Arti'E

Arti'E
Dua Diantara Seratus


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 05.10, biasanya saat ini Aku masih dirumah untuk sekedar membantu pekerjaan Ibu atau bersantai sebelum berangkat sekolah. Namun, hari ini Aku memutuskan agar dapat berangkat lebih pagi, Aku meminta Ayah untuk mengantarku.


Tidak sampai lima belas menit, Aku sudah sampai disekolah, walaupun masih sangat pagi, gerbang sekolah sudah terbuka. Ada Pak Satpam berjaga disana, Aku tersenyum kecil untuk menyapa dan Aku mendapatkan senyuman balasan dari beliau.


Berjalan menuruti lorong lobby sekolah, masih agak gelap karena cahaya matahari belum sepenuhnya keluar terpancar. Aku tidak berniat langsung masuk kedalam kelas, namun memutar arah menuju kantin. Aku ingin setidaknya membeli cemian atau minuman ringan.


Seperrinya seseorang sudah duduk disalah satu bangku kantin, diantara puluhan bangku hanya ada satu orang yang mendudukinya. Dari kejauhan terlihat samar, karena cahaya masih minim, dan posisi lampu yang kurang tepat sehingga mengganggu penglihatan.


Aku penasaran dan sedikit mendekat. Oh, pas sekali waktunya.


" Pagi... Arfa "


Aku ingin memulai sapaan karena ia masih fokus pada hape di tangannya dan tidak memperhatikan sekitar.


" Apa Kau tau manfaat dan arti dari sebuah Salam yang sangat Mulia? "


Dia bahkan tidak menjawab sapaan selamat pagiku, malah berbalik berbicara secara formal kepadaku. Iya, sepertinya Aku memang salah, dan mengulangi sapaanku dengan sebuah salam. Setelah salam itu keluar dari mulutku, ia menjawabnya dengan lebih sempurna.


"Tumben berangkat pagi, apakah gadis di depan gue ini sedang kesepian sampai sampai tidak betah lama-lama dirumah?"


Aku tak tahu mengapa, tapi sepertinya ia berkata seperti itu bukan untuk menyinggungku, lebih seperti mengatakan sebuah kenyataan pahit seseorang dan melemparkannya kepada orang lain.


"Engga lah, hubungan gw sama ortu gak kaya gitu "


" Baguslah... "

__ADS_1


Aku akan mengabaikan topik yang sedang berjalan ini. Aku ingin bertanya soal kejadian kemarin, karena keadaan sedang sepi walaupun ada satu atau dua siswa yang mulai berdatangan, menurutku untuk beberapa menit kedepan para siswa tidak akan datang kekantin pagi ini. Faktanya, saat ini hanya ada kami berdua, dan beberapa penjaga kantin dipojokan jauh sana.


" Mas, gw mau nanya soal kejadian kemaren. Gw juga ada disana, gw mau nanya, lu apain si Irwan sampe bisa gitu? Pak Ahyar aja sampe diem kan"


" Gue gak ngapa ngapain, gue dateng pas Pak Ahyar dipanggil dan gue ada di ruang guru, gw keluar dan gue liat kerumunan didepan kelas itu "


Tanpa menghiraukan panggilanku dengan menggunakan 'Mas' orang ini langsung menjawab pertanyaan. Sembari menaruh hape yang ia gunakan, lalu mengambil kotak kopi instant yang akan ia minum, ia melanjutkan:


"Demi kebaikan si Irwan juga biar gak kena bully atau perlakuan tidak baik setelah kejadian itu, gue dan Pak Ahyar membuat sebuah alasan yang mudah diterima siswa"


Arfa terus bercerita tentang kejadian kemarin. Rupanya Arfa dan Pak Ahyar mengantar Irwan pulang hari itu, pantas saja Aku tidak melihat Arfa dan jam pelajaran Pak Ahyar kosong kemarin, ternyata begitu.


"Gue dirumah Irwan cukup lama, sampe abis magrib baru balik ".


Oke, sekarang terjawab kenapa jam pelajaran Pak Ahyar kemarin kosong, ternyata beliau tidak ditempat.


Seperti ada bisikan yang datang dan terlintas dikepalaku, Aku mencocokkan gerakan bibir Arfa kemarin dengan sebuah kata, dan Aku berasumsi kalau ia berucap 'Pergilah'.


