
...HAPPY READING...
...----------------...
Malam telah larut, Anjani merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Andre masih sibuk dengan laptop sesekali memegang gawainya.
"Apa bener yang di bilang teman-teman, kalau pria itu suka dengan wanita yang memakai baju seksi. Tapi, aku nyaman-nyaman aja dengan pakaianku. Malah bebas bergerak tanpa memikirkan orang melihat terlalu dalam. Ah, biar saja kata-kata mereka, aku mau jadi diri sendiri. Tanpa harus jadi si A, si B," gumam Anjani dalam hati sambil menatap dalam wajah Andre dan menghela napas.
"Tampan sih suamiku itu, tapi kenapa ia mau dijodohkan denganku? Tapi, memang si There nggak mungkin mau lepasin suamiku. Aduh, bagaimana ini," lagi-lagi Anjani bergumam dengan hatinya yang mulai berontak.
Andre tersenyum, melirik Anjani yang memperhatikannya dari tadi.
"Apa dia mulai memikirkan ku? Bila memang benar, aku akan berusaha mencintainya dan meninggalkan There. Aku mau membuktikan bila aku bisa berubah dan aku tahu balas budi. Ibu semoga kau tenang si surga," Andre berkata dalam hati.
"Kenapa kamu memperhatikan aku terus?" ucap Andre, membuyarkan lamunan Anjani.
"N-nggak apa-apa," sahut Anjani terbata-bata.
Andre merapikan perangkat kerjanya dan merebahkan diri di sebelah Anjani.
"Sekarang, kalau kamu pergi harus ada yang menemani. Bila tidak ada, lebih baik nggak usah pergi kemana-mana," saran Andre sambil memiringkan badannya ke arah Anjani.
"Apa-apaan ini! Kenapa aku seperti anak kecil, perlu pengawal dan tidak bisa bebas bergerak," protes Anjani.
Andre menghela napas panjang.
"Kamu pikir, ini tidak di sengaja?" pernyataan Andre sambil menunjuk ke kaki Anjani.
"Dari mana kamu tahu kalau ini perbuatan di sengaja?" tanya balik Anjani yang masih belum puas dengan pernyataan Andre.
"Kamu ikuti saja kata-kataku, semua demi keselamatannmu," sambung Andre.
Andre menghindari perdebatan dengan Anjani dan menarik selimut menutupi tubuhnya.
Anjani pun memejamkan matanya.
Saat matahari terbit, Andre dan Anjani sarapan.
"Kamu jangan kemana-mana. Aku akan belikan tongkat untuk membantumu berjalan sementara," ujar Andre yang telah menyelesaikan sarapannya.
"Aku jenuh, aku ikut ke resto ya!" pinta Anjani.
Andre berpikir sejenak. Ia khawatir bila There akan menghampirinya lagi di resto.
"Kamu tempat Ibumu dulu ya?" saran Andre agar Anjani tidak ikut ke resto.
"Wah! Boleh banget," jawab Anjani kegirangan.
Andre tersenyum dengan tingkah laku Anjani yang seperti anak kecil itu.
__ADS_1
Sarapan telah selesai. Mereka segera menuju toko alat kesehatan untuk membeli tongkat. Setelah tongkat yang di cari sudah di beli, mereka pun ke resto sebentar.
"Kamu di mobil aja dulu. Aku mau ambil sesuatu di ruanganku," pinta Andre.
Anjani mengangguk. Andre keluar mobil dan berjalan ke dalam resto. Sudah lima menit, Andre belum kembali ke mobil. Anjani merasa bosan. Ia pun keluar mobil untuk menghirup udara yang matahari sudah mulai meninggi.
"Ternyata panas di luar," gumamnya.
Tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna merah parkir di sebelah mobil Andre. Si pemilik keluar dalam mobil, ternyata wanita.
"There! Mau ngapain dia kesini lagi, rajin banget," umpat Anjani.
Ia pun memaksa dirinya keluar mobil untuk menghampiri There.
"Ngapain lo kesini?" hardik Anjani.
There melepas kacamata hitamnya dan menyunggingkan senyumnya pada Anjani.
Ia melihat Anjani yang bertumpu dengan tongkatnya.
"Kasian banget, berdiri aja harus dengan bantuan," cela There.
"Bukan urusan lo, sekarang mending lo pergi dari sini!" perintah Anjani.
"Lo boleh istrinya Andre, tapi gue nggak akan ngelepasin Andre begitu aja. Apa lagi dengan keadaan lo yang sekarang, menyedihkan," hardik There menohok.
