ANJANI

ANJANI
Pergi ke Paris


__ADS_3

...HAPPY READING...


...----------------...


Seminggu berlalu. Anjani mengemas barang-barang keperluannya selama ia di Paris. Gawai Anjani berdering. Dilihatnya Roby memanggil.


"Ya, Sayang!" ucap Anjani sambil menjepit gawai dengan pipi dan pundaknya.


[Sebentar lagi, aku sampai di rumahmu], sahut Roby di sana.


Roby mematikan panggilan itu. Anjani pun melanjutkan berkemasnya.


Ibu masuk ke dalam kamar Anjani. Dilihatnya anak semata wayang yang begitu serius dengan tas kopernya.


"Ibu kesepian, dong!" ujar Ibu tiba-tiba yang duduk di atas tempat tidur Anjani dan menghela napas.


Anjani menghentikan kegiatannya. Dihampirinya Ibu tersayang, lalu ia merangkul Ibu dan mencium pipinya.


"Anjani nggak lama kok, Bu. Kalau Ibu kangen kan bisa telpon!" Anjani menyandarkan kepalanya dekat pipi Ibu.


Anjani melihat jam di atas dinding kamarnya. Segera ia melepaskan pelukan dari Ibunya dan kembali dengan tas yang akan di bawanya.


"Setelah dari Paris, kamu mau langsung menikah?" pertanyaan menohok Ibu membuat Anjani menghentikan kesibukannya.


"Semua akan dibicarakan lagi, Bu."


Suara mobil terparkir terdengar dari luar rumah. Ibu meninggalkan Anjani.


Senyum calon menantu dari ambang pintu depan.


"Masuk, Nak Roby!" Ibu Anjani mempersilahkan masuk.


Roby duduk. Dengan sabar menunggu kekasih pujaan hati menghampirinya. Hampir setengah jam ia menanti. Namun Anjani tak terlihat batang hidungnya.


Roby yang di temani Ibu diruang tamu pun bergegas menghampiri Anjani di kamar.


"Anjani, udah siang lho! Nanti kamu ketinggalan pesawat," ujar Ibu.


"Udah kok, Bu." Anjani membawa dua koper ke ruang tamu dan tas ransel kecil yang ada di pundaknya.


"Kamu kayak mau pindahan, Sayang!" ledek Roby melihat barang bawaan Anjani. Anjani memasang wajah masam lalu mencubit pinggang Roby. Roby kesakitan dan minta pembelaan pada Ibu Anjani.


"Ayo! Takut terlambat, belum macetnya lagi," ucap Ibu.


Mereka bertiga segera menaiki mobil dan berlalu menuju bandara.


Benar saja, mereka terjebak macet selama satu jam. Membuat Ibu tertidur. Roby memperhatikannya dari kaca spion dan tersenyum.


"Sepertinya Ibu kelelahan," ucap Roby ke arah Anjani.


Anjani menengok ke jok belakang. Lalu tersenyum.


Roby memegang tangan kanan Anjani dan menciumnya.

__ADS_1


"Jangan buat aku lelah juga menunggumu, ya!" kalimat itu terucap spontan dari mulut Roby.


Kata-kata itu tepat sekali mengenai jantung Anjani. Wajahnya berubah dengan rasa bersalah. Anjani memandangi wajah Roby.


"Kamu kenapa, Sayang?" Roby tersenyum dengan ekspresi Anjani.


"Maafkan aku ya. Bila selama ini membuatmu menunggu," Anjani berucap dengan wajah yang hampir menangis.


Entah itu hanya sebuah penyesalan atau agar Roby yakin padanya.


Roby sedikit panik melihat Anjani seperti itu. Beruntung saat itu rambu lalu lintas sedang berwarna merah. Roby mengusap-usap pipi Anjani.


"Maaf, Sayang! Aku cuma bercanda, jangan di ambil hati, ya!" Roby merasa bersalah dengan ucapannya.


Anjani menggelengkan kepalanya.


"Nggak apa-apa, ko. Setelah selesai dengan event di Paris, kita bicarakan masa depan kita," jelas Anjani.


"Makasih, Sayang," sahut Roby dan mencium dahi Anjani.


Lampu lalu lintas sudah berganti warna hijau. Mereka berlalu.


Sesampainya di bandara, mereka menuju kantin untuk meminum sesuatu karena macet.


Anjani menghubungi Boy. Tapi tidak ada jawaban.


