
"Jadi, itu masalahnya? kamu menunggu aku mengungkapkan perasaanku?" tiba-tiba Bimo muncul dengan bibir tersenyum menggoda.
"Ka-kamu ... sejak kapan kamu ada di sini?" pekik Michelle dengan wajah yang memerah.
"Sejak seseorang mengatakan punya perasaan padaku dan menunggu aku untuk mengungkapkan perasaanku?" ledek Bimo.
"Apa sekarang aku masih perlu mengungkapkan hatiku?" goda Bimo lagi yang dibarengi dengan kerlingan matanya.
"Tidak usah!" Michelle berbalik membelakangi Bimo dengan bibir yang mengerucut dan kedua tangan yang bersedekap di dada, hingga membuat gadis itu terlihat menggemaskan.
"Kenapa kamu membelakangiku? bukannya semalaman kamu menangis? jadi sekarang, seharusnya kamu tersenyum kan?" Bimo semakin gencar menggoda wanita yang dicintainya itu.
Mata Michelle sontak membesar dengan sempurna mendengar ucapan Bimo barusan. Gadis itu kemudian memutar kembali badannya dan menatap Bimo dengan tajam.
"Dari mana kamu tahu aku menangis semalaman? berarti kamu sudah lama menguping pembicaraanku dengan Tante Clara?"
Bimo terkekeh dan menganggukkan kepalanya. "Ya, aku melihat kamu datang dari balkon kamarku. Jadi, aku langsung turun untuk mengetahui alasan kamu datang. Ternyata __"
"Diam, tidak usah dilanjutkan!" dengan wajah memerah menahan malu, Michelle langsung menutup mulut Bimo.
Setelah Michelle menurunkan tangannya, tawa Bimo langsung pecah, apalagi melihat ekspresi wajah kesal gadis yang dicintainya itu.Bukan hanya Bimo yang tertawa, Clara yang melihat drama para remaja itu juga ikut tertawa. Hanya Bima yang tersenyum tipis dan samar.
"Bimo, jangan tertawa lagi! kalau kamu masih tertawa, aku akan pergi dari sini!" ancam Michelle masih dengan bibir yang mengerucut.
Tawa Bimo sontak rem mendadak mendengar ancaman Michelle.
"Iya, iya aku nggak akan tertawa lagi! nih aku sudah berhenti tertawanya," ucapnya.
Keheningan tercipta untuk beberapa detik, situasi tiba-tiba terasa canggung. Bimo, mengalihkan tatapannya ke arah Bima yang sedang duduk sembari memainkan ponselnya.
Kemudian,Bimo memberanikan diri menghampiri Bima dan berdiri tepat di depan saudara kembarnya itu.
Menyadari ada seseorang yang berdiri di depannya, Bima pun mengalihkan tatapannya dari handphone nya menatap orang yang berdiri di depannya itu.?
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Bima dengan alis bertaut tajam.
"Emm ...." Bimo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Ada apa Bimo?" ulang Bima karena tidak mendapat jawaban dari adiknya.
"Emm, aku hanya mau minta maaf karena aku sudah sempat salah paham padamu, Bima. Aku sudah membuatmu bingung dengan perubahan sikapku dua hari ini. Aku juga sudah mengataimu orang yang munafik ... kamu mau kan memaafkan ku?" Bimo memberanikan diri mengakui kesalahannya.
Mendengar permintaan maaf adiknya itu, Bima menyunggingkan senyum dan berdiri.
"Oh, jadi gara-gara kamu salah paham makanya kamu bersikap ketus padaku? kenapa kamu langsung mengambil kesimpulan sendiri tanpa bertanya kebenarannya?"
"Maaf!"
"Setahuku kamu adalah orang yang tidak gegabah. Kamu biasanya cari tahu dulu kebenarannya baru berani mengambil kesimpulan. Tapi, ternyata kamu bisa bertindak gegabah juga hanya karena cinta," ledek Bima.
"Bisa tidak jangan meledekku? aku rasa kalau saatnya kamu mencintai seseorang dengan sangat dalam nanti, kamu juga bisa berubah bodoh. Aku bisa pastikan itu!" tegas Bimo membalas ledekan Bima.
"Tidak akan!" sahut Bima tidak kalah tegasnya.
"Sudah, sudah! kalian berdua kalau sudah adu mulut, memang harus ada yang menghentikan. Kalau tidak, kalian akan lanjut terus," lerai Clara menghentikan perdebatan kedua putranya.
"Emm, tadi kalau tidak salah Tante dengar, kalau kamu dan Ayu datang ke sini dua hari yang lalu dan mendengar pembicaraan Tante dan Bima,apa itu benar, Chell?" tanya Clara setelah Bima dan Bimo terdiam.
"Iya, Tante dan dia sudah salah paham," wajah Michelle, berubah sendu.
"Pantas saja dia membatalkan perjodohannya dengan Bima. Ternyata gara-gara itu!"
