
Keadaan sudah mulai tenang semenjak Irwan tidur lemas, atau bisa dikatakan pingsan tak berdaya.
Ibu Irwan dan beberapa ibu-ibu didalam kamar ini masih sedikit tersedu sedu, sedangkan para laki-laki dan pria bergamis itu keluar dan menjelaskan keadaan kepada masyarakat yang melihat dari luar, termasuk Ayah Irwan.
Aku sedikit mendekati Irwan, bekas cekik-an terlihat pada leher dengan jelas, dan juga ada noda lain disana. Bentuk itu seperti percikan noda darah, berwarna merah. Sedikit agak samar barulah terbentuk bekas tercekik yang lalu.
Ibu Irwan mendekatiku dan mulai bertanya tentang siapa diriku, Aku menjawab semua pertanyaan yang terlontar. Ia kemudian mulai sedikit agak tenang dan membuatkan beberapa teh serta kopi didapur bersama ibu ibu yang lain.
Beralih keruang tamu, Ayah Irwan, Pria Bergamis, dan dua orang laki laki lainnya sedang mengobrol disana. Salah satu dari mereka berkata bahwa tenaga Irwan tiba tiba sangat kuat sampai dapat membuat ia terpental dari tempatnya. Kedua pria lain tampaknya setuju dengan argumen itu. Dilihat dari keadaan mereka yang bernafas tidak teratur dan berkeringat, sepertinya itu benar.
Secara garis besar, pria bergamis itu menjelaskan alasan kenapa Irwan bisa seperti itu. Penjelasan pria itu sangat mendekati seperti apa yang Aku lihat sebelumnya dalam mode indigo, padahal Aku tahu, orang ini bukanlah seorang indigo juga sepertiku, namun ia bisa mengetahui keadaan Irwan.
Warga sudah bubar sedari tadi, membuat keadaan semakin tenang. Ibu Irwan kembali dari dapur dan membawa nampan yang diatasnya terdapat beberapa minuman teh dan kopi, ia menyajikan semua itu dimeja, setiap orang didepannya diletakkan salah satu dari minuman yang ada disana, sedangkan Aku mendapat gelas yang berisi teh.
Setelah semua minuman dipaparkan, dan nampan diletakan diatas pangkuannya sendiri, Ibu Irwan berucap.
"Sebelumnya, Nak Irwan juga pernah ada gejala seperti di sihir Pak, hanya saja suami saya malah membawa anak kami kesalah satu orang pintar kenalan dekatnya. Irwan sempat sembuh beberapa hari, tapi itu gak berakhir sampai situ aja. Irwan kadang seperti orang kerasukan, ngobrol sendiri dan sering ngelamun"
"Ya kan kenalan Bapak itu orang pintar. Saat Bapak telpon beliau, beliau bilang suruh bawa Irwan kesana, dan saat sampai kesana ia dimandikan kembang dan beberapa prosesi lain"
"Apakah kenalan Bapak itu memberikan pra-syarat sebelum ritual pemandian itu?"
Pria bergamis bertanya demikian kepada Ayah Irwan. Menurutku, itu adalah hal wajar, ketika ingin meminta bantuan Jin, maka dibutuhkan syarat, entah itu tumbal atau sesaji agar koneksi kepada jin dapat terhubung, ini adalah sesuatu yang mutlak.
"Iya Pak, syaratnya aneh aneh. Setelah syarat selesai, dan ritual selesai. Dia juga minta uang sebagai imbalan atas keberhasilan ritualnya"
Kemudian terus berlanjut, Ayah Irwan menjelaskan secara rinci syarat dan kejadian saat itu kepada pria itu. Aku hanya diam mendengarkan.
Mereka bertanya kepadaku banyak hal, dan akupun menceritakan bagaimana Irwan di sekolah, Aku juga menceritakan saat dimana aku bertemu dengan Irwan pertama kali saat Irwan kesurupan beberapa hari yang lalu. Kami berbicara banyak hal, dan hanya berputar antara Jin dan Irwan.
Aku bertukar nomor dengan Ibu Irwan. Karena sudah malam, Aku berpamitan. Aku berjalan diantar oleh Ayah Irwan dan mengobrol ringan.
