
...HAPPY READING...
...----------------...
Roby memeluk erat tubuh Anjani. Anjani terdiam dan menoleh ke arah Andre.
Andre menghukum senyumannya. Tak ingin melihat Anjani sedih karena sakit hating yang sekarang tengah ia rasakan.
Boy pun memperhatikan pandangan antara Anjani dan Andre. Ia ikut sedih melihat mereka. Hingga tak terasa meneteskan air mata.
Roby melepaskan pelukan itu.
"Kenapa, Sayang? Kamu tidak bahagia akan kehadiranku?" tanya Roby sambil merapikan rambut Anjani.
"B-bukan begitu, hanya saja aku kaget Kamu tiba-tiba dikagetkan sini," sahut Anjani.
Roby tersenyum simpul, "Namanya juga surprise."
"Temenin aku makan yuk! Aku lapar," ajak Roby.
"Boy! Kamu mau ikut nggak?" tanya Roby.
"Nggak, Rob. Aku udh makan. Kalian berdua aja," jawab Boy.
Anjani dan Roby meninggalkan lobi dan memanggil taksi yang terparkir untuk tamu hotel.
Sementara Andre hanya terdiam, menyaksikan mereka berdua.
Boy menghampirinya. Mereka bercengkrama sejenak. Lalu Andre pamit, karena ada beberapa hal yang harus ia urus.
Di dalam restoran, Roby memperhatikan makanan yang ada di hadapan Anjani tak tersentuh sama sekali.
"Ada apa, Sayang? Sepertinya kamu kurang bersemangat?" tanya Roby.
h"N-nggak. Oiya, bagaimana dengan kabar Ibu?" tanya Anjani.
Roby yang sedang memasukkan makanan kedalam mulutnya sampai terhenti.
"Apa maksudmu? Dia Ibumu? Ada apa denganmu sampai nggak sempat menghubunginya?"
"Aku terlalu sibuk sampai lupa menghubungi Ibu," sahut Anjani.
Lalu ia memasukkan makanan kedalam dalam mulutnya untuk menghilangkan rasa groginya.
Dalam benak Anjani, terbayang-bayang dengan janjinya pada Andre.
"Sayang, gimana dengan pernikahan kita? Kamu mau berapa undangan? Tanggal berapa?" Roby menanyakan banyak pertanyaan itu pada Anjani.
Sehingga membuat wajah Anjani pucat dan tak tahu harus berkata apa.
"Kenapa diam?" lanjut Roby.
"Kita bicarakan di Jakarta aja ya, Rob," jawab Anjani mengalihkan pembicaraan.
Roby menganggukan, mengerti maksud Anjani.
"Oiya. Tadi kamu pergi sama siapa? Tadi Boy bilang dengan salah satu pihak penyelenggara?" tanya Roby kembali.
Pertanyaan Roby membuat jantung Anjani berdetak kencang.
"Iya. Salah satu pihak penyelenggara," sahut singkat Anjani.
"Kenapa Boy nggak di ajak? Kan dia partner kamu?" lagi-lagi Roby bertanya seakan menyudutkan Anjani.
__ADS_1
"I-itu loh, Sayang! Kan pihak penyelenggara ada banyak, nah aku perwakilan dari rancangan aku dan Boy menangani pertemuan yang di hotel. Bukan aku ajak kok! Desainer lain juga ada?" sahut Anjani menutupi kebohongannya.
Roby menganggukan lagi kepalanya.
"Sayang, kita ke pantai yuk!" ajak Roby sambil meletakkan garpu dan sendok karena makannya selesai.
"Besok aja ya. Aku capek banget," Anjani beralasan.
"Ya sudah kita ke hotel aja. Aku kangen banget sama kamu," sahut Roby sambil mengedipkan matanya.
Anjani terkejut dengan perkataan Roby. Ekspresi wajah Anjani berubah pucat. Ia takut bila Roby macam-macam.
Selesai membayar pada pelayan restoran, Roby memperhatikan wajah Anjani.
"Kamu kenapa? Kok pucet gitu?"
"Nggak apa-apa kok," jawab Anjani.
Anjani dan Roby meninggalkan restoran langsung menuju hotel.
Sesampainya di hotel, rupanya Roby memesan kamar di sebelah kamar Anjani. Kebetulan ada dua kamar yang kosong di lantai di mana kamar Anjani berada.
"Ini kamarmu?" tanya Anjani saat di depan pintu kamar hotel Roby.
Roby mengangguk. "Aku Sengaja pesan kamar dekat kamu. Biar bisa ketok-ketok nanti malam."
Anjani hanya tersenyum menyeringai kuda. Keringat dingin mulai keluar dari dahinya.
