ANJANI

ANJANI
Mengagumi Kaka Ipar


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Anjani memperhatikan Andre dan There saling beradu urat. Terbesit kejadian seperti ini menimpa sahabatnya si seksi Sita. Anjani tidak mau bila harus terjadi seperti Sita.


Ketika Anjani berdiri dari duduknya. There menghentikannya.


"Diam Lo! Dasar perempuan murahan, bisanya ngerebut pacar orang," ucap There berapi-api.


Anjani membelalakan matanya, ia memperhatikan orang di sekeliling yang memperhatikan mereka.


"Tutup mulutmu, There. Jangan sembarang bicara," ujar Andre yang mengecilkan volume suaranya karena sadar mereka sudah jadi tontonan gratis.


There yang mendengar ucapan Andre berpikir bila Andre berpihak pada Anjani.


"Dasar perempuan sudel!" There berucap sambil melayangkan tangan kanannya ke arah wajah Anjani.


Anjani menangkis tangan There. Lalu ia memegang pergelangan There dan memutarkan ke arah belakang There.


"Eh perempuan seksi yang kelewat seksi! Hati-hati ya sama mulut lo! Mau gue bikin pindah nih bibir?" ancam Anjani yang menatap lekat bibir There.


There meringis kesakitan. Andre meminta Anjani menghentikan tindakannya.


"Seharusnya lo sadar, siapa yang jadi orang ketiga dalam rumahtangga orang," ucap Anjani sambil melepaskan tangan dan mendorong tubuh There ke arah Andre.


Anjani meninggalkan mereka berdua. Anjani segera memanggil taksi dan meminta mengantar ke tempat tujuannya.


Tanpa disadari, taksi yang di naiki Anjani diikuti seseorang dari belakang. Mobil berjenis jeep berwarna merah mengikuti sampai taksi Anjani berhenti di suatu tempat.


Anjani duduk di bangku pengunjung danau. Danau yang banyak di kunjungi orang yang sekedar jalan-jalan menghilangkan penat dari kebisingan kota.


Saat Anjani menyandarkan tubuhnya, tiba-tiba ada seorang lelaki yang menghampirinya.


"Rupanya Kakak Ipar lebih damai di area seperti ini," ucap Ryan yang ternyata ada di sebelah Anjani.


Anjani terkejut, pasalnya tidak ada yang tahu saat ia menenangkan diri di tempat ini selain kedua sahabatnya Sita dan Boy.


"Lo ngikutin gue ya?" selidik Anjani ke arah Ryan.


Ryan tersenyum tipis.


"Aku suka dengan cara Kakak melawan kekasih centilnya Mas Andre," jelas Ryan.


Benar dugaan Anjani bila Ryan mengikutinya dan Andre.

__ADS_1


"Lo mau apa?" tanya Anjani tanpa basa-basi.


"Tidak ada," jawab Ryan dengan enteng.


Pandangan Anjani kembali pada danau yang tenang itu.


Di tempat yang berbeda. Andre dan There masih berdebat dengan argumen masing-masing.


"Kenapa kamu nggak bilang dari awal, kalau Anjani istri yang dijodohkan Ayahmu," ucap manja There yang melingkarkan tangannya pada leher Andre.


Andre yang terlanjur kesal, melepaskan tangan There. There tidak mau Andre larut akan marahnya. Ia mulai menciumi pipi Andre.


"Tolong menjauh dariku, There. Keluarlah ke mobilmu, aku mau pulang," pinta Andre.


Wajah There berubah merah padam. Ia kesal dengan penolakan Andre karena istri tomboynya itu.


"Apa kamu mulai mencintai istri tomboymu?" tanya sinis There.


Andre tidak menjawab, ia menyandarkan kepalanya pada bangku stir mobilnya.


There yang tak rela pikiran Andre ada Anjani, ia mulai meraba dada bidang Andre sambil meremas-remasnya.


"Aku bilang keluar dari mobilku, sekarang!" bentak Andre.


There yang berniat ke swalayan akhirnya membatalkannya. Ia melajukan mobilnya ke sebuah tempat fitnes langganannya, dan mencari seseorang. Seseorang yang di cari There ialah seorang pria dengan badan kekar yang mempunyai perut seperti roti sobek. Roti yang biasa ia makan untuk sarapan.


Di dalam hotel, There mengeluarkan lintingan nikotin, membakarnya dan mulai menghisapnya. Pembicaraan serius ia sampaikan pada seseorang. Setelah pembicaraan lama itu di sepakati, akhirnya mereka melalukan pergumulan layaknya suami istri.


