
...HAPPY READING...
...----------------...
Andre telah selesai memarkan mobil pada tempatnya. Lalu ia masuk kedalam rumah Anjani.
"Nak Andre, mau Ibu buatin kopi atau teh?" tanya Ibu Anjani pada menantunya.
"Nggak usah, Bu. Dia udah minum susu," jawab Anjani sewot.
Andre terkejut dengan perkataan Anjani, begitu juga dengan Ibunya.
Ibu Anjani berpikir bila anaknya sedang ada masalah. Ia pergi ke dapur membuatkan dua cangkir teh hangat dan hidangkan di meja ruang tamu.
Sementara Andre fokus dengan gawainya, dari tadi banyak pesan yang masuk.
Anjani hanya melirik.
Wajah Andre berubah menjadi kusut.
"Ibu, maaf. Saya harus kembali ke resto karena ada urusan yang harus diselesaikan," ucap Andre.
Ibu mertuanya memanggut.
"Minum dulu airnya, Nak!" pinta Ibu Anjani.
Andre menegak habis secangkir air hangat itu.
"Aku tinggal dulu ya! Aku harus ke resto sekarang," ucap Andre pada Anjani yang sedari tadi memasang wajah masam.
Anjani tidak menyahut. Tapi Andre tidak ambil pusing. Ia berpamitan dan mencium tengkuk lengan mertuanya. Lalu mencium kepala Anjani yang membuang pandangannya dari Andre.
Ibu menyengol lengan Anjani.
Setelah Andre berlalu dengan mobilnya, Anjani langsung menuju kamarnya dan merebahkan diri. Ibu menghampiri.
"Kamu kenapa?" tanya Ibu sambil mengelus rambut Anjani.
"Nggak apa-apa, Bu," sahut malas Anjani.
Ibu tersenyum tipis.
"Gimana Andre?" tanya Ibu.
Anjani tidak memperhatikan pertanyaan Ibunya. Ada yang sedang ia pikirkan dan ingin ditanyakan pada Ibu.
"Kamu kenapa?" sambung tanya Ibu.
"Anjani mau tanya tapi lupa, Bu," jawab Anjani sambil mengerutkan dahinya mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Ya sudah, Ibu ke dapur dulu," ucap Ibu.
Ibu Anjani keluar kamar Anjani dan menuju dapur. Anjani menatap langit-langit kamarnya. Akhirnya, matanya tertuju pada album foto yang tertata rapi di nakasnya.
Anjani bangkit dari tempat tidur dan mengambil album foto itu. Ia membuka satu persatu memori yang di abadikan itu. Pandangannya tertuju pada sahabat masa kecilnya.
__ADS_1
Sahabat lelaki gendut yang terpaut dua tahun lebih tua darinya. Anjani mengambil tongkat kayu yang ia selipkan dekat lemari. Segera ia dapur untuk menemui Ibunya.
"Bu. Coba, ini siapa?" Anjani menunjukkan foto anak laki-laki gendut yang bersamanya waktu kecil.
"Ini Ryan. Adiknya Andre," jawab Ibu.
Anjani mengingat sesuatu saat ia masih kecil. Kala itu ia di jahili Andre. Ryan datang dan melawan Andre untuk membelanya.
Kemudian orang tua mereka datang, melerai Ryan dan Andre. Ryan beralasan membela Anjani yang di ganggu Andre. Sedangkan Andre bilang hanya Anjani saja yang cengeng, pelit dan galak.
Hingga percakapan para orang tua ke arah perjodohan antara Anjani dan Ryan.
"Bu. Bukannya dulu, Ryan yang mau di jodohin sama Anjani ya?" tanya bingung Anjani.
"Kamu inget juga pembicaraan kami waktu kalian masih kecil itu," sahut Ibu sambil meletakkan piring di rak.
"Inget dong, Bu! Makanya tiap Anjani dalam bahaya atau susah, Ryan seperti tahu dan pasti hadir di sisi Anjani," jelas Anjani.
"Ett ... kalian sekarang adalah Ipar. Jangan bilang bila kamu ada perasaan sama adik Iparmu," tukas Ibu.
"Ya nggaklah, Bu. Cuma memang kemarin-kemarin ini, Anjani ngerasa pernah merasakan sedekat itu sama Ryan," sangkal Anjani dan menjelaskan.
