
...HAPPY READING...
...----------------...
LIMA TAHUN KEMUDIAN
"Boy, udah siap belum?" tanya Anjani melalui gawainya.
"Bentar lagi," sahut Boy dari sana.
Anjani mematikan gawainya. Ia mulai memeriksa gaun yang akan di tampilkan di pertunjukan.
"Hai!" ucap Boy yang langsung masuk ke ruangan Anjani.
"Lah, katanya bentar lagi! Kenapa tau-tau ada disini? Ngerjain gue, lo ya?" sahut Anjani sewot sambil bertolak pinggang.
Boy tertawa, lalu menghampiri Anjani.
"Nggak usah marah-marah. Ntar cepat tua lho!" sahut Boy dengan ciri khas lemah gemulainnya.
Anjani kembali ke meja kerjanya untuk mengambil tas. Kemudian mengambil beberapa gaun yang akan di pertunjukan pada acara fashion show di kota itu.
"Mereka udah pada di sana lho," ujar Boy sambil mengemudikan mobilnya.
"Senang ya! Banyak pihak terkait mendukung acara ini," ucap Anjani melirik Boy.
Boy tersenyum, ia menyetel lagu full musik. Lagu yang mengantar mereka sampai tujuan.
Anjani tercengang. Melihat suasana lampu di acara itu. Padahal acara berlangsung masih tiga jam lagi.
"Buruan masuk!" ucap Boy menyenggol tubuh Anjani yang masih terpana dengan penataan lampu acara itu.
Anjani berlari kecil, mengejar Boy yang sudah meninggalkannya.
Di dalam tata rias, Boy mulai sibuk dengan peralatan make upnya. Sedangkan Anjani, merapikan lagi para model yang akan memperagakan rancangannya.
Mereka melakukan gladi resik. Para model mulai berlenggak-lenggok. Boy dan Anjani merasa puas dengan kerja keras mereka selama ini.
Tak terasa sudah waktunya fashion show itu berlangsung. Para undangan dan wartawan terkagum dengan karya mereka. Dari make up sampai rancangan Anjani.
Acara telah sampai di ujung akhir. Rancangan Anjani telah berhasil, untuk maju ke acara fashion show internasional di Paris. Ucapan selamat berhasil ia dapatkan. Termasuk dari Ryan.
Ryan yang bergandengan Sita memberikan ucapan selamat.
"Selamat Kakak Ipar! Akhirnya impianmu terwujud," ucap Ryan menjabat tangan Anjani dengan erat.
Jabatan tangan itu di perhatikan oleh Sita. Ia merasa bila Ryan masih menaruh hati pada Anjani namun Anjani tidak meresponnya. Sita berdehem, untuk Ryan segera melepas jabat tangan itu.
Setelah Ryan melepas jabat tangan itu, Anjani pun memeluk Sita. Ucapan Selamat pun terlontar dari bibir Sita.
"Selamat ya, An," ucap Sita.
__ADS_1
"Terimakasih," jawab Anjani dengan tersenyum simpul.
Akhirnya Anjani berkemas membereskan peralatannya di ruang rias acara itu.
"Paris, aku datang," gumam Anjani sambil tersenyum senang.
Sementara di mobil, Sita dan Ryan tengah berdebat.
"Jangan kamu ulangi lagi yang seperti itu," ucap Ryan menasehati.
"Aku merasa benar. Biar rasa sukamu itu sadar, bila kamu sudah punya tunangan," sahut Sita ketus.
"Sudahlah! Aku capek dengan rasa cemburumu yang tak beralasan," jelas Ryan dengan wajah datar.
"Hah! Memangnya aku nggak tahu dengan sikapmu pada Anjani itu. Kita sudah tiga tahun bertunangan tapi sampai sekarang belum ada kata-kata dari dirimu untuk mengajakku ke pelaminan," umpat Sita, membuat Ryan menoleh padanya.
Dengan cepat, Ryan menyambar bibir Sita yang sedang marah itu. Tanpa persiapan, Sita pun menerima serangan itu. Tangan Ryan mulai bermain di atas dada Sita.
Baru beberapa menit mereka melakukan pemanasan itu, tiba-tiba kaca mobil di ketuk dari luar. Mereka berdua kaget, dan merapikan diri masing-masing yang mulai sedikit berantakan.
Ryan membuka kaca mobilnya.
"Kami pulang duluan ya!" pamit Boy dengan tersenyum simpul.
