Arti'E

Arti'E
Prolog


__ADS_3

Gerah, tubuhku serasa tidak nyaman setelah berakfitas seharian... Sangat tidak nyaman. Aku ingin segera membersihkan tubuh dengan mandi, namun Aku sedikit mengulur hal itu, Aku ingin rehat sejenak dari kepenatan harian yang setiap hari kulalui.


Aku mulai duduk dipojokan kamarku, lalu membuka layar handphone, 16:16 adalah waktu yang muncul dipojok kiri layar handphone. Anak Sekolah Menengah Kejuruan sepertiku biasanya memiliki waktu luang, namun karena Aku sudah kelas tiga, banyak hal dan persiapan ujian yang harus dilakukan oleh Siswi senior ini.


Daripada membuka materi yang tadi kupelajari, bukankah rehat adalah waktu dimana kita bisa bersantai secara fisik dan mental? Dengan alasan ini, Aku membuka salah satu sosial media yang kumiliki, itu adalah sosial media berwarna hijau dengan logo sebuah kotak pesan percakapan dan nama dari sosial media tersebut juga terpampang di logo.


"Tau gk sih? Si Winda yang jadi anggota OSIS tahun lalu, kemaren dia ikut acara malam buat nyambut siswa baru kelas 1 kan. Saat uji nyali, katanya ada siswa yang jadi ketua kelompok saat acara itu, nyari kunci yang disembunyiin panitia buat acara, pas dia ama kelompoknya nyari, gak ketemu ketemu kuncinya, padahal panitia udah liat dia nyari ditempat yang bener kok"


"Apakah itu cerita menyeramkan, Lin?"


"Bukaan. Sama OSIS ini emang gaboleh di ceritain katanya"


"Trus, ngapa lu cerita ke group kelas?"


"Hehe, ya gpp kan. Dikelas kita ada 4 orang mantan OSIS, bahkan mantan wakil ketua. Trus wali kelas kita juga pernah jadi pembimbing OSIS kan, gue rasa kelas kita gak akan bocor kemana mana, kita kan selalu kompak"


Obrolan gadis-gadis dikelasku terus berlanjut, sepertinya Linda mulai membahas topik ini belum lama, waktu pada chat pertamanya menunjukan pukul 14:59 ini hanya beberapa menit setelah jam pelajaran terakhir kami.


Topik itu.. Aku tahu tentang hal itu namun sebaiknya tidak perlu menceritakan hal seperti ini karena bisa manjadi rumor buruk. Benar memang perkataan Linda kalau kelas kami kompak dan tidak akan membocorkan rahasia, itu sudah menjadi keunggulan kelas kami, itulah kenapa kelas kami menjadi salah satu kelas terbaik dalam hal kekompakan pada tahun ajaran kami.

__ADS_1


Sudah beberapa hari berlangsung semenjak laki laki yang menjadi topik barusan. Dia merupakan Ketua Kelompok dan memimpin pencarian kunci sebagai salah satu acara pada malam itu, dan sampai waktu yang diberikan habis, mereka tidak menemukan kunci itu dimanapun. Salah satu panitia kami bahkan memberikan petunjuk dimana tempat kunci itu, namun mereka tetap tidak ada yang berhasil menemukannya.


Laki-laki itu mengatakan bahwa ia sudah mencari ditempat yang disebutkan, dia hanya menemukan beberapa cacing dan belatung yang berserakan, tentu dengan bau yang seharusnya dimiliki oleh hewan tersebut. Dia berfikir bahwa itu hanyalah permainan dari panitia karena saat itu adalah acara uji nyali, dia tak berfikir kalau kunci ada disekitaran hewan menjijikan itu, fikirnya.


Setelah waktu habis, panitia datang dan memberikan keringanan dengan mengambil kunci dari tempatnya. Sama persis pada tempat sebelumnya yang laki-laki itu cari disana. Kali ini kunci benar benar terlihat oleh semua orang, bahwa itu ada disana. Semua anggota kelompoknya juga heran, namun laki-laki itu berkata kepada kelompoknya bahwa mungkin hal itu hanyalah rangkaian dari acara, karena sudah jam 3 pagi, dia menyarankan agar mengikuti sekenario dari panitia, dan semua anggota kelompok setuju akan itu.


Tiga hari kemudian, setelah dua hari libur, laki-laki itu tidak masuk sekolah. Alasan yang diterima Wali Kelasnya saat itu adalah dia sakit demam, yang terjadi setelah ia pulang dari acara itu.


Siswa baru kelas satu dipulangkan sore hari setelah uji nyali pada malam itu. Ibu laki-laki tersebut mengatakan dia mulai gelisah dan mengeluarkan keringat saat sampai dirumah, ia berfikir karena cuaca panas sehingga normal untuk berkeringat, namun pada malamnya hal itu semakin parah.


