Arti'E

Arti'E
Ulangan Harian


__ADS_3

Rutinitas pagi yang sangat biasa, sudah kulakukan seumur hidupku menjadi pelajar. Seperti biasa Aku berangkat sekolah tanpa berpamitan dengan kedua orang tuaku, toh mereka bahkan belum bangun. Sekilas Aku meningat kejadian tempo hari, dimana Ibu Ayu melakukan kegiatan ibu rumah tangganya, mempersiapkan segala kebutuhan anak anaknya. Aku yakin bahkan Ayah Ayu mendapatkan hal yang lebih di prioritaskan. Aku penasaran dengan kehidupan seperti itu, kembali, Aku menghentikan pemikiran bodoh yang tidak berguna ini.


Hidupku adalah hidupku, mereka adalah mereka. Menarik kehidupan mereka menjadi standar kehidupan seseorang adalah tindakan bodoh dan tidak masuk akal.


Setelah berjalan beberapa menit dari tempat biasa, bertegur sapa dengan Bapak Saptam, Aku menyebutnya begitu karena jujur Aku tidak ingat nama Bapak ini padahal kami sudah tiga tahun bertegur sapa seperti ini hampir setiap paginya. Yah, ini hanya efek dari ingatan jangka pendek, jika Aku sedikit keras dalam menggali ingatan di otakku, Aku akan menemukan namanya tanpa susah payah. Namun Aku tidak melakukannya, tidak. Itu tidak perlu.


Rasa kopi yang sama setiap pagi ini tidak pernah membuatku bosan. Aku berniat langsung masuk keruangan kelas, tidak seperti biasanya Aku akan duduk di kantin beberapa menit. Aku hanya, entahlah, bosan.


Melewati lorong yang masih sedikit gelap, walau sudah diterangi oleh lampu tetap saja suasana langit yang masih sedikit abu-abu tidak menghilangkan sebuah perasaan aneh bagi anak-anak remaja seperti kami. Belum lagi cerita konyol mereka yang mengatakan ada mahluk ini ada mahluk itu, Haha. Dalam hati aku tertawa menyadari kekonyolan hal tersebut.


Sebuah suara menghentikan lamunanku, itu berasal dari dalam kelas 3 jurusan merah, tepat didepanku. Aku hanya berasumsi kalau itu hanyalah suara dari seseorang yang sudah datang lebih dulu dari Aku, dan tidak sampai lima langkah, benarlah apa yang aku pikirkan.


Seorang gadis sedang merapikan barang barangnya yang terjatuh dilantai, secara spontan Aku malah masuk keruangan kelas itu dan membantunya.


"Oh, Arfa. Pagi"


"Pagi juga, seperti biasanya lu dateng terlalu pagi"


"Hehe, padahal lu juga kan"


Sembari kami membersihkan barang barang ini, yang merupakan alat alat untuk membuat sebuah kerajinan tangan, kami bertukar kalimat.


"Ini tugasnya Pak Agus ya?"


"Iya, kelas gw udah duluan dikasih tugasnya dan hari ini kelompok gw mau bikin pas jam pelajaran dia nanti, jadi alatnya gw bawa semua"


Sebenarnya tidak perlu semua menurutku, gadis ini berkata kelompoknya itu artinya tugas ini dapat dikerjakan lebih dari satu orang, akan sangat efektif untuk membagi tugas atau alat alat yang harus dibawa. Yah, Aku sudah mengenal anak ini karena kami satu eskul, dan dia hampir sama sepertiku untuk datang pagi buta jadi hubungan kami sedikit mengenal satu sama lain, dan juga-


"Pagi teman-teman"


Aku belum selesai berfikir sesuatu, seorang laki laki datang dan menyapa kami. Dia, Alfian kelas 3 jurusan merah, singkatnya teman sekelas dari gadis di depanku ini. Alfian dan Aku cukup dekat, kami sering bertemu diruang guru untuk menggantikan tugas guru kami ketika mereka membutuhkan bantuan kami.

