
Hari demi hari terlewati, hingga sangat purnama berganti. Tak terasa 3tahun Anira lulus dari pendidikannya.
Dia tak melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, yah lagi-lagi faktor ekonomi.
Saat ini Anira mencoba mengadu nasib di Kota Apel.
Kota Malang, semoga saja nasibnya tak seperti kota yang dia tempati selama 3 tahun terakhir ini. Jauh dari sanak keluarga, jangan ditanya rindu bersua pastilah ada.
Apalagi profesinya yang bekerja di dunia kesehatan. Jangan ditanya perihal libur?
Karena libur yang tak tentu, tanggal merah anti libur club, hari raya dimana yang lain mungkin masih bisa mudik ke kampung halaman tidak dengan Anira dan kawan-kawan nya, mereka terkadang masih harus lembur dihari raya. Namun semua itu dijalankan dengan ikhlas.
3tahun sudah terlewati dan lusa adalah hari dimana masa kontrak kerja Anira habis.
Dua hari berlalu. Di Stasiun kini Anira berada, sengaja dia di stasiun 3 jam lebih awal.
Seorang diri menanti kereta yang akan dia naiki.
"Nduk sendirian? " tanya ibu paruh baya yang menghampiri Anira dengan senyum ramahnya.
Dengan ramah pula Anira membalasnya "Iya bu, sendiri. Ini mau pulang kampung. Ibu sendiri juga? "
"Tidak nduk ibu sama suami, anak, dan cucu ibu. Tuh mereka disana. Dari tadi ibu sama bapak perhatiin kamu sendirian. Makanya ibu samperin. Yuk gabung sama keluarga ibu saja. " Ajak ibu tersebut. Dan Anira pun menerima ajakannya. Obrolan dari Anira dan keluarga ibu tersebut mengalir, sungguh keluarga yang harmonis. Baik pula, entah karena merasa kasian melihat Anira yang seorang diri atau memang care sekali. Anira berasa dengan ibunya sendiri. Shalat bareng bahkan saat Anira belum selesai shalat ibu tersebut masih dengan setia menunggunya, karena takut Anira tertinggal kereta yang sebentar lagi melaju.
Sayang mereka harus berpisah saat kereta hendak jalan, karena gerbong mereka berbeda dengan Anira. Mereka melambaikan tangan perpisahan, jelas sekali wajah khawatir mereka dengan Anira. Sungguh beruntungnya bertemu dengan orang-orang baik bagi Anira.
10jam perjalanan akhirnya Anira tiba di stasiun kota tercinta.
"Huh Selamat datang dikota kelahiran. wkwk masih terlalu pagi. Lebih baik shalat subuh dulu sambil nunggu agak terang buat pulang kerumah. " Anira melangkahkan kakinya menuju musholah kecil yang dipojokan.
Setelah shalat, Anira lebih memilih menanti angkutan umum ketimbang naik ojek. Yak banyak sekali yang menawarinya namun belajar dari pengalaman dulu, niat hati agar lebih cepat sampai rumah namun jadi tercekik harga yang dinaikin. Itu sebabnya Anira lebih memilih angkutan umum. Selain lebih terjangkau, bisa berteduh dari sengatan matahari. Apalagi untuk Anira yang selama perjalanan dari Malang belum memejamkan mata. Sembari menanti penumpang lain, Anira mencoba memejamkan mata namun tetap tidak bisa.
Memang harus dua kali Anira naik angkutan umum untuk sampai dirumah, dan saat ini Dia sedang menanti angkutan kedua. Sudah setengah jam namun belum muncul tanda-tanda akan hadirnya angkutan umum.
"Capek juga ternyata berdiri dari tadi. Mungkin masih terlalu pagi jadinya sepi angkot yang lewat. " gumam Anira sembari mendudukan diri di pinggir jalan, dengan 1 ransel yang digendong, 1 kardus besar yang dia tenteng dan 1tas yang dia tenteng juga. Beberapa menit jongkok sudah merasa seperti gelandangan saja. Tak lama ada mobil berhenti didepannya.
