
Kesokan Hari menjelang orang orang memulai aktifitasnya.
Aku yang tidak memiliki kegiatan apapun hanya bermain game HP, dengan keseruan Duniaku sendiri. Menikmati secangkir Kopi dan menikmati udara cerah di depan Teras sambil sesekali aku Hirup Rokok sebagai tanda penikmat waktuku. Inilah aku dengan keseharianku.
Tak lama kemudian... !
" Paket,, permisi pak Paket atas nama Bapak Erik .! "
"Iya saya sendiri...! Ada apa ya.?
Saya gak mesan paketan bang"
Ucapku heran karena aku tidak merasa memesan apapun dari aplikasi Hp.
" Tapi ini Udah di Bayar pak...!"
Ucap Pengirim Paket.
" ouh dari siapaa yaa...!?" ucapku penasaran.
" gak tau pak, aku cuma tau ini kiriman atas nama bapak Erik...!" ucapnya
" oh, yaudah taro sini aja bang...! "
Ucapku lalu mengbil barang kiriman tersebut.
" oke, makasih ya pak...!"
Ucapnya lalu meninggalkanku.
" iya sama sama bang..."
Balasku.
Tak lama setelah abang paket itu pergi. Handphoneku berbunyi.
" Ping...!"
Suara pesan masuk dari W'A HP aku berbunyi.
" Paketannya Udah Dateng Belum...!"
Isi pesan Singkat terkirim yang ku baca Dari Putri.
" Udah, paket apa nih...?"
Tanyaku dalam pesan yang ku kirim kembali padanya.
" itu paketan Obat Obatan. Aku liat Tadi malam mukamu biru sama tanganMu di perban. Aku mau cemas sama kamu tadinya. Cuma kamu aja Bikin kesel aku."
Jawabnya dalam pesan masuk.
" Ya ampun Put, kamu repot repot amat."
Isi pesanku untuknya.
" apanya yang Repot , cuma kirim itu doang kok." balasnya.
" Makasih ya!" balasku.
" kamu abis jatuh Dari Motor ya?"
Tanyanya Dalam Pesan.
Aku bingung ketika dia tanya seperti itu.
Aku harus balas pesan seperti apa ya? Jujur aku ga bisa berbohong. Aku balas aja dengan jujur.
" aku Abis Nolongin orang kamarin sore.!"
Balasan pesanku.
" kok, nolongin orang bonyok.?"
Tanya dalam pesannya. Membuatnya semakin penasaran.
" aku abis nolongin orang yang diganggu sama Preman." balas pesanku.
__ADS_1
" ouh...!, kamu tuh ya dari Dulu Hoby banget nolongin orang. Sampai sampai gak pernah mikirin diri kamu sendiri." balasnya seakan khawatir dan tau kebiasaanku.
" heheheh ... Gak apa apa..."
Balas ku singkat.
" ih, kebiasaan. Dulu inget gak waktu itu kamu pernah Tolongin anak kecil ditaman komplek yang lagi di palak sama anak yang lebih besar Dari kita." balasnya mengingat kejadian dulu saat kami masih kecil.
" oh... Iya! Masih inget aja kamu."
Balasku.
" iya... Akhirnya Kamu di pukul. Tapi kamu hebat gak nangis malah ambil kayu anak itu. Akhirnya mereka yang malah nangis dan pulang. Wkwkwkwk." balasnya.
" iya aku tau, eh... makasih ya Put. Obatnya."
Balasku.
" yaudah, kamu obatin luka kamu. Aku lanjut kerja ya... Nanti aku hubungin lagi kamu." balasnya mengakhiri obrolan kami.
Akhirnya aku buka paketan itu. Ternyata isinya benar beberapa pesanan perlengkapan obat obatan yang dia kirim dari aplikas "Obat online". Namun aku masih takut dengan kedekatan dia. Jujur saja aku masih merasa tidak enak jika ini kami Teruskan. Ya walaupun Hubungam kami dekat layaknya bersaudara tapi tetap saja nanti posisi aku bakal salah akan semua Hal ini.
" Assalamualaikum... !"
Bibi tiba tiba datang dengan Membawa belanjaan sayuran Habis dari Pasar.
" Wa'alaikumsalam Bi, sini Bi aku bawa..!"