"A-apa? dibatalkan?" pekik Michelle, benar-benar kaget. "Astaga, sepertinya kesalahpahaman Ayu benar-benar sudah dalam, Tan. Aku harus ke sana sekarang untuk meluruskan kesalahpahaman ini!" Michelle meraih tangan Clara dan mencium punggung tangan wanita itu. Kemudian,dia memutar tubuhnya dan hendak berlalu pergi.
"Tunggu, Chell!" cegah Bimo, membuat langkah Michelle terhenti.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Aku ikut kamu!" Bimo juga meraih tangan Clara mamanya dan mencium punggung tangan wanita itu. Kemudian, pemuda itu beralih ke arah Bima yang terlihat santai saja.
"Kamu tidak ikut?" tanyanya pada Bima.
"Untuk apa ke sana? menurutku kalian berdua tidak perlu pergi ke sana karena buang-buang waktu. Dia salah paham atau pun tidak, hasilnya tetap sama kan?" ucap Bima, dengan santai membuat Bimo menggeram kesal.
"Bima, kamu jangan munafik! aku tahu kalau kamu sebenarnya tidak rela,Ayu membatalkan perjodohannya denganmu. Itu semua terlihat jelas di raut wajahmu tadi. Bahkan jelas-jelas aku melihat, kamu sampai mengepalkan tangan ketika mendengar kabar itu. Ayo ngaku!" cecar Bimo, dengan sangat yakin, membuat wajah Bima seketika memerah. Namun bukan Bima namanya kalau tidak bisa cepat mengatasi situasi.
"Jangan sok tahu kamu! yang tahu tentang bagaimana perasaanku hanya aku sendiri bukan kamu, walaupun kamu itu saudara kembarku. Jadi, berhenti bicara hal yang tidak benar," Bima mulai terpancing.
"Dasar, masih saja kamu berusaha menutupi! padahal jelas-jelas tadi __"
"Bimo, sudahlah! berdebat dengan Bima dilanjut nanti saja. Sekarang kita ke rumah Ayu dulu. Kalau Bima tidak mau ikut, jangan kamu paksa!" Michelle dengan cepat menyambar, menghentikan perdebatan kedua saudara kembar itu.
Bimo terdiam dan tidak mau membantah ucapan wanita yang kini sudah menjadi kekasihnya itu. Sebelum beranjak pergi, pria itu mengembuskan napasnya dengan kesal lalu, beranjak pergi bersama dengan Michelle.
"Bima, kamu benar-benar tidak mau ikut mereka,Nak?" tanya Clara memastikan, setelah tubuh Michelle dan Bimo hilang di balik pintu.
"Kenapa mama bertanya seperti itu? harusnya mama sudah tahu jawabannya,"
"Sayangnya yang mama lihat antara raut wajah dan ucapanmu itu sama sekali tidak sinkron. Mama bisa lihat kalau kamu sebenarnya ingin ikut mereka kan? tukas Michelle, tersenyum manis.
"Mama jangan asal bicara! yang mama katakan tadi tidak benar," sangkal Bima dengan tegas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, dikediaman Adrian tampak dua sejoli keluar dengan raut wajah sedih. Siapa lagi dua sejoli itu kalau bukan Bimo dan Michelle. Kenapa mereka berdua bisa sedih? itu karena, ketika mereka datang ke rumah Ayunda, gadis itu ternyata sudah tidak ada di tempat dan kata Adrian,papanya Ayu, gadis itu ternyata sudah berangkat ke luar negeri walaupun belum ada pengumuman lulus tidaknya dari SMA. Kata Adrian, Ayunda memutuskan untuk pergi lebih cepat dan izasahnya menyusul.
"Kenapa sih dia pergi tanpa pamit, Bimo? apa dia sudah tidak menganggapku sahabatnya lagi? apa sekarang dia membenciku, karena menganggap aku menusuknya dari belakang?" Michelle mulai menangis sesunggukan.
Bimo menghela napasnya dengan berat. Sebenarnya pemuda itu juga merasa kesal mendapati kenyataan kalau sahabatnya kekasih dan juga sahabatnya itu pergi tanpa pamit. "Jangan menangis, Sayang. Kamu jangan berpikir yang macam-macam! belum tentu apa yang kamu pikirkan itu benar. Mungkin saja, Ayu memutuskan untuk lebih cepat pergi sekalian untuk menenangkan dirinya dulu, makanya tidak pamit. Setelah dia merasa tenang nanti, dia pasti akan menghubungimu," Bimo mencoba menenangkan Michelle.
"Bagaimana, aku bisa tenang? dia pergi dengan membawa kesalahpahaman,Bimo. Bahkan dia juga tidak mengizinkan Om Adrian dan mamanya memberitahukan kita ke luar negeri mana dia pergi. Bukannya itu berarti kalau dia ingin memutuskan hubungan dengan kita semua?"
__ADS_1
Bimo terdiam. Pria itu benar-benar bingung sekarang memikirkan cara untuk menenangkan Michelle yang sepertinya benar-benar terpukul dengan perginya Ayunda tanpa pamit lebih dulu.
Tbc