ANJANI

ANJANI
Gladi Resik


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Keesokan hari, Anjani terbangun. Manik hitamnya mencari-cari keberadaan Boy. Terdengar suara orang bernyanyi dari dalam kamar mandi.


Tak berapa lama, Boy keluar dari kamar mandi.


"Udah bangun, An?" tanya Boy sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Anjani mengangguk.


Setelah berpakaian rapi Boy menghampiri Anjani.


"Gimana, lo udah merasa baikan?"


"Iya. Terima kasih, Boy. Lo udah mau dengar cerita gue semalam," jawab Anjani.


"Kita bersahabat dari SMA. Jadi lo jangan sungkan cerita sama gue," sambung Boy.


Mereka saling tersenyum. Kemudian Anjani pergi ke kamar mandi. Sesampainya di kamar mandi, ia terkejut melihat matanya yang bengkak.


Lalu Anjani menyalakan shower. Kucuran air dari shower membuat dirinya merasakan ketenangan.


"Maafkan aku, Andre. Dimana kamu sekarang?" gumam Anjani dalam hati.


Seorang roomboy mengantarkan sarapan pagi. Anjani pun telah selesai dari kamar mandi.


"Sarapan, An!" Boy menawari Anjani.


Anjani bergabung bersama Boy. Menikmati hidangan sarapan pertamanya di hotel.


"Boy. Mata gue bengkak banget nih," ucap Anjani yang sambil mengunyah makanan.


"Tenang. Nanti gue akalin biar nggak terlalu kelihatan bengkak," sahut Boy.


Setelah selesai makan, Boy menyamarkan mata Anjani yang bengkak itu.


"Boy. Gue boleh tanya nggak?" ujar Anjani.


"Tanya apa, An?" sahut Boy.


"Lo, pernah ngerasain jatuh cinta nggak sih?" lanjut Anjani.


Boy menghela napas, lalu ia duduk di sebelah Anjani. "Pernah, An. Tapi terlalu sakit untuk mengingatnya."


"Maaf, Boy. Bukan maksud gue begitu," sambung Anjani.


Boy membelai rambut Anjani, "Sabar, An. Cinta sejati lo pasti akan datang. Lo jangan sedih, lo harus kuat agar bisa menyambutnya."


Anjani mengangguk.


"Sekarang kita siap-siap, yuk! Kita buktikan kalau kita bisa raih semua impian kita," Boy menyemangati sahabatnya.


Walau dalam hatinya menderita juga dalam cinta.

__ADS_1


Boy memperhatikan lagi hiasan dalam wajah Anjani.


"Lo, jangan nangis lagi ya! Nanti concellarnya luntur."


"Siap! Make up artis ternama," Anjani memuji Boy.


Spontan Boy berlenggak-lenggok seperti di atas panggung.


"Ayo ah, An! Nanti panitia bule itu ngomel," ucap Boy sambil memeriksa wajahnya dalam cermin.


Mereka bergegas dengan barang-barang bawaannya, menuju tempat event itu berada.


Saat di loby hotel, banyak peserta event yang telah siap menuju tempat acara tersebut. Mereka menaiki bus yang telah di sediakan pihak panitia.


Saat hendak menaiki bus, Anjani melihat There bergandengan tangan dengan pria berambut putih itu.


"Sudah baikkan lagi rupanya. Dasar There," gumam Anjani.


Bus membawa mereka dengan kecepatan sedang. Membuat mereka nyaman dan tak terasa sudah sampai.


"Sudah sampai, ya?" tanya Anjani.


"Kalau jauh-jauh dari hotel, mereka rugi, An," sahut Boy.


Para peserta turun dari Bus dan mengambil barang masing-masing dari bagasi bus.


Anjani tercengang melihat gedung yang akan di pakai acara tersebut. Boy menyenggol tangan Anjani dan mengajaknya masuk ke dalam gedung.


"Boy. Keren banget gedungnya," bisik Anjani.


"Gedung ini biasa di pakai untuk acara seperti ini tiap tahun," jelas Boy.


Anjani mengangguk.


Sesampainya di ruang rias, Boy dan Anjani di hampiri beberapa model yang akan memperagakan karya Anjani. Mereka berkenalan satu sama lain. Termasuk dengan Boy sang make up model.


Anjani mendapat giliran tampikan dengan nomor dua puluh tujuh dari tiga puluh peserta.