Ryan dan Sita mengangguk. Wajah mereka tampak merah.
"Makanya buruan nikah, biar kalian bisa menempatkan diri," goda Boy.
Ryan dan Sita mengerti apa yang dikatakan Boy.
Akhirnya mereka semua meninggalkan tempat acara itu.
Matahari memancarkan sinar hangatnya. Anjani mengucek-ngucek matanya, lalu ia melihat jam yang terpajang di dinding.
"Ya ampun udah siang," gumamnya.
Anjani berjalan dan keluar kamar. Dilihatnya Ibu sedang menonton siaran berita di televisi.
"Ibu kenapa nggak bangunin aku sih!" ucap Anjani sambil memeluk Ibunya.
"Ibu nggak tega. Akhir-akhir ini kamu sering pulang pagi, jadi Ibu biarkan menikmati tidur," jawab Ibu tersenyum.
"Nggaklah, Bu! Anjani menjalankannya dengan senang hati," jawab Anjani lalu meneguk air dari atas meja yang tak jauh dari ruang itu.
"Kapan kamu bisa melupakan Andre, Nak?" tanya Ibu menoleh ke arah Anjani.
Anjani terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Ibunya. Pandangannya menjadi kosong. Sebenarnya ia memikirkan dimana keberadaan Andre sekarang.
"Anjani, Anjani!" panggil Ibu membuyarkan lamunan Anjani.
"I-iya, Bu!" sahut Anjani.
__ADS_1
"Kapan kamu mau menikah lagi?" tanya lagi Ibu.
"Roby belum mengajak ke arah situ, Bu," jawab Anjani.
"Roby atau kamu yang belum bisa melupakan Andre," timpal Ibu.
"Sudahlah, Bu! Aku menikmati kesendirianku dan aku juga sudah berusaha membuka hati untuk Roby," sahut Anjani dan kembali ke dalam kamar.
Di dalam kamar, ia mengambil sebuah kotak cincin pernikahannya dengan Andre.
"Aku tidak tahu sampai kapan bisa mencari penggantimu," gumam Anjani memperhatikan cincin itu.
Dari dalam kamar terdengar suara mobil terparkir di depan rumah.
"Siapa ya?" gumam Anjani dalam hati.
Lalu Anjani keluar kamar. Dilihatnya pria yang setia menjadi kekasihnya selama ini.
Pria itu mencium punggung lengan Ibu Anjani dan bercengkrama.
Lalu Ibu pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Roby?" ucap Anjani terkejut.
Kemudian memeluk Roby fashion itu, aku bisa jemput kamu di bandara," sahut Anjani dengan cemberut.
"Aku nggak mau merepotkanmu, pasti kamu capek!" ucap Roby sambil menyentil hidung Anjani.
Anjani mengusap-usap hidungnya. Ibu datang membawa minuman dan makanan.
"Ayo, Roby! Di minum dulu airnya," pinta Ibu menghidangkan di atas meja.
"Terimakasih, Bu," ucap Roby dan duduk.
Anjani menoleh ke sana-sini, "Mana oleh-olehku?"
"Kamu ini, baru aja Roby sampai udah tanya oleh-oleh," sahut Ibu ke arah Ibu.
"Aku bawa kok," ujar Roby.
Ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Kotak kecil berwarnakan merah delima.
Roby membukanya. Lalu ia berlutut di hadapan Anjani di saksikan oleh Ibu Anjani.
"Maukah kamu menikah denganku?" tanya Roby dengan tersenyum.
Hati Anjani berontak. Sebenarnya bukan ini yang ia inginkan. Ia belum bisa menggantikan posisi Andre dengan orang lain. Anjani terdiam, matanya berkaca-kaca. Ia bingung dengan permintaan dadakan Roby di depan Ibunya pula.
Anjani menoleh ke arah Ibunya. Ibunya pun mengangguk. Pandangan Anjani kembali ke arah Roby. Tetes air matanya mulai jatuh. Anjani mengangguk. Spontan Roby langsung menyematkan cincin itu ke jari manis kanan lalu memeluk erat Anjani.
Air mata Anjani menetes lebih banyak lagi. Dalam hati ia meminta maaf pada Andre.
__ADS_1
Hayo! Mau tahu cerita selanjutnya nggak?
Kasih author komen dengan bintang lima ya, biar cerita ini bisa jadi top ranking.