ANJANI

ANJANI
Dunia yang Sempit


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Mereka saling tatap mata. Mengerutkan dahi satu sama lain. Mencoba mengingat sesuatu. Wanita cantik itu mengambil tisu itu dari tangan Anjani.


"Lo!" kalimat itu terlontar bersamaan bersamaan.


Anjani membuang pandangannya.


"Kalau tau ini lo, nggak bakal gue dekatin," ujar Anjani kesal.


Wanita cantik itu tersenyum tipis dan mencoba bangkit.


"Ternyata dunia ini sempit, ya!" ucapnya sambil mengusap darah di ujung bibirnya.


Anjani tidak menghiraukan perkataan wanita cantik itu. Ia bergegas meninggalkannya.


"Tunggu!" cegah wanita cantik itu.


Anjani pun menghentikan langkahnya.


"Lo mau ikut sama gue?" pintanya.


Anjani tersenyum sinis dan melanjutkan langkahnya.


"Anggap saja ini traktiran ucapan terima kasih buat tisu ini!" sambungnya.


"Nggak perlu!" sahut Anjani yang kembali hendak melangkahkan kakinya.


"Tunggu! Apa lo nggak mau dengar penjelasan soal foto itu?"


Anjani menoleh ke belakang dan menghampirinya.


"Dengar ya There. Jangan buka masa lalu lo yang memalukan. Karena gue muak dengarnya!" Anjani berucap. Menahan amarah dengan merapatkan giginya dan mengepalkan tangannya.


Theresia tersenyum simpul dan sedikit mendorong tubuh Anjani.


"Kasihan Andre. Orang yang di cintainya nggak percaya dengan ketulusan sebenarnya."


Anjani terdiam, dahinya berkerut. Tak mengerti apa yang di maksud dengan There.


"Makanya terima ajakan gue. Lo jangan takut, gue nggak akan macam-macam kok!" terang There menyakinkan Anjani.


"Ok. Gue terima ajakan lo," Anjani menyetujui ajakan There.


Akhirnya Anjani mengikuti langkah There dari belakang. Anjani memperhatikan gaya busana There.


"Nggak berubah dari dulu," gumam Anjani dalam hati.


There membawa Anjani di kafe sekitar hotel.


"Kenapa nggak di hotel aja?" tanya Anjani sambil menarik bangku dan mendudukinya.


"Takut masih ada si Mak Lampir. Bisa-bisa abis muka gue," jelas There.


"Kenapa nggak lo bales?" tanya Anjani.


"Berabe, An. Dia istri sah kekasih gue," jelas Anjani.

__ADS_1


"Dari dulu nggak berubah, suka jadi orang kedua," celetuk Anjani.


There tersenyum simpul. Lalu ia memesan minunan dan makanan pada pelayan kafe. Setelah pelayan pergi dari meja mereka, There menjawab celetukan Anjani.


"Lo salah! Bukan yang kedua tapi yang ke empat."


Anjani terkejut dengan status wanita yang ia kenal sebagai penghancur rumah tangganya itu.


Setelah makanan dan minuman yang di pesan datang. There mempersilakan Anjani untuk meminum dan memakannya. Namun Anjani sedikit segan.


"Tenang aja. Gue nggak kasih racun kok," jelas There.


"Buat apa gue percaya sama lo?" sahut Anjani.


Lagi-lagi There menyunggingkan bibirnya.


"Tapi lo harus percaya soal Andre," ucap There yang kemudian meneguk minuman yang ada di hadapannya.


Anjani terdiam.


"Sebenarnya Andre sama gue nggak beneran tidur bareng waktu itu," jelas There.


Anjani terkejut mendengar ucapan There.


"Dulu gue itu sebenarnya pacaran sama Ryan dan hampir bertunangan. Tapi, pas gue pikir harta orangtua Ryan pasti paling banyak jatuh ke Andre. Jadi gue putuskan mengakhiri hubungan dengan Ryan. Dan diam-diam gue dekati Andre," jelas There yang bercerita awal dekat dengan Andre.


Anjani masih terdiam dan mendengar cerita There.


"Dasar Andre, semua cewek di sikatnya. Waktu itu sebenarnya bukan gue aja yang jadi pacarnya, tapi semua bisa gue tanganin demi gue seorang yang bisa miliki dia," There berucap dengan bangga.


"Dasar siluman rubah, lo," umpat Anjani.


There tidak memperdulikan umpatan Anjani. Ia meneruskan ceritanya.


