ANJANI

ANJANI
Keturunan


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Mereka telah sampai di rumah. Benar kata Ryan, sekarang ada seorang wanita paruh baya yang sudah ada di rumah. Ryan mengantar Ayahnya ke kamar.


"Kapan sampe rumah ini, Bi?" tanya Anjani membuka pembicaraan.


Wanita paruh baya itu membuat teh manis hangat untuk Tuan Anggoro. "Tadi, Non. Nggak lama Nden Ryan ke rumah sakit."


Wanita paruh baya itu mengantar teh manis hangat itu ke kamar Tuan Anggoro. Pak Tono, assisten rumah tangga sekarang menjadi sopir Tuan Anggoro, setelah memarkirkan mobil ia masuk ke dapur.


"Itu Bi Inah, Non. Sepupu saya dari kampung," sahut Pak Tono yang menjelaskan. Rupanya Pak Tono mendengar pembicaraan Anjani dengan Bi Inah. Dan Pak Tono memberi penjelasan pada Anjani yang bingung dengan keberadaan Bi Inah.


Anjani naik ke lantai atas dan masuk ke kamar.


"Nggak ke resto, Ndre?" tanya Anjani pada Andre yang sedang mengutak atik gawainya sambil rebahan di atas tempat tidur dengan posisi tertelungkup.


Andre tak menjawab.


Anjani yang merasa kesal, menghampiri Andre dan tidur disebelah Andre.


"Ndre, kok Ayah menyuruh kita pindah ke apartemen dan menerima assisten rumah tangga baru?" tanya lagi Anjani.


Andre masih sibuk dengan gawainya. Anjani yang kesal, menaiki tubuh Andre dan mendudukinya.


"Anjani turun, berat tau," protes Andre.


"Nggak mau, lagian di tanya nyaut-nyaut," sahut Anjani.


"Apa-apaan sih lu, badan lu tuh berat," lanjut protes Andre.


Bukannya Anjani turun ia malah tiduran di atas tubuh Andre.


"Jawab dulu pertanyaan gue," sambung Anjani.


Andre menghela napas.


"Ayah itu pengen buru-buru punya cucu," jawab Andre.


Mendengar penjelasan Andre, Anjani Menjatuhkan badannya ke atas tempat tidur. "Apa!"


"Kita disuruh pindah apartemen supaya cepat berhasil punya anak," lanjut Andre.


Mendengar lanjutan penjelasan Andre membuat ia menyilangkan kedua tangannya pada bukit kembarnya sambil terbelalak. "Apa harus, ya?"


Melihat Anjani seperti itu, sifat jahil Andre keluar. Ia mendekati dan menatap dalam mata Anjani.


"Lo kenapa?" tanya Anjani dengan yang mulai menghindari Andre.


Seperti kucing sedang melihat ikan segar ingin menerkam, Andre terus mendekati Anjani.

__ADS_1


Anjani yang menghindari Andre semakin terpojok. Terlihat Anjani tidak bisa kemana-mana, Andre mendekatkan wajahnya ke wajah Anjani. Anjani memejamkan matanya.


Melihat ekspresi Anjani seperti itu Andre tersenyum, ia pun menyentil ujung hidung Anjani dengan jarinya dan menjauhkan tubuhnya dari Anjani.


Anjani membuka matanya.


"Selamat," gumam Anjani dalam hati.


"Kemas pakaian lo, kita pindah ke apartemen," perintah Andre di sudut tempat tidur.


Anjani menganggukan dan bergegas sesuai perintah Andre.


Setelah siap mereka menuju kamar Tuan Anggoro.


"Yah, kami berdua pamit dulu. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi kami," ucap Andre yang memegang tangan Ayahnya.


"Iya Yah. Jangan lupa obatnya di minum," saran Anjani.


Tuan Anggoro tersenyum pada menantunya itu.


"Jelas dong! Ayah pasti cepat sembuh karena ingin buru-buru menimang cucu," jelas Tuan Anggoro.


Andre dan Anjani saling pandang dan tersenyum kecut. Ryan yang berdiri dekat pintu kamar tersenyum tipis.


Akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan rumah menuju apartemen. Sesampainya di apartemen, Anjani terlihat menikmati suasana apartemen. Yang ia jumpai sebuah balkon dengan kursi rotan yang tergantung pada besi seperti ayunan.


Segera Anjani duduk, menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata.


