ANJANI

ANJANI
Kunci Cinta


__ADS_3

...HAPPY...


...----------------...


Andre mengangkat tubuh polos Anjani, membawanya ke kamar mandi. Anjani tersenyum lebar.


Mereka mandi bersama dan melakukannya lagi di kamar mandi.


Waktu acara pertemuan semakin mepet. Mereka terburu-buru memakai pakaian.


"Setelah acara nanti, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Andre sambil mengambil pakaiannya di lemari.


"Kemana?" tanya Anjani yang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Kalau aku kasih tahu bukan surprise dong," sahut Andre lalu mengecup bibir Anjani.


Anjani dengan cepat memakai pakaiannya. Setelah selesai ia berpamitan dengan Andre untuk ke kamarnya menemui Boy.


Di koridor, Anjani merogoh gawainya di saku celana.


"Banyak sekali panggilan," gumam Anjani.


Saat di depan lift, Anjani menekan tombol lantai kamarnya berada. Ia melihat jam di gawainya.


"Nggak ada waktu telpon Roby sekarang," lanjut gumam Anjani dan masuk ke dalam lift saat terbuka.


Ia segera menghubungi Boy dan memintanya untuk kembali ke kamar mereka.


Anjani menunggu Boy di depan pintu.


Tak beberapa lama tampak Boy setengah berlari di hadapannya.


"Kemana aja sih, Lo?" tanya Boy dengan terengah-engah.


"Ada deh!" jawab Anjani dengan tersenyum menggoda Boy.


Boy memperhatikan penampilan Anjani.


"Rambut lo basah? Mandi di mana?" lanjut tanya Boy.


"Kepo," jawab Anjani yang kemudian masuk ke dalam kamar.


Boy terheran pada sahabatnya itu. Kemudian ia masuk juga ke dalam kamar.


Anjani telah mengganti pakaiannya dan sekarang memoles wajahnya dengan make up natural.


Anjani bergegas berjalan sambil menarik tangan Boy.


"Jangan cepet-cepet kenapa, An?" protes Boy yang tangannya di tarik Anjani.


Mereka naik lift dan menekan tombol di lantai yang di tuju.


Sesampainya di lantai itu, banyak peserta event sudah berkumpul. Anjani dan Boy segera mencari kursi yang masih kosong.


Boy terkejut, melihat Andre duduk di jajaran pihak penyelenggara.


"Itu beneran Mas Andre, An?" bisik Boy pada Anjani dengan terheran.


Anjani menganggukan dan tersenyum lebar.


Boy mengangguk-anggukan kepalanya juga. Ia paham, Anjani semalam tidur di mana.

__ADS_1


Boy menggoda Anjani dengan menarik pipinya.


Lalu pandangan Boy pun tertuju lagi pada pihak penyelenggara lain.


"Itu kan There yang rusak rumahtangga Lo, kan?" tanya lagi Boy pada Anjani.


Lagi-lagi Anjani menganggukan kepalanya.


Boy mengusap wajahnya secara kasar.


"Kenapa serba kebetulan begini ya?" gumam dalam hatinya.


Acara itu sambutan itu berlangsung selama satu jam.


Andre menghampiri Anjani dan berbisik. "Ikut aku!"


"Kemana?" tanya Anjani.


Boy melambaikan tangan pada Andre. Andre pun membalasnya.


Andre menarik tangan Anjani, mengajaknya untuk mengikuti.


Andre dan Anjani meninggalkan acara yang masih berlangsung itu.


Mereka masuk ke dalam lift dan menekan tombol dimana lobi hotel berada.


Setelah sampai di lobi. Mereka menaiki mobil yang sudah terparkir di halaman lobi.


Andre mengambil alih kemudi sementara Anjani duduk di sebelah Andre.


Mereka tersenyum bahagia. Mobil berjalan ke arah Andre membawanya.


Tak berapa lama, mereka sampai di sebuah sungai.


Pagutan itu tak lama. Andre segera keluar dari dalam mobil dan membuka pintu untuk Anjani keluar.


Anjani mengikutinya.


Andre menuntun tangan Anjani untuk berjalan ke arah jembatan. Jembatan itu banyak sekali tumpukan gembok yang berwarna-warni.


Anjani masih tidak mengerti.


Andre mengeluarkan sebuah gembok dan kunci dari saku blajernya. Gembok bertuliskan nama mereka.


"Ayo kita kita pasang gembok ini!" ajak Andre.


