
Beberapa hari berlalu
Sudah beberapa hari ini salah satu teman satu kelas anira tidak masuk kelas. Dikabarkan dia sakit, dan hari ini kelas Anira berniat untuk menjenguk dikediaman temannya.
Jarak yang musti ditempuh cukup jauh hampir 1jam perjalanan menggunakan sepeda motor dengan kecepan sedang.
Kini rombongan Kelas Anira mulai perjalanan, jalan yang dilalui cukup asri dan udara yang sejuk. Kecamatan ini cukup terkenal dengan hasil buah duriannya, memasuki jalan didekat area perkebunan durian , aroma khas durian matang sungguh menggugah. Terkadang Anira berpikir jika ada orang melintas saat buah durian jatuh menimpa kepala orang, huh ngeri-ngeri sedap membayangkan saja.
Saat tiba di rumah teman Anira, mereka disambut dengan hangat oleh keluarga, sebut saja Diah 2. Ya selain Nama Dian nama Diah juga cukup pasaran dikelas Anira, itu mengapa teman Anira memanggil dengan dian 1,2,3,4 atau Dian dan selipkan satu huruf setelah nama dian sesuai inisialnya masing-masing.
Berawal basa-basi yang basi obrolan dimulai, didampingi wali kelas tentunya.
"Ehem, yah kamu katanya sakit. Ih ini tapi nampak sehat? " Tanya salah satu teman Anira, sebut saja dia mawar.
"Haa aku mah bukan sakit medis. Beberapa hari kebelakang, suka aneh-aneh ah merasa gimana gitu. Kata orang pinter disini aku kena guna-guna gitu" Jelas Diah 2
"Maksud kamu macam pelet gitu apa santet? " Sela Anira yang penasaran. Entah kalau sudah berhubungan dengan hal mistis anak ini selalu antusias.
"Ya semacam pelet, kata orang pinter orang yang melet aku tuh suka sama aku tapi aku gak suka sama dia. Makanya aku jadi di pelet deh. Tapi sekarang udah ditamengin sama orang pinternya. "
"Ra kamu yakin tuh Diah 2 di pelet karena ditaksir? Ish bukan apa-apa ya secara dia itu jel*k kira-kira cowok yang demen dia tuh keg gimana? " Bisik Ayu pelan pada Anira.
"Husy kamu tuh, gak boleh ngomong begitu. Gak boleh menghina fisik orang, lagian cantik itu relatif. Bagi yang suka dia ya dia itu cantik, bagi gak ya dia mungkin gak cantik. Sama kaya kamu atuh yang demen kamu pasti bilang kamu cantik begitupun sebaliknya. Gitu-gitu temen kita ciptaan Allah SWT. Jaga bicara takut dia yang denger terus tersinggung "
Bisik Anira tak kalah pelan pada Ayu.
"Ehh iya astagfirullah, maaf khilaf ra. Makasih dah diingetin. Tapi aneh aja ah, masa sampai di guna-guna, dia ngarang kali. Halusinasi berharap didemenin sama cowok. Aku gak percaya aja sama hal begituan. "
"Wkwk ini malah ganti jadi suudzon. Aku tuh emang agak gak percaya ama hal guna-guna begituan apalagi kata orang yang katanya pinter, aku percaya kalau hal ghoib itu ada, kita hidup di dunia kan gak sendiri tapi berdampingan dengan yang tak terlihat. Lah kamu kan indigo juga, bisa lihat makhluk astral, kita musti mengimani tapi jangan sampai kebablasan takutnya. "
"Wkwk iya ih kamu jadi keg mama dedeh ra, "
Setelah cukup lama berbincang akhirnya rombongan Anira memutuskan kembali kerumah masing-masing. Kenapa tidak kembali kesekolah? Ya karena sudah sore hari, rombongan pecah menjadi dua ditengah perjalanan. Mereka yang berasal dari daerah selatan dan utara mengambil jalur yang lebih cepat menuju kerumah masing-masing.
Anira yang kebetulan dibonceng salah satu temannya yang bernama Yuni memilih jalur Utara.
"Ra pulangnya mampir ke alun-alun yuk muter-muter aja." Hehe padahal mau sekalian cuci mata barang kali ketemu temen SMP Anira yang tampan itu. Batin Yuni.
"Hmm iya aku ngikut aja sama kamu, tapi jangan lama-lama ya, sekalian shalat ashar di masjid deket alun-alun ya Yun, kalau main dulu takut waktu Ashar habis ntar. "
"Okey ra siap. Bentar lagi sampai nih kita ke masjid aja dulu baru muter-muter. "
Akhirnya Anira dan Yuni berhenti di masjid pusat alun-alun dan melaksanakan kewajiban sebagai muslim. Setelah selesai mereka berdua mulai mengitari tempat tersebut, dan sengaja Yuni melewati jalan dekat stadion serta salah satu SMK negeri favorit di kota mereka.
Anira
Tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang memanggil nama Anira. Cukup keras dan jelas.
