Anira Life Story

Anira Life Story
Masa orientasi siswa (2)


__ADS_3

Tok tok tok


"Assalamu'alaikum " Ucap Anira


"Wa'alaikumsalam, kemari ra ibu mau ngomong."


"Ada apa ibu manggil saya?"


"Jadi gini ra, maaf sebelumnya ya kebetulan ditempat tinggal ibu ada yayasan yang membiayai sekolah anak yang berprestasi, yatim-piatu, dan kurang mampu. Sebenarnya perorangan sih yang membiayai. Kamu mau gak? Semua biaya sudah ditanggung mulai buku, spp, dllnya hanya ongkos saja yang ditanggung sendiri. Tapi kalau kamu mau bisa sekalian mondok saja semua biaya sudah ditanggung sampai S1. Nanti seminggu sekali kamu bisa pulang kerumah saat libur. Kalau mau nanti ibu daftarin. "


"Nau bu mau banget, tapi saya bilang ibu saya dulu ya bu. Diijinkan apa tidak." Jawab Anira dengan antusias.


"Iya nanti kabari ibu ya kalau mau, sudah pulang saja sana kabari ibu kamu."


Flashback off.


_________________________________________


"Hiks hiks..


Kenapa sih ibu nyuruh aku sekolah disana? Kan dari dulu aku sudah bilang gak mau sekolah kesehatan."


"Ibu nglakuin ini demi kamu, buat masa depan kamu. Emang kamu mau sekolah dimana lagi? Sekolah Negeri sudah tutup pendaftaran nya. Sudah sih tinggal sekolah apa susahnya. Liat tuh temen kamu aja ada yang gak lanjutin sekolah. Bersyukur kamu." Bentak ibu Anira.


"Tapi kan ibu tau, waktu itu bu Rus sudah nawarin beasiswa full sampai sarjana, gak ngeluarin biaya juga semua sudah ditanggung yayasan. Ibu kan udah setuju, kenapa tiba-tiba ambil keputusan gak ngomong sama aku, gak harus ditempat yang aku mau kok bu tapi jangan disana aku gak suka." Makin lama makin terisak Anira, rasa kesal dihati kepada sang ibu belum juga reda.


"Itu Pak Owi yang rekomendasi buat kamu sekolah di SMK MK, karena yang SMK Negeri sudah tutup pendaftarannya. Kata beliau juga bisa diusahakan buat bebas biaya.


Kamu nurut ya, tolong mau sekolah disitu."


Jawab ibu Anira dengan tangis tak kalah tragis.


Ditatap mata merah dan sembab sang ibu, ada rasa sesal dan sesak pada dada Anira. Sungguh tak tega melihat sang ibu menangis tersedu seperti itu. Ini pertama kali Anira melihat ibunya menangis sampai memohon pengertian Anira.


"Baiklah Anira mau sekolah disana bu. Maaf sudah buat ibu sedih. Janji besok Anira berangkat sekolah. Tapi temenin ya Anira gak mau kesana sendiri. Tapi ibu, kalau nanti Anira gak betah boleh ya pindah sekolah." Pinta Anira pada ibunya.


"Iya nanti kalau udah gak betah banget boleh pindah, tapi jalani aja dulu yang ini ya."


_______________________________________


Selasa, pukul 10.00


Dua pasang kaki melangkah memasuki lingkup sekolah dengan gerbang ghaibnya. Derap langkah keduanya tak lepas dari ratusan pasang mata yang berbaris dibawah terik matahari yang lumayan membakar kulit. Untung saja ada caping dikepala mereka guna sebagai pelindung kepanasan.

__ADS_1


"Dih kasian sekali panas-panas dijemur." gumam Anira tanpa didengar orang lain, sambil terus melangkah menuju ruang guru.


Tok tok tok


"Assalamu'alaikum". Sapa Anira dan sang ibu ketika sampai di depan ruang guru.


" Wa'alaikumsalam, silahkan masuk bu."


Jawab seorang guru laki-laki yang mungkin sudah berusia 40tahun lebih.


Setelah menjelaskan maksud dan tujuan ibu Anira, akhirnya ibu Anira pulang ke rumah.


"Nak Anira mau pulang juga atau mau ikut acara MOS nya, sudah jalan setengah hari sih." Tawar pak guru yang bernama Pak Mus.


"Hmm, disini aja pak mau ikut MOS nya." Jawab Anira dengan sopan.