Anjani hanya mengikutinya. Sesekali ia melirik ke arah Andre karena tidak mengerti.


"Konon, sepasang kekasih yang menggantungkan gembok ini, cinta mereka tidak akan terpisahkan. Dan aku juga mau kisah cinta kita juga tidak terpisahkan," jelas Andre pada Anjani sambil memasang gembok itu bersama Anjani.


Setelah selesai, Andre masih memegang kunci gembok itu. Andre memegang telapak tangan Anjani.


"Kita lempar kunci ini ke dalam sungai bersama ya," ucap Andre.


Mereka melemparkan kunci itu ke dalam sungai.


Andre memegang kedua telapak tangan Anjani. Kemudian Andre menciumnya. Tapi bibir Andre menyentuh pada cincin yang tersemat di jari manis kanan Anjani.


"Ini apa, Sayang?" tanya Andre.


Wajah Anjani berubah sendu seketika di hadapan Andre.

__ADS_1


"Orang lain telah mengikatku. Ia ingin menggantikan posisimu," jawab Anjani sambil meneteskan air matanya dengan wajah tertunduk.


Andre mengangkat dagu Anjani. "Kamu mencintainya?"


Anjani menggeleng.


Andre memeluk tubuh Anjani dan berkata, "Aku akan meminta padanya untuk mengembalikan dirimu padaku."


Anjani menenggelamkan kepalanya di dada Andre. "Maafkan aku."


Andre membelai rambut Anjani. Lalu ia mengangkat dagu Anjani untuk mencium bibirnya.


Karena tubuh Anjani yang pendek dari Andre, ia berjinjit menyeimbangi tinggi Andre saat berciuman dengan tangannya memegangi bahu Andre.


Andre merasa Anjani kelelahan. Ia pun mengangkat tubuh Anjani untuk kakinya melingkar di pinggangnya.


Bibir mereka saling berpagutan lagi. Hingga Anjani merasakan ada benda mengeras di sana.


"Kita kembali ke hotel, Yuk!" ajak Anjani.


Anjani turun dari gendongan Andre. Mereka berjalan menyusuri jembatan itu.


Semampainya di dalam mobil, Andre yang tak bisa menahan gejolak rindunya langsung menyambar bibir Anjani lagi. Tangannya kembali bermain di atas dada Anjani.


Kemudian masuk dari bawah baju Anjani. Memegang gunung kembar yang kenyal milik Anjani.


Tiba-tiba, pintu mobil di ketuk dari luar. Mereka terkejut. Terlihat ada polisi dari luar pintu mobil.


Andre menyudahkan kegiatannya dan membuka kaca spion.


Dengan bahasa Inggris Andre berbicara pada polisi itu.


Polisi itu menyuruh Andre meninggalkan tempat itu bila ingin saling melepaskan rindu pasangan. Ia melarang siapa pun, sepasang kekasih melakukannya di tempat itu.


Dengan wajah merona, Andre meminta maaf pada polisi itu. Dan Andre menancap gas mobil, meninggalkan jembatan.


Anjani tersenyum-senyum lucu melihat reaksi Andre.


Andre membawa Anjani ke hotel.


Sesampainya di lobi hotel, Anjani terkejut melihat Roby sedang berbicara dengan Boy sambil menempelkan gawainya di telinga. Menghubungi seseorang.


Anjani mengambil gawai di saku jaketnya. Terlihat yang di hubungi Roby ialah dirinya. Saat panggilan itu terputus, ada sepuluh panggilan masuk.


Saat di jembatan tadi, Anjani meninggalkan jaketnya di dalam mobil Andre.


Tak berapa lama Andre menghampiri Anjani yang terdiam di lobi. Andre memperhatikan kemana arah pandangan Anjani.


Andre melihat seorang pria yang sedang berbicara dengan Boy itu adalah yang menyematkan cincin pada jari Anjani.


"Hampirilah, pastikan semua akan baik-baik saja," bisik Andre pada Anjani.


Anjani menoleh, memandangi wajah Andre.


Andre tersenyum dan mengusap lembut pipu Anjani.


Anjani pun berjalan meninggalkan Andre untuk menghampiri Roby.


Roby yang melihat Anjani datang tersenyum lebar.


"Kejutan!" ucap Roby dan melebarkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Anjani.

__ADS_1


Bersambung ya, mau tahu kelanjutannya! Nantikan di episode berikutnya.


__ADS_2