Anira Life Story

Anira Life Story
Putus


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan tak terasa kini Anira sudah duduk di kelas XI.


Bahkan Anira sudah menempati posisi ketua umum di organisasi OSIS.


yah bahkan mencetak rekor Ketua OSIS perempuan pertama disekolahnya.


Hari ini terakhir diadakannya acara class miting.


seperti biasa sebagian panitia acara sudah menempati tugas masing-masing, saat ini Anira bertugas sebagai pengatur lalu lintas didepan sekolah, karena kebetulan dia juga merangkap sebagai ketua ekstrakurikuler PKS, bukan itu saja Anira juga dipercaya menjadi ketua Ekstrakurikuler Pencak silat danKarya Ilmiah Remaja.


Sungguh tanggung jawabnya sangat besar, entah mengapa teman dan guru pengampu mempercayai Anira.


Mungkin karena dari sekian anggota hanya Anira yang dulu pernah mengikuti sebagian ekstrakurikuler yang dia pimpin sekarang.


Pritttt..


Bunyi peluit dari Anira membuat sekumpulan remaja yang masih bergerombol digang sebelah sekolah Anira , menoleh padanya.


Ya sosoknya menjadi perhatian para remaja tersebut, arah pandang Anira juga tertuju pada kumpulan remaja yang bukan dari sekolah Anira.


Hmm bukan siswa sini. ehh bentar kaya ada yang aku kenal. Gumam Anira yang masih mengamati mereka. Fokus Anira berganti pada sosok yang dia kenal yang sedang melambaikan tangan padanya.


Senyum Anira merekah, mengetahui sahabat saat SMPnya itu menyapanya. Ya dia adalah Aji.


bukan hanya Aji, bahkan Yusuf juga ada disitu.


Namun senyumnya hilang seketika saat menyadari kehadiran orang yang selama satu tahun terakhir dia hindari.


Siapa lagi jika bukan Ariz,


Nampak canggung Ariz juga coba tersenyum pada Anira, namun Anira lebih memilih kembali kedalam sekolah setelah tugasnya selesai dan melanjutkan tugas sebagai panitia class miting.


beberapa jam berlalu, kini sudah memasuki jam pulang sekolah. nampak Adel cs keluar sekolah lewat jalan samping. Sudah Anira pastikan Adel pasti menemui pujaan hatinya.


Suasana sekolah juga sudah mulai sepi karena sebagian siswa sudah pulang.


Saat Anira dan panitia lainnya tengah membersihkan dan merapikan tempat yang dipakai untuk acara lomba antar kelas, sayup-sayup terdengar suara orang tengah marah.


"Teman-teman aku tinggal dulu ya, mau tengok itu ribut-ribut ada apa? takut ada kejadian yang gak diinginkan. Gak enak sama warga desa kalau itu siswa sini yang ribut. " pamit Anira, meninggalkan para anggota OSIS lainnya.


"Iya ra, coba kamu lihat dulu. kalau ada apa-apa kabari kita ya, soalnya kaya ada banyak cowok suaranya. kamu perempuan sendiri yang nyamperin. Apa mau aku temenin aja? " Tawar dina yang sedikit khawatir pada Anira.

__ADS_1


"Gak perlu din gak apa, nanti kalau ada apa-apa aku kabari, kalau ada yang macem-macem aku banting hahahah. " sahut Anira coba meredam kekhawatiran dina dan lainnya.


"Ck, dasar ya udah sana pergi dan cepet balik bantuin nyapu nih ntar. "


"Oke."


Meninggalkan Dina dan lainnya, Anira berjalan melewati jalan setapak disamping sekolah.


Sudah tidak terdengar orang ribut, hanya beberapa anak laki-laki yang tak lain rombongan Ariz, Aji dan lainnya.


Terlihat juga Adel dan pasukannya hendak pergi meninggalkan Ariz dari tempat, namun tiba-tiba mata Anira melotot saat Aji yang berdiri dari posisi jongkok sambil menarik orang dari dalam sungai, airnya tidak dalam jika dilihat dari atas masih nampak bebatuan dan pasirnya.


Dengan tergopoh dan dibantu teman yang lain Aji menarik sosok yang masih mengenakan seragam putih abu-abu basah kuyup dan kotor karena terkena lumpur dan pasir di sungai tersebut.


"Hah Ariz." pekik Anira yang kaget melihat penampilan Ariz.


Kejadian sebelumnya.


ting.


bunyi pesan masuk pada ponsel Adel.


Adel : "Ya."


