
...HAPPY READING...
...Hai jangan lupa follow akun Instagram author ya, terimakasih...
...----------------...
"Maaf! Aku datang terlambat," ucap Andre lalu menghampiri Tuan Anggoro, mencium tengkuk lengannya.
"Mari makan, Ndre! Ini istrimu yang memasaknya," sahut Tuan Anggoro.
Andre melirik Anjani. Lalu menarik kursi makan disebelah Anjani, ia mulai mencicipi masakan istrinya.
"Bagaimana. Kamu suka?" tanya Anjani ramah.
Andre mengangguk.
Mereka telah menyelesaikan makan malamnya. Andre, Ryan dan Tuan Anggoro tengah berbincang-bincang di ruang keluarga. Sementara Anjani membantu Bi Inah merapikan dapur.
Karena hari mulai malam, Tuan Anggoro diantar ke kamarnya. Kemudian Anjani membantu Ayah mertuanya itu untuk meminum obat. Setelah selesai, Anjani berjalan keluar agar Ayah mertuanya itu beristirahat.
Saat hendak menghampiri Andre. Terdengar pembicaraan Andre dan Ryan tengah berdebat.
"Jangan campuri rumahtanggaku," ucap Andre tegas pada adiknya itu.
Ryan tersenyum simpul.
"Sebaiknya putuskan cewek matre itu agar Kakak Ipar tak tersakiti lagi," sahut Ryan dengan santai yang duduk di atas sofa.
Andre yang berdiri sambil memandang keluar jendela, terkejut dengan perkataan Ryan.
Bi Inah yang melihat Anjani menguping, segera menarik tangannya dan membawanya ke dapur.
"Maaf Non! Sebaiknya jangan mendengar pertengkaran mereka," ucap Bi Inah pelan.
Anjani mengerutkan dahinya, "Emang kenapa mereka sampai harus bertengkar?"
Bi Inah menceritakan semua siapa sebenarnya Andre dalam kaluarga Tuan Anggoro.
Anjani mendengarkan dengan saksama. Rasa iba terhadap Andre timbul di hatinya.
"Den Ryan masih kesal sampai sekarang," ucap Bi Inah.
"Tapi kan, Bi. Ini sudah takdir," sahut Anjani.
"Den Ryan sangat menyanyangi Ibu," sambung Bi Inah.
Pikir Anjani, memang sikap Andre sedikit terlalu manja. Hingga membuat kedua orangtuanya kehabisan cara, bagaimana mendidik Andre supaya tidak bergonta-ganti pasangan.
"Tapi Bi Inah tahu dari mana jati diri Andre?" tanya Anjani.
"Pak Tono kan sering cerita keadaan majikannya saat pulang kampung dan minta solusi," jelas Bi Inah.
__ADS_1
Andre menghampiri Anjani yang berada di dapur.
"Ayo kita pulang!" ajak Andre.
Anjani mengangguk. Ia berpamitan pada Bi Inah.
Saat Andre dan Anjani telah di depan pintu depan, Ryan menghampiri mereka.
"Kakak Ipar. Bila kamu ada masalah, kami siap membantumu," ucap Ryan tersenyum simpul. Ia sengaja berkata seperti itu agar Andre marah.
Andre yang membelakangi Ryan hanya mendengar ucapan Ryan lalu ia menarik tangan Anjani. Mobil yang di kendarai mereka pun telah meninggalkan rumah Tuan Anggoro.
Sepanjang perjalanan, Andre memasang wajah datar. Ia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Membuat Anjani berpegangan.
"Bisa pelan sedikit," pinta Anjani.
Andre melirik, mendengar permintaan Anjani. Ia pun menurutinya.
Sesampainya di parkiran apartemen, Andre berjalan ke arah lift dengan langkah cepat. Anjani pun mengikuti dengan berlari kecil. Di dalam lift, wajah dingin Andre terpancar. Membuat Anjani sedikit ketakutan dan bersandar di pojok lift.
Saat memasuki pintu apartemen, Andre langsung menuju dapur. Mengambil air mineral dari dalam kulkas, lalu meneguknya hingga habis. Anjani yang melihat menelan salivanya dan tak berkedip.
Andre melepas kemejanya hingga bertelanjang dada. Ia menghidupkan remot pendingin ruangan lalu duduk dan bersandar di sofa depan televisi.
Anjani mencoba menghampiri Andre yang wajahnya terlihat kusut. Ia memperhatikan apa yang ada di atas meja karena bau menyeruak membuat ia menutup hidungnya. Benar saja, gelas berisikan air berwarna merah kecoklatan dan botol yang lubang tutupnya tidak di tutup.