Esoknya Irwan masih belum masuk sekolah, dan hari ini ditambah Ayu yang tidak masuk sekolah. Dia sakit. Aku heran, apakah ia sakit setelah acara keluarga yang ia maksudkan kemarin?
Bel jam istirahat berbunyi. Aku dan beberapa teman lain berjalan kekantin untuk membeli beberapa cemilan dan minuman. Sejujurnya membawa makanan dari kantin kedalam kelas itu dilarang, tapi banyak siswa yang tetap melakukannya, bahkan guru juga tidak terlalu sering menegur. Sepertinya kami akan kena tegur jika sampahnya berantakan, selama kami makan dan membuang sampah dengan baik, kukira tidak akan menjadi masalah.
"Pokoknya udah setuju kan kalau Arfa jadi ketua kelompok di presentasi tugas kita?"
"Gw mah setuju aja, lagian gw kira juga gk akan banyak yg komplain soal kek gitu. Arfa selalu dapet nilai bagus dalam pemaparan materi presentasi."
"Ngomong aja gampang kalian, mentang-mentang gw yang kalian jadiin ketua, bukan berarti semua materi presentasi gw yang bikin kali. Kalian nanti akan gw bagi tugas untuk pengerjaan materi per bab, untuk menyusun kedalam presentasi nanti, formatnya biar gw. Kalau ada yang mau desain tinggal tambahin setelah gw selesai masukin materi"
Ketika kami mengantri makanan, Arfa dan teman temannya sedang berdiskusi soal presentasi. Sebenarnya benar apa yang teman Arfa katakan, ia bagus dalam memaparkan materi, selama beberapa kali saat acara sekolah ia sering kali ditunjuk sebagai perwakilan eskul dan memaparkan beberapa materi didepan siswa kelas lain. Bahkan ia pernah ditunjuk sebagai pengisi khutbah jum'at disekolah, dan setelah ia berkhutbah, anak laki-laki banyak yang mengeluhkan soal lamanya durasi ia berceramah, tapi mereka berkata jujur kalau mereka sangat tertampar oleh isi ceramahnya Arfa.
Aku menyerahkan antrian kepada teman temanku, dan mulai mendekati kerumunan laki-laki itu.
"Mas Arfa..."
"Uuuuwhhh. Si Paling Populer, perasaan gw liat dideketin banyak cewe ya, jadi iri gw. Beda dah orang sholeh mah emang selalu dikerumuni wanita"
"Ngomong sama siapa kalian?"
Arfa membalas sindiran itu, ia melepas tangannya dari keyboard yang ada pada laptopnya.
"Mau nanya soal Ayu ya?"
Dia langsung menebak apa yang ingin kutanyakan, bagus lah ini bisa mempersingkat waktu.
__ADS_1
"Iya, gimana? Tau?"
"Dia sakit, dikelas dia absennya juga S"
"Kalau itu gw juga tahu, lu tau dia sakit apa? Atau gak ada pemikiran buat njenguk dia gitu? Elu kan temen eskulnya Ayu, perhatian dong sama cewe"
"Mmmm.. Kasian diomelin cewe gegara gk perhatian. Makanye, lu pan dideketin banyak cewe, cobalah ngasih perhatian lebih ke mereka"
"Gw gak pernah minta didekati cewe, mereka juga cuma datang minta bantuan soal pelajaran atau nanya sesuatu, kalau gw tau ya gw jawab, kalo kaga ya engga"
"Nanti gw akan bahas sama anggota eskul, gimana-gimananya soal siapa yang akan jenguk biar dirundingkan. Tapi kayaknya sih gw yang ditunjuk, jadi sebelum gw nanti ditunjuk mending gw unjuk tangan duluan aja dah"
Setelah membalas sindiran temannya sendiri, ia menjawab pertanyaanku.
"Lu ama Ayu keliatannya deket banget? Apa hubungan kalian? Kalian gk ngelakuin sesuatu yg mencemari nama eskul kan?"