Anjani terdiam dengan perkataan menohok There.
"Gue pastiin, kalau malam ini Andre bakal tidur dengan gue dan akan melupakan lo sebagai istrinya," ucap bangga There.
Anjani kesal. Tapi ia hanya bisa mematung. Ingin rasanya ia menarik rambut There yang terurai panjang dengan sekuat tenaga.
Tak berapa lama Andre keluar dari resto. Saat masuki parkiran, terlihat There dan Anjani sedang mengobrol. Sandiwara There pun di mulai.
"Sayang, aku kangen padamu!" ucap manja There. Ia menghampiri Andre dan memberi salam ke baratan pada pipi kiri dan kanan Andre.
"Ngapain kamu kesini?" tanya ketus Andre.
There memegang pinggang Andre, ia sengaja memanasi Anjani. Namun Andre segera melepaskan tangan There dari pinggangnya.
There kesal. Namun ia tak mau menampakkan kekesalannya di depan Anjani. Ia membisiki telinga Andre, "Temani tidur aku malam ini."
Andre tak heran dengan There bisa berbicara seperti itu. Sebelum menikah, There sering memintanya untuk memuaskan urusan ranjangnya.
"Maaf, aku mau kita udahan. Sekarang aku sudah menikah," ucap halus Andre.
There tersenyum simpul.
"Kamu kira mudah untuk melupakan semua kenangan kita dan pengorbananku," ucap kesal There.
__ADS_1
Andre melihat Anjani yang mematung, memperhatikan ia dan There berbicara.
"Maaf, aku mau pergi dulu," pamit Andre.
Ia berjalan menghampiri Anjani dan menyuruhnya masuk kedalam mobil. Saat Andre hendak masuk kedalam mobil, There mencegahnya.
"Aku nggak akan melepaskanmu begitu saja. Di hati ini, namamu sudah tertulis sampai aku mati," ucap There dan mengambil tangan Andre untuk menempelkan di dadanya.
Anjani membelalak dengan sikap There yang begitu berani dengan suaminya itu.
Andre menurunkan tangannya dari dada There. Kemudian ia memakai kaca hitamnya dan masuk ke dalam mobil untuk mengemudi.
Mobil Andre telah tancap gas dan meninggalkan There yang melihatnya.
"Jangan pernah remehkan aku," gumam There dan masuk kedalam mobilnya. Segera ia meninggalkan resto.
Dalam perjalanan, Anjani terdiam. Pandangannya ke arah luar jendela mobil. Andre tahu bila hati Anjani sedang tidak bersahabat.
"Kamu mau menginap berapa hari tempat Ibumu?" Andre memulai pembicaraannya.
Andre berpikir dengam bertemu Ibunya, Anjani akan merasa bahagia.
Tapi tidak dalam pikiran Anjani. Andre sengaja menitipkan ia ke rumahnya agar Andre bisa bertemu lagi dengan There. Tak terasa matanya mengeluarkan air yang membasahi pipi.
"Kalau kamu masih kangen-keagenan sama Ibu. Aku ijinin ko, kamu berlama-lama di rumahmu," lanjut Andre.
Anjani tidak merespon dengan perkataan Andre.
Andre tahu bila yang Anjani lihat keberadaan There telah membuat Anjani cemburu. Andre tersenyum simpul. Kemudian ia mengelus kepala Anjani dan menciumnya.
Stir kemudi sempat oleng membuat Anjani terkejut.
"Gimana bawa mobilnya, sih," ketus Anjani.
Andre tersenyum lagi melihat reaksi Anjani. Dilihatnya wajah Anjani dari kaca spion tengah mobil. Andre pun memutar lagi tentang cinta. Lagu yang mewakili hatinya.
Hingga akhirnya mereka sampai di rumah Ibu Anjani.
Saat Andre membantu Anjani keluar dari dalam mobil. Ibu Anjani terkejut melihat kondisi kaki Anjani seperti itu.
Andre mencium tengkuk lengan Ibu Mertuanya itu.
"Anjani! Kakimu kenapa, Nak?"
"Nanti di dalam aja ceritanya, Bu," sahut Anjani dan mencium tengkuk lengan Ibunya juga.
Ibu membantu memapah Anjani sampai memasuki rumah.
"Kamu baik-baik saja kan, Ndok?" lanjut tanya Ibu yang khawatir dengan anak perempuan satu-satunya itu.
__ADS_1
Anjani duduk di kursi ruang tamu.
"Sehat, Bu. Cuma ini aja yang cidera," jawab Anjani dan menunjuk ke kakinya.