Anjani menjauhi Andre dan menuju kamar. Ia membersihkan diri mengingat guyuran minuman yang di lakukan There.
Pintu kamar mandi di ketok dari luar.
"Anjani! Buruan!" Andre berseru.
Anjani bangun dan menyelesaikan mandinya. Kemudian ia melilitkan handuk pada tubuhnya.
"Ganggu aja sih!" ucap Anjani pada Andre yang masih menunggu di depan pintu kamar mandi.
Aroma wangi sabun tercium dari tubuh Anjani. Andre menikmati aroma itu. Anjani memincingkan matanya. Ia sadar bahwa sedang memakai handuk yang hanya dililitkan.
Anjani buru-buru menuju lemari. Andre pun segera masuk ke kamar mandi. Setelah selesai dari kamar mandi, Andre melihat Anjani terbaring di atas tempat tidur.
"Lo mau tidur di sini lagi?" tanya Andre yang berdiri menghadap Anjani.
"Gue nggak mau tidur di sofa," sahut Anjani.
"Siapa yang suruh di sofa! Kamar satunya kan ada," sambung Andre.
"Nggak! Kamar mandinya di luar, nanti ada yang ngintip," tukas Anjani.
"Dih! Kegeeran. Emang siapa yang mau ngintip lo?" tanya lanjut Andre.
Anjani tidak menyahut, ia mulai mengantuk.
"Dasar ***** tiap di tanya pasti matanya merem," gumam Andre.
__ADS_1
Andre pun hendak membersihkan diri. Ia mengambil handuk yang tergeletak bekas yang di pakai Anjani.
Setelah selesai mandi, Andre tidur di sebelah Anjani. Saat Anjani mengigau dan memiringkan badannya ke arah Andre. Kakinya menyentuh area sensitif Andre. Merasa ada yang aneh, Anjani pun bangun.
"Kok lo tidur sini?" tanya Anjani kaget.
"Kita kan sudah resmi, tidur seranjang nggak masalah kali," sahut Andre sewot.
"Tapi, gimana sama perjanjian. Kan lo yang minta," sambung Anjani.
Andre terdiam. Lalu ia memeluk tubuh Anjani.
"Lo kenapa?" tanya Anjani bingung.
"Emang gue sehina itu ya? Apa orang salah nggak bisa memperbaiki kesalahannya?" Andre bertanya.
Anjani mengerti apa yang Andre katakan. Ia membiarkan Andre memeluknya.
"Aku minta maaf atas perlakuan There tadi siang. Aku janji, dia nggak bakal nyakitin kamu lagi," janji Andre.
"Dia lagi nggak mabuk kan? Bahasanya sopan sekali," gumam Anjani dalam hati.
"Kenapa diam. Emang kamu nggak mau liat aku berubah?" Andre bangkit dari tempat tidur dan melirik Anjani.
"Apa yang Ryan katakan tentangku?" sambung Andre.
Anjani menggeleng dan terduduk. "Tidak ada yang ia katakan."
"Aku anak yang durhaka, yang mencelakakan wanita yang sudah membesarkan. Aku pantas dihukum," ucap Andre tersenyum sinis untuk dirinya sendiri.
"Ini sudah takdir. Jangan salahkan dirimu. Lebih baik perbaiki semuanya sebelum terlambat," nasihat Anjani.
Andre menoleh ke arah Anjani.
"Wah! Kamu tomboy bisa juga berkata bijak," ledek Andre.
Pipi Anjani bersemu.
Andre tidur di pangkuan Anjani.
"Terimakasih, kamu udah mau menikah denganku. Padahal kita belum pernah bertemu," ujar Andre dengan senyum mengembang.
Anjani membalas senyuman Andre.
Mata mereka saling bertatapan. Aliran darah mulai berdesir, bergolak seperti sedang di rebus. Andre menginginkan sentuhan seorang wanita. Sudah lama ia tak melakukannya, semenjak kematian Ibunya.
Anjani kikuk dengan pandangan tajam Andre. Ia menjauhkan pandangannya dari wajah Andre. Namun Andre menarik leher belakang Anjani. Dan terjadilah pemanasan dari Andre untuk malam pertama pernikahan mereka.
Anjani mengeluarkan keringat dingin. Karena ia tak pernah melakukannya.
"Jangan takut! Aku kita lakuin pelan-pelan. Kita kasih ayah, cucu secepatnya," ucap Andre dengan kalimat menggoda Anjani.
Benar saja, Andre yang memulai dan mengajari Anjani.
__ADS_1