'Hah?' kata dalam pikirku menghentikan pemikiran soal gerakan bibir itu. 'Kenapa gue mikirin hal kek gini, gak kaya gue yang biasanya deh'. Aku merasa janggal pada diriku sendiri, karena biasanya Aku tidak seperti ini. Lagian, darimana asal bisikan yang tiba tiba terlintas ke kepalaku tadi?


Beberapa siswa mulai berdatangan melewati kami, dan Aku mengakhiri perbincangan ini dengan salam ringan, ia menjawab salam ringanku dengan baik. Aku menyukai respon darinya itu, ya aku suka respon seperti itu.


Menurut informasi dari kelas sebelah, hari ini saat jam Pak Ahyar berlangsung, beliau sedikit membahas hal kemarin. Beliau mengatakan kalau tak ada yang perlu ditakutkan, kemungkinan kemarin Irwan sakit karena kelelahan, sehingga tidak fokus.


Beliau melanjutkan kalau memang keluarga Irwan sedang mengalami masalah berat, sehingga wajar saja jika anak mereka ikut memikirkan masalah keluarga itu dan terbawa hingga sekolah. Jadi ini yang Arfa maksudkan tadi? Sebuah alasan?.

__ADS_1


Saat jam istirahat kedua, para siswa keluar kekantin atau ketempat lain, paling banyak tentu menuju tempat ibadah sekolah karena memang sudah jatuh waktunya. Saat berjalan, Aku melihat Irwan bersama teman sekelasnya, mereka bersenda gurau layaknya anak remaja pada umumnya. Yaaah... maksudku mereka memang masih remaja.


Kami berpapasan, ketika kami hendak melepas sepatu, Irwan memulai sebuah pembicaraan kepadaku secara langsung. Sembari duduk, ia melihat kearahku, dan berkata:


" Kak Yuli kan ya? "


"Iya, kenapa dek? kok tau nama Kakak? "


" Kak Yuli senior di eskul Palang Merah kan? Kalau upacara Kakak sering pakai seragam PMR dan berjaga di belakang barisan upacara. Aku sering liat Kaka, dan temen kelas Aku ada juga yang masuk PMR "


Aku bahkan tidak terlalu memperhatikan hal itu. Aku mengikuti PMR hanya karena siswa berkewajiban mengikuti minimal satu eskul, dan Aku memilih PMR. Bukan berarti Aku tidak serius didalamnya, ketika menerima materi dan pembelajaran terkait, Aku serius belajar juga.


" Kalau ada waktu bisa gak kita ngobrol Kak? Saya merasa kalau Kakak itu memiliki persamaan dengan Saya yang sekarang "


Aku tidak merasa harus menolak permintaan dari adik kelas.


"Nanti sepulang sekolah juga Kaka free, gak ada urusan mau apa, mungkin ke ruang eskul buat cek sesuatu, abis itu udahan, karena kelas tiga jadi gak boleh terlalu fokus ke eskul sekarang. Kalau mau ngobrol nanti bisa "


" Oh, oke Kak. Kalau gitu nanti Aku akan datang ke Kaka kalau waktu luang"


Setelah itu Irwan mengajakku agar bergegas karena waktu ibadah sudah dikumandangkan. Aku tersenyum menerima saran itu.


Begitu Aku memasuki ruang ibadah, nampaknya Arfa berdiri pada shaf paling depan dan diikuti siswa siswi lain. Bahkan beberapa guru kami berada dibelakangnya.


Aku khawatir suara Arfa tidak sampai kebelakang sini karena cukup jauh, namun sepertinya itu hanya kekhawatiran belaka. Begitu ia bergerak, suara yang ia keluarkan cukup keras sampai belakang sini walau tanpa pengeras suara sekalipun.

__ADS_1


Sedangkan, pada bagian kami para wanita ada beberapa wanita yang memang tidak mengikuti ibadah, yah Aku kenal orang itu, dia memang mengikuti Eskul Keagamaan dan bertanggung jawab untuk tempat ibadah seperti ini. Jadi, walaupun dia tidak bisa mengikuti karena sebuah halangan, ia bisa tetap hadir untuk mempersiapkan segalanya. Dia memang sahabatku yang sangat rajin.


Aku juga tidak akan heran, karena daritadi dia hanya memperhatikan Arfa dari dalam sini. Melihat kelakuannya Aku malah tersenyum.


__ADS_2