"Yun kamu tadi denger gak apa cuma aku yang halu, kaya ada yang manggil aku tadi Anira gitu, waktu lewat stadion. "
"Iya denger lah aku gak budeg ini ra, tadi emang ada manggil kamu. Jadi kamu gak halu kok. Temen kamu kah, kenal suaranya gak kamu? "
"Hmm sekilas sih kaya suara temen SMP aku namanya Fathan. Ehh tapi gak tau sih dia juga sekolah disitu kok SMK negeri. Tapi gak nampak orang nya"
"Yaudah lupain. Kamu tau gak hari ini SMK negeri baru selasai KBO lho, tadi kamu lihat kan banyak yang baru pulang. Uhh coba aja ketemu temenmu yang tampan itu. Naksir banget aku. Kenalin dong ra, dia temen cowok yang deket kamu kan di SMP? "
__ADS_1
"Hehe siapa? Aji maksud kamu? Ya deh ntar aku kasih nomornya. Seneng? "
"Beneran lho ya aku tagih ntar, comblangin sekalian deh aku mau banget. "
"Ih kalau itu usaha sendirilah, masa aku yang nembak dia. Ehh kita lewat depan SMK ya"
Dan saat melintasi jalan SMK negeri Anira melihat beberapa siswa yang baru dijemput keluarganya, dan entah mungkin keberuntungan Yuni atau bagaimana karena salah satu dari mereka terdapat teman Anira yang ditaksir Yuni. Ya Aji baru akan pulang.
Saat hendak menyapa Aji, Anira dikagetkan dengan sosok laki-laki tampan bak oppa-oppa Korea hanya saja postur tubuhnya tidak begitu tinggi hanya setinggi Anira mungkin lebih tinggi dia sedikit, diaym seperti kaget lihat Anira lewat dan tak melihat dia disampingnya.
"Ehh loh ra.. "
Anira mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
Anira tak kalah kagetnya.
"Ehh. Loh kamu? " Anira tersenyum menyapa.
Ya Allah kok bisa ketemu sama Cinta sama SMP aku sih? Deg deg an banget rasanya. Ariz ariz kaya mimpi liat kamu disini. Bisa kebetulan gini sih gumam Anira.
Aji, Ariz dan satu lagi teman satu SMP Anira si yusuf mereka mulai meninggalkan sekolah, dijalan raya entah seperti ingin menarik perhatian Aji. Yuni sengaja membalap kendaraan yang ditumpangi Aji, disalip Aji dan Yuni kembali menyalip. Beberpa kali juga Motor yang dinaiki Yuni dan Anira membalap Ariz.
*
"Ra aku seneng banget. Uh kayanya aku jodoh tuh sama Aji, dari sekian banyak siswa di sana bisa banget kita ketemu dia. Ya Allah senyumnya manis banget ra. Mana kamu juga ketemu sama cinta kamu tuh waktu SMP, gimana kamu masih sukakan sama dia? " Goda Yuni, yang ditanggapi Anira dengan menggeleng pelan kepalanya.
"Udah ah ini sudah sore, mending kamu pulang ntar nomor Aji aku kirim lewat SMS ya. "
"Okey aku tunggu. Makasih ya emang temen aku yang baik kamu tuh. "
"Wkwkkw iya dong punya temen deket dari orang yang ditaksir mah musti dimanfaatin. Ya udah aku pulang dulu ku tunggu nomornya, dan sampai ketemu besok di sekolah. "
*
Esok disiang hari.
Kebetulan hari ini kelas Anira berangkat siang.
Entah ada apa hari ini Anira terlihat badmood dengan keluarganya. Bawaanya marah-marah saja.
"Bu mana setrika nya. Ih baju aku belum aku setrika nih. Udah mepet mau masuk sekolah. "
Saat menyetrika baju dengan mengomel tidak jelas tiba-tiba saja. Anira berteriak menjerit..
"Aaaaa aaa Aaaaa aaa aaaa"
Sontak hal tersebut membuat kaget keluarga Anira. Ibu,bapak, kakak serta kakak sepupu Anira berlarian menuju sumber suara,
"Astaghfirullah pak Anira kesetrum, pak, agus tolongin cepet cabut kabelnya apa matiin sekring listriknya. " Pekik ibu Anira yang sangat panik melihat putri sulungnya yang kejang tersetrum kabel setrikaan.
Dengan cepat agus kakak Anira lari mencabut kabel yang terhubung pada sakelar yang Anira pakai.
Cepluk. Kabel dicabuli.
Dan
__ADS_1
Gubrak tubuh Anira terpental menabrak almari di belakangnya. Yang berjarak sekitar 3 meter.
"Aduh, huhuhu ibu.. " Tangis Anira pecah, bukan karena sakit menghantam almari, namun syok yang dia alami. Ini bukan kali pertama Anira tersetrum, dulu menjelang lebaran tepatnya H-3 hari raya Anira juga sempat tersetrum saat memegang kabel yang terkelupas, hanya saja saat itu yang Anira rasakan seperti dicubit di beberapa bagian tubuhnya. Tidak seperti sekarang, satu tubuhnya sakit namun seperti mati rasa, saat terpental pun Anira seperti mati rasa baru setelah beberapa saat tubuhnya terasa pegal-pegal.
