ANJANI

ANJANI
Hotel


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Saat tiba di hotel, banyak para undangan yang hadir. Boy dan Anjani terpaksa sedikit mengantri di bagian front office. Bagi mereka, tak apalah mengantri di acara yang setahun sekali yang di adakan itu.


Sedang asik mengantri, tiba-tiba ada seorang pria, berpakaian jas hitam rapi langsung menyerobot ke depan. Semua mata tertuju padanya. Mereka saling berbisik dengan menggunakan bahasa dari negara masing-masing.


Ternyata, mendengar dari perkataan salah satu pengunjung yang menggunakan bahasa Inggris yang menyerobot antrian itu adalah seorang body guard. Tak jauh dari sisi Anjani, terlihat jelas seperti seorang yang kaya raya sedang di jamu oleh Manager hotel.


Pandangan Anjani tertuju pada wanita di sebelah pria yang rambutnya sudah memutih itu. Wanita itu berpakaian seksi, dengan menonjolkan dadanya. Siapa pun yang melihatnya akan menelan salivanya.


Anjani memperhatikan dengan saksama wanita itu. Sepertinya, ia mengenalnya. Namun mana mungkin. Apakah dunia ini selebar daun kelor, menurut Anjani.


Setelah body guard itu mendapatkan kunci yang di inginkan. Ia segera menghampiri tuannya. Akhirnya mereka melangkah, meninggalkan antrian tersebut.


"Sultan mah bebas ya, Boy?" bisik Anjani.


Boy mengangguk dan tertawa kecil.


Tinggal dua baris antrian lagi. Tiba-tiba ada seorang body guard lagi yang menyerobot antrian itu. Mereka yang mengantri, hanya bisa menghela napas secara kasar.


Lagi-lagi Anjani memperhatikan siapa gwrangan tuan si body guard itu.


Seorang pria berkaca mata hitam. Dengan rambut gondrong dan di ikat ke belakang. Ada sedikit cambang yang tersusun rapi menghiasi wajahnya. Anjani terpesona melihatnya. Namun entah mengapa, detak jantung Anjani berdetak kencang.


Ia memegangi dadanya tersebut.


"Kenapa dengan jantungku?" gumam Anjani.


Anjani mendengar lagi dari salah satu perkataan salah satu peserta event. Bahwa lekaki itu berasal dari Inggris dan salah satu bos besar penyenglenggara acara event tersebut. Dan yang pasti, ia masih sendiri.


Anjani menepis dengan detak jantungannya. Rupanya, peserta event yang lain pun terpesona dengan pria itu.


Body guard itu telah mengambil kunci. Kemudian ia menghampiri tuannya. Sebelum meninggalkan antrian tersebut, tuan tampan tersebut melambaikan tangan kepada kami yang masih mengantri.


Wanita-wanita yang kesepian seperti Anjani pun, merasa tergetar hatinya. Menerima sapaan walau hanya dengan lambaian tangan sudah merasa pria itu milik mereka.


Boy yang memperhatikan Anjani pun, membunyikan petikan tangan pada lamunan Anjani.

__ADS_1


"Awas! Pangeran akan berubah seperti kodok lagi," bisik Boy.


Anjani yang mendengar perkataan Boy, spontan bergidik.


Setelah mereka berdua mendapatkan kunci, kemudian bergegas ke kamar. Mereka mendapatkan satu kunci kamar. Karena mereka hanya memesan satu kamar.


Di dalam kamar Boy merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sementara Anjani melihat-melihat di luar balkon.


"Indah juga," gumam Anjani.


Anjani mendekatkan dirinya pada pagar tembok balkon.


Dari kejauhan, terpisah oleh dua lantai. Anjani memperhatikan pria yang berambut gondrong itu dengan beberapa body guardnya. Terlihat jelas bila si tuan adalah tamu penting. Karena bisa menempati hotel VVIP.


Anjani melihat dari sisi kanan pria itu.


"Kenapa aku penasaran dengan pria itu ya?" gumam dalam hati yang memaksakan diri bergeser kesana-kesini untuk melihat wajah pria itu.


Sehingga ia tersungkur. Kaki Anjani tersandung kursi dari belakang.


