
" rikkk.... Ngelamun Aja lu... "
Doni menyapaku.
Karena aku melamun membayangkan persahabatan kami di awal pertemuan.
" ehhh... Sorry sorry... "
Jawabku ditengah lamunan.
" mikirin apa sih Rikk...??? "
Tanya Doni.
" gak kok, Gua seneng aja... Bisa bayar kosan. Gara-gara job dari lu. "
Jawabku berbohong.
" Dih emang gua mau bayar lu... PD banget lu... " ledek Doni Terhadapku.
" Pusing Amat... Tinggal gua minta istri lu. "
Jawabku membalas.
" Udah ih ... kumat Deh kalian berdua. Tuh put liat kelakuanya pada. "
Gumam Dina.
" hehehe... "
senyum Putri kepada tingkah kami.
" PERMISI... MEDIUM WELL NYA SAMA yang WeLL DONE. "
UCAP seorang Waiters memberikan Steak pesanan Untuk kami.
" iyaa mas... Disini, makasih ya Mas "
Ucap Putri dengan senyuman manisnya...
Kemudian sang Waiters meletakan makananku dan Putri yang tadi kami pesan.
" Pak Doni, Bu Dina,, Bu Putri kami Pamit Duluan yaa..."
Terdengar suara seorang teman kerja Doni pamitan kepadanya.
" Pak Buru buru amat sih pada... " ujar Doni.
" Masih banyak kerjaan Pak buat Besok, anak anak Rumahnya pada Jauh. Kasian mereka. Aku pamit ya semuanya "
Jawab seorang teman kerjanya.
" ohhh yaudah Hati hati ya... Makasih ya udah pada Dateng. "
Jawab Doni.
Akhirnya kawan kerja Doni pada Pamit pulang dan Meninggalkan Putri. Putri yang Tidak Pulang karena dia Baru tiba tadi.
" Rikk ini punya kamu yang medium... "
Putri menyerahkan hidangan yang Tadi di taruh di meja oleh waiters.
" ehhh... Makasih ya Put. "
Jawabku.
Dan aku berdoa Dalam Hati sebelum menyantap Hidangan yang di sediakan di Meja.
KEMUDIAN...
" ihhh... Kok begini sih Dagingnya mentah. "
Protesku terhadap daging yang kupesan.
__ADS_1
" Iya mentah lah Rik, kan kamu mesannya Madium. Jadi daging nya setengah matang. Gimana sih kamu..."
Jawab Putri menjelaskan. Sambil tersenyum melihat kelakuanku.
" ga ngerti... Maksudnya gimana sih...? "
Tanya ku dengan polosnya.
" Dasar Katro, Namanya makan Steak itu setiap orang punya selera tingkat kematangan pada daging itu dari
Rere Sampai weel done. Maksudnya dari mentah sampai matang. Dan lu pesan medium well jadi daging lu di posisi masakannya setengah matang namun hampir matang kurang lebih suhu kematangan 140/150◎ f. "
Celetuk Doni berusaha menerangkan pesanan yang aku pesan.
" gua Kira Medium Well itu Porsinya. Baik rasa masakan pedas apa enggaknya... Heheheh... Maaf ya norak banget. Tapi enak kok ini. Maklum Lidah orang pinggiran."
Candaanku seakan merendah, namun sdikit malu sebenarnya.... Wkwkwkwkw.
" husssttt..., ih gak boleh ngomong begitu Rik. Namanya Juga baru pertama kali. Ya wajar aja. Jadi ada pengalamankan."
Ucap putri dengan lembut sedikit senyum karna menahan tawa.
TAK Lama suara terdengar.
"DOONN..."
" DON... DONI... SINI TOH DON. PAKDEMU INI MAU BICARA... SEBENTAR LOH PANGGIL SRKALIAN ISTRIMU.!!!"
Suara terdengar dari samping mejaku yang tak lain ternyata ibunya Doni yang memanggilnya.
" Iyaa bu... "
" maaf ya... Kalia Gua tinggal dulu ya ... Gua sama istri gua di pangggil. Di lanjut makanya."
Doni Pamit ke meja sebelah bersama sang Istri.
" iya Don... santai . " Jawabku.
" Dimakan Rik, apa kamu mau Daging pesanan aku. Habis dari tadi kamu kaya liatin makanan punya aku ."
Ucap putri seraya mengejutkanku yang sedang memperhatikanya makan.
" Eeee ... Eeehhh... Ga usah... Gak papa kok put..." Ujarku.
" Udah ini... Kamu cobain. Punya aku pasti kamu suka.."
Putri tanpa rasa Canggung membuat ku terkejut. Dia menyodorkan makanannya, Seakan igin menyuapi aku.
Dan mau gak mau aku reflek mencoba makanannyaa.
