
...HAPPY READING...
...----------------...
Anjani masuk ke mini market, tapi dua sahabatnya tidak di temukan. Terlihat pegawai kasir wanita yang mengganti posisinya kerja.
"Mbak! Sita sama Boy, belum pada dateng ya?" tanya Anjani pada kasir baru itu.
"Boy sama Sita masuk siang, Ka. Ada yang bisa saya bantu?" jawab kasir baru itu.
Anjani kesal dengan Boy yang membohonginya. Lalu ia menelpon.
"Dimana lo? Gue udah sampe tapi lo berdua nggak ada sih!" Anjani mengerutu pada Boy.
"Bentar lagi, Say! Kita ketemuan di kafe tongkrongan, mau nggak?" ucap Boy dari seberang sana.
"Oke. Nggak pake lama," sahut Anjani ketus.
Akhirnya Anjani keluar mini market dan berjalan menuju halte bus. Saat menuju halte bus, rupanya ia di buntuti oleh dua orang pria. Anjani menyadarinya, namun ia waspada untuk berjaga-jaga.
Untuk menuju halte, Anjani melewati yang secara kebetulan sepi karena waktu jam kantor sudah tidak ada. Hiruk piruk kesibukan orang mulai lenggang. Salah satu pria itu mendekati Anjani dan mencoba menggodanya.
"Hai, Cantik! Sendirian aja, mau di temanin Abang nggak." Pria dengan rambut di ikat belakang itu mulai berani memegang tangan Anjani. Anjani menghentikan langkahnya.
"Lepasin nggak?" bentak Anjani yang mulai terganggu.
"Wow wow wow! Galak bener sih, makin suka Abang jadinya." Pria itu semakin mendekati Anjani dan ingin mulai menjamahi tubuh Anjani.
Dengan sigap, Anjani memukul tangan Pria itu dan meninju wajahnya tepat mengenai hidung.
"Sialan! Cari perkara sama gue, ya," ucap Pria itu sambil memegangi hidungnya.
Di saat bersamaan, teman Pria itu yang menggunakan topi, tertawa meledeknya. Ia berdiri tepat di belakang Anjani. Langsung saja, ia memeluk tubuh Anjani. Namun dengan mudah, Anjani membanting tubuh Pria itu ke depan.
Pria bertopi itu meringis kesakitan. Ia bangkit dan berbisik pada temannya. "Kayaknya dia punya ilmu beladiri. Kita harus hati-hati."
Pria berkuncir itu mengangguk. Mereka maju dengan bersamaan, menyerang Anjani. Namun mereka sia-sia, Anjani langsung melakukan gerakan Kisame-Zuki.
Mereka memegangi kepala masing-masing. Anjani tersenyum sinis. Lelaki dua itu merasa terhina dengan perlawanan Anjani. Akhirnya mereka menendang kaki kanan Anjani.
Anjani tersungkur berlutut. Menahan sakit pada betisnya. Di saat bersamaan, ada seorang Pria dengan ciri logat Sumatera melihat kejadian itu.
"Woy! Berhenti!" teriak Pria itu.
Dua Pria yang menyerang Anjani menahan sakit juga di kepala. Di tambah ada yang memergoki penyerangan mereka berteriak, membuat orang lain berdatangan. Mereka pun memilih langkah seribu.
Pria dengan logat orang Sumatera itu mendekati Anjani yang meringis kesakitan.
__ADS_1
"Kau Anjani!" Pria itu terkejut, ia mengenali Anjani.
"Hah! Bang Ucok," Anjani tak menyangka yang menolongnya rupanya Bang Ucok.
Bang Ucok adalah Pria yang menjaga parkiran bekas tempat mini market tempat Anjani bekerja.
"Kau kenal dengan mereka?" tanya Bang Ucok.
Anjani menggelang. Bang Ucok membopong Anjani ke tempat ia nongkrong tak jauh dari tempat itu.
Sesampainya di tempat tongkrongannya, Bang Ucok meletakkan Anjani di bangku yang kosong. Teman-teman Bang Ucok menghampiri. Dengan logat Sumatera mereka bertanya pada Bang Ucok.
Karena jawaban yang kurang puas, salah satu dari teman Bang Ucok bertanya pada Anjani.
"Kau melawan mereka, Ka?" tanya teman Bang Ucok yang penasaran.
"Terpaksa, Bang!" sahut Anjani.
"Kenapa kau tak teriak?" tanyanya lagi.
"Nggak kepikiran, Bang," jawab Anjani. Mereka semua tertawa termasuk Bang Ucok.
