Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Aku tidak bakalan terpancing


__ADS_3

Sementara itu, di kediaman Adrian, Ayunda masih tetap mengurung diri di kamarnya. Hal itu tentu saja membuat Tiara mamanya merasa khawatir.


"Sayang, bagaimana ini? Ayu belum keluar juga dari tadi. Dia belum makan loh dari tadi pagi," wajah Tiara terlihat sangat cemas.


Adrian bergeming, dia seribu bahasa. Sesungguhnya pria paruh baya itu juga cemas dengan kondisi Ayunda putrinya, karena biasanya semarah apapun, Ayunda pasti tidak akan bisa menahan lapar. Tapi, kali ini belum ada tanda-tanda kalau putrinya itu akan keluar dari kamarnya.


"Sayang, bagaimana kalau kita jujur saja. Bilang ke Ayu, kalau ini semua rencana kita agar dia dan Bima bisa menikah. Dia pasti tidak akan marah Sayang. Justru aku yakin kalau Ayu pasti akan bahagia,"


Adrian sontak menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak setuju dengan saran sang istri.


"Jangan, Sayang! Ayu bukanlah Ayu yang dulu, yang bisa terima-terima aja, apapun caranya yang penting bisa bersama dengan Bima. Dia sekarang sudah jauh lebih dewasa dan sudah tahu kalau apa yang kita lakukan itu salah. Kalaupun kita mengatakan kita melakukannya karena tahu Bima juga menyukainya, yang ada rencana kita buat si kulkas itu yang ngungkapkan sendiri perasaannya pada Ayu, jadi gagal. Bisa-bisa Ayu nanti yang langsung pergi menemui Bima,"


"Jadi bagaimana dong? tidak mungkin kan karena hal itu saja, anak kamu mati kelaparan dan kehausan? kamu juga tidak mau kan dia berbuat yang aneh-aneh di kamarnya," Tiara mulai kesal.


"Eh, kamu jangan membuat aku takut dong! Ayu tidak mungkin memiliki pemikiran pendek, melakukan sesuatu yang bisa mencelakai diri sendiri," ujar Adrian yang tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya. Ya, mulutnya mengatakan tidak mungkin, tapi raut wajahnya tidak bisa berbohong kalau sebenarnya pria paruh baya itu sudah mulai khawatir.


"Apa sih yang tidak mungkin, Sayang kalau pikiran sudah kalut? Apapun bisa dilakukan asal kamu tahu," Adrian semakin panik mendengar ucapan Tiara istrinya.


"Arghh, kamu ya ... buat aku tidak tenang saja!" Adrian berdiri dari tempat duduknya dan berniat mendatangi kamar putrinya. Kalaupun Ayu belum mau membuka, Adrian sudah bertekad akan mendobrak pintu kamar anaknya itu.


Belum juga kaki Adrian menapak di anak tangga, dari arah pintu tampak security datang dengan menenteng bungkusan di tangannya.


"Tuan, tadi ada kurir mengantarkan ini. Katanya untuk Non Ayu dari Tuan Bima," Adrian menerima bungkusan itu dan membuka untuk melihat isinya.


Bibir Adrian sontak melengkung ke atas, tersenyum melihat isi bungkusan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Sementara itu di dalam sebuah kamar bernuasa pink muda, khas kamar perempuan, tampak seorang gadis yang duduk meringkuk di samping kasur dengan punggung yang turun-naik pertanda kalau wanita itu sedang menangis. siapa lagi gadis itu kalau bukan Ayunda.


Mata gadis itu sudah terlihat membengkak dan wajahnya juga sembab pertanda kalau dia masih belum berhenti menangis dari tadi. Bahkan pakaian yang membalut tubuhnya masih sama dengan gaun yang dia pakainya tadi malam.


"Dasar papa egois, tidak mau mendengar penjelasan anaknya sendiri. Masa dia tidak percaya pada anaknya sendiri? kalau memang Bima melakukan hal yang tidak baik padaku, tidak mungkin juga kan aku diam saja?" Ayunda masih terus menggerutu dan entah sudah berapa kali dia mengatakan kata-kata yang sama dari tadi.


"Kasihan Bima. Dia pasti disalahkan sama Om Bara dan Tante Clara sekarang. Dia pasti dimusuhi oleh keluarganya sendiri. Kenapa sih tidak ada yang percaya kami sama sekali?" Ayunda mengacak-acak rambutnya. Dia benar-benar terlihat berantakan sekarang.