__ADS_1


"Regu berangkat pagi bertambah satu orang"


Sedikit tertawa, itu adalah kalimat yang keluar dari mulutku. Mereka menyambut kalimatku dengan senyuman dan tawa, lalu obrolan kami sedikit berlanjut.


Kembali ke kelasku sendiri, sudah ada beberapa orang didalam ternyata. Yah, Aku sudah bisa menebak urutan datang anak anak dari kelasku, karena Aku yang biasanya pertama, Aku bisa menyaksikan anak-anak lain datang, siapa, dan kapan. Aku sudah melakukannya bahkan ketika Aku masih SMP.


Mereka menyapa dengan tetap berada ditempat duduk sembari membaca buku.


'Oh'. Aku lupa hari ini ada ulangan salah satu mata pelajaran wajib di jurusan kuning. Baiklah, lakukan saja seperti biasanya. Mengikuti mereka, Aku membuka buku yang ada di laci mejaku. Untuk buku buku berat seperti ini, Aku biasa menaruhnya didalam laci meja, tidak sedikit yang mengikutiku. Walau kami pernah ditegur oleh guru karena hal ini.


Lembaran demi lembaran terbuka, bersamaan dengan ini Aku menggali ingatan lampau tentang materi materi yang disampaikan. Karena ini adalah mata pelajaran kejuruan, dan Aku sepertinya tidak terlalu mengacuhkan guru yang memberikan materi. Jadi, Aku hanya kembali membaca apa yang sudah ada di ingatanku, hanya untuk berjaga-jaga agar ingatanku tidak rancu pada waktunya nanti.


Yuli, kelas sebelah menyapaku dari bangku depan. Dia mengatakan sesuatu berkaitan dengan mata pelajaran yang sedang Aku baca. Wajar saja, kami satu jurusan, jadi mungkin dia juga ada ulangan hari ini. Jika Aku tidak salah ingat, dua jam pelajaran pertama akan menjadi kelasku, dan dua jam berikutnya adalah giliran kelas Yuli. Aku menerka mereka akan memundurkan waktu istirahat karena jam pelajarannya terpisah oleh waktu istirahat pertama. Atau pada skenario lain bisa saja mereka mengundur waktu ulangan kehari lain, kemungkinannya kecil. Tapi selalu ada yang namanya kemungkinan.


"Tadi gw ketemu Ayu didepan kelas lu, dia liatin lu, pas gw ajak masuk gak mau"


Iyakah? Aku tidak menyadarinya, aku terfokus pada lembaran yang terbuka di depanku dan mencocokannya dengan apa yang ada dikepala. Aku tidak memperhatikan sekitar.


"Gw cuma anak yang nilainya rata-rata Yuli"


Walau sebenarnya Aku sudah mengerti dan paham tentang mata pelajaran dan materi yang diberikan. Jadi tidak membuka buku dan tidur dibangku pada pagi hari seperti biasanya juga tidak menjadi masalah bagiku.


Teman sebangku dan yang lainnya datang dengan menyinggung kami berdua lalu disaut para gadis gadis diseberang sana dengan ancaman bahwa mereka akan mengadukan hal ini kepada Ayu. Yuli tertawa dan dia berkata bahwa sebelum dia masuk, dia sudah meminta izin kepada Ayu. Sepertinya hubunganku dengan Ayu sudah tidak bisa dibilang tersembunyi lagi.


Laki-laki yang tertarik kepada Ayu akan mengurungkan niat mereka karena kedekatan kami berdua. Hal ini juga berlaku untuk wanita yang tertarik kepadaku, Aku tidak menyombongkan diri dengan penampilanku, bahkan bisa dibilang jika seorang wanita melihatku hanya dari penampilan fisik, mereka mungkin tidak akan tertarik. Hal yang membuat mereka tertarik mungkin karena dari nilai dan kepiawaianku dalam mata pelajaran. Walau itu masa lalu, tapi karena masa lalu itu tidak akan menghapus mereka yang sudah tahu.