"Jauh banget, Boy!" keluh Anjani pada Boy.


"Semangat!" Boy memberi semangat pada Anjani.


Sambil menunggu giliran, Anjani mempersiapkan model yang memakai rancangannya.


Anjani banyak tersenyum dengan model-model itu. Tiap peserta desaigner hanya boleh membawa lima rancangannya.


Tiba giliran Anjani dan Boy. Banyak yang terpesona dengan rancangan Anjani. Rancangan ciri khas negaranya. Paduan batik dan model baju kekinian pada musim semi.


Rupanya, pria berambut gondrong itu ikut menyaksikan gladi resik itu. Termasuk There dan pria berambut putih itu.


There memperhatikan pria berambut gondrong itu yang berdiri tak jauh dari dirinya dan menghampirinya.


"Andre! Kamu Andre kan?" ucap penasaran There.


Pria berambut gondrong itu melepas kacamata hitamnya.

__ADS_1


"Masih ingat rupanya kamu, There," jawab There.


There langsung memeluk erat Andre. Tapi gerak-geriknya di perhatikan pria berambut putih yang tengah duduk itu.


There mengajak Andre untuk di perkenalkan pada pria berambut putih itu. Mereka saling memperkenalkan diri dan mengobrol.


Dari kejauhan saat peragaan rancangannya, Anjani memperhatikan There dan Andre.


"Dasar There, sudah ada pemiliknya masih aja kepincut lekaki lain," gumam Anjani yang melihat There berbisik dengan Andre.


Dari depan panggung, There asik mengobrol dengan Andre.


"Anjani ada di sini," bisik There pada Andre.


Andre hanya tersenyum tipis. Sebenarnya ia sudah tahu bila wanita yang memperhatikannya di balkon itu adalah Anjani.


Andre memerintahkan bodyguardnya untuk menyelidiki Anjani.


Saat gladi resik selesai. Entah mengapa Anjani membuntuti pria berambut gondrong itu.


"Aku penasaran siapa dia?" gumamnya dalam hati.


Anjani berpamitan dengan Boy. Boy sebenarnya melarangnya. Tapi Anjani bisa menyakinkan Boy hingga Boy mengijinkannya.


Andre meninggalkan gladi resik itu dan bergegas pergi ke hotel bersama kedua bodyguardnya.


Anjani memanggil taksi dan menyuruhnya mengikuti mobil itu.


Andre turun dari mobil dan segera masuk ke dalam hotel. Kedua bodyguardnya tidak ikut turun dari mobil.


Tak lama kemudian, Anjani pun tiba di hotel. Setelah membayar taksi, ia buru-buru mengikuti pria berambut gondrong itu.


Saat di depan lift, ia menghitung kira-kira di lantai berapa pria berambut gondrong itu berada.


Saat lift terbuka, ia segera masuk dan memencet tombol angka yang di yakini pria gondrong itu berada.


Setelah sampai di lantai yang di tuju. Anjani terkesima dengan suasana lantai itu. Seorang roomboy menghampirinya dan mengantarkan Anjani ke depan pintu kamar pria gondrong itu.


Anjani bingung, kenapa roomboy itu tahu bila ia ingin bertemu seseorang. Pikir Anjani, pria banyak duit biasa di hadirkan dengan wanita panggilan untuk menemaninya di kasur.


Anjani tidak. memperdulikan pikirannya yang seperti itu. Ia tetap ingin tahu siapa pria berambut gondrong itu. Sampai-sampai There memeluknya.


Saat ingin mengetuk pintu kamar itu, Anjani ragu.


"Ntar dikira, gue cewek panggilan lagi," gumam dalam hatinya.


Tiba-tiba gawainya bergetar. Di lihatnya panggilan masuk dari Roby. Namun Anjani tidak memperdulikannya.


"Silakan masuk," suara dari balik pintu itu terdengar.


Anjani di persilakan masuk. Tapi Anjani mengerutkan dahinya, sepertinya ia kenal dengan suara itu.


Rasa penasaran membuat lupa Anjani. Pintu yang tidak tertutup rapat itu dibukanya.


Anjani bingung, sepertinya pemilik kamar sengaja tidak merapatkan pintunya.

__ADS_1


Anjani pun masuk. Manik hitamnya memperhatikan suasana kamar itu, sampai tak sengaja menutup pintu dengan rapat.


Jangan lupa bintang limanya kalo koment.


__ADS_2