
...HAPPY READING...
...----------------...
Roby melepaskan pelukannya. Anjani pun mengusap air matanya. Roby tersenyum simpul, ia membantu Anjani mengusap air matanya.
"Kamu bahagia?" tanya Roby.
Anjani mengangguk.
Ibu memperhatikan Anjani. Ia merasakan bila air mata Anjani adalah air mata kesedihan. Ibu pun meninggalkan mereka untuk mengobrol berdua.
"Kamu sudah siap pernikahan kita di laksanakan bulan depan?" tanya Roby.
Anjani membelalakan matanya, "Apa tidak terlalu buru-buru."
Roby mengerutkan dahinya.
"Maksudku, semua butuh persiapan. O iya, di fashion show semalam aku mendapatkan kesempatan untuk mengikuti acara di Paris. Jadi semua perlu di persiapan lebih matang lagi," Anjani beralasan.
Roby berpikir lagi. Memang benar apa yang di katakan Anjani. Tidak mudah menyusun persiapan pernikahan bila calon kedua mempelai sibuk dengan urusan masing-masing.
"Baiklah. Setelah dari Paris kita bicarakan lagi," ujar Roby.
"Makasih, Sayang," sahut Anjani kembali memeluk Roby.
Rupanya Ibu Anjani menguping dari balik tembok dalam.
Firasat Ibu benar. Bila Anjani masih belum melupakan Andre. Dan masih berharap Andre datang kembali. Ia memejamkan mata.
"Ibu hanya ingin kamu bahagia, Nak," gumam dalam hatinya.
"Ibu! Apa yang sedang Ibu lakukan?" tiba-tiba Anjani datang dari pintu dan membuyarkan kesedihan hatinya.
"Nggak apa-apa, Nak. Kamu mau apa? Kenapa Roby di tinggal sendirian?" tanya detail Ibu.
"Aku mau pergi dengan Roby, Bu," jawab Anjani.
Ibu memanggut.
Anjani meninggalkan Ibu dan berjalan ke kamarnya.
Ibu menghampiri Roby. Roby tersenyum simpul.
"Nak Roby. Boleh Ibu minta sesuatu?" tanya Ibu.
"Tentu saja, Bu! Ibu sudah kuanggap seperti Ibu sendiri," sahut Roby.
Ibu duduk, "Tolong jangan buat Anjani sedih ya! Biarkan ia merasakan bahagia," pinta Ibu.
__ADS_1
Roby megenggam kedua tangan Ibu Anjani.
"Ibu jangan khawatir. Roby akan lakukan apapun itu untuk membuat Anjani bahagia. Roby janji, Bu," ucap Roby.
Ibu Anjani tersenyum dan mengusap rambut depan Roby.
Setengah jam kemudian, Anjani menghampiri Ibu dan Roby. Roby terkesima dengan penampilan Anjani sekarang, begitu feminim.
"Sudah siap, Sayang?" ucap Roby dengan berdiri.
"Sudah," sahut Anjani dengan senyuman mengembang sehingga lesung pipit di pipinya terlihat jelas.
Ibu Anjani memperhatikan mereka berdua, dan berharap mereka bersatu sampai akhir hayat.
Roby dan Anjani mencium tengkuk lengan Ibu, memohon pamit.
Mereka telah berlalu dari pandangan, ibu pun masuk kembali ke dalam rumah.
Sesampainya di tempat tujuan, di sebuah restoran itu. Anjani terdiam. Roby menggandeng tangan Anjani untuk mengikutinya sampai ke dalam restoran. Ingin menolaknya, namun Anjani mencoba membuka hatinya untuk pria yang ada di sampingnya itu.
Setelah di dalam restoran, Anjani terheran. Tidak ada sama sekali pengunjung yang datang. Anjani mencoba mencari tahu dari Roby, hanya senyum simpulnya yang Anjani dapat.
Langkah mereka terhenti di meja yang berada di tengah-tengah ruang restoran itu. Roby mempersilakan Anjani pada kursi yang telah ia sediakan. Anjani pun duduk.
Masih dengan rasa terherannya, Anjani mengamati tiap meja-meja makan yang kosong itu.
Tiba-tiba Roby menepuk tangannya sebanyak tiga kali. Dari arah pintu kasir, tiga orang keluar dan berjalan ke arah mereka.
"Kalian!?" Anjani terkejut.
Boy, Pras dan Anita yang sekarang telah menjadi istrinya tersenyum dan bergabung duduk bersama mereka berdua.