Bang Ucok bertanya pada Anjani dari soal pernikahannya yang mendadak sampai ingin bertemu Boy dan Sita.
"Teman lelaki jadi-jadianmu itu, harus dikasih pelajaran," ujar Bang Ucok.
Tak berapa lama, ada panggilan masuk ke gawai Anjani. Dilihatnya panggilan dari Boy. Segera Anjani menceritakan semua kejadian itu. Setelah mengakhiri pembicaraan di gawainya, Bang Ucok memberi Anjani minyak urut untuk betisnya yang mulai membiru.
Tiga puluh menit kemudian, Boy dan Sita datang.
"Ya ampun, Cin! Kenapose yey bisa begindang?" tanya Boy dengan logat gaulnya.
"Bahasa apa pula itu, Beti?" tanya Bang Ucok yang tak mengerti ucapan Boy.
"Ya amsyong, Bang Ucok. Ini bahasa gaul, anak-anak milenal. Abang paham," celetuk Boy dengan body language.
Bang Ucok menggaruk-garuk kepalanya.
Sementara Sita membantu membantu melumuri minyak urut di betis Anjani.
"Lo nggak tahu siapa yang menyerang itu?" tanya Sita dengan cemas.
"Nggak tahu, Sit. Seinget gue juga, gue nggak punya musuh deh," sahut Anjani sambil meringis.
Sita menyarankan Anjani untuk menghubungi Andre.
Anjani mencoba menghubungi Andre namun tak di angkat.
__ADS_1
Tak berapa lama, Ryan tiba di tempat tongkrongan itu.
"Kakak Ipar! Kamu nggak apa-apa?" tanya Ryan yang panik dan memegangi kaki Anjani.
Sita menatap dalam wajah tampan Ryan. Untuk kedua kalinya, ia bertemu Ryan. Begitu juga Boy, tersenyum sumringah melihat Ryan, si manusia dingin yang sejuk dimata, menurutnya.
"Perhatian kali kau, Bang, sama Kakak Iparmu. Tapi baguslah, baiknya kau bawa si Anjani berobat. Kasihan aku liat dia meringis sakit," ucap Bang Ucok tanpa rem pada Ryan.
Ryan menoleh wajah Anjani yang sedang meringis.
Ryan membopong tubuh Anjani ke dalam mobil. Mereka hanya bengong melihat sikap sigap Ryan. Setelah menaruh Anjani dalam mobil, Ryan menghampiri mereka.
"Saya ucapkan terimakasih, Bang. Udah bantu Kakak Ipar," ucap Ryan pada Bang Ucok.
"Tenang saja, aku dan Anjani sudah kenal lama," jelas Bang Ucok tersenyum.
Ryan tersenyum simpul.
"Kalian ikut aku," ucap Ryan pada Boy dan Sita.
Mereka mengangguk dan mengikuti Ryan setelah berpamitan pada Bang Ucok.
Boy duduk di depan bersebelahan dengan Ryan yang mengemudi. Ryan merasa risih dengan tatapan Boy yang seperti ingin menerkamnya.
"Boleh Sita yang duduk di sebelahku? Kayaknya lebih nyaman kalau wanita cantik yang menemaniku," ucap halus Ryan beralasan.
Boy sadar bila Ryan menyindirnya. Dengan wajah manyun ia bertukar tempat dengan Sita yang duduk di sebelah Anjani.
Wajah Sita bersemu, karena duduk bersebelahan dengan Ryan. Ryan tersenyum simpul dan berkata, "Terimakasih."
Anjani tersenyum sumringah melihat sikap teman-temannya. Sita yang malu-malu dan Boy yang memonyongkan mulutnya.
Akhirnya mobil melaju ke rumahsakit.
Selama perjalanan sambil menahan rasa sakit, Anjani berpikir kenapa Ryan selalu ada saat ia dalam kesusahan. Padahal ia tak menghubungi Ryan.
Sementara di Resto. Andre yang tengah sibuk dengan beberapa file, There menghampirinya. Wajah tidak senang terlihat jelas pada Andre. Namun jangan sebut There bila ia tidak berakting dan merayu Andre atau lawan mangsanya.
"Aku minta maaf atas kejadian kemarin. Aku cemburu pada dia," ucap manja There sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Andre dan mencium pipi Andre.
Andre yang merasa risih, menghindari bibir There. There tak mau tinggal diam, ia segera mendekatkan bibirnya ke bibir Andre. Di saat bersamaan itu panggilan Anjani masuk ke gawai Andre.
...----------------...
Ryan as Wachirawit
__ADS_1