"Kamu gak apa-apa ra? Sakit gak punggungnya? Kok bisa kesetrum gimana? Kamu pegang kabel yang mana? " Sederet pertanyaan diajukan ibu Anira yang panik.
"Hiks hiks gak apa-apa bu, pegel doang jadinya. Ih jari aku agak bengkak dikit tapi gak sakit kok. "
"Syukurlah nak, untung dirumah ada orang coba kalau gak ada. Bapak gak tau apa yang bakal kamu alami. Besok-besok kalau masih emosi gak usah pegang kerjaan takut kenapa-kenapa nanti. Mau sekolah gak apa mau ijin aja? " Tawar bapak Anira.
"Iya Pak. Gak ah Anira mau sekolah aja. Nanggung, ini juga gak apa-apa. Anira siap-siap dulu "
Sampai disekolah.
Pergantian kelas dimulai, kebetulan kelas Anira lebih sering dibangunan B yang cuma 1 kelas saja, hari ini bergantian kelas dengan X F1.
"Ehh kamu tau yang namanya Anira mana? " Tanya salah satu gadis cantikk, berkulit putih, bibir tipis hidung kecil dan mancung,berbadan mungil. Sekilas mirip artis tanah air.
"Kenapa de? Aku kenal Anira dia satu kerabat sama aku dulu. Nah itu orang nya bentar aku panggilin" Sahut Devi teman satu kelas gadis yang diketahui bernama Adel.
"Ra, Anira sini-sini sebentar ada yang nyari kamu. "
"Hmm? Ada apa vi? " Tanya Anira yang kebingungan.
Dengan menyilangkan kedua tangannya didada, gadis itu berdehem.
"Ehem, jadi kamu yang namanya Anira.? " Tanya adel dengan suara sedikit angkuh.
"Hmm iya? Ada apa ya? Inikan pacarnya Ariz kenapa nyariin aku? Tanya Anira pada diri sendiri dihati.
" Aku gak suka basa-basi ya, kamu kemarin ngikutin pacar aku? Kamu suka sama dia hah? " Bentak Adel pada Anira.
Ehh ini ceritanya dia Ngelabrak aku?
"Mbak aku tuh kemarin sama sekali gak ngikutin pacar mbak ya. Gak sengaja lihat. Kalau gak percaya tanya saja sama Yuni. Kenal dia kan? Saudara sahabat kamu tuh. Tenang aja gak bakal aku ngerebut pacar kamu. Lagian kamu tuh cantik mbak gak usah takut sama aku yang muka pas-pasan gini. Aku sadar kok gak cantik, jadi mbak gak usah minder. " Jawab Anira yang rada tersinggung dengan pertanyaan Adel.
Sebelum Adel menjawab, Anira sudah berbalik meninggalkan Adel yang termangu didepan kelas.
"Ehh aku belum selesai ngomong ya. Tunggu.. "
Tanpa memperdulikan Anira tetap masuk dan membanting pintu dengan sedikit kencang hingga temannya yang didalam kelas kaget.
Dasar ya, bisa-bisanya dia ngelabrak aku. Iya aku tau pacarmu itu ganteng, tapi gak kepikiran sama sekali buat aku ngerebut dia. Dasar a**, dan untuk pertama kali Anira mengumpat dengan kata-kata kasar binatang berkaki empat. Sampai menitikan air mata. Bukan karena takut namun entah Anira sangat merasa terhina seakan dia menjadi gadis murahan yang mengejar pacar orang. Hiks
"Ra tadi kenapa, Adel tanya apa sama kamu. Kaya marah dia? " Tanya Yuni dan Uus sahabat Anira.
"Gak tau tuh, sakit hati aku dituduh ngintilin cowok dia. Kurang kerjaan banget. Kamu kan tua Yun kemarin aku cuma bonceng kamu yang ngebut ngejar Aji. Dia mikirnya aku ngejar-ngejar Ariz. Lagian dia tau dari mana kejadian kemarin.? Gak mungkin Aji, apa yusuf atau jangan-jangan justru Ariz sendiri yang ngadu ke dia. Maksudnya apaan sih? " Geram Anira
"Udah ra sabar gak usah didengerin, aku tau kok kamu bukan cewek gampang. Udah yuk masuk apa mau shalat dulu tapi masih penuh masjidnya, habis ini aja ya shalatnya. Biar adem kamu. " Uus yang coba memberi ketenangan pada Anira yang masih emosi. Ya Uus tau pasti kalau Anira saat ini tersinggung, bukan apa-apa Anira cukup menjaga harga diri di hadapan laki-laki, dia saja bisa menolak akan pacaran walau mungkin laki-laki itu cukup menarik untuk Anira dan gadis lain, namun Anira memang belum mau menjalin kasih karena merasa belum waktunya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Terima kasih sudah membaca
Salam santun, dukung author receh remahan peyek ini dengan meninggalkan komentar membangun, kasih Like dan vote jika berkenan.
__ADS_1