"Cuma temen, dan pastinya kaga"
"Tapi ada beberapa anggota lain yang malah pacaran loh, itu gimana pendapat lu?"
"Pendapat gw? Jawaban gw, tindakan mereka mencemari nama baik organisasi. Tapi gw gak berhak mengkritik, karena dilihat dari sisi gw, gw gak jauh beda dari mereka, jadi gw gak mau dipandang munafik nantinya. Apapun tindakan kami, kesalahan itu ada pada diri kami masing-masing, bukan organisasi.
Sepertinya mereka mengabaikan materi presentasi yang ada dimeja mereka masing masing dan malah menggosip soal anggota eskul yang menjalin asmara.
"Gw boleh ikut gak, njenguk Ayu?"
"Ga usah, biar gw aja. Kalau ada anggota lain yang mau ikut palingan juga gw tolak. Gak enak sama keluarga Ayu kalau dateng banyak orang, atau gw khawatir malah Ayu gak membaik karena ngeliat banyak orang dateng kerumahnya"
"Yaaaah.. okelah, biar elu aja. Tapi gw titip salam ya buat Ayu?"
"Sebenernya gw lebih suka lu yang ucapin salam ke dia sendiri pas dia udah sembuh, tapi oke, nanti gw kasih titipan salam dari sahabatnya yang bernama Yuli"
Hari ini Aku tidak masuk sekolah. 'Heeeehh..' Aku mendesah perlahan dalam diriku. Semalam setelah pulang dari acara keluarga tubuhku menjadi lemas dan kepalaku berkunang kunang. Semenjak kecil Aku memang memiliki tubuh yang lemah dan sakit merupakan sesuatu yang sudah sering menimpa tubuh dan diriku ini.
Seharian aku hanya menghabiskan waktu dengan tidur dan membaca buku. Jujur saat keadaanku lemah seperti ini, Aku membenci tidur tapi sesudah meminum obat Aku terpaksa untuk tidur karena rasa kantuk yang diakibatkan obat itu.
Ketika Aku tidur dalam keadaan tubuhku lemah, Aku selalu bermimpi buruk. Mimpi tentang sebuah sosok yang selalu menemaniku selama ini, bahkan dari semenjak Aku dilahirkan. Aku adalah Indigo sejak lahir. Setidaknya sampai tiga tahun yang lalu.
Saat aku bertemu dengan Arfa, banyak perubahan yang terjadi, yang awalnya Aku bergantung penuh pada kemampuan mistis milikku dan menganggap mudah semua hal. Kini semua berubah.
Aku mengenal sosok itu, ia adalah jin dari seorang manusia yang hidup saat masa penjajahan. Aku sering kali bermimpi soal penyiksaan yang dialami sosok ini.
Ia seorang wanita, belum remaja. Umurnya sekitar 9 atau 10 tahun. Ia disekap, kedua tangannya diikat, ia ditendang hingga terpental jauh kepojokan dan kepalanya menghantam dinding. Dengan setengah sadar, ia melihat Ayahnya dibunuh didepan mata. Ayahnya mati setelah tertembak beberapa kali di dada, perut, dan terakhir kepalanya.
Ia menyaksikan ibunya disiksa dan diperkosa hidup hidup. Perlakuan yang sangat kasar dari para penjajah terhadap pribumi yang merupakan ibu kandungnya sendiri. Ibunya melawan dengan sekuat tenaga, sembari memanggil suami dan anak gadis semata wayangnya, ia dipukuli, dijambak, diludahi, baju yang hanya terdiri dari beberapa kain saja disobek paksa, mereka menjamah tubuh ibunya dengan kasar. Sebagian mereka memegang tangan dan kaki, sebagian lainnya bermain main dengan tubuh ibunya.
Bahkan setelah perlawanan yang sia sia, mereka tetap bermain dengan tubuh yang tidak berdaya itu. Ibu anak ini berusaha menggigit salah satu prajurit yang menahannya, namun itu adalah kesalahan fatal. Prajurit itu berteriak marah dan menghantamkan kepala ibunya ketanah.
'Splaaaattt!!'