Anjani mengerlingkan dahinya ke arah Roby.
"Ada apa ini?" tanya Anjani lagi.
Dari arah pintu masuk restoran, tampak dua orang datang dengan terburu-buru. Spontan Anjani memperhatikan mereka berdua.
"Kalian juga ada di sini?"
Rupanya mereka Ryan dan Sita.
"Tunggu. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa sampai mengundang kami berdua?" Ryan yang menghentikan langkahnya dan bertanya pada mereka.
"Sudah, Sayang. Kita duduk dulu," ajak Sita yang menarik tangan Ryan.
Akhirnya Ryan dan Sita duduk di kursi yang tersedia di antara mereka.
"Baiklah. Saya ucapkan banyak terima kasih atas kehadiran kalian semua. Langsung saja akan saya sampaikan beberapa berita bahagia yang mungkin kalian pun akan bahagia mendengarnya," ucap Roby yang membuat mereka berenam penasaran.
__ADS_1
Roby memegang tangan kanan Anjani.
"Pertama, kita ucapkan selamat atas keberhasilan Anjani yang bisa lolos mengikuti acara fashion di Paris, kelak." Mereka berlima bertepuk tangan dan tersenyum bahagia, bangga pada Anjani yang mereka kenal.
Anjani berdiri memberi hormat. Kemudian ia duduk kembali.
"Namun ini semua tak akan berhasil tanpa bantuan sahabat kita yaitu Boy!" lanjut Roby.
Boy pun berdiri juga memberi hormat pada mereka.
"Yang kedua, saya umumkan. Bahwa saya tadi pagi sudah bertunangan dengan Anjani. Dan akan segera melangsungkan pernikahan setelah Anjani selesai dengan fashion shownya di Paris," sambung Roby yang memegang tangan kanan Anjani dan memamerkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Suara tepuk tangan kali ini begitu riuh. Meski hanya lima undangan yang hadir. Anjani tersenyum kecut dengan pengakuan Roby di hadapan mereka.
Sementara Ryan, menatap tajam pada cincin yang melingkar di jari Anjani.
Sita memperhatikan sikap Ryan yang merasa kecewa. Terlebih, Roby mencium tengkuk lengan Anjani. Ryan pun berdiri dan meninggalkan meja itu, lalu ke luar restoran. Sita mengejarnya dengan langkah yang sedikit berlari.
Roby memaklumi dengan sikap Ryan. Pikir Roby, Ryan belum bisa melihat Anjani mantan istri kakaknya itu punya hubungan khusus dengan pria lain.
Sementara Ryan, menghisap lintingan nikotin dengan kasar sambil bersandar di mobilnya.
"Kamu mulai merokok lagi, Sayang?" tanya Sita yang sudah lama tidak melihat Ryan merokok.
"Sepertinya, kamu kurang setuju bila Anjani bertunangan? Kamu itu aneh. Mantan kakak iparnya sudah move on tapi kamu nggak terima," umpat Sita dan ikut bersandar.
"Kamu kenapa bilang kalau acaranya seperti ini?" timpal Ryan.
"Aku juga nggak tahu, Sayang," sahut Sita berpura-pura.
Sementara di dalam restoran, mereka mulai memakan makanan yang di pesan.
Tapi tidak dengan Anjani.
"Kenapa makanannya tidak dimakan, Sayang? Nanti keburu dingin, loh!" ujar Roby yang memperhatikan Anjani.
Anjani hanya tersenyum simpul. Dalam benaknya, kenapa Ryan bersikap seperti itu.
Tak lama kemudian Ryan dan Sita masuk kembali ke dalam restaoran itu.
"Maaf, tadi ada telpon dari Surabaya!" ucap basa-basi Ryan sambil menarik kursi makan itu untuk Sita lalu dirinya.
"Its Ok," sahut Roby tersenyum.
Mereka berlanjut dengan makan malam itu. Mata Ryan sesekali melirik ke arah jari manis kanan Anjani. Ada guratan kesal dalam wajahnya dan sesekali menghela napas, membuang pandangan.
Anjani yang merasa di perhatikan Ryan pun, berpura-pura tidak memperdulikan. Sehingga rasa keinginan tahuannya di pendamnya.
Setelah makan, mereka berbincang-bincang tentang keberangkatan Anjani dan Boy ke Paris. Hingga malam pun tiba. Akhirnya mereka pulang dengan kendaraan yang mereka bawa masing-masing.
__ADS_1