__ADS_1
Tin tin tin.. bunyi klakson
Tak lama turun laki-laki muda, masih terlihat tampan sama seperti dulu. Hanya saja sekarang lebih nampak dewasa dan lebih gagah.
"Ra! " panggilnya.
"Ini beneran kamu kan Anira? " tanyanya lagi.
"Ehh Ariz. " pekik Anira yang kaget dengan kehadiran Ariz tiba-tiba dan langsung berdiri.
"Kamu dari mana ra? " sembari memperhatikan Anira dengan banyaknya barang bawaannya.
"Owh ini aku baru pulang dari rantau. Niatnya sih nungguin angkot. Tapi daritadi belum ada yang dateng. Kamu sendiri dari mana? bukannya kamu di Luar negri ya? "
"Ckck aku udah selesai kontrak bulan lalu, ini sih habis nganterin saudara ke stasiun. Hmm ayok aku anterin kamu aja. " tawar Ariz
"Gak usah takut ngrepotin" tolak Anira.
"Ayolah, tidak merepotkan sama sekali, lagian searah kita ini, ayok.. " tanpa menunggu jawaban Anira, Ariz sudah memasukan tas dan kardus yang Anira bawa. Mau tidak mau Anira pun ikut masuk ke mobil Ariz.
Selama diperjalanan, mereka berdua lebih banyak diam. Detak jantung Anira masih sama seperti dulu masih tak beraturan jika berdekatan dengan Ariz.
Mungkin rasa yang dulu juga masih sama.
Hatinya masih terpaut dengan laki-laki disebelahnya yang sedang fokus memperhatikan jalan.
"Hmm ra? kok diem aja? " akhirnya Ariz memecah keheningan terlebih dahulu.
"Hehe gak tau mau ngomong apa? lama gak ketemu ya. " jawab Anira sedikit kikuk. Bersama dengan Ariz dalam satu mobil seperti ini bener-bener tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Namun sebisa mungkin Anira bersikap biasa. Tensin sekali jika sampai Ariz tahu bahwa hingga detik ini pun Anira masih mencintainya..
"Hahha santai ra, ya ampun kamu kok jadi pemalu gini sih. Ehm ngomong-ngomong maaf untuk yang dulu ya. "
Anira berpikir "Maaf untuk apa? "
"Untuk yang dulu-dulu. Ah ya pokoknya maaf ya. Tolong dimaafkan"
__ADS_1
"Seperti bukan kamu saja. Udahlah yang dulu-dulu lupakan saja."
"Iya makasih. Btw ini kemana aku nganterin nya nih? "
"Ahh ya sampai lupa, nanti aku kasih arahan kalau udah masuk kecamatan aku. "
"Nah lurus nanti ada gang deket rumah itu sebelah kanan masuk aja. rumah nomor 2 " tunjuk Anira.
"Oke."
"Ini rumahmu ra??" tanya Ariz saat sampai di depan rumah Anira.
"Bukan ini rumah ibu aku. yuk turun mampir dulu.! "
"Gak usah deh masih pagi kamu pasti capek juga. istirahat aja, bagi nomor HP dong ra nanti kita komunikasi lagi. "
"Hmm gitu ya. Sini ho kamu. "
"Nih nomor aku nanti kabari aja kalau udah sampai rumah. Makasih ya sudah nganterin maaf jadi ngrepotin. "
"Santai ra.. Terima kasih kembali. "
Saat Anira hendak membuka mobil, Tiba-tiba Ariz menahan tangannya.
"Ra, sudah punya Calon? "
"Ehh.. "
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
Maaf baru sempet update lagi 😂😂 mood buat belajar nulis suka naik dan turun susah naiknya lagi
Hehe
Suport Author ya.. InshaAllah siap feedback
__ADS_1