Sementara Andre, kembali ke apartemen dan mencari-cari keberadaan Anjani. Namun Anjani tidak ada. Akhirnya Andre memutuskan untuk ke restonya.


"Mungkin Anjani ada di sana," pikir Andre.


Andre berlalu dengan mobilnya menuju resto.


Sesampainya di resto, lagi-lagi Anjani tak di temukan.


"Kenapa nggak Bapak coba telpon," saran Pras saat di ruangan Andre.


Andre terdiam, membodohi dirinya. Karena ia sampai saat ini tidak mengetahui nomor gawai Anjani.


Andre memutuskan menyelesaikan pekerjaannya. Dan berharap tidak terjadi apa-apa dengan Anjani. Semoga saja.


Sementara di ruang resto pengunjung. Roby mencari-cari keberadaan Anjani. Ia bertanya pada Anita. Namun ia tidak mendapatkan informasi yang di inginkannya.


Ryan yang bersama Anjani, membawanya pulang ke rumah. Karena Anjani ingin melihat keadaan Ayah mertuanya itu. Di dalam perjalanan, Anjani tertidur. Ryan menikmati wajah polos Kakak Iparnya itu.

__ADS_1


Wajah ketulusan dari seorang wanita, yang menikah tanpa mengenal harta dan calon suami. Ryan juga menyayangkan dengan sikap Andre yang tetap menjalin hubungan dengan There, wanita yang haus akan harta.


Sesampainya di rumah Tuan Anggoro. Anjani di sambut senyum mengembang dari Ayah mertuanya.


"Apa kabar, Yah?" ucap Anjani setelah mencium tengkuk tangan mertuanya.


"Baru semalam kamu pindah, sudah kangen aja sama Ayah," goda Ayah mertua yang duduk di kursi roda.


Anjani dan Tuan Anggoro berbincang-bincang seperti Anak dan Ayah yang sudah lama tak bertemu. Ryan mengamati dari kejauhan. Beberapa saat kemudian, gawainya berbunyi.


Panggilan masuk datang dari Andre. Ryan menerima panggilan itu. Rupanya Andre mengkhawatirkan istri tomboynya itu. Ryan memasang wajah tidak suka dengan kekhawatiran Andre. Lalu panggilan berakhir.


"Semoga khawatirmu tulus, Mas," gumam Ryan dalam hati.


Ryan menuju kamarnya, sementara Anjani di dapur. Ia ingin belajar memasak dengan bantuan Bi Inah. Ia ingin mempersembahkan masakan pertamanya untuk sang mertua.


Setelah masakan siap dihidangkan di meja makan. Mereka bertiga berkumpul dan siap-siap menilai masakan perdana Anjani. Tuan Anggoro dan Ryan mulai mencicipi masakan itu.


"Bagaimana, Yah?" tanya Anjani meminta penilaian atas masakannya oleh Ayah mertuanya.


"Ayah kasih nilai tujuh," sahut Tuan Anggoro pada menantunya.


"Syukurlah kalau Ayah suka," terang Anjani dengan tersenyum lebar, hingga lesung pipitnya membekas di kedua pipinya.


Ryan tersenyum simpul melihat senyum Anjani. Meski terpaut tiga tahun lebih muda darinya, Ryan merasakan kebahagian dalam diri Anjani.


Anjani yang merasa diperhatikan oleh Adik Iparnya itu, mengangkat kedua alisnya.


"Kok bengong. Ayo nilai masakan Kakak Iparmu ini," pinta Anjani.


Ryan tersadar akan lamunan kekagumannya. Ia mulai mencicipi masakan Anjani.


"Bagaimana?" tanya Anjani.


"Sepertinya Kakak Ipar harus masak setiap hari disini," ucap Ryan.


Anjani tersenyum mengembang lagi, "Pintar sekali rayuan Adik Iparku ini."


Anjani berucap sambil mengelus gemas kepala Ryan.


Ryan merasakan sentuhan tangan Anjani hingga jantungnya berdetak kencang. Aliran darahnya bergolak panas. Sehingga Ryan membuang udara dari mulutnya.


"Ada apa denganku," gumam dalam hati Ryan.


Ingin membuang perasaan aneh pada dirinya. Ryan melanjutkan bincang-bincangnya. Kehangatan tercipta di meja makan itu. Nampak dari kejauhan, Andre menyaksikannya.

__ADS_1


__ADS_2