ANJANI

ANJANI
Malaikat Pelindung


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Setelah selesai dari rumah sakit, mereka menuju resto.


Sesampainya di resto, Pras terkejut dengan kedatangan Ryan yang secara tiba-tiba. Pasalnya Ryan memegang usaha tekstil yang ada di luar daerah. Bila hendak ke resto pasti menghubunginya.


Ryan yang memapah Anjani, menjadi pusat perhatian pengunjung termasuk Anita. Ia terheran, kenapa adik pemilik resto sampai sebegitu pedulinya.


Anita menghampiri Anjani.


"Lo nggak apa-apa?" tanyanya dengan penasaran.


Anjani hanya tersenyum, namun Ryan memandang tajam ke arah Anita. Mengisyaratkan Anita menjauh.


Saat di pintu kantor Andre. Nampak There keluar dari ruangan Andre. Mereka terkejut melihatnya. Ryan dan There saling bertatapan.


Ryan menatap benci There. Namun tidak dengan There yang mengharap Ryan menyapanya.


"Ryan," There menyapa terlebih dulu.


Namun Ryan membuang pandangannya dari There.


Sita dan Boy saling berbisik.


"Kamu kenapa?" tanya panik Andre saat Anjani dan Ryan masuk ke ruang Andre.


Andre menghampiri Anjani dan mengambil alih posisi Ryan. Anjani duduk di sofa dengan hati-hati.


"Masih kesini dia, Mas?" tanya Ryan dengan ketus.


Andre tahu siapa yang di maksud Ryan.


"Dia kesini mau minta maaf," jelas singkat Andre.


Sita dan Boy berdiri seperti patung, menyaksikan percakapan yang di rasa masalah keluarga.


"Ada kalian. Sudah makan belum? Aku pesan makanan dulu ya!" Andre mengalihkan percakapannya dengan Ryan. Ia segera menghubungi Pras untuk memesan makanan untuk mereka.


"Kenapa jadi begini?" tanya Andre saat memeriksa kaki Anjani.


Anjani meringis saat Andre menyentuh kakinya yang memar.


"Maaf," ucap Andre tersenyum simpul.


Ryan hendak meninggalkan mereka berempat namun di cegah Anjani.


"Kamu mau pergi? Makan bareng aja dulu," pinta Anjani.


Ryan tersenyum namun pandangannya tertuju pada Sita. Sita tersenyum simpul dan mengangguk kecil.


Boy berdehem.


Anita dan dua orang pegawai lain membawa makanan di ruangan Andre. Ia memperhatikan Andre yang duduk sangat dekat dengan Anjani.


Makanan di letakkan di meja. Andre pun mengambil makanan itu dan menyuapi Anjani.

__ADS_1


Boy yang melihat kemesraan mereka berdua *******-***** ujung bajunya sambil menggigit bibir bawahnya. Begitu juga dengan Anita dan kedua pegawai wanita yang lain. Sambil berjalan menuju pintu, tatapan mereka tertuju pada Anjani dan Andre.


Kemesraan yang mereka ciptakan seperti dunia milik berdua. Sehingga saat Pras membuka pintu, Anita tak menyadari dan menabraknya.


"Maaf, Nita! Aku nggak sengaja," ucap Pras sambil memperhatikan dahi Anita yang memar.


Anita meringis. "Iya, nggak apa-apa kok, Pak. Cuma sakit sedikit, nanti juga baikan," jawab Anita dengan alasan.


Anjani dan Andre hanya tersenyum melihat dahi Anita yang memar.


Boy menyenggol tangan Sita yang asik makan.


"Napas kalau makan," canda Boy.


Sita tidak peduli dengan candaan Boy.


Setelah selesai makan, mereka berbincang-bincang.


"Memang kalian mau kemana tadi?" tanya Andre pada Anjani.


"Rencananya mau nongkrong ke kafe yang biasa kita kunjungi," sahut Anjani.


"Tapi lo kan lagi kena musibah, lebih baik kita tunda aja," jelas Sita pada Anjani.


Anjani menghela napas. Andre mengerti dengan keinginan Anjani melepas rindu pada kedua sahabatnya.


"Ya udah, sekarang kalian berdua main ke apartemen kita aja. Bagaimana?" saran Andre pada Boy dan Sita.


"Boleh banget, Mas. Kebetulan kita mau tahu dimana Anjani tinggal sekarang," sahut Boy dengan gembira.


Sementara itu, Ryan diam-diam menemui There di sebuah pusat kebugaran. Saat di dalam manik hitamnya mencari-cari keberadaan There. Salah satu teman There yang melihat segera melapor.