Darah keluar dari tengkorak ibunya, bibirnya tak kuasa lagi bergerak untuk memanggil suami dan anaknya. Prajurit itu membenturkan kepala ibunya beberapa kali, sampai tidak lagi terdengar suara rintihan dari ibunya. Ibunya sudah mati, bahkan dalam keadaan sudah menjadi mayat, para prajurit biadab itu tetap bermain dengan tubuh ibunya, mereka tertawa dan berteriak.
Puas dengan tubuh ibunya, mereka melempar jasad itu dengan kasar, mengalihkan pandangan mereka kepada gadis kecil yang kedua tangan dan kakinya terikat dengan mulut yang tersumpal kain, mereka meringis dan mulai berjalan mendekat.
Salah satu dari mereka menyeret anak ini dengan kepala yang berada dibawah, keluar dari rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat saat malam hari oleh sepasang suami istri dan anak gadis mereka kini terasa panas karena kobaran api yang menyala nyala. Itu bukan hanya kobaran dari dari satu rumah, namun satu kampung.
Mereka merampas harta, wanita, dan beberapa anak anak kecil yang mereka bawa. Penjajah itu membawa para tawanan kesebuah hutan, disana mereka dibiarkan menunggu giliran untuk mati. Para wanita digunakan sebagai budak seksual para penjajah, bahkan tidak hanya wanitanya saja, anak laki laki yang bersama merekapun menerima nasib yang sama, mereka dipaksa melakukan tindakan seksual sesama laki laki.
__ADS_1
Secara garis besar, itulah mimpi yang sering kali aku rasakan, bahkan sampai tiga tahun yang lalu banyak sekali gambaran gambaran yang menyiksaku secara mental, jujur saja semakin aku menginjak dewasa, mentalku semakin buruk dan terganggu. Aku tidak menceritakan pengalaman mistis ini dengan siapapun, kecuali satu laki laki yang seumuran denganku. Arfa.
Aku benar benar bersyukur dan berterima kasih sangat besar kepada Arfa. Ia telah membebaskan aku dari penjara setan yang mengurungku bahkan sedari aku baru keluar dari rahim. Arfa berkata kalau mungkin jin yang bersamaku itu menyukai aku sedari aku dilahirkan karena memiliki kesamaan dengan jin itu, atau sesuatu yang semacam itu. Kebenarannya adalah demikian, ia tertarik kepadaku bahkan saat sebelum Aku dilahirkan, yakni masih dalam kandungan.
''Mungkin mereka tidak membaca doa ketika ingin berhubungan, dan diganggu oleh jin itu''
Kalimat yang Arfa pernah ucapkan, tau tau keluar dari ingatanku. Aku sedikit malu ketika mengingat ia mengatakan itu, namun setelah aku pelajari kemudian, aku mulai merasa kalau itu bisa saja menjadi penyebabnya. Setan dapat memasuki tubuh manusia melalui pembuluh darah, ini adalah informasi yang Arfa berikan kepadaku, dan itu benar apa adanya.
Bukan berarti saat ini Aku terbebas 100% dari jin itu, tidak. Dalam beberapa keadaan, seperti saat Aku sakit, ia masih suka menghampiri. Ia juga masih sering mengikutiku kemanapun aku pergi, sekarang aku tak bisa melihatnya namun terkadang ia menggodaku dan memberikan kembali penglihatan serta kemampuan indigo padaku.
Aku menceritakan hal itu kepada Arfa, soal jin yang masih menggodaku dan Aku masih bermimpi buruk soal kehidupan anak itu. Namun, Arfa memberikan jawaban yang memuaskan, ia memberikan Aku beberapa hal yang harus dilakukan jika itu terjadi, dan itu benar benar ampuh untuk mengusir jin itu.
Ini sudah ba'da Isya, tapi sepetinya dilantai satu kami kedatangan tamu. Suara ibuku terdengar menyambut tamu yang datang itu. Aku sedikit berharap kalau itu adalah Arfa yang datang untuk menjenguk, sebetulnya aku berharap banyak kalau itu benar. Aku bahkan berdoa didalam hati agar itu benar.