"Ya udah, kalau kamu memang nggak ada rasa. Tapi harus inget, bagaimanapun sekarang kamu istri dari Andre. Kamu harus jaga perasaannya," jelas Ibu.
Anjani mengingat sewaktu selesai ijab kabul, Andre sampai membuat perjanjian.
"Ternyata dari dulu sampai sekarang, memang nggak berubah itu orang," dumel Anjani.
"Bu! Memang benar ya, kalau Andre bukan anak Ayah Anggoro?" tanya Anjani.
"Kamu udah ya sekarang," sahut Ibu lalu mengambil camilan yang di buatnya.
"Dari asisten rumahtangga Ayah Anggoro," jelas Anjani.
Sementara di resto. Andre tengah sibuk dengan bakal calon cabang restonya di luar daerah. Pras bolak-balik ke ruangan Andre. Hingga jadwal resto tutup, Andre masih serius di depan layar laptopnya.
"Bos! Saya pulang duluan ya?" pamit Pras.
"Iya. Hati-hati di jalan," sahut Andre tanpa memandang ke wajah Pras. Pras memakluminya.
Saat Pras menuju pintu hendak keluar, tiba-tiba There masuk terlebih dahulu. Ia langsung ke meja Andre. Andre terkejut.
"Ngapain kamu kesini? Udah malam ini lho!" ucap Andre sambil melihat jam di tangannya.
"Anterin aku pulang," pinta There.
Pras yang masih mematung, diperintahkan untuk meninggalkan ruangannya oleh Andre. Pras pun pergi.
"Kamu mabuk! Tubuhmu bau alkohol," jelas Andre.
"Nggak. Aku hanya minum dikit kok," sahut There percaya diri.
"Antarkan aku pulang ya, pleasa!" rengek There.
Andre merapikan meja kerjanya.
__ADS_1
"Baiklah aku anterin kamu pulang," sahut Andre.
There kegirangan.
Saat di dalam mobil, There mulai melancarkan aksinya. Ia sengaja duduk memamerkan kaki jenjangnya pada Andre. Andre tak menghiraukannya.
"Nanti, aku anter sampai depan rumah aja ya!" jelas Andre pada There.
There mengangguk tetapi ia memikirkan siasat.
"Andre, tolong berhenti di depan mini market dulu ya?" pinta There.
"Memang masih buka jam segini," tanya Andre sambil memakirkan mobilnya.
There keluar dari mobil dan mengambil dua minuman dan memberikannya pada Andre. Andre meminumnya.
Mobil pun kembali berjalan menyusuri dingin malam.
Andre mulai merasa pusing kepalanya.
"Kamu kenapa, Ndre?" tanya pura-pura There.
"Nggak tahu nih! Tiba-tiba pusing banget," sahut Andre sembari memegang pelipisnya.
"Kita berhenti dulu di rest area, takut bahaya nanti di jalan," saran There.
Akhirnya Andre memasuki rest area, karena pusing kepalanya.
Beberapa menit kemudian. Tubuh Andre tumbang.
"Waw! Cepat banget reaksi obat itu," gumam Anjani yang merasa kesempatan itu harus dilakukannya.
There mengambil alih kemudi mobil. Ia juga mengemudikan mobil tersebut bukan ke rumahnya. Melainkan ke parkiran sebuah hotel.
There meminta bantuan sekurity untuk membawa tubuh Andre.
Saat tiba di kamar, Andre di rebahkan di tempat tidur yang gemuk itu.
There memberi uang tips pada petugas itu.
Petugas hotel telah meninggalkan mereka. There menelpon seseorang dan meminta untuk menemuinya. Setelah menutup panggilan tersebut, There mulai melepaskan pakaian Andre.
Andre tak bergerak sedikitpun.
"Terlalu tinggi khasiat obatnya," gumam There.
Tak berapa lama, pintu di ketuk. There bergegas membuka pintu.
"Akhirnya kamu dateng. Aku kangen banget," ucap There yang menggelayuti tangan si tamu.
Mereka langsung melancarkan aksinya.
Tamu itu, memofoto tubuh Andre dan There yang seolah-olah berpelukan. Beberapa kali hasil jepretan itu dilihat There.
There merasa puas untuk pekerjaannya hari ini. Kemudian There mengirim foto itu ke nomor Anjani.
__ADS_1
Yang abis baca, gimana nih ceritanya? Boleh dong kasih author semangat, baik itu berupa hadiah, vote atau komennya.
Di tungguin ya.