There merasa senang dengan Ryan mencari-carinya. Benar saja Ryan sudah menunggunya di bangku kantin. There yang berada di belakang Ryan, langsung menghampirinya dengan memeluk dari pundak belakang Ryan.


"Kamu masih ingat dengan tempat tongkronganku, Sayang. Padahal sudah hampir setahun kamu nggak kesini," ucap manja There.


Ryan melepaskan lengan There dari pundaknya.


There merasa kesal.


"Aku ingin bertanya padamu?" jelas Ryan dengan maksud kedatangannya.


There yang menggunakan pakaian olah raga. Memamerkan perut dan dada yang padat berisi.


There duduk di hadapan Ryan. Kaki jenjang seperti model dengan warna putih mulus di pamerkannya pula.


"Memang ada apa?" tanya There kemudian meminum jus jeruk milik Ryan.


"Kamu kan yang melukai Anjani?" ucap Ryan langsung pada intinya.


There yang sedang meminum jus sampai terbatuk-batuk.


"Apa buktinya?" tanya balik There.


Ryan tersenyum sinis dan mendekatkan wajahnya ke There.


"Tidak perlu kan orang suruhanku membawa orang-orangmu," ucap Ryan dengan sedikit mengancam.

__ADS_1


There menelan salivanya.


"Kamu menyukai Kakak Iparmu? Atau ingin membalas dendam pada Andre karena aku memilihnya?" papar There dengan senyum menghina Ryan.


"Kalian tidak pantas mempunyai cinta tulus," celah Ryan mengejek.


Merasa keperluannya sudah selesai, Ryan berdiri hendak meninggalkan kantin itu.


"Kalau kamu tahu aku pelakunya, kenapa datang kemari? Kamu masih mencintaiku kan?" tanya kesal There karena tahu Anjani dilindungi oleh Ryan.


Ryan hanya mendengar perkataan There. Kemudian ia berlalu meningalkan pusat kebugaran itu.


There yang kesal segera menghubungi seseorang.


"Aku tahu kalian gagal. Tutup kalian bila ada yang bertanya. Aku akan beri kalian, dua kali lipat untuk bungkam kalian," teriak There.


Pengunjung lain memperhatikan teriakan There.


There yang tidak perduli, berlalu ke loker wanita. Segera ia menuju pemandian, menyalakan shower membiarkan membasahi kepalanya yang panas.


"Akan kubuat kamu mengemis cintaku, Ryan," umpat There.


Sementara di apartemen, Boy dan Sita tengah berbincang-bincang. Terkadang mereka tertawa, entah apa yang membuat mereka begitu tampak bahagia. Andre memperhatikan tawa Anjani.


"Tidak mungkin Anjani mempunyai musuh. Aku rasa ada yang tidak beres," gumam Andre sambil membuat minuman.


"Gila! Laki lo baik banget, Say. Mau bikinin teman istrinya minum," ucap Boy pada Anjani sambil melirik Andre.


Anjani tersipu dengan ucapan Boy.


"Mudah-mudahan bukan ada udang dibalik batu," umpat dalam hati.


"Pastilah, Boy. Kan nggak mungkin juga Anjani yang bikin," sahut Sita sambil menunjuk ke arah kaki Anjani.


Berselang satu jam, Ryan menghampiri apartemen Andre. Bel apartemen di pencetnya.


"Siapa yang datang ya?" Anjani bertanya-tanya.


"Biar gue yang buka, An," pinta Sita.


Sita melangkah ke pintu dan mengintip dari lubang pintu. Ia terkejut, rupanya Ryan yang datang. Segera ia membuka pintu.


"Eh Ryan, masuk!" Sita mempersilakan Ryan masuk.


"Terimakasih," sahut Ryan dengan tersenyum simpul.


Entah mengapa detak jantung Sita menjadi kencang. Ia mengikuti Ryan yang berjalan ke ruang tamu. Ia tersenyum pada Anjani.


"Ryan! Nggak bilang kalau mau kesini," ujar Anjani kaget.


Anjani dan Boy berpikir, bila Ryan menyusul ke apartemen karena ingin bertemu Sita. Anjani dam Boy melihat Sita yang berjalan di belakang Ryan. Mereka melihat Sita dengan senyum-senyum menggoda dan mendehem.


Makasih buat reader setiaku.


Semoga nggak bosan dengan jalan karyaku.


Yang bersedia kasih hadiah, author sangat berterimakasih.

__ADS_1


__ADS_2