
Sekarang adalah hari Kamis, hari ini Aku akan ikut dalam sebuah acara di sekolah untuk menyambut siswa siswi tahun ajaran baru. Aku yang sudah naik kelas tiga seharusnya tidak terlalu ikut campur dengan urusan seperti ini, namun dengan kemampuan dan kekuasaanku pada beberapa organisasi sekolah bahkan guru, ini bukan apa apa.
Aku juga tidak berniat untuk ikut acara sedari pagi, biarlah para panitia kelas dua dan yang lain yang mengurusnya. Aku akan mulai membantu saat acara malam tiba.
Malam akhirnya tiba, Aku suka dengan kegelapan malam, ini menenangkan bagiku. Aku menutup mata sejenak merasakan beberapa kehadiran disekelilingku. Satu dua sosok sudah bisa Aku rasakan kehadirannya, mereka adalah jin yang mengikat kontrak denganku.
Targetku, seorang laki laki kelas satu yang baru masuk ke sekolah kami. Sepertinya dia memiliki jin pelindung yang diberikan seseorang. Aku juga mengenal orang lain, seorang wanita yang memiliki jin pelindung yang diturunkan oleh orang lain, mungkin orang tua atau kerabat mereka. Aku tidak peduli.
Aku seorang senior di sekolah ini, kelas tiga. Aku menjadi juara satu setiap tahun dikelas, semua guru dan siswa mengenalku karena prestasiku dalam ujian yang menghasilkan nilai baik. Hanya saja, itu bukan Aku. Aku hanya meminta bantuan dari para jin yang memiliki kontrak denganku.
Aku juga mengikuti eskul pencak silat, dan Aku tak pernah dikalahkan disana. Ya, tentu saja, mereka tidak akan dapat mengalahkanku jika itu adalah kemampuan tenaga dalam.
Aku sebelumnya tidak punya dendam terhadap siapapun, karena apa yang Aku inginkan selalu dapat aku capai.
Ayahku sebelumnya adalah seorang tokoh yang cukup dikenal masyarakat karena kemampuannya sebagai orang pintar. Namun itu dulu, selanjutnya Ayahku hanya tinggal dikamarnya yang selalu terkunci, ia mengalami gangguan kejiwaan, layaknya orang gila. Kemampuannya sebagai manusia untuk menerima komunikasi hilang, ia terkadang hanya duduk melamun seharian, kadang tertawa, kadang menangis. Jujur Aku muak dengan itu semua.
Suatu hari, suaranya tidak lagi terdengar dari dalam kamar Ayahku. Kami kira itu seperti biasanya, dia akan melamun seharian, saat setelahnya kami cek keadaannya, ia sudah mati. Keadaan yang mengerikan, seharusnya bahkan jika Ayahku mati sehari sebelumnya, keadaan jasadnya tidak akan seperti itu.
Kedua matanya terbuka membelalak, warna yang seharusnya dominan putih disana berubah menjadi warna biru. Salah satu lubang yang seharusnya menarik O² dan mengeluarkan CO² hanya terdapat bekas darah mengalir hingga kemulutnya yang terbuka. Rahang sebelah kanan seharusnya sehat tanpa kerusakan apapun, saat itu berubah menjadi memar, kau bahkan bisa melihat beberapa gigi yang terlihat hendak jatuh dari tempatnya.
Masyarakat tidak mengetahui akan kebenaran jasad Ayahku, mereka hanya tau Ayahku sudah mati tanpa melihat jasadnya. Ini terjadi sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya saat Aku masih kelas satu di sekolah ini.
Pelakunya adalah Ibu dari anak yang akan Aku incar ini, Aku tidak tau bagaimana, tapi perasaanku seperti diarahkan untuk membenci anak ini. Alasan utamanya karena Ibunya telah membuat Ayahku menjadi gila sampai mati, dan itu bukan kematian yang biasa.
Tiga hari telah berlalu, sekarang hari Senin. Anak itu tidak masuk sekolah, ya tentu saja. Aku yang membuatnya tidak bisa masuk sekolah.
Seminggu kembali berlalu, hari ini anak itu sudah mulai masuk sekolah. Sepertinya jin yang Aku kirim sudah berhasil diusir. Aku tau informasi tentang anak itu dibawa kepada seorang dukun yang Ayahnya kenal, tidak masalah. Ini hanya tahap awal saja.
Aku sudah mendalami ilmu seperti ini sedari SMP, tentunya Aku belajar dari Ayahku yang juga menjadi orang pintar. Selain mendapat jin turunan dari Ayahku semenjak Aku kecil, saat menginjak usia remaja, Aku mulai mencari jin lain sebagai bawahanku. Aku juga mencari pusaka pusaka mistis yang diberitahukan oleh jin.
