ANJANI

ANJANI
Mulai Akrab


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Dengan gayanya yang cool, Ryan melangkah ke dapur. Menghampiri Andre yang sibuk membuat kudapan.


"Apa yang membawamu kesini?" tanya Andre sambil membuat adonan.


Ryan melirik kesibukan Andre. Ia mengangkat nampan berisi minuman dan membawanya ke ruang tamu. Anjani dan teman-temannya bengong melihat Ryan.


"Silakan diminum, kudapan sebentar lagi selesai," jelas Ryan dan kembali menuju dapur.


"Muke gile! Kakak Adik, sama-sama baik," ucap Boy.


"Kalau sakit, pasti mereka di rumah sakit dong," sahut Sita yang mengambil minuman di atas meja.


Boy menepuk dahinya mendengar perkataan Sita.


Boy memperhatikan gaya pakaian Anjani.


"Lo nggak berniat ganti gaya berpakaian! Inget lho, sekarang lo udah jadi seorang istri," tukas Boy.


"Memang kenapa dengan pakaian gue?" tanya bingung Anjani sambil memperhatikan pakaian yang ia kenakan.


"Rubah dikitlah, An! Biar suami lo nggak di ambil pelakor," hardik Sita.


"Ih amit-amit, jangan sampe," imbuh Anjani.


"Makanya di rubah dikit, Say! Gue bisa bantu lo," ucap Boy menawarkan diri.


"Tuh! Kurang baik apa coba punya teman-teman kayak kita," sahut Sita.


"Alis juga, jangan polos gitu kenapa, An," sambung An.


"Iya-iya, nanti aku minta Boy ajarin aku pensil alis deh," ucap Anjani.


Boy menghampiri Anjani dan duduk disebelahnya.


"Mau nanya, Nek!" tanya Boy berbisik pada Anjani.


"Nanya apaan sih, mencurigakan banget," sahut Anjani melirik tajam ke Boy.


Boy dan Sita tersenyum simpul. Lalu mereka mengkodekan dengan telapak tangan yang berpangutan. Anjani mengerti.


"Udah belum?" tanya Sita sambil mengangkat kedua alisnya.


Sekarang Anjani mengerti apa yang mereka tanyakan.


"Kalian ini ngeres aja pikirannya," ujar Anjani.


"Bukan gitu, kalau lo nggak bisa nanti kita nonton," ucap Boy sambil menunjukkan sesuatu dari dalam tasnya.


Anjani kaget dengan kelakuan Boy. Ia melemparkan bantal kecil sofa yang dekat di sisinya.


Sita tertawa melihat tingkah laku kedua temannya itu.


Beberapa menit kemudian, Sita bertanya pada Anjani.

__ADS_1


"Cewek yang keluar dari kantor suami lo tadi siapa, An?"


Pertanyaan Anjani membuat jantung Anjani berdetak kencang. Pasalnya ia ingin menayakan hal itu pada Andre.


"Salah satu temannya," jawab bohong Anjani.


"Edan! carat berpakaiannya itu lho, bikin si junior bangkit," sahut Boy dengan semangat.


Anjani dan Sita bengong dengan perkataan Boy. Mereka tidak menyangka. Boy sahabat pria mereka yang lemah gemulai, bisa bersemangat membicarakan seorang wanita.


"Lo doyan?" tanya Anjani penasaran.


Sekarang Boy yang melempar bantal kecil sofa tadi.


"Lo orang kira, gue nggak normal apa?" tanya Boy.


"Maaf," sahut Anjani.


"Tapi gue pikir nih, An. Boy aja bilang begitu, bagaimana dengan suami lo. Lo nggak khawatir, laki lo kecantol sama tuh cewek?" tanya Sita menohok, membuat Anjani terdiam.


"Mumpung ada waktu, lo rubah deh penampilan lo dari sekarang," sambung saran Sita.


"Setuju," sahut Boy.


Semntara di dalam dapur, sambil memegang minuman. Ryan duduk menghadap Andre yang serius dengan kudapan yang dibuatnya.


"Sebaiknya, Mas jauhi There," pinta Ryan.


Andre tersenyum simpul.


Beberapa menit lagi, kudapan yang di buat Andre akan matang.


Pandangan Andre tertuju ruang tamu. Terdengar sekali tawa Anjani dan teman-temannya yang saling melepas rindu.


"Kapan kamu kembali ke Surabaya?" tanya Andre sambil merapikan dapur.


"Sampai benar-benar Ayah sehat," jawab Ryan.


