
...HAPPY READING...
...----------------...
Sinar matahari pagi masuk ke celah-celah kamar apartemen. Andre sengaja membangunkan Anjani seperti ini. Anjani yang meringis karena sakit di daerah sensintifnya, mencoba bangun dari tempat tidurnya.
Anjani menoleh ke sampingnya. Dilihatnya Andre sudah tak ada.
"Memang mimpi kali ya," gumam Anjani yang masih tidak percaya bila ia sudah tak suci lagi.
Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
"Mau di bantu ke kamar mandi?" Andre menawari jasa pada Anjani.
Anjani terkejut, ia pikir Andre sudah tidak ada di kamar.
"Nggak usah," jawab ketus Anjani dan melangkah ke kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Anjani kebingungan karena tidak ada handuk tergantung di kamar mandi seperti biasa. Ia melongokan kepala di pintu kamar mandi dan berkata pada Andre. "Handuk mana?"
Andre tersenyum simpul. Rupanya ia sengaja mengerjai Anjani.
"Ini," tunjuk Andre pada handuk yang melilit pada pinggangnya.
Anjani membelalakan matanya. Ia mulai panik, takut bila Andre mengulangi pergulatan luar biasanya seperti semalam.
Saat Andre bangkit dari duduknya dan hendak menghampiri Anjani.
"Tunggu! Nggak usah kesini, biar gue pake selimut aja," cegah Anjani.
Andre tertawa melihat sikap Anjani.
Anjani keluar dari kamar mandi.
"Keluar dulu! Gue mau pake baju," perintah Anjani dengan ketus.
"Aku kan udah lihat semuanya, kamu kenapa harus malu," goda Andre tersenyum tipis.
Muka Anjani berubah berwarna merah, ia malu mendengarnya.
"Iya, iya. Aku keluar," sambung Andre yang tak tega dengan rona merah pada wajah Anjani. Ia duduk di meja dapur sambil menunggu Anjani.
Anjani yang telah memakai kaos oblong berwarna putih dengan setelan celana hot pants, berjalan ke arah dapur. Andre bersiul melihat kedatangan Anjani. Kemudian ia memangku wajahnya, mengamati Anjanj yang sedang minum.
"Minum yang banyak," ujar Andre.
Anjani terbatuk-batuk.
Segera Andre menghampiri dan menepuk-nepuk pundak belakang Anjani.
"Pelan-pelan," ucap Andre cemas.
"Makasih," Anjani mendorong tubuh Andre yang terlalu dekat pada dirinya. Ditambah Andre hanya memakai handuk saja.
__ADS_1
Andre segera ke kamar dan mengenakan kemeja dan celana jeans. Ia kembali ke dapur menghampiri Anjani. Sesampainya di dapur, ia bingung tidak ada masakan yang tersedia.
"Kenapa kosong?" tanya Andre menunjuk pada meja makan.
"Memang apa yang mau di masak. Stok makanan aja tidak ada," jelas Anjani.
Andre menepuk dahinya. Ia lupa bila belum belanja keperluan dapur.
"Ikut aku!" ajak Andre dan meminum susu yang di hidangkan Anjani. Kemudian ia menarik tangan Anjani.
"Mau kemana?" ucap Anjani, mengikuti tangan yang di pegang Andre.
"Kita ke swalayan," jelas Andre.
"Dengan baju kayak gini?" Anjani menunjukkan penampilannya. Andre pun tak rela, bila paha putih Anjani jadi tontonan gratis. Ia menyuruh Anjani masuk ke kamar dan berpakaian yang rapi.
Anjani mengenakan kaos putih dengan jaket jeans yang sepadan dengan celananya. Tak lupa topi putih kesayangannya.
"Topi siapa itu?" tanya Andre mengerutkan dahinya.
"Topi gue lah," sahut Anjani dan melangkah duluan keluar apartemen.
Saat di dalam mobil yang masih berada di parkiran, Andre melirik ke arah Anjani. Ia tersenyum. Anjani yang merasa risih dengan tatapan Andre, berkata. "Kenapa sih, ngeliatin aja!"
"Kamu sudah aku bawa ke surga dunia tapi masih galak aja," sahut Andre.
Mendengar perkataan Andrw seperti itu, Anjani memukuli pundak Andre. Andre yang meringis kesakitan, segera meminta maaf. Anjani pun menghentikan pukulannya.
