kemudian mengeluarkan sebuah ponsel android model lama.
"Tapi, untuk apa lagi Tuan? bukannya video yang kita cari sudah dihapus?" tanya Jono, tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Emm, aku hanya ingin tahu, apakah sudah terhapus permanen atau yang dihapus hanya shortcutnya saja. Kalau hanya shortcutnya saja, berarti video itu masih bisa dikembalikan," ucap Bima, menjelaskan seperti yang dikatakan oleh Bimo tadi malam.
Ya,tadi malam selepas makan malam dan mendengar ucapan Oma Elva, Bima langsung menghubungi Bimo, dan menceritakan semuanya, termasuk video yang sudah terhapus dari Handphone yang berhasil diambil Jono dari kamar Dito. Bimo Akhirnya meminta untuk memeriksa lebih dulu, karena banyak orang yang mengira ketika sudah selesai menghapus sesuatu baik photo maupun video dari galeri dianggap sudah selesai. Padahal masih ada yang fitur yang bergambar tempat sampah, di mana masih menyimpan semua data yang baru saja dihapus dan bisa dikembalikan kembali jika tidak dihapus permanen dari fitur itu.
"Yes, masih ada videonya, Pak Jono. Ini adalah bukti yang paling inti, yang bisa membuat mereka mendapatkan hukuman berat," sorak Bima, dengan wajah berbinar bahagia.
Jono berdecak kagum, melihat anak sekecil Bima yang memiliki IQ di atas rata-rata dan bisa memikirkan cara-cara hebat untuk menjatuhkan Tania dan Dito, dengan cara yang tidak terburu-buru.
"Wah,kamu sangat hebat Tuan. Bisa saja mengeluarkan ide-ide cemerlang untuk bisa mendapatkan bukti-bukti. Kamu tidak gegabah untuk langsung mengungkapkan kebenaran, di hari saat kamu tahu kenyataannya. Tidak seperti anak kecil pada umumnya yang langsung mengadu saja kalau tahu sesuatu," ujar Jona, penuh kagum.
"Itu karena aku ingin hasil yang sempurna tidak setengah-setengah, Pak. Coba kalau aku tadinya langsung mengungkapkan perselingkuhan Tante Tania dan Om Dito di hari yang sama ketika aku tahu perselingkuhan mereka? yang ada paling Papa hanya menceraikan Tante Tania dan mengusir mereka berdua. Tapi, mereka masih bebas berkeliaran di luar sana kan? dan artinya apa? itu berarti resiko di mana dua orang itu menyusun rencana untuk mencelakai papa atau Oma Elva sangat besar. karena itulah aku mempertimbangkan kalau aku harus mengumpulkan semua bukti-bukti kejahatan mereka juga sekalian selain perselingkuhan, agar selain diceraikan, mereka juga akan dihukum di penjara. Dan bukti yang barusan aku dapat, tidak bisa membuat mereka mengelak lagi, dan mereka akan dihukum bukan hanya sekedar 2 tahun atau 5 tahun, tapi bisa sampai seumur hidup," jelas Bima panjang lebar, yang membuat kekaguman Jono semakin besar.
"Ya udah,Pak. Aku rasa di sini kita sudah aman. Kita menunggu sampai siang nanti, setelah itu kita pulang, dan membuat mimpi indah Tante Tania menjadi mimpi buruk yang tidak akan pernah bisa dia lupakan," Bimo tersenyum sinis, sampai membuat Jono bergidik melihat senyuman itu.
__ADS_1
Tbc