Slluuurppp..
NYammm.. Nyamm.. Nyamm
Ternyata pas aku coba memang enak pesanan punya putri. Dagingnya empuk banget... Aku menikmati tiap gigitan di makanan yang aku rasa. Gak seperti pesanan punyaku.
" hmmm.. Enak Banget Put. "
Ujarku yang mencicipi makanannya.
" yaudah kamu ambil aja ini punya aku. Apa mau aku pesenin yang baru."
Ucap Putri dengan begitu baiknya.
" ehh... Udah gak Usah. Lagi juga aku udah kenyang kok. Sebelum kamu dateng di acara aku udah cobain makanan deket deket stage."
Jawabku sedikit canggung dengan gaya Rileks.
" kok kamu kaya gak asing ya... Tapi ga deh perasaan aku aja ini mah.. hehhee... Maaf maaf... "
sedikit canggung aku hingga salah tingkah berbicara ngelantur . Namun dari paras Putri hanya tersenyum kecil... Mungkin baginya aku terlihat bodoh akibat kecanggungan ku kepadanya.
" put ,, maaf ya aku sok asik sama kamu... Jadi gak enakan... "
__ADS_1
Ujarku sekali lagi mencoba untuk tenangkan suasana.
" gak apa apa kok rikk..., terus kegiatanmu apa aja selain ngeFotoin Orang..."
Tanya Putri.
" ya Begini gini aja Put , kadang serabutuan bantuin orang sebisanya aku diminta aja. Kaya benerin elektronik klo bisa aku kerjain klo ga bisa ya aku bilang gak bisa."
Jawabku dengan enjoynya.
" Terus kamu ga coba ngelamar kerja... "
Tanya Putri.
" udah pernah sih... beberapa kali... Jadi celaning servis, pelayan Restoran mall doang. Tapi gak sebanding sama penghasilanku. Aku udah ngerasa nyaman begini ga di atur atur sama atasan. "
Jawabku nyeleneh...
" iyaa sih bener juga, tapi emang dasar kamunya aja itu mah. "
Jawabnya yang gak heran tau aku seperti apanya.
" iyaa sihh... Aku nya Dablek put... "
Ujarku.
" Hahh...Dablek...? Apaan tuh!!! "
Tanya nya heran tidak paham bahasa pinggiran.
" Eehhh... maaf. Maksud aku... Dablek itu... Kaya males atau serabut gituloh. Terlalu cuek sama diri sendiri..."
Jelasku padanya.
" Oohhhh... Begitu. Terus kamu gak mau coba lagi gitu kerja yang lebih nyaman dari itu... Liat tuh Doni. Berhasil mimpin perusahaan Bapak aku."
Jawabnya sekaligus kaget mendengarnya...
" HAAHHH, MIMPIN PERUSHAAN BAPAK KAMU SI DONI...!" Jawabku terkejut.
" Iyaa dia yang kelola Perusahan punya bapak aku." ujar Putri.
" bangga gua punya kawan kaya si Doni. Dia udah jadi Bos di perusahaan orang. Pantes acara nikahannya mewah. Luar biasa tuh anak. "
Gumamku dalam hati.
" pengen sih Put kerja kaya dia... Tapi kalau cuma modal Jujur sama ngomong doang. Apa bisa. Sedangkan aku aja bodoh tidak tau cara bekerja. Paling manajemen waktu ngandelin Alarm bunyi aja. Klo g inget ibadah suara Adzan. "
Jawabku seakan enjoy dan merendah.
" iyaa yaa.. Emang kamu tuh aku liat bawaan karakter kamu memang begitu."
Ujarnya padaku.
" Kamu dukun yaa... Tau tauan"
Ucapku seakan meledeknya.
" Eeehh.. Sembarangan. Aku tuh bukan Dukun. Aku tuh Pawangnya Dukun"
Balasnya dengan canda... Disela itu pula aku lihat kembali senyumnya yang Manis. Dan tanganya menutupi mulutnya.
Stack aku kaget dan seneng banget.. Melihatnya tersenyum manis terus menerus.
" Ehh.... Bisa bercanda Juga yaa! Cantik banget ihh... Mba mba ini klo di perhatiin senyumannya..."
Spontan aku mengucapkan kalimat pujian untuknya karna terbawa suasana yang semakin akrab.
Indah pesona terlihat wajah yang indah di malam itu keakraban kami. Putri yang begitu baik dan cantik sungguh membuatku terpikat. Mungkih kah oh ini cinta kudapatkan sebuah Anugrah.
Senyum senyum kecil selalu Hiasi meja di setiap candaanya.
Hingga Hidangan kami pun habis tak terasa dengan sendirinya sangkin asiknya bercerita.
__ADS_1