"Ayu, ada temen kamu dateng njenguk. Dari perwakilan rohis"
Suara langkah kaki terdengar seperti seseorang sedang menaiki tangga, semakin keras dan keras. Laki laki berjalan mendekat memasuki kamarku, dan ia mengucapkan salam.
Aku mengambil selimut yang hanya menutupi sampai ke dadaku, kuangkat sampai menutupi seluruh tubuh, muka serta kepalaku.
"Oiya, maap. Lupa kalau belum make hijab. Mau pakai, atau Aku langsung pulang aja?"
"Ja.. jangan..., Ayu pake bentar. Keluar dulu"
Untung saja aku menutupi wajahku dengan selimut, jika tidak, mungkin Arfa akan melihat wajahku yang mulai memerah karena bahagia ia datang menjenguk dan doaku dikabulkan.
Suara pintu tertutup, Aku berdiri dan mulai memakai jilbab yang ada disekitar tempat tidurku. Aku tak punya banyak waktu untuk berdandan atau bagaimanapun itu.
"Arfa, udah... kamu boleh masuk kok"
Suaraku yang lirih namun dapat terdengar keluar, ia membuka pintu tidak kembali menutupnya lalu menanyakan bagaimana keadaanku.
Sebenarnya ini berat, aku yang sudah melakukan seperti apa yang Arfa katakan ketika ada jin yang mengganggu, iya memang itu hilang, tapi sedari kemarin malam jin itu sering kali mengganggu dan selalu datang kembali.
"Loh kok malah nangis?"
Aku yang tanpa sadar terisak dan mengeluarkan air mata membuat Arfa bertanya tanya kenapa. Aku ingin menjawab pertanyaan itu, namun semakin aku menyiapkan waktu untuk berbicara, aku semakin terisak isak. Aku sampai terus menerus menghapus air mata dengan kedua tanganku.
Arfa yang duduk disebelah tempat tidur hanya terdiam dan melihat. Ia sama sekali tak mencoba lebih mendekat atau membantu mengusap air mataku yang keluar. Aku tau betul Arfa, ia tidak akan menyentuhku jika itu memang tidak sangat dibutuhkan. Bahkan disekolah ketika aku berusaha mendekat, ia merasakan itu dan menjaga jarak dariku, Aku benar benar paham bagaimana karakteristik Arfa.
"Berat ya?"
"Sabarlah, Aku udah sering bilang kaya gini kan? Memang terdengar membosankan, tapi saat ini memangnya kita sebagai manusia bisa berbuat apa?"
"Aku dan kamu sama, kita sama sama mahluk yang tak pernah ada daya. Apakah kamu merasa kalau Tuhan tidak menyayangi kamu lagi saat ini?"
Rentetan nasehat dan pertanyaan keluar dari Arfa, memang ia sering kali berkata hal yang serupa ketika aku menceritakan masalahku padanya.
Setelah itu ibuku datang membawakan minuman dan cemilan untuk Aku dan Arfa.
Kami bertiga mengobrol banyak hal dan tertawa karena Arfa yang datang tidak membawa apapun, kemudian malah bertanya kepada ibu:
"Saya gk bawa apa apa, karena saya gk tau harus bawa apa. Ibu bilang saya harus beli apa sekarang, biar saya keluar, beli, baru balik lg kesini"
Pantas saja ibuku tertawa setelah menyambut kedatangan tamu tadi, ternyata tingkah Arfa yang tidak tahu harus membawa apa saat menjenguk seseorang dan malah bertanya dengan polos mengejutkan ibu.
Dalam hati aku berharap bisa lebih lama mengobrol bersama Arfa, tiga tahun kuhabiskan hanya dengan memendam rasa kepada laki laki ini. Ia menyadari perasaanku, namun ia tak bergerak, ia sadar kalau itu adalah sesuatu yang terlarang. Arfa selalu menjaga jarak dan bersikap lebih baik kepadaku daripada kepada orang lain itu semakin membuat rasa yang kumiliki bertambah, dan ini juga sangat menyiksa.
__ADS_1
Saat kau mencintai seseorang, namun kau tak bisa melampiaskan rasa cinta itu.