Andre yang melihat Anjani langsung menghampirinya. "Lo nggak beresin baju ke lemari?"


Anjani membuka matanya dan menoleh ke arah Andre, "Ganggu aja sih lo! Ntat dulu, gue lagi nikmatin udara disini," ujar Anjani.


Andre tersenyum tipis, ia ikut duduk di balkon menemani Anjani dan menghisap lintingan nikotin.


"Gue boleh tanya nggak," ucap Andre lalu membuang asap lintingan nikotin ke udara.


"Silakan," ucap Anjani yang masih memejamkan matanya.


"Lo anak satu-satunya dari Tante Sri, ya?" tanya Andre.


Anjani mengangguk. Keheningan sempat terjadi selama lima menit.


"Tapi waktu gue SMP, Ibu sempat keguguran. Calon adik gue itu berjenis kelamin laki-laki. Dapat setahun kemudian baru bokap nyusul," jelas Anjani mengingat masa-masa kehilangan orang-orang yang di cintainya.


Andre memperhatikan Anjani dengan saksama. Kemudian menghisap lagi lintingan nikotin itu.


"Gue boleh tanya juga nggak?" Anjani bertanya dan menoleh ke Andre.


Andre mengangkat kedua alisnya, memberi isyarat 'iya' pada Anjani.


"Gimana caranya kasih Ayah cucu?" tanya Anjani yang membuat Andre tertawa.

__ADS_1


"Emang lo nggak pernah pacaran ya?" tanya balik Andre.


"Pernah, waktu kelas satu SMA," jawab Anjani.


"Trus?" lanjut Andre.


"Trus apanya?" tanya balik Anjani. Anjani tidak mengerti maksud pertanyaan Andre. Andre tersenyum tipis memperhatikan Anjani.


"Kenapa sih, lo liatin gue terus? Ada yang salah ya?" pertanyaan Anjani membuat dirinya memperhatikan diri sendiri.


Lagi-lagi sikap Anjani membuat Andre tertawa.


"Udahlah nggak usah dipikirin permintaan Ayah," saran Andre. "Gue laper, lo mau ikut cari makan nggak?"


Andre bangkit dari duduknya diikuti Anjani yang mengekor di belakangnya.


Mereka mencari tempat makan yang berada tak jauh dari swalayan.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya makanan yang mereka pesan telah di hidangkan.


Saat menyantap makanan yang tersedia di meja, Anjani melihat Andre memakan sedikit berantakan. Anjani mengelap bibir Andre yang terdapat sebuah nasi dengan tisu.


Dengan bersamaan, mobil There tengah parkir tak jauh dari posisi mereka makan. Karena posisi mereka makan dekat dengan kaca. Kaca berwarna bening yang mudah terlihat dari luar.


"Kayak Andre. Tapi kok sama cewek. Siapa ya?" gumam There.


There yang penasaran, mencoba menghampiri mereka. Dengan rok mini berwarna merah dengan highhells sembilan senti. Membuat bokongnya terlihat indah.


Dan atasan you can see berwarna hitam. Siapa saja yang melihat ke arah There pasti akan menelan salivanya, terutama para pria.


There semakin dekat dengan meja mereka. Mereka berdua tak menyadari kedatangan There.


Tangan There mengambil minuman es teh manis yang tak jauh dari tangan Anjani.


Byur!


There menyiram kepala Anjani. Anjani yang mendapat serangan tiba-tiba sangat terkejut. Begitu juga Andre.


There melepaskan kacamata hitamnya dan melirik ke arah Anjani.


"There! Kamu apa-apa sih?" Andre membentak perlakuan There yang di lakukannya pada Anjani. Sehingga para pengunjung lain menoleh ke arah mereka.


"Pantes. Aku cari di resto tapi kamu nggak ada. Aku tulis pesan, katanya ada urusan keluarga. Jadi ini urusan keluarga? Makan siang dengan adik anak buahmu?" There terlihat di bakar api cemburu. Ia berbicara sangat lantang pada Andre.


Sementara Anjani sibuk membersihkan durinya dengan tisu. Ia tidak memperdulikan mereka berdua yang tengah beradu urat leher.


"Ngomong apa kamu? Jaga sikap kamu pada Anjani!" pinta Andre yang tak menyangka hal memalukan ini terjadi.


...----------------...


Dev : "Buat para reader, habis baca komen ya. Karena komen kalian buat perbaikan cerita ini. Terimakasih"

__ADS_1


__ADS_2