Ini sudah hampir dua bulan semenjak hari dimana uji nyali saat itu diadakan. Aku tidak terlalu intens untuk mengirim santet kepada anak itu, karena jin pendampingnya yang agak merepotkan. Jika hanya mengirim jin lemah kepada anak itu, jin pendampingnya akan menang, jika Aku mengirim dengan jin kuat lainnya, Aku merasa ragu. Karena, anak itu telah berinteraksi dengan seorang anak Indigo disekolah, seorang wanita yang seumuran denganku. Juga ia mempunyai jin pendamping yang kuat disisinya, untuk saat ini hanya ada beberapa kemungkinan bagiku untuk bisa menang melawan mereka berdua dengan adu ilmu hitam dan putih.
Untuk menaikan level kemampuan mistismu dalam ilmu hitam atau putih, Kau tetap membutuhkan syarat dan tumbal. Semakin besar syarat dan tumbal, maka semakin kuat ilmu yang akan kau dapatkan.
__ADS_1
Sudah hampir dua minggu Aku mencari seseorang yang mati saat malam Selasa Kliwon, hingga beberapa hari yang lalu Aku menemukannya, seseorang telah meninggal pada hari Selasa karena dibegal saat kembali dari pasar pagi pagi buta. Beruntungnya, itu adalah hari Selasa Kliwon.
Aku berencana akan kekuburan orang itu malam ini, berbeda dengan perkampungan yang masih kental akan adat jawa. Biasanya kuburan orang yang mati saat malam malam keramat akan dijaga selama 40 hari, karena biasanya akan diincar oleh orang yang sedang mencari ilmu kebatinan. Contohnya? Ya, tentunya diriku sendiri saat ini.
Hanya beberapa hari semenjak orang itu dikubur, Aku juga menyelidiki keadaan sekitar kuburan sedari awal, dan malam kemarin Aku memiliki kesimpulan bahwa akan aman untuk berikutnya beraksi secara langsung.
Aku tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini, sangat jarang menemukan pemakaman yang mudah dimasuki dan ada mayat yang bisa kau gunakan didalamnya.
Pukul sebelas malam, Aku mengendap keluar dari rumah. Tentu masih ada beberapa orang yang berjaga disekitar sini, bukan masalah. Aku bisa mengatasi hal itu dengan sangat mudah.
Aku berjalan dimalam yang menyejukkan ini, menggunakan pakaian serba hitam agar warnaku tersamarkan dengan pekatnya malam. Jalur normal yang biasanya dilewati untuk masuk ke pemakaman tersebut adalah pemukiman warga, dan ada sejenis pasar disana. Aku menghindarinya, Aku melewati gang gang yang sudah Aku hafal sebelumnya, karena tempat ini tidak lagi asing bagiku.
Aku hanya membawa sebuah kantong besar yang berisikan seekor burung gagak hitam yang masih hidup, atau mungkin sudah setengah mati, dan sebuah pisau kecil seukuran pisau pramuka. Ini bukan pisau biasa, ini adalah pusaka milikku yang Aku dapatkan saat Aku masih duduk dibangku SMP.
Mulai nampak gerbang pemakaman didepanku, masih ada redup cahaya lampu taman disana, jika Aku berjalan kesana akan ada kemungkinan Aku akan ketahuan, jadi Aku urungkan niatku.
Disini aman, tidak ada cahaya yang sampai kesini dan ini bukan jalur yang akan dilewati orang saat malam malam begini. Didepanku terdapat pagar yang tingginya hampir dua kali tinggi badanku, untuk manusia sepertiku hampir mustahil untuk melompatinya. Juga Aku tidak akan bisa memanjat pagar seperti ini, karena akan beresiko menimbulkan suara dan kecurigaan dari warga yang sedang berjaga.
Aku menutup mataku sejenak, mengambil nafas perlahan, satu kali, dua kali, dan seterusnya. Lalu perlahan Aku berucap:
"
Sinten ingkang ajeng mireng,
Kulo kajeng nedha rencangan,
Dugia, lan pendhet jasad fisikipun kulo. "
Aku mulai merasakannya, sosok disebelah kiriku datang mendekatiku, ia semakin dekat denganku sampai sampai Aku merasa ia masuk kedalam diriku sendiri, menyatu dengan diriku.
Kini jasadku sudah dirasuki oleh sosok tersebut, Aku meraih kantong yang tadi sempat Aku letakkan. Tanpa ancang ancang, Aku melompati pagar yang tinggi itu hanya dengan satu lompatan dan mendarat tanpa merasakan apapun.
Aku membiarkan sosok ini yang mengendalikan fisikku sementara, Aku mulai berlari kecil menyisiri pemakaman. Aku tau harus kemana, tentunya menuju kuburan yang terlihat baru, dan memiliki nama di nisan yang sama seperti nama yang sebelumnya Aku simpan dikepala.