Ucapku membalas salamnya dan memcium tangannya. Lalu aku bergegas memgambil barang yang di bawanya.
" udah , sarapan belum kamu Rik !"
Ucap Bibi
" Nanti aja Bi, belum mandi aku Bi!"
Jawabku Sambil membawa belanjaan kedapur.
" Nih..., Bibi beliin Nasi Uduk Buat kita makan berdua." ucap Bibi yang membeli nasi uduk 2 bungkus. 1 untuk aku dan yang 1 untuknya.
Seketika Bibi melihat begitu banyak obat obatan di meja.
" banyak sekali kamu beli obat obatan Rik.., memangnya sakit banget lukamu yang kemarin?" ucap Bibi heran melihat Obat begitu banyak di meja karena tergeletak, Baik obat luka luar ataupun Jenis antibiotik serta vitamin yg terlihat.
" Gak kok Bi. Itu kiriman dari Putri yang membelikan aku." ucapku menjelaskan.
" Perhatian sekali teman kecilmu Rik, awas le' Nanti kamu jadi masalah loh sama Hubungan mereka. Kan kamu sendiri yang bilang kalau Putri sudah mau menikah. Kalau Bibi saranin, mending kamu deketin perempuan lain aja. Bibi gak mau larang kamu deket sama siapa aja, Asalkan kamu tau batasan dia siapa." ucap Bibi mengingatkan aku.
" iya Bi aku tau kok."
Ucapku seakan menyadari apa yang harus ku perbuat.
" yaudah Rik, kita makan sini sarapan. Abis itu kalau kamu ga ada kerjaan Bantu Bibi bayar iuran Listrik ke kantor Pos ya." ucap Bibi mengajakku makan Bersama lalu menyuruhku sehabis makan Untuk membayar listrik. Dan kami pun makan bersama menikmati sarapan.
Selesai Sarapan aku pun bergegas Pamit kepada Bibi karena Pintanya menyuruhku membayar Listrik di kantor Pos.
Sesampainya Di kantor pos aku bertemu dengan Ratih.
" Eh , bang erik...!, Mau Bayar apa Bang?"
Ucapnya menegurku di pintu masuk yang berpas pasan Melihatku, bagitu pun aku melihatnya.
" hey Ratih, ini nih aku disuruh bibi bayar iuran Listrik bulan ini. Kamu sendiri mau Bayar apaan.?"
Balasku menjawab ucapanya dan berbalik tanya kepadanya.
" emm... Aku mau Kirim uang Biaya sekolah adik aku di kampung Bang. Soalnya kasian kebutuhan ekonomi bapak dan Ibuku takut gak Cukup.!" ucapnya bercerita.
" Permisa ibu, bapak ada yang bisa saya bantu.!" ucap seorang petugas.
" kami mau melakukan pengiriman pembayaran pak." ucapku kepada Petugas.
" Silahkan ambil Nomor antrian terlebih dahulu ya pak." ucap petugas.
Ketika itu aku dan Ratih mengambil nomor antrian dengan Nomor yang tidak jauh hany selisih satu angka. Aku mendapatkan no antrian 102 sedangkan Ratih 103.
Karena antrian kami kebilang jauh akhirnya kita duduk bersebelahan. Sambil menunggu antrian lai. Karena antrian masih berjalan di angka 050. Ratih bertujuan mengrim uang melalui simpedes. Karena di desanya masih belum banyak akses pengiriman uang melalui rekening bank. Tidak seperti di jakarta pada Umumnya.
__ADS_1
Keadaan kamu duduk seakan Canggung. Suasan Hening, ingin memulai percakapan membuat kami canggunng 1sama lain.
" Boleh Tanya gak!!!"
Serentak Secara bersamaan kamipun bertanya...
Dan kami pun bingung siapa yang harus memulai bertanya. Akhirnya aku mempersilahkan Ratih Untuk bertanya.
" Kamu dulu deh,, kamu mau Nanya apa Tih."
Ucapku.
" eh ... Gak kok gak apa apa. Bang Erik mau tanya apa?"
Ucapnya balik
" gak jadi, Lupa. Emm.. Apa yaa?" ucapku yang terbawa suasana Canggung.
" gimana atuh , bang... Kok bisa Lupa?"
Ucapnya sedikit senyum.