"Aduh, aku lapar banget lagi. Aku ingin keluar ambil makanan tapi aku aku kan lagi marah? Aku harus kuat mogok makan sampai mereka mau percaya padaku. Ayo Ayunda, kamu pasti bisa!" Ayunda mengangguk-anggukan kepalanya, penuh tekad.


Setelah Ayunda mendeklarasikan tekadnya, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu.


"Ayu, ini papa, Nak! buka pintunya ya! papa bawa makanan kesukaanmu," terdengar suara Adrian dari luar sana.


"Tidak mau! papa pergi aja! aku tidak akan makan dan tidak akan keluar dari kamar ini sampai papa bisa percaya padaku dan Bima!" sahut Ayunda dengan tegas.


"Biar saja Ayu sakit. Kalau nggak mati sekalian, biar kalian semua puas!"


"Ah, ya udalah, Sayang. Mungkin dia belum lapar. Sebaiknya makanan ini kita kasih Pak Bambang saja,"


"Heh, kasih Pak Bambang? masa dikasih ke pak Bambang sih? masa mereka hanya segitu aja ngebujuk aku?" Ayunda menggerutu kesal, mendengar ucapan papanya yang berniat memberikan makanan ke p


yang seharusnya ke dia ke Pak Bambang, security di rumahnya.


"Harusnya kan mereka lebih keras lagi ngebujuknya," ujar Ayunda, berharap sekali dibujuk.


"Tapi kasihan Bima, Sayang. Bima kan membelikan makanan ini untuk Ayu, bukan untuk Pak Bambang," Kali ini yang terdengar adalah suara Tiara mamanya Ayu. Bisa dipastikan kalau pasangan suami istri di luar sana sedang menahan tawa.

__ADS_1


"Bima pesan makanan untukku? masa sih? tidak mungkin? lagian kalau memang benar Bima pesan makanan untukku, papa kan pasti tidak mau terima. Kan papa lagi marah sama dia? Emm, aku yakin kalau papa dan mama pasti hanya ingin memancingku agar keluar. Huh, tidak akan mempan. Kamu kuat Ayu, jangan mudah terpancing!"Ayu mengepalkan tangannya ke atas, menyemangati dirinya sendiri.


"Kamu coba hubungi Bima, Sayang. Kasih tahu dia kalau Ayunda tidak mau menerima makanan dari dia,"


Ayunda semakin tersenyum smirk, mendengar ucapan mamanya. Dia tetap yakin kalau mama dan papanya di luar sana hanya sedang berakting dengan membawa-bawa nama Bima, guna memancingnya keluar.


"Teruskan aja, berakting! Aku tetap tidak akan percaya," ucapnya.


Kemudian, terdengar suara papanya yang seperti sedang berbicara dengan Bima, namun dia tidak bisa memastikan apa papanya itu benar-benar menghubungi Bima atau hanya akal-akalan saja.


Tiba-tiba, ponsel Ayunda berbunyi pertanda ada yang sedang mengirimkan pesan padanya.


Ayunda meraih ponsel itu dan matanya sontak membesar melihat siapa pengirim pesan itu yang tidak lain adalah orang yang dibicarakan oleh mama dan papanya di luar.


"Aku memesan makanan kesukaanmu. Kata Om kamu tidak mau makan. Aku mau kamu memakannya supaya kamu tidak sakit. Aku tidak mau jadi Duda sebelum menikah," begitulah pesan yang dikirimkan oleh Bima barusan.


Ayunda mengusap-usap matanya, tidak percaya kalau pesan itu dari Bima. Wanita itu sampai mengeja angka per angka untuk memastikan kalau pesan itu memang dari Bima.


"iya, ini memang nomor Bima, aku tidak salah sama sekali," ujar Ayunda di sela-sela rasa tidak percayanya. Dia memang masih hapal mati nomor Bima, yang memang masih digunakan pria itu, sekembalinya dia dari America.


"Apa maksudnya ini semua? apa ini berarti Papa sudah tidak marah pada Bima? apa tadi dia bilang? tidak mau jadi Duda sebelum menikah? emangnya siapa yang mau menikah? dia? tapi dengan siapa?" Ayunda semakin kebingungan.


"Sayang sepertinya, Ayu memang tidak mau makan! kasihan Bima, punya calon istri yang keras kepala. sudahlah, kamu hubungi saja Pak Bambang, buat jemput makanan ini!" Tiara dengan sengaja mengeraskan suaranya.


"Enak saja, siapa bilang aku tidak mau makan!"pekik Ayunda sembari membuka pintu dengan gerakan cepat.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2