
Aku merasakan ada seseorang yang mendekat, suara langkah kaki terdengar. Aku tak ambil pusing dengan hal itu, Aku tetap fokus pada apa yang diceritakan Irwan didepanku, selang beberapa detik suara langkah kaki yang tadinya semakin terdengar jelas, sebaliknya sekarang terdengar pelan, menandakan orang itu melewati kami begitu saja dan menjauh.
"Kalian lagi ngapain?"
Ini suara Ayu, Aku yang menghadap pintu masuk kantin sehharusnya melihat ia datang, tapi fokusku saat ini teralihkan oleh Irwan.
Tanpa banyak berfikir, Aku tidak menceritakan apa yang kami bicarakan sekarang, Aku hanya mengatakan Irwan yang ingin masuk ke eskul yang Ayu ikuti.
Irwan tampaknya memandang kesisi yang lain, sembari Aku menyaut candaan dari Ayu kusempatkan melirik pada arah yang sama. Ooh, itu Arfa, dia sedang membeli kopi. Kurasa kalau dialah yang lewat tadi sebelum Ayu, sedikit ingin tahu kenapa dia tak berhenti sejenak didekat kami dan menyapa, namun ia melewati kami seakan kami tak ada disana.
Ayu dan Irwan saling bertukar nomor, mungkin karena Ayu adalah senior eskul, karena itulah Irwan menawarkan diri untuk saling bertukar nomor. Sebagai wanita yang aktif, Akupun ikut kedalam perbincangan mereka dan menyimpan nomor Irwan.
Nomor telepon mungkin tidak terlalu digunakan oleh siswa saat ini, karena biasanya para remaja akan berhubungan lewat sosial media. Nomor mereka biasanya terikat dengan sosial media, karena itulah ketika kita menyimpan nomor seseorang, akun sosial mereka akan otomatis masuk ke rekomendasi teman atau langsung terdaftar menjadi teman.
Aku dan Ayu melanjutkan obrolan kami, sedangkan Irwan berjalan menjauhi kami untuk segera pulang.
Malamnya, Irwan melakukan kontak denganku melalui sosial media, dia bertanya apakah Aku memiliki waktu untuk sekedar jalan malam. Jalan malam? Aku bertanya pada diriku sendiri, apa itu? Mungkin ia bermaksud untuk mengajakku keluar melanjutkan pembicaraan tadi sore yang terputus.
Karena Aku memiliki waktu setelah jam 8 malam, Aku meminta izin kepada orang tuaku untuk bermain keluar sebentar dan Aku diberikan izin. Jam 9 sepertinya Aku harus kembali agar tidak membuat mereka khawatir.
Masih tergolong sore, karena itulah kenapa Ayah mengizinkanku, banyak orang yang berlalu lalang dijalan. Biasanya ketika Aku bermain keluar, Aku hanya bermain disekitar daerah tempat tinggalku. Irwan berkata ia akan menemuiku disebuah titik pasar malam yang sedang diadakan. Aku menuju kesana, itu tidak terlalu jauh dari rumahku.
Nampaknya Irwan sudah menunggu disana, dia duduk diatas motornya. Ada bangku disebelah pos dan kami berdua duduk disana. Orang akan lalu lalang tapi tidak akan memperhatikan kami jika kami, mereka akan menganggap kami sebagai anak muda pada umumnya. Yah, begitulah kenyataannya.
Kami duduk berdampingan, tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat. Tak tahu darimana, dua botol minuman ia bawa dan salah satunya diberikan kepadaku. Itu adalah sebotol teh yang sangat terkenal, dari kecil Aku suka meminumnya karena rasanya yang khas di lidah. Bisa dibilang, ini adalah salah satu minuman favoritku.
"Seperti ada bisikan, yang membuatku harus membeli teh botol ini"
Irwan membuka pembicaraan selepas ia menyerahkan minuman ini kepadaku. Aku menerimanya, membuka, dan menaruh moncong botol itu ke mulutku. Tentu Aku akan meminumnya, selagi masih terasa dingin.
"Langsung diminum ya? Apa gak takut gw masukin sesuatu didalamnya gitu?"
__ADS_1
"Hehe. Bahkan kalau lu masukin sesuatu ke botol ini, Risa akan ngerespon dengan sesuatu"
"Qarinmu itu ya? Hebat juga ya"
"Yaaa, hebat atau engga ya, gw pikir semua manusia yang punya jin pendamping akan bisa melakukan hal yang sama"
"Gw engga tuh"
"Itu karena Qarin lu belum melakukan semacam perkenalan gitu kan?"
"Perkenalan?"
"Iya, semacam itulah. Gw juga, baru setahun yang lalu berinteraksi dengan Risa, sebelumnya kami gk pernah berinteraksi seperti itu".
Aku melanjutkan topik ini: Bahwa, Qarin itu tidak semuanya langsung berinteraksi dengan manusia. Ada yang menunggu kematangan jiwa dari si manusia, umur, dan aspek lain yang disepakati antara jin dan manusia yang mengikat perjanjian.
Menurutku, mungkin juga ada manusia yang lahir dan langsung menjadi seorang Indigo yang bisa melihat hal mistis, tapi itu bukan seperti Aku dan Irwan, kami berdua hanya memiliki Qarin yang diturunkan oleh orang lain, sehingga persyaratan kontraknya kami tidak tahu bagaimana, dan seperti apa.
"Jadi sosok yang gw liat saat sebelum uji nyali itu pendamping gw?"