"Seharusnya kamu nggak usah khawatir, kan ada aku dan Anjani sekarang," sambung Andre.


Ryan tersenyum meledek pada Andre, "Semoga benar saja, Mas bisa diandalkan."


"Memang tidak bisa apa melupakan kejadian yang lalu?" Andre kesal dengan ledekan Ryan.


"Bila seseorang itu sering melakukan kesalahan, bagaimana reaksi, Mas?" timpal Ryan.


"Ya senggaknya kamu beri ia kesempatan untuk memperbaikinya," sahut Andre.


"Benar sekali ucapanmu, Mas! Maka dari itu aku mau lihat kesempatan yang kuberi itu di jakankan dengan baik apa tidak," jelas Ryan dengan wajah datar.


"Kamu sama saja dengan Ayah," hardik Andre.


"Benar sekali! Karena aku anaknya. Betul tidak?" timpal Ryan.


Andre mengangkat kudapan yang di anggapnya telah matang.


"Aku tidak mau berdebat denganmu. Yang pasti, akan kutebus semua kesalahanku dengan mencintai Anjani," ujar Andre.

__ADS_1


Ryan meletakkan gelas dari tangannya dengan kasar.


"Kalau Mas, menjadikan Kakak Ipar sebagai pelarian lebih baik ceraikan dia. Karena masih banyak pria tulus mencintainya," imbuh Ryan.


"Jaga ucapanmu!" jelas Andre dengan wajah memerah menahan amarah.


"Kuberitahu ya, Mas. Anjani itu sudah kenal denganku dari kami masih kecil. Dan sebenarnya kami juga sudah dijodohkan. Hanya Ibu bingung, bagaimana caranya supaya kamu berubah yang selalu gonta-ganti wanita. Mengingat umurmu sudah pantas mempunyai anak. Tapi kamu malah mempertahankan There, wanita yang tidak disetujui oleh kami. Sehingga Ibu sakit," cerocos kesal Ryan.


Ia mengingatkan lagi kebiasaan buruk Andre sebelum menikah.


"Sebenarnya aku bingung, kenapa kalian tidak suka dengan There. Padahal dia baik," bela Andre tentang There.


Ryan menyunggingkan senyumannya.


"Sudahlah, aku tidak mau bahas soal There. Sekarang dia masa laluku," ujar Andre sambil menata kudapan di atas piring dan membawanya ke ruang tamu. Ryan mengikutinya dari belakang.


"Silakan dinikmati. Semoga kalian suka," Andre mempersilahkan mereka dengan kudapan yang ia buat.


Satu persatu dari mereka mencicipi kudapan tersebut.


"Enak banget, Mas! Makasih ya!" ucap Boy memuji rasa kudapan itu.


Ryan memilih duduk disebelah Sita. Nampak kecanggungan dalam diri Sita.


"Kenapa pake duduk di sini sih!" gerutu Sita dalam hati sambil menoleh ke arah Ryan.


Ryan tidak memperdulikan Sita yang meliriknya, padahal ia tahu. Ia hanya fokus dengan kudapan yang ia makan.


Andre menyuapi Anjani. Anjani merasa risih diperlakukan seperti itu. Menurutnya, ini sudah berlebihan, "Aku bisa sendiri."


Boy memperhatikan Andre dan Anjani. Ia menggeleng-gelengkan kepala.


"Nanti pulang aku antar ya?" Ryane menawarkan diri pada Sita.


"Trus Boy gimana?" sahut Sita.


"Ajak juga, emang mau dia suruh pulang naik taksi. Dan apa kamu tega?" jawab Ryan detail.


Sita sumringah mendengar pertanyaan konyol Ryan.


Hari sudah sore, Sita dan Boy berpamitan. Mereka pulang di antar oleh Ryan.


Kaki Anjani yang di gips hanya duduk.


"Besok aku beli tongkat buat bantu kamu jalan," ucap Andre sambil memainkan rambut Anjani.


"Iya," sahut Anjani yang risih dengan perlakuan Andre.


"Kamu mau mandi? Biar aku antar kamu ke kamar mandi," Andre menawari diri.


"E-nggak usah. Gue bisa jalan sendiri meski harus jalan dengan kaki satu," jelas Anjani.


Anjani khawatir Andre mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Kayak Kanguru dong jalannya loncat-loncat," ujar Andre sambil tertawa.


Begitu juga dengan Anjani, ia tak berpikir saat berbicara.

__ADS_1


__ADS_2