
Viona dan sahabatnya yang merasa kesal karena gagal mengintimidasi Ayunda, mengayunkan kaki melangkah menuju kantin.
Begitu tiba di kantin, seulas senyuman seketika terbit menghiasi bibir gadis yang sangat membenci Ayunda itu. Kenapa gadis itu tersenyum? itu dikarenakan matanya menangkap pemandangan tiga pemuda tampan yang tidak lain adalah Bima, Bimo Tristan sedang duduk sembari menikmati makanan yang terhidang di depan mereka.
"Rin, lihat, itu ada Bima! kita duduk di sana yuk!"Viona menunjuk ke arah Bima.
"Yuk! di sana juga ada bebeb Bimo," Rini yang merupakan sahabat Viona menyahut dengan semangat.
Kedua wanita itu, dengan penuh percaya diri melangkah menghampiri mejanya di kembar dan langsung duduk di samping dua pemuda itu.
"Hai, Bima aku bisa duduk di sini kan?" tanya Viona dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.
"Aku juga bisa duduk di sini kan Bimo?" Rini juga buka suara dengan nada suara yang hampir sama seperti viona.
Bima tidak langsung menjawab. Pemuda itu melirik Viona dengan lirikan yang sangat sinis. Hati pemuda itu sekarang benar-benar dipenuhi tanda tanya karena tiba-tiba Viona berani mendekatinya, tidak seperti biasanya.
"Kalau kamu diam, berarti boleh dong!" ucap Viona dengan semangat. " Kamu pasti kaget kenapa aku tiba-tiba duduk di samping kamu. Asal kamu tahu, aku duduk di sini hanya mau menyelamatkanmu dari ganggu perempuan murahan itu. Kamu tenang saja,dia tidak mungkin akan menempeli kamu kalau aku ada di sini," lanjut Viona yang dibarengi dengan senyumnya yang lebar.
Mendengar ucapan Viona, Bima yang dari tadi hanya diam Sontak menoleh ke arah Viona dan menatap gadis itu dengan tatapan sangat tajam.
RSS
"Siapa yang kamu maksud perempuan murahan?" suara Bima terdengar sangat dingin. Tampak aura pemuda itu cukup mampu membuat orang yang diajaknya bicara bergidik ngeri.
"Si-siapa lagi kalau bukan Ayunda," sahut Viona sedikit gugup.
Bima sontak berdiri dari kursinya dan mencengkram pergelangan tangan Viona dengan kencang.
"Katakan sekali lagi? siapa yang kamu katakan murahan?" Bima mengencangkan cengkramannya, hingga membuat Viona meringis kesakitan.
__ADS_1
"Sakit,Bima!" desis Viona. "Kamu jangan berpura-pura lagi. Aku sudah tahu kalau kamu sama sekali tidak menyukai Ayunda. Dia saja yang selalu mengejar-ngejarmu, walaupun kamu sama sekali tidak pernah membalas perasaannya. Apalagi namanya coba kalau bukan perempuan murahan? udah tahu kamu tidak suka tapi ... auw!" Viona kembali memekik kesakitan karena Bima kembali mencengkram pergelangan tangannya lebih kencang dari yang sebelumnya.
"Berani sekali mulutmu mengatakan dia murahan. Apa kamu bosan hidup tenang?" mata Bima memerah dan napas pria itu memburu. Tampak jelas kalau amarah sudah sampai ke ubun-ubun pemuda itu.
"Kenapa kamu masih membelanya? harusnya kamu senang dong, kalau aku berniat menyingkirkan perempuan murahan itu agar tidak dekat-dekat denganmu lagi! kamu kan bisa hidup tenang,"
Bima kembali meremas pergelangan tangan Viona, hingga membuat gadis itu kembali memekik kesakitan.
"Kamu benar-benar sudah tidak ingin hidup tenang ya? kamu masih saja memanggil Ayunda, perempuan murahan. Asal kamu tahu yang murahan itu justru kamu. Kamu mendekatiku dengan alibi ingin melindungiku dari Ayunda, bukannya cara kamu itu lebih murahan? hah!" bentak Bima dengan tatapan tajam bak sebilah pisau yang siap menghujam jantung. "Sekali lagi,kamu berani mengatakan Ayunda murahan, aku akan membuatmu menyesal pernah dilahirkan di dunia ini!" lanjut Bima lagi, melihat Viona yang sudah ketakutan. Kemudian dengan kasar, Bima melepaskan cengkramannya dan berlalu pergi.
Sementara itu Bimo dan Tristan saling silang pandang, bingung melihat reaksi kemarahan Bima tadi, yang seakan tidak rela mendengar orang lain mengatai Ayunda.