Pintu telah terbuka, Roby pun mengajak Anjani ke dalam kamar.
Anjani menuruti ajakan Roby.
Sesampainya di dalam, Roby membopong tubuh Anjani.
Roby menurunkan Anjani di sofa. Lalu ia tidur di atas kedua paha Anjani.
"Aku Kangen tidur di pangkuannya, Sayang," ucap Roby.
"Kamu manja banget, ada apa?" tanya heran Anjani.
"Emang kamu nggak kangen sama aku? Trus soal pernikahan kita gimana? Aku mau secepatnya," sahut Roby.
Perkataan Roby membuat Anjani diam seribu kata.
"Kamu kok diem lagi, Sayang? Ya udah, sehabis dari sini kita langsung menikah. Soal resepsi kita bisa laksanakan setelahnya," ujar Roby lalu menarik leher Anjani dan menyambar bibir Anjani.
Anjani menolaknya, walau sudah tersentuh sedikit oleh Roby.
"Apa nggak terlalu terburu-buru kalau dari sini. Kan cape, semuanya harus persiapan matang," alasan Anjani.
Roby bangun dari pangkuan Anjani.
"Kita bicarakan malam ini," pinta Roby.
Anjani bangkit dari duduknya.
"Ya sudah, aku mau ke kamarku dulu," pamit Anjani dan pergi melangkah ke arah pintu.
Tapi Roby menarik tangannya.
"Temani aku tidur," pinta Roby dengan tatapan tajam. Seperti singa ingin menerkam mangsanya.
"T-tapi, kita n ...."
__ADS_1
Perkataan Anjani terputus karena Roby lagi-lagi menyambar bibirnya. Anjani terdiam dan hanya membiarkan Roby menikmatinya.
Hingga bibir Roby menjalar ke leher jenjang Anjani. Anjani mendorong tubuh Roby.
"Sudah. Nanti kamu kebablasan," terang Anjani.
Roby tersenyum simpul, menempelkan dahinya di dahi Anjani dan berkata, "Nggak tahan aku."
"Tunggu sampai waktunya ya," sahut Anjani.
Anjani hendak melangkah di cegah Roby sambil menunjukkan pipi kanannya.
Anjani mencium pipi Roby, namun Roby menunjukkan lagi pipi kirinya. Anjani pun menciumnya juga.
Lagi, Roby menunjukkan bibirnya. Anjani menarik napas dan mencium bibir Roby.
"Terima kasih, Sayang," ucap Roby dan mencium dahi Anjani.
Anjani bergegas melangkah keluar kamar Roby.
Saat keluar dari kamar Roby, ia terkejut Andre sudah di depan pintu kamarnya.
Anjani menghampirinya.
"Sedang apa?" tanya Anjani dengan wajah tegang.
Andre menarik tangannya dan berjalan dengan sedikit berlari menuju lift.
Andre dan Anjani masuk ke dalam lift. Andre memejamkan tombol dimana kamarnya berada.
Mereka masuk ke dalam kamar, dan duduk bersamaan di sofa.
"Jadi bagaimana?" tanya Andre.
Anjani tidak mengerti dengan pertanyaan Andre. "Bagaimana apanya?"
"Sudah kamu akhiri hubungan kalian?" tanya Andre dengan percaya diri.
"Nggak semudah itu, Ndre! Kami tidak ada masalah sama sekali. Dan ia kesini untuk menanyakan soal pernikahan," jelas Anjani sambil memegang kepala dengan kedua tangannya.
Andre terdiam. Kemudian ia berjalan ke arah pintu.
"Mau kemana kamu, Ndre?" tanya Anjani bingung.
"Mau menyuruhnya, memutuskan hubungan kalian," sahut enteng Andre.
Anjani terkejut dan menghampiri Andre.
"Jangan gila kamu, Ndre!" ucap lantang Anjani.
"Ya! Aku sudah gila sama kamu! Istriku yang sah. Sementara ia cuma orang lain!" Andre menjawab dengan membentakmu, membuat mata Anjani berkaca-kaca.
"Ada apa denganmu, Ndre? Liat posisiku?" Anjani menangis menutupi wajah dengan kedua tangannya.
"Maafkan aku, Sayang. Nggak seharusnya aku membentakmu. Aku cemburu," sahut Andre dan memeluk tubuh Anjani.
Andre menuntun tubuh Anjani untuk duduk di atas sofa. Andre bersimpuh di hadapan Anjani.
Sambil mengusap air mata Anjani, Andre berkata, "Maafkan aku ya."
Anjani menganggukan.
"Serahkan semuanya padaku. Tapi aku perlu waktu," ucap Anjani.
__ADS_1