Sebelum Yuli beranjak pergi, dia mengatakan sesuatu tentang Irwan dan ingin menjenguknya sore ini, dia mengajakku. Aku penasaran dengan keadaannya, jadi mungkin Aku akan menjenguk anak itu.


"Ngajak jalan si Yuli?"


Teman disampingku meringis dan disambut dengan teman laki-laki yang lain disekitarku, karena tempat duduk kami para laki-laki merupakan satu baris dari deretan bangku pojok kanan. Sebagian dari kami sudah memiliki pasangan, tidak termasuk diriku. Obrolan seperti ini sudah sering muncul di permukaan, Aku hanya mengikuti arusnya saja.

__ADS_1


Bel berbunyi, jam pelajaran pertama dimulai. Guru yang akan mengajar kami sudah datang bersamaan dengan dua orang teman sekelas kami yang membantunya membawa laptop dan perlengkapan Beliau yang lain. Tidak sampai sepuluh menit kemudian, ulangan kami dimulai.


Empat lembar kertas yang pojok kiri atasnya disatukan dengan steples diedarkan. Kami hanya perlu menulis Nama, Kelas, dan Tanggal dilakukannya ulangan. Soal pilihan ganda dengan total 20 soal pilihan ganda dan 5 soal essai.


Seperti biasa yang sudah kulakukan selama ini. Aku membaca soal dan langsung menjawabnya. Itu jika Aku tahu jawabannya, jika Aku tidak yakin diantara dua jawaban mana yang benar, Aku biasanya kembali membaca soal itu dan menentukan jawaban selanjutnya.


Baiknya, soal soal ini menurutku mudah. Sebagian besar sudah diajarkan dan memanfaatkan ingatan siswa karena dalam beberapa soal tidak terdapat dibuku namun dijelaskan pada pertemuan pertemuan sebelumnya.


Dua puluh lima menit berlalu, tidak sampai setengah jam dari dimulainya ulangan ini. Aku sudah berdiri dari tempat duduk dan berjalan kedepan membawa kertas ulangan ditangan kanan.


"Wooooo"


"Wiiiiih"


Beragam ekspresi yang dikeluarkan teman-temanku. Setelah memberikan kertas ulangan kepada guru, Aku disuruh duduk kembali, diam menunggu.


Tentu tidak sedikit dari teman temanku yang curi curi pandang untuk bertanya kepadaku. Aku hanya tersenyum tanpa memberikan balasan, karena Aku paham Guru sedang berfokus kepadaku karena suasana kelas mulai riuh.


Duduk, dan Aku mengamati teman temanku. Mencuri pandang, saling bertanya, memberikan kode, meng-estafetkan sebuah kertas, atau bahkan membuka hape. Hal yang normal, tapi, kenapa kalian sudah melakukan itu semua dan belum menyelesaikan ulangan sedari tadi? Apakah kalian perlu Aku ajari bagaimana memanfaatkan contekan dengan maksimal?


Guru pembimbing kami membuka laptop, dia memintaku menyambungkannya agar tampi di proyektor kelas kami. Aku lakukan. Dia membuka sebuah file dengan format Ms. Excel, lalu mengarahkan kursornya kesana kemari. Ternyata itu adalah format untuk hasil dari nilai ulangan kami hari ini. Namaku berada pada urutan ketiga jadi guru ini tidak akan kesulitan menemukan namaku.


95


Sebuah angka yang baru saja di input oleh sang guru pada kolom kosong disebelah kanan kolom Nama. sebuah kolom dengan tulisan Nilai disana.


"Jagoooo"


"Wuuih"


Sambutan teman-teman setelah melihat nilaiku dimonitor. Suasana kelas menjadi semakin riuh dan banyak anak anak yang malah terang terangan berteriak dan bertanya kepadaku mengenai soal ulangan. Menanggapi hal itu, guru memanggilku dan Aku disuruh menunggu diluar.

__ADS_1


Aku meraih topi sekolahku dan beranjak keluar dari kelas. Ini sangat membantu daripada harus ditanyai oleh anak-anak lain.


__ADS_2