"Ya sudah tunggu disini sebentar ya, bapak panggilkan salah satu panitia OSIS nya dulu, biar nanti dia yang jelasin ke kamu ya nak." Jelas pak mus.


"Iya Pak."


Tak butuh waktu lama, pak Mus kembali keruangan bersama salah satu panitia OSIS perempuan.


"Nah ini namanya Mbak Nur, mbak Nur ini murid baru tolong jelasin apa yang dibutuhkan dan nanti antar dia ke kelasnya ya. Bapak tinggal dulu."


"Baik pak, Terima kasih sebelumnya."


"Owh jadi ini anak yang gak berangkat dari hari pembekalan? Gumam kak Nur dalam hati.


"Pagi dek, udah tahukan nama kakak tadi? Kamu baru berangkat hari ini kan ya, belum tahu apa yang diperlukan untuk kamu bawa diacara MOS sama KBO nanti. Berhubung ini MOS hari terakhir, jadi kakak jelasin untuk acara KBO besok saja ya." Jelas Kak Nur dengan ramah namun nampak tegas.


"Iya kak," jawab Anira dengan singkat dan ramah.


"Oke dicatat ya dek.


Yang pertama papan nama, pakai triplek dengan ukuran 20cm x 27,5cm gak boleh kurang dan lebih. Karena kamu perempuan nanti papannya dialasin pakai kertas Manila warna pink dan dibagi menjadi 4bagian lebarnya sama dengan board maker.


Nah disini nanti kamu gak pakai nama asli kamu ya. Bagian paling atas itu nama kamu diubah jadi Thiamphenicol. Bagian kedua nama kerabat kamu Siti Khadijah,.


Dan blablabla.." Setelah panjang lebar menjelaskan apa saja yang perlu dibawa untuk acara KBO, kak Nur mengantarkan Anira ke kelasnya.


_____________________________________


Di kelas X F2

__ADS_1


"Kak wido, ada bangku yang masih kosong tidak? Ini ada murid baru untuk kelas ini." Tanya kak Nur pada kak Wido yang kebetulan dapat jatah dikelas X F2.


"Ada kak, tapi paling belakang. Gapapa ya dek. Duduk sendiri dibelakang?" Tanya kak wido.


"Iya gak apa-apa kak."


"Nah silahkan duduk dek sambil nunggu teman yang lain."


"Terimakasih kak. Hmm ternyata gak killer-killer amat kakak seniornya," guman Anira dalam hati.


Tak selang waktu lama, para murid X F2 mulai memasuki kelas.


"Dek ini kok ada yang kosong kemana teman kamu?" Tanya kak wido pada salah satu siswa baru yang duduk dua baris didepan Anira.


"Itu kak tadi pingsan jadi dibawa ke UKS."


"Hmm, dek kamu anak baru kemari, pindah duduk aja disini!"


"Ehh gak usah kak, takutnya nanti anaknya balik lagi gak enak."


"Gak apa-apa, biar dia istirahat di UKS. Kasian kamu sendirian dibelakang."


Ehh buset ini kakak tingkat baik pisan, biasanya pada galak sama siswa baru. Ah syukurlah kalau begitu Wkwkw tawa Anira dalam hatinya.


Dan tak lama pula para pasukan senior memasuki jatah kelas masing-masing. Dan anggapan Anira bahwa senior baik-baik seketika hilang ketika salah satu senior tiba-tiba menggebrak meja dengan keras. Wajah siswa baru berubah menjadi tegang. Tidak termasuk Anira justru dia nampak bingung.


"Cukup istirahat nya sekarang waktunya priksa kerapian. Semua berdiri!!


Perintah kakak senior laki-laki tersebut.


Yang merasa kaos kakinya tidak putih polos silahkan maju!" Bentak kakak senior tersebut.


Ehh kaos kaki ku hitam putih ini, ikut maju gak ya? Tapikan aku gak tau kalau disuruh pakai yang putih polos kan aku baru berangkat hari ini. Ah sudahlah maju saja toh udah terlanjur masuk kelas juga.


Didepan kelas semua yang melanggar sudah pasti kena khotbah para senior, tapi Anira entah mengapa dikacangin.


Hais tau gitu gak mau maju saja. Cerutu Anira di hati.


"Kak Gilang, kenapa dia ikutan disuruh maju? Dia anak baru belum tau aturannya. Suruh kembali duduk." Perintah kak Nur pada senior laki-laki itu.


Owh namanya Gilang. Oke aku tandain tuh muka ya kakak galak.


terimakasih kak Nur penolongku hahhaha... ucap Anira dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2