"Gimana Riz udah ngabari Adel, apa katanya dia mau kesini gak? " Tanya Aji


"Iya ji, nanti habis acara selesai. " jawab Ariz dengan mencoba mengalihkan pandangan dari sahabat nya Aji dan Yusuf.


"Kamu masih maafin Adel aja Riz, kamu kan tau sepertinya dia ada main sama kakak kelasnya si Faisal itu, si boyband. Kamu udah tau lama kan? gak mau putus aja. bukan maksud aku ngomporin Riz cuma aku gak mau aja kamu jadi bodoh karena cinta buta kamu ke Adel? " Tanya Aji yang diangguki Yusuf dan teman-temannya


"Bukan begitu ji, aku memang masih cinta sama Adel aku berharap Adel mau sadar dan gak selingkuh lagi dari aku. Lagian selama ini dia juga gak kasar. Aku percaya dia masih bisa berubah setia ke aku. Aku masih mau kasih kesempatan dia, tapi kalau dia gak berubah ya sudah mungkin memang pisah lebih baik. Hah tapi rasanya berat musti pisah sama Adel,. "


Menghembuskan nafas berat, Ariz dan teman nya masih betah disitu. Beberapa jam berselang Adel dan kawan-kawan nya menghampiri Ariz cs.


"Ck, ngapain sih kamu kesini Riz. gak bisa paa ketemu dirumah apa dimana gitu? " sungut Adel yang merasa seperti di awasin oleh Ariz.


"Gak gitu yang cuma mau main-main kesini aja. "


"Iya del, lagian kita juga mau cuci mata siapa tau dapat gebetan dari sekolahmu, ya kan disini juga terkenal ciwi-ciwi cakep, pinter, baik juga. " jawab salah satu teman Ariz.


"is, mau ngapain. kalau gak ada yang penting pulang aja sana. " Usir Adel.

__ADS_1


"Yang, tunggu. "


"hm Aji, Suf kalian bisa jauhan dulu aku mau ngomong sama Adel. "


Setelah Aji dan lainnya meninggalkan Ariz dan Adel beserta temannya. Ariz memulai perbincangannya. Ariz masih dalam posisi jongkok diatas jembatan.


"Yang, aku tahu kamu pasti ngerti kenapa aku kesini. Yang kamu selesaiin ya hubungan kamu sama Faisal. Aku bakal maafin kekhilafan kamu karena duain aku asal kamu tinggalin Faisal ya. "


"Cih, gak mau ya. Dia disini bakal cukup bikin aku populer. Lagian dia asik kok orangnya, pinter ngedance. "


"Udahlah Riz, lagian kenapa sih biarin aja si Adel sama Faisal. " jawab sahabat Adel.


"Loh kok kalian malah dukung Adel sih, dia yang selingkuh. Itu salah kenapa kalian bela sih? " sambil geleng-geleng Ariz tak habis pikir pada sahabat pacarnya tersebut. bisa-bisanya malah mendukung Adel bukan melarangnya.


"Yah gimana selagi Adel bahagia kita mah dukung aja. "


Dan kejadian tak disangka terjadi,


"Udah pergi sana ngapain masih disini. " Dengan mendorong bahu Ariz dan tiba-tiba


Brugg..


"Ariz,.. "


teriak teman-teman Ariz, dengan cepat mereka lari menhampiri Ariz yang jatuh karena terjatuh kedalam sungai. Cukup tinggi, dan pasti sakit apalagi Posisi Ariz tidak memakai tas gendong, jika dia memakai mungkin punggungnya masih sedikit terlindungi saat terbentur baru dibawah.


Dengan sigap Aji berjongkok dan menyodorkan tanganya untuk membantu Ariz.


Tanpa rasa bersalah Adel dan teman-temannya hendak meninggalkan Ariz cs.


"Del kamu apa-apaan sih, dasar gak perasaan kalau bukan cewek udah aku hajar kamu. " Sungut Yusuf yang terpancing emosi oleh kelakuan Adel.


"Cih.. "


Yuk gaes kita pergi saja.


"Del tunggu. " cegah Ariz yang sudah ditolong tanpa memanggil Adel dengan sebutan Sayang/yang lagi. Sambil mendekati Adel Ariz berkata


"Sudah ya del, saya rasa kita sudahan saja. Kita Putus." Setelah mengatakan itu Ariz mengajak temannya untuk pergi dari situ. Meninggalkan Adel yang bengong karena merasa diinjak-injak harga dirinya. Dia tidak Terima diputuskan, dia hanya mau dirinya yang memutuskan Ariz si idola kabupaten.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2