"Kapan jalannya?" ucap Anjani.
"Boleh meminta sesuatu nggak?" sahut Andre.
"Apa?" tanya malas Anjani.
"Jangan bilang gue lo lagi ya! Ganti seperti waktu kamu di rumah Ayah," jelas Andre.
Anjani tak menyangka bila Andre mengingat detail setiap perkataannya walau sudah berganti hari.
"Iya," jawab Anjani.
Tiba-tiba gawai Anjani bergetar dan berbunyi. Nada yang menandakan pesan masuk.
'Ehem' tampilan pesan dari sahabatnya Boy. Tanpa pikir panjang lagi, Anjani langsung menelpon. Dering pertama langsung diangkat dari sana.
"Aduh pengantin baru! Sombong banget nggak inget sama kita-kita yang di sini," ujar Boy di sana dengan ciri khas lemah gemulainya.
"Lo yang kemana aja! Nggak telpon-telpon," sahut Anjani ketus.
"Eh ni, Say! Ibu ngelarang gue sama Sita buat kontakan sama lo dulu. Katanya biar lancar bulan madunya," jelas Boy di akhiri dengan tawa terbahak-bahak.
Anjani pun tersenyum simpul, pipinya merona.
Andre yang melirik wajah Anjani dari kaca spion ikut tersenyum. Ia tahu bila yang di bicarakan Anajni dengan sahabatnya tentang pernikahan mereka.
__ADS_1
Anjani mengakhiri panggilannya.
"Ndre. Antar gue ke mini market tempat kerja yang dulu ya," pinta Anjani sambil memasukkan gawai dalam saku celananya.
"Mas. Aku dan Kamu!" sahut Andre.
"Mas Andre. Tolong antarkan aku ke mini market tempat kerjaku yang dulu ya," ucap ulang Anjani dengan bahasa yang lembut layaknya wanita manja pada kekasihnya.
"Nah gitu dong, kalau begitu aku akan antarkan," sahut Andre dengan mengedipkan sebelah matanya pada Anjani.
Anjani memasang muka datar.
Mobil melaju sesuai permintaan Anjani.
Akhirnya sampai juga mereka di tempat yang di tuju.
"Tunggu dulu!" cegah Andre pada Anjani yang membuka pintu mobil.
"Minta nomor telponmu. Kalau ada apa-apa, aku nggak bingung," alasan Andre agar mendapatkan nomor sang Istri.
Setelah memberikan nomor telponnya, Anjani kembali membuka pintu tapi di cegah lagi oleh Andre. "Tunggu dulu!"
"Apa lagi sih!" jawab Anjani kesal.
Andre menunjukkan jari telunjuknya pada pipi kirinya.
"Apaan sih!" protes Anjani.
"Kalau nggak mau, aku bilang sama Ayahku dan Ibumu," ancam santai Andre.
Anjani merasa kena batunya. Karena kemarin-marin ia suka mengancam Andre agar mendapat apa yang ia ingnkan.
Dengan terpaksa Anjani mencium pipi Andre. Andre menunjuk lagi pipi sebelah kanannya. Anjani pun menurutinya.
"Udah kan!" ucap Anjani dengan sewot.
"Tersenyum dong! Masa suami mau kerja di manyunin," goda Andre sengaja membuat Anjani marah.
Anjani membuang pandangan dan menghela napas secara kasar. Kemudian ia menoleh ke Andre dengan tersenyum simpul hingga terlihat kedua lesung pipitnya.
Andre pun menikmati senyuman ciri khas Anjani yang sudah menjadi istrinya.
"Hati-hati ya, nanti aku hubungi kamu lagi. Istriku sayang," ucap Andre dengan menggoda.
Anjani lekas membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke mini market dengan wajah bersemu tanpa menoleh ke mobil. Andre yang memperhatikan Anjani menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada wanita seperti itu. Ya jelas ada, itu istrimu, Ndre," Andre berbicara sendiri.
...----------------...
Dev : Buat reader setiaku, mohon maaf author nggak bisa crazy up. Karena author tinggal di kota hujan dan bermukim di daerah pegunungan yang susah dengan jaringan 🤦♀.
Tapi author usahakan up setiap hari ya, walau waktunya ngacak
__ADS_1