__ADS_1
Sampai. Kuburan yang terlihat masih sangat baru, bahkan bunga bunganya masih akan jelas tercium. Tidak berselang lama, tubuhku kembali bergerak, Aku duduk di kedua betisku dan menggali gundukan tanah didepanku. Ya, menggunakan tangan kosong.
Hampir satu jam Aku menggali dengan kedua tanganku, kini mulai terlihat kain kotor disana dan beberapa papan kayu. Aku menyingkirkannya, Aku sedikit menaiki liang kubur dan meraih kantong yang kubawa sebelumnya. Kukeluarkan isi didalamnya, masih hidup, burung gagak itu. Aku mengambil tali pocong yang terikat dalam jasad didepanku ini. Tak peduli, tali bagian atas, tengah atau bawah, untuk saat ini semuanya sama.
Setelah kulepas tali pocong itu, beberapa kuikatkan kepada burung gagak ini agar tidak memberontak. Sisanya Aku ikat dikepala burung. Aku raih pisau pusaka milikku, melepaskannya dari sarung.
Aku hadapkan burung ini diatas leher mayat didepanku, dalam keadaan terbalik, yakni tengkuk dari gagak ini menghadapku, dan bukan tempat dimana biasa manusia menyembelih sesuatu. Kemudian Aku mengucapkan mantra:
"
Sinten wonten ngrika,
Sinten ingkang sumerep
Kula pragat mustaka kewan puniki dados persembahan,
Dugia, wanci kula membutuhkanipun panjenengan. "
Lalu Aku menyayat tengkuk leher gagak ini, darah mulai bercucuran dari leher gagak mengalir sampai leher mayat dibawahku, dan menyentuh tanah dimana mayat itu diletakkan. Aku teruskan menggerakkan pusakaku keatas dan kebawah sampai kepala gagak itu terputus dari badannya. Aku melempar badan gagak itu kebawah. Kuambil tiga genggam tanah yang tadi sempat tersentuh darah dari gagak ini, dan meletakkannya didalam kantong tadi bersamaan dengan kepala gagak serta tali pocong yang masih menempel dikepala itu.
Aku lalu melompat keluar dari liang lahat dalam sekali lompatan. Sekarang, jika Aku keluar dalam keadaan seperti ini, hampir mustahil seseorang tidak curiga dan menangkapku.
Aku kembali menutup mataku sejenak, menarik nafas perlahan. Saat sosok pertama ini belum keluar dari jasadku, yang membuatku sedari tadi mendapatkan kekuatan fisik luar biasa dan semua inderaku sangat berbeda dari biasanya, sosok ini juga yang bergerak untuk melompat dan menggali kubur dengan tangan kosong menggunakan jasad fisikku.
Tidak seperti Ajian Halimun Petak Geni, yang merupakan ilmu tingkat tinggi. Kudengar, legendanya ajian itu dapat membuatmu langsung tak terlihat tanpa mengucapkan mantra. Orang yang menguasainya diketahui hanya dua orang, yakni seorang Wali di Jawa dan salah seorang Presiden. Aku tak peduli kebenarannya, faktanya adalah Aku tidak menguasai ajian itu.
Aku mengucapkan mantra untuk memanggil sosok lainnya dan meminta bantuan untuk keluar dari sini. Tentu sebelumnya ada serangkaian upacara upacara sebelum Aku bisa meminta bantuan mereka.
Tidak berselang lama, Aku merasakan sebuah sosok dengan keberadaan yang pekat dibelakangku. Ia mendekatiku dan memasuki jasad fisikku. Sosok pertama kini telah terusir oleh kehadiran sosok kedua yang lebih kuat ini.
Aku merasakannya, sebuah sensasi yang berbeda dari sosok pertama. Semua inderaku meningkat, atau bahkan dikatakan sangat berbeda dengan indera manusia.
Dengan kantong ditangan kananku, fisikku berlari dengan sendirinya menyusuri jalan yang pertama Aku lewati untuk masuk. Sepertinya tidak ada orang disekitar sini. Aku kembali melompati pagar awal, sekali lagi hanya dengan satu lompatan.
__ADS_1
Melewati segala rintangan dijalan. Aku berhasil masuk kedalam rumah dan kamar. Saat ini Aku sudah kembali pada keadaan normalku, kedua sosok itu sudah menghilang begitu Aku masuk kedalam rumah. Saat memasuki kamar, Aku merasakan perbedaan dalam tubuhku, rasa pegal, nyeri, terutama semua jari tangan kan betis kaki. Sebelum Aku terjatuh pingsan, Aku membersihkan tubuhku terlebih dahulu dengan mandi, setelah itu barulah Aku membiarkan kesadaranku hilang diatas tempat tidur empuk di dalam kamar.