Wajah Anjani memerah, ingin rasanya ia pergi meninggalkan There.


There merasa senang dengan ucapannya itu.


"Tapi, setelah Andre nikah sama lo. Semuanya berubah sampe gue ngarang cerita kalau dia abis tidur sama gue di hotel. Dengan harapan dia bisa kembali sama gue. Tapi, hasilnya nol," lanjutnya.


Wajah Anjani yang tadi memerah berubah menjadi rasa bersalah pada Andre.


"Dia lebih memilih lo. Dan yang bikin gue kecewa lagi ternyata dia cuma anak angkat dari orang tua Ryan. Sementara gue minta balikan sama Ryan di tolak mentah-mentah," sambung There.


Kemudian There meneguk lagi air yang ada di hadapannya.


Anjani mencium bau alkohol dari minuman There.


"Minuman lo beralkohol?" tanya Anjani.


"Jangan heran. Di sini cuacanya dingin," jawab There.


"Terus dimana Andre sekarang?" pertanyaan itu spontan Anjani utarakan.


There tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Gue kurang tau persis. Tapi tiga tahun lalu saat gue putuskan jadi model majalah dewasa, gue pernah bertemu dia. Saat itu masih di Singapur. Dan dia menjelaskan masalah lo dengan dia," lanjut There.


Tak terasa air mata Anjani menetes. Menyesali perbuatannya telah mengusir Andre dari kehidupannya.

__ADS_1


There memperhatikan wajah Anjani. Kemudian ia memberi tisu pada Anjani. Saat Anjani menerima tisu itu, cincin pertunangannya dengan Roby terlihat oleh There.


"Lo udah dapet ganti Andre?" tanyanya.


"Bukan urusan lo," jawab ketus Anjani.


"Kasihan Andre. Istri yang di cintainya sudah ada yang mengikatnya," ucap There menyindir Anjani.


Anjani yang mendengar ucapan There bangkit dari duduknya.


"Santai, An. Lebih baik lo cari tahu dimana keberadaan Andre," saran There.


Anjani terdiam.


"Terimakasih atas traktiran dan sarannya," sahut Anjani dan meninggalkan There.


"Loh, An. Makanan sama minumannya belum lu sentuh," ucap There.


Anjani tidak menghiraukan ucapan There. Ia berlalu dengan tergesa-gesa. Air mata menetes dengan deras yang tak terbendung lagi. Nasi telah menjadi bubur. Entah apa yang akan di perbuatnya sekarang.


Anjani masuki hotel dengan tergesa-gesa dan tanpa sengaja menabrak pria berambut gondrong itu.


"Sorry," ucap Anjani dan lalu masuk ke dalam lift.


Pria itu memperhatikan Anjani yang menangis di dalam lift.


Sesampai di lantai kamarnya. Anjani segera memasuki kamar dan menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Ia menangis, mengeluarkan air mata lebih banyak lagi.


"Kenapa gue jahat? Kenapa?" kalimat itu terucap Anjani, sambil memukul-mukul tempat tidur.


Tak berapa lama Boy datang. Ia terkejut dengan wajah Anjani yang kacau.


"An. Lo kenapa? Ayo bilang ke gue?" tanya Boy yang mencoba menenangkan Anjanj yang mengacak-acak tempat tidurnya.


"Andre, Boy! Andre," jawab Anjani terisak-isak.


Boy mengerutkan dahinya.


"Andre? Emang lo ketemu dia?" tanya Boy.


Anjani menceritakan awal pertemuannya dengan There. Hingga soal cerita Andre.


Boy menghela napas.


"Udah, An. Kalau Andre masih berjodoh dengan lo. Pasti kalian ketemu lagi," Boy mencoba menenangkan Anjani.


Anjani memeluk tubuh Boy dan kembali menangis.


Karena tertalu lama Anjani menangis, akhirnya ia tertidur. Boy menyelimuti tubuh sahabatnya.


Ada rasa iba pada sahabatnya itu. Sehingga Boy meneteskan air mata.


"Sabar, An. Bahagia pasti lo akan rasain pada akhirnya," ucap lirih Boy sambil mengelus rambut Anjani.


Pria gemulai itu bangkit dari tempat tidur Anjani. Ia memeriksa persiapan gladi resik esok.


Hai, hai, reader setiaku.


Apa kabarnya?

__ADS_1


Smoga sehat wal afiat ya!


Author mau ucapin banyak terima kasih atas partisipasi kalian, buat vote, dan terutama yang kasih author hadiah 😘, smoga berkah ya.


__ADS_2