Aku menjawabnya dengan menggeleng kepalaku beberapa kali, memang itu bukan pendamping milik Irwan, Risa memberitahuku sebelumnya. Risa juga memberikan gambaran langsung kepadaku, bagaimana mengatakannya? Seperti... Apa yang Irwan alami malam itu, Aku sudah melihatnya. Ibarat menonton sebuah film, seperti itulah. Aku menjelaskan kepada Irwan begitu.
Pandangan Irwan teralihkan, ia menatap pinggir kali, tidak ada seseorang disana kecuali beberapa tanaman yang Aku tak tahu apa nama tanaman itu, cukup lebat.
Ia masih menatap kearah tanaman itu, tentu Aku paham kenapa ia menatap kesana. Risa ada disana. Sepertinya Risa memanggil Irwan lewat sesuatu, tentu sesama Indigo seperti kami akan mudah merasakan hal seperti itu.
Aku ingin berterus terang kepada Irwan soal kemampuanku ini, bahwa Aku hanya bisa melihat sosok mistis pada keadaan tertentu saja, dan itu acak. Aku bukan seorang Indigo tulen atau murni yang setiap saat bisa melihat sosok seperti itu.
Awal saat Risa berinteraksi denganku, ia hanya berdiri diam, Aku terkejut, hanya itu. Aku tak merasakan takut, seperti Aku menyadari dia bukanlah sosok yang jahat, seperti Aku merasa sudah tidak asing lagi. Yah, Aku merasa seperti sudah mengenal Risa sejak lama, setelah itu Aku baru mulai mencari informasi mengenai Indigo di internet.
Aku mengatakan semua itu kepada Irwan, ia tetap mendengarkan. Nampaknya ia juga belum terbiasa dengan melihat beberapa sosok yang bukan manusia. Namun nanti akan mudah membedakan mana manusia dan mana yang bukan, tentu jika sudah terbiasa tidak akan terlalu terganggu, mungkin bisa dikecualikan untuk kesehatan mental.
__ADS_1
"Gw denger elu suka ngomong sendirian atau ngelamun gitu?"
"Iyakah? Mungkin secara gak sadar gw terbawa sama dunia gw sendiri. Ada seorang wanita yang biasanya datang mengatakan sesuatu, gw ga kenal dia tapi merasa tidak asing lagi"
"Mungkin itu pendamping elu"
"Mungkin, sebelumnya gw belum pernah melihat hal hal yang mistis, atau mungkin gw pernah tapi gw gk perhatiin saat itu. Sama kaya elu yg merasa dia sosok yang gak asing, gw juga gitu sama sosok ini"
Kami berbicara banyak hal tanpa memperhatikan sekitar kami, Aku hanya merasa Risa diseberang sana melakukan sesuatu untuk kami. Aku tidak tahu apa itu.
Sudah hampir satu jam obrolan kami, Aku putuskan untuk mengakhiri perbincangan. Irwan setuju, ia menaiki motornya, pamit dan pergi menjauh. Dia menawariku tumpangan tapi Aku menolaknya.
Aku tetap memperhatikan punggung Irwan saat menjauh, Aku merasakan sesuatu yang aneh. Kedua telingaku berdengung, rasa hangat mulai terasa pada sekitar bidang pendengaranku. Aku memejamkan mata untuk menenangkan pikiran menunggu dengungan dan panas yang aku rasakan membaik.
Hanya beberapa detik, rasa panas dan dengung pada kedua telingaku hilang.
Aku perlahan membuka mata... Sudah kuduga.
Lagi... Aku masuk kedalam dunia dimana Aku dapat melihat apa yang tidak bisa dilihat manusia.
Rasa yang benar-benar berbeda, penciumanku, pendengaranku, kemampuan tubuhku untuk merasakan sesuatu. Semua sensasi yang berbeda saat berada dalam dunia manusia. Aku merasakan sensasi yang baru pada hampir setiap indera milikku.
Kuperhatikan sekitar, masih ramai terang oleh kerumunan manusia. Bedanya, saat ini Aku melihat mahluk selain manusia, mereka adalah jin, mahluk lain yang hidup berdampingan dengan manusia. Bentuk mereka beragam, hampir mirip seperti apa yang ditampilkan di film film horror. Kita sebut saja seperti, Kuntilanak, Genderuwo, Tuyul, dan sebagainya. Hanya saja, tidak sesimple bagaimana mereka kelihatannya.
Jujur... Aku merasa takut...
Aku tak bisa menggerakkan tubuhku sendiri selain diam berdiri dan menatap kedepan. Mereka disana, dibalik, membaur dengan kerumuman manusia, diantara mereka ada yang mengikuti manusia lain, ada yang jauh dan ada yang dekat. Mereka seperti memusatkan perhatiannya kepada diriku.
Aku benar benar takut, setiap kejadian seperti ini terulang Aku selalu ketakutan akan keberadaan mereka. Bahkan untuk saat ini, hanya saja Risa selalu disana, di sisiku, ia menjagaku. Sehingga tidak ada dari sosok-sosok itu yang mendekat.
Kedua telingaku berdengung lagi, lebih keras dari sebelumnya. Relfeks Aku memejamkan mata kemudian perlahan membukanya kembali, mereka sudah tidak terlihat. Aku merasakan inderaku kembali dan tubuhku dapat digerakkan. Aku menghela nafas senang.
__ADS_1
Berjalan untuk pulang, sembari melewati tempat tempat yang Aku ingat tadi adalah tempat dimana beberapa sosok itu berada, Aku semakin mempercepat jalanku, pada akhirnya Aku malah berlari.