Bunyi berisik dari meja dan kursi yang jatuh ke lantai barsamaan dengan dirinya, membuat para body guard waspada melindungi tuannya.


"Kenapa An?" tanya Boy.


Pandangan Anjani masih tertuju ke balkon tuan yang di kelilingi body guard itu. Boy pun mencari kemana Anjani melihat.


Boy melihat body guard yang siaga dari penyerangan. Ia menganggukkan kepalanya pada mereka. Lalu membantu Anjani berdiri.


"Lo apa-apaan sih, An! Kenapa bisa jatuh?" tanya Boy.


"He ...." Anjani tersenyum sumringah pada Boy, ia malu karena kecerobohannya.


Dari balkon mewah itu terlihat pria berambut gondrong itu memperhatikan Boy dan Anjani.


Boy membawa Anjani masuk ke dalam kamar.


Anjani duduk di sofa. Ia menekan tombol remot televisi. Tangannya mengutak-atik tombol remot namun pandangannya masih tertuju ke balkon VVIP.


Boy menepuk pundak Anjani.

__ADS_1


"Woy! Fokus dong," Boy mengambil alih remot televisi itu.


"Boy, meja dan kursi di balkon belum di rapiin," ucap Anjani yang beranjak dari sofa.


Boy memoyongkan bibirnya.


Anjani merapikan meja dan kursi di balkon kamarnya. Saat ia menoleh ke lantai VVIP itu, objek pandangannya berubah kosong. Tak ada seorang pun di situ.


Lalu Anjani masuk ke dalam kamar lagi.


"Jangan lupa kabari Ibu sama Roby, kalau kita sudah sampai dengan selamat," ujar Boy yang rebahan di atas sofa.


Anjani menepak dahinya. Ia lupa akan Roby dan Ibu.


Setelah beberapa jam di dalam kamar, Boy mengajak Anjani pergi ke klub yang ada di lantai atas. Sebenarnya Anjani menolaknya, karena ia tidak suka kebisingan musik yang volume suaranya keras di telinga.


Anjani pun mengikuti langkah Boy dari belakang.


Sesampainya di klub, benar saja kata Boy. Mereka para peserta event banyak yang berada di sana. Alunan musik yang begitu bising membuat Anjani menutup kedua telinganya dengan tangan.


Anjani mengajak Boy untuk kembali ke kamar hotel. Namun Boy menolaknya. Akhirnya Anjani memutuskan untuk kembali seorang diri.


Saat berada di koridor tak jauh dari klub. Anjani melihat seorang wanita paruh baya namun terlihat awet muda, sedang memaki wanita cantik.


Anjani menghentikan langkahnya. Karena beberapa menit kemudian pria tua yang berambut putih itu menarik tangan wanita paruh baya itu.


Penolakan dari wanita paruh baya itu hingga membuat ia melayangkan tamparan di pipi wanita itu. Belum puas dengan tamparannya, wanita paruh baya menarik rambut lalu mendorong tubuh wanita cantik itu.


Pria rambut putih melerai. Ia memegangi tangan wanita paruh baya itu. Ia juga memerintahkan dua body guard untuk membantu wanita cantik itu untuk berdiri.


Terlihat dari ujung bibirnya mengeluarkan darah. Wanita paruh baya itu berteriak kepada kedua body guard itu dan berbicara sambil menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuknya.


Akhirnya, pria berambut putih memaksa wanita paruh baya untuk pergi meninggalkan koridor. Bahkan ia menarik paksa tangan wanita itu.


Setelah pria berambut putih dan wanita paruh baya itu pergi bersama dengan kedua body guardnya. Anjani memberanikan diri mendekatkan wanita cantik itu yang masih duduk tertunduk. Ia menahan sakit, memegangi ujung bibirnya.


Ada beberapa orang yang melihat adegan itu. Wanita cantik itu tersadar jadi tontonan, ia marah-marah dan mengusir orang-orang yang memperhatikannya termasuk Anjani.


Anjani menghentikan langkahnya. Namun karena iba, ia mendekat lagi ke wanita cantik itu.

__ADS_1


Anjani memberikan tisu pada wanita cantik itu. Wanita itu memperhatikan tisu yang ada di hadapannya. Kemudian ia menoleh ke wajah Anjani.


__ADS_2