Pada malam yang sama, ia dilarikan ke apotek terdekat yang buka selama 24 jam, disana tidak ditemukan alasan apapun mengenai penyakit yang dideritanya. Padahal jelas sekali anak mereka terlihat tidak baik-baik saja saat itu. Anehnya lagi, pengukur suhu menunjukan suhu tubuh anak itu normal berada pada kisaran 36°.


Hari yang sama, Ayah dari laki-laki itu menghubungi Guru Spiritualnya, menanyakan perihal penyakit anaknya. Sampailah pada kesimpulan agar ia membawa anaknya kepada Guru Spiritual itu.


Aku tau sebanyak ini karena Wali Kelas laki-laki itu dekat denganku, dia sering memintaku membantu pekerjaannya sebagai guru dan wali kelas. Aku tidak bercerita kepada siapapun, Linda tau hal ini mungkin dari mulut Winda sendiri, mereka cukup dekat sampai mendapat julukan 'duo da' karena nama mereka sama sama memiliki akhiran da.


Menurut Wali Kelasnya, laki-laki itu pintar, ia mungkin masuk kedalam ranking tiga besar dikelasnya. Walaupun belum satu semester berlalu, Guru kami menganggapnya seperti itu, maka kurasa Aku akan percaya.


Keanehan tidak berhenti sampai disitu, semenjak hari itu, dia terlihat oleh beberapa siswa lain sedang berbicara sendirian, melamun dengan jangka waktu lama, dan jika ia dibentak dengan suara atau sentuhan langsung, ia akan sadar. Ketika ditanya dia kenapa, dia akan menjawab dirinya baik baik saja.

__ADS_1


Hari ini sekolah digegerkan dengan seorang siswa kelas satu yang kesurupan. Berbeda dengan kesurupan pada umumnya, ia nampak berdiam dengan pandangan kosong melihat seisi kelasnya. Ia tidak merespon walaupun dipanggil berkali-kali, tidak ada siswa yang berani mendekat, bahkan orang awam akan faham kalau dia tidak sedang baik-baik saja.


Beberapa siswa berlari memanggil guru, Aku yang kebetulan baru kembali dari kantin melihat kerumunan dan datang melihat dengan menyelinap. Teman-temannya berada diluar kelas, sedangkan ia tetap duduk dibangkunya dengan pandangan kosong, melihat kekanan dan kekiri tanpa ekspresi. Bukankah itu menakutkan? Setidaknya bagiku itu adalah hal yang menakutkan.


Sesaat, Aku menyadari dia mulai melirik kearahku, dia benar benar melihat kearahku, namun Aku merasa ia tidak sedang melihatku. Apa mungkin ia bisa melihat 'sesuatu' yang ada dalam diriku? Aku heran.


Tak sempat Aku berfikir lebih lanjut, Guru Agama kami datang dan memasuki kelas itu, semua siswa disana melihat Pak Guru pelan pelan berjalan mendekat dan mulai berbicara.


"*Irwan, Kamu baik baik saja?"


"Ini Bapak wan, Guru Kamu*"


Saat itu Aku tahu nama dari yang selalu kusebut dengan 'laki-laki itu', ia bernama Irwan. Oke, baiklah, simpan didalam kepalaku, Aku berbisik pada diriku sendiri.


Irwan masih tetap tidak mengambil ekspresi atau menunjukan respon atas panggilan Guru kami. Saat kedua orang itu sedang dalam keadaannya, satu lagi siswa berjalan masuk kedalam ruang kelas. Aku mengenali siswa itu, dia berjalan dengan santainya tanpa menghiraukan kerumunan. Jujur saja, jika ia tidak menerobos kerumunan dan masuk kedalam kelas, Aku mungkin tidak sadar kalau Arfa ada disekitarku.


Arfa, satu sekolah denganku saat SMP. Aku tidak begitu mengenalnya saat kami SMP. Aku mulai dekat dengan anak itu setelah melihat dia dan beberapa alumni lain yang berasal dari SMP yang sama.


Irwan yang sedari tadi tanpa ekspresi apapun, ketika Arfa datang mendekat ia mulai menunjukan sebuah respon. Irwan memandangi Arfa tanpa henti dan mengikuti pergerakannya hingga dia berhenti berjalan.

__ADS_1


Arfa sampai didepan Irwan, sangat dekat, sama seperti jarak antara Kau dan teman sebangkumu, bahkan lebih dari itu. Irwan masih melihat kearah Arfa, semakin dekat, ia semakin menunjukan ekspresi di wajahnya. Sebuah ekspresi terkejut atau lebih kepada rasa takut.


Irwan mulai menggerakan tubuhnya hendak berdiri, Arfa merespon itu dengan meletakan tangan kanannya di kepala Irwan kemudian ia bergerak mengusap pelan-pelan wajah Irwan. Mulai dari dahi, mata, hidung, dan berakhir saat menyentuh dagu. Mengikuti hal tersebut, Irwan terjatuh dan pingsan.


__ADS_2