"Bimo, ayo kita susul dia!" Tristan akhirnya buka suara setelah tidak menemukan jawaban dari kebingungannya. Pemuda itu d langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi. Sementara itu Bimo yang sedikit kesulitan untuk keluar dari kursinya dikarenakan dihalangi oleh Rini, merasa sangat kesal. Bimo akhirnya menatap Rini dengan tatapan mengintimidasi, hingga membuat gadis itu bergidik dan akhirnya membeli jalan pada Bimo.
Bima yang sudah hampir tiba di pintu masuk, seketika menghampiri langkahnya karena di depannya tengah berdiri Ayunda, gadis yang dia bela tadi.
"Terima kasih, Bima!" ucap Ayunda sembari melemparkan senyum tulusnya. Gadis itu benar-benar bahagia dan tidak menyangka kalau pria yang selama ini dingin padanya, justru membelanya.
"Jangan terlalu percaya diri dan jangan berpikir macam-macam! aku melakukannya hanya karena tidak suka, ada seorang wanita yang mengatai kaumnya sendiri, udah itu saja, tidak lebih! Jadi menyingkir dari depanku, aku mau lewat!" Bima mendorong pelan tubuh Ayunda ke samping dan langsung berlalu pergi.
"Bima tunggu!" pekik Ayunda sembari berlari kecil untuk mengejar Bima.
Bima kembali menghentikan langkahnya dan berbalik. "Jangan mengejarku! aku rasa kamu cukup paham maksud perkataanku tadi. Aku tidak sedang membelamu. Aku hanya tidak suka ada orang yang lebih murahan mengatai perempuan lain murahan, tidak dak lebih! Apa kamu masih kurang paham?"
Ayunda sontak terdiam, merasa kecewa mendengar ucapan Bima. Gadis itu akhirnya memilih untuk tidak mengikuti Bima lagi, ketika pemuda itu sudah kembali melanjutkan langkahnya.
"Sabar ya,Yu!" Seseorang yang tidak lain adalah Tristan menepuk pundak Ayunda dengan lembut.
Ayunda melemparkan senyum manisnya dan mengangguk. "Terima kasih, Tristan!"
__ADS_1
Sementara itu, setelah Bima berbelok dan merasa posisinya sudah aman dari pandangan Ayunda, pemuda itu menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Haish, kenapa aku bisa semarah tadi sih? harusnya aku diam saja. Ini benar-benar memalukan!"Bima menggerutu dalam hati. Pemuda itu benar-benar bingung sekaligus malu kenapa bisa-bisanya amarahnya langsung meledak dan merasa tidak suka ketika ada yang berkata jelek tentang gadis bernama Ayunda itu. Darahnya benar-benar mendidih tadi sehingga hampir saja dia tidak bisa mengontrol emosinya.
"Dia pasti benar-benar besar kepala tadi. Sial! mau taruh di mana mukaku ini?" Bima masih saja menggerutu di dalam hati sambil tetep mengayunkan kakinya. Pemuda itu benar-benar malu sekarang, tapi dia tetap memasang raut wajah biasa saja.
"Bima tunggu!" pria yang dipanggil namanya itu sontak menghentikan langkahnya, begitu mendengar suara yang sangat familiar memanggilnya.
"Kamu kenapa berjalan begitu cepat sih?" protes pemuda yang tidak lain adalah Tristan.
Bima tidak menjawab sama sekali. Pemuda itu hanya tersenyum menanggapi protes kakaknya itu.
"Di mana Bimo?" tanya Bima, sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Biasalah. Tuh dia lagi ngobrol dengan Michelle," Tristan menunjuk ke arah dua insan yang sedang saling sapa.
"Oh," ucap Bima dengan lirih sembari kembali melanjutkan langkahnya disusul oleh Tristan.
"Bima, kenapa kamu selalu ketus pada Ayunda? apa menurutmu sikapmu ini tidak keterlaluan?" ucap Tristan dengan sangat hati-hati.
"Aku tahu,Kak. Tapi, hanya itu caraku untuk membuat dia menyerah. Tapi,apa? dia sama sekali tidak menyerah dan justru semakin gencar mendekatiku. Aku benar-benar tidak nyaman dengan sikapnya itu," sahut Bima yang disertai dengan embusan napas, berat.
"Apa kamu benar-benar berharap dia menyerah?" tanya Tristan dengan alis bertaut.
Bima sontak berhenti melangkah dan tercenung, diam seribu bahasa tidak bisa menjawab pertanyaan Tristan.
"Kenapa kamu diam? kalau kamu memang berharap dia menyerah memperjuangkanmu,biar aku yang gantian memperjuangkannya," pungkas Tristan sembari melangkah mendahului Bima yang kini terpaku.
Tbc
__ADS_1