" Tau nih Bingung, tadi Kamu mau nanya apa tih?" ucap bertanya kembali.
" gak kok bang, aku cuma mau Tanya gimana Luka nya Bang?" ucapnya menanyakan keadaanku.
" udah mendingan Tih, alhamdulillah membaik. Makasih ya kemarin udah kamu obatin." ucapku
" aku yang Harusnya bilang makasih sama bang Erik. Karena aku kamu jadi seperti ini. Nanti di Obatin Terus bang lukanya, Yang bengkaknya Di Kompres lagi bang. Biar hilang bengkaknya." ucap Ratih berikan perhatian.
" iya Ratih, kamu gak usah Terlalu cemas sama aku. Aku ini orang nya Kuat... Kok!" balasku seakan tidak merasakan Canggung dengan susana yang sedang menunggu antrian.
" Jujur loh, saat kamu di pukul kemarin aku takut bang Erik Pingsan. Eh ... Ternyata bang Erik galak juga orangnya ya. Kaya orang kesurupan. Aku aja sampai kaget bang."
Ucap Ratih bercerita seru akan Hal kemarin.
" heem... Gimana ya. Aku memang kesurupan tau Tih kamarin itu Kodam Aku kayanya Yang keluar." ucapku seolah menakut nakuti dia.
" Ih... Bang Erik punya Kodam. Main hal hal seperti itu juga ya... Kayak dukun dukunan. Musrik tau bang, Punya kaya begituan. Katanya kalau Mati nantinya susah loh... Mesti ada yang di Tumbalin."
Ucapnya seakan Sok tau tentang Ilmu ilmu perdukunan.
" Sok tau kamu tih... Gak lah , Aku gak main kaya Gitu. Aku Cuma Bohong. Mana ngerti aku kaya Begitu. Toh klo aku punya Kodam Mukaku kemarin gak bakal Bonyok lah pas di pukul." ucapku menjelaskanya dengan Jujur dari guyonanku yang menakutinya.
" Ih, Ratih Pikir beneran...! Nyeselin juga ya bang Erik ini! Diajak ngobrol serius malah bercanda...!" ucapnya seakan kaget dengan candaanku.
" Kamu naik apa kesini...!" ucapku bertanya pada Ratih.
" Naik Jak lingko bang! Soalnya Kebetulan juga aku mau kearah cilincing bang" Ucapnya
" Ouh.. naik Jak lingko! , terus kamu mau ke cilincing ya...? Nanti bareng aja... Kebetulan Aku juga mau ke arah sana." ucapku secara kebetulan tujuan kami bisa sama arahnya.
" Abang Mau ngapain disana... Memang mau ke pelelangannya ya.? " tanyanya.
" enggak, aku gak ke pelelangan nya, aku cuma mau liat Projekan Taman Bacanya Doni kawan aku." Ucapku
" Taman Baca?, Maksudnya bang.! Ratih gak paham!" ucap Ratih sedikit Bingung.
" Taman Baca Itu... Program Pendidikan gratis yang di Buat sama Kawan aku dengan modal Apa adanya Tanpa bantuan pemerintah. Tujuanya Untuk ngebantu pendidikan anak anak pesisir pantai bisa kenal baca tulis sejak dini. Ataupun membantu pendidikan Bagi mereka yang kurang dalam segi ekonomi." ucapku menjelaskan.
" ih... Jadi Penasaran. Ratih Boleh ikut liat gak bang." tanya Ratih
" boleh... Tapi kamu mau ke cilincing ngapain ? tar aku malah ajak kamu. Gimana sih? Aku gak malah yang gak Paham."
Ucapku bertanya Balik.
" aku Mau ke cilincing. Cuma mau beli udang bang di pelalangan. Kalau abang gak keberatan. Abis aku belanja. Baru ikut liat anak anak pesisir. Gimana?" ucap Ratih menjelaskan Rundown yang dia konsep.
" Okee, bisa di atur." ucapku menyetujui inginnya dia.
Tak lama Nomor kami terpanggil pleh Costumer servis.
" Nomor panggilan 102 di loket 1"
" Nomor Panggilan 103 di loket 2"
Tanpa sadar obrolan kami terpanggil. Pikir masih lama nomor yang kita tunggu.
__ADS_1