"Kemana sih Boy!" gerutu Anjani sambil mencoba menghubungi Boy lagi. Lagi-lagi Boy tak menjawabnya.


Tiba-tiba pundak Anjani di tepuk dari arah belakang.


Anjani pun menoleh ke belakang.


"Ya ampun, Boy! Dari tadi gue telpon, lu nggak angkat-angkat," umpat Anjani sewot.


"Santai, Say! Keberangkatan masih lama kok," sahut santai Boy.


Mereka menghampiri Roby dan Boy.


Ibu memperhatikan mereka bertiga sedang mengobrol sambil tersenyum. Terutama Anjani. Senyum yang sudah lama itu kini muncul lagi. Tapi, apakah karena ada Roby di sisi? Atau karena event ini dan meninggalkan tunangannya?


Yang pasti senyuman Anjani seperti ini yang Ibu rindukan.


Walau hati Ibu yakin, bila Anjani masih mencintai Andre yang tau dimana rimbanya sekarang.


Air mata menetes dari pelupuk mata Ibu.


Rupanya Roby memperhatikan. Di ambilnya tisu dan mengusap air mata yang menetes itu.


Anjani dan Boy terkesima dengan perhatian calon menantu dan mertua itu.


"Ibu. Jangan nangis lagi dong! Doain Anjani biar pulang dengan kesuksesan dan membuat Ibu bangga," ujar Anjani, menyemangati Ibu yang sedih.


Ibu mengusap pipi Anjani. Kemudian memeluknya.

__ADS_1


Terdengar suara pemberitahuan, bahwa pesawat tujuan Paris akan segera lepas landas.


Mereka pun bergegas. Karena kantin dan tempat pemeriksaan tiket pesawat aga jauh.


Saat tiba di pemeriksaan tiket. Anjani memeluk tubuh Ibunya. Lalu menciumi pipi Ibu berulang-ulang. Begitu juga saat memeluk tubuh Roby. Roby mencium bibir Anjani. Seakan tak merelakan Anjani pergi jauh dari sisinya.


"Aku akan menunggumu, Sayang." Lagi-lagi Roby menyambar bibir Anjani, membuat Boy mendehem dengan keras.


Mereka menoleh ke arah Boy yang menunjukkan jam pada tangannya.


Mereka saling melepaskan pelukan satu sama lain.


Anjani dan Boy berjalan ke petugas pemeriksaan. Dan melambaikan tangan pada Ibu dan Roby. Sampai akhirnya mereka jauh dari pandangan mata.


Saat di dalam pesawat, Anjani tampak tegang. Boy berusaha menenangkannya.


"Santai, An. Lu jangan tegang gitu dong!"


Anjani membalas perkataan Boy dengan senyuman yang mengembang.


"Kenapa perasaan gue nggak karuan ya, Boy?" tanya Anjani.


"Itu cuma perasaan lu aja. Baru kali ini kan lu ke luar negeri," balas Boy.


"Bisa jadi," Anjani mengiyakan perkataan Boy.


Tapi jujur dalam hati Anjani. Bukan seperti yang di katakan Boy. Perasaan tak menentu. Seperti ingin bertemu seseorang.


Anjani menepis duga-dugaannya. Mungkin ia akan bertemu dengan desainer lain di sana. Yang karyanya lebih bagus lagi.


"An. Panggilan lu An aja ya. Kalo ada yang tanya nama asli lu, gue rasa lidah mereka kelibet," ujar Boy.


"Bisa aja lu. Tapi, nggak apa-apa deh, kasian gue sama lidah mereka," sahut Anjani.


Anjani dan Boy tertawa kecil. Mereka membayangkan orang Paris kesulitan menyebut nama Anjani.


Beberapa jam di pesawat, akhirnya mereka sampai di Bandara Internasional Paris Charles de Gaulle.


Saat itu musim tengah bersahabat dengan mereka.


Anjani terpesona dengam kota Paris.


"Boy. Gue nggak ngerti lho dengan bahasa mereka," bisik Anjani pada Boy.


"Kan ada mbah guling, An. Sekarang jaman canggih," sahut Boy saat mengambil tas dari mesin pemeriksaan.


Anjani termanggut-manggut.


Mereka keluar bandara dengan memesan taksi.


Di dalam taksi, Boy menunjukkan alamat hotel yang di siapkan oleh panitia event.


Dalam perjalanan, Anjani dan Boy terpesona dengan keindahan Paris.

__ADS_1


Akhirnya mereka sampai di hotel yang tak jauh dari menara Eiffel.


__ADS_2