Arti'E

Arti'E
Dua Penerus


__ADS_3

Sore ini sepulang sekolah, Aku mungkin akan menemui kakak kelas tahun ajaran ketiga. Dia wanita yang jika kau melihatnya langsung saat dia memakai seragamnya, sebagai laki laki akan mengatakan bahwa dia itu cantik dan mempunyai daya tarik tersendiri.


Sebelumnya Aku belum pernah berinteraksi dengan Kak Yuli, Aku bahkan baru mengenal namanya lewat teman sekelas yang satu eskul dengan dia.


Saat kejadian tempo hari, Aku masih sedikit memiliki kesadaran pada penglihatan serta pendengaran. Aku mendengar dengan sayup panggilan teman-teman, dan rayuan Pak Ahyar Aku juga masih mendengarnya. Hanya saja Aku tidak dapat bergerak, Aku tak memiliki kendali atas tubuhku sendiri.


Saat leherku bergerak, mataku menatap seorang wanita yang berdiri didepan kelas. Aku melihat Kak Yuli, dan seseorang yang berada dipundak kirinya saat itu. Siapa dia? Dari penampilannya, Aku bisa mengatakan kalau itu adalah seorang wanita.


Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas karena tertutup oleh rambut hitam panjang miliknya yang terurai. Jelas bahwa dia bukan siswi sekolah ini, pakaian yang ia kenakan aneh, dan Aku merasakan kalau dia bukanlah manusia.


Kemudian penglihatanku teralihkan kepada seorang laki-laki. Aku sedikit tahu tentangnya, dia bernama Arfa. Dia menjabat pada organisasi keagamaan sekolah, dan saat uji nyali sebeluknya, Aku melihat dia sebagai perwakilan panitia dari organisasi keagamaan sekolah.


Setiap satu langkah pria ini mendekat, Aku merasa kesadaranku semakin pulih. Begitu ia didepanku, dengan sekuat tenaga Aku memaksa otot-ototku agar bergerak... Apapun itu... Bergeraklah.


Aku berjuang menggerakan tubuhku walau hanya sehelai jari di tanganku. Dalam keadaan seperti itu, tubuhku lepas kendali dan dengan hentakan yang tiba tiba berdiri. Melihat hal ini, Arfa mengangkat tangan kanannya dan meletakannya pada wajahku lalu mengusapnya.


Bersamaan dengan Arfa melambaikan tangannya, Aku mendapatkan kesadaran lebih besar lagi, dan interaksi antara otot betis serta pingggulku membuat aku sedikit terhentak. Setelah itu Aku tidak ingat apa-apa. Ketika Aku tersadar kami sudah berada di ruang UKS bersama Arfa dan Pak Ahyar.


Bising darilagu-lagu kebangsaan sudah terdengar, pengeras suara sekolah mengeluarkan musik yang sama, menandakan jam pelajaran sekolah usai dan akan berganti dengan jam esktrakulikuler.


Sebagai Ketua Kelas, Aku bertanggung jawab tentang beberapa hal sepulang sekolah, jadi Aku tidak langsung keluar menemui Kak Yuli.


Sekitar lima belas menit, suara musik sudah lama tidak lagi terdengar.


Kak Yuli berada dilantai satu jurusan kuning, Aku berfikir untuk berjalan saja kearah ruang eskul PMR yang ada dilantai satu, lantai yang sama dengan kelas tahun ajaran ketiga.


Kak Yuli ada didepan ruang eskul bersama seorang wanita, tubuhnya mungil untuk seorang remaja pada umumnya. Dia sangat ceria dan murah senyum. Aku langsung menebak karakteristik wanita itu walaupun baru kali ini melihatnya.


Aku hanya berjalan seperti biasa mendekati mereka berdua. Sampai pada jarak dimana Aku bisa mendengar percakapan kedua kakak kelas itu.


"Udah ya, gw mau ke eskul, ada rapat organisasi sore ini."


Sedikit, sedikit saja tatapan kakak kelas itu menatap kearahku kemudian menurunkan ekspresi senyum diwajahnya, mungkin orang lain tidak akan menyadari perubahan kecil itu, namun Aku yang bertatap muka dengannya saat ini menyadari hal tersebut.


"Siapa tadi Kak?"


Aku semakin dekat dan menanyakan tentang wanita yang berjalan menjauh dari kami itu.


"Itu tadi Ayu, dari jurusan hijau tahun ajaran ketiga"


Kelas hijau, kuning, dan merah. Warna disini merupakan kode untuk jurusan yang ada disekolah.


"Dia dulu dapet tawaran buat jadi OSIS pas kelas satu, tapi nolak. Dia anggota PMR sama Organisasi Keagamaan juga. Dia bahkan sampai kelas tiga masih dapet tugas disitu"


"Gitu ya? Saya jmau masuk ke Organisasi Keagamaan, tapi belum ada kesempatan ketemu sama senior-seniornya"


Setelah mengutarakan hal itu, Aku mengajak Kak Yuli mengobrol di kantin. Dalam perjalanan banyak siswa siswi dan guru yang saling tegur sapa dengan Kak Yuli, seperti yang kuduga, dia adalah siswi yang populer.


Seharusnya Aku hanya memikirkan itu didalam kepala, tapi sepertinya tanpa sadar Aku malah mengucapkannya.

__ADS_1


"Engga kok, siswa senior lain lebih populer, kaya si juara satu dari kelas merah, ketua osis, ketua Organisasi Keagamaan juga mereka populer dikalangan para siswa dan guru"


Aku membeli minuman dan beberapa cemilan, begitu juga dengan Kak Yuli, setelah membeli minuman ia berjalan menjauhi petugas kantin menuju sebuah bangku kosong dipojokan kantin, agak jauh karena itu adalah bangku tepat disisi tembok, itu adalah hal yang benar, mengingat Aku tidak ingin apa yang akan kami bicarakan nanti didengar oleh orang lain.


"Apakah Kakak punya Qarin?"


Tanpa basa basi, bahkan Aku sendiri belum duduk dibangku yang disediakan, sambil membawa minuman dan cemilan dikedua tanganku, Kak Yuli menatap diriku yang ingin duduk didepannya.


"Lu Indigo?"


Dia langsung merubah cara bicaranya dari Aku, Kamu menjadi Gue, dan Elu. Aku tidak keberatan soal ini, Aku akan melakukan hal yang sama. Bukan berarti tidak menghormati kaka kelas, menurutku sapaan gaul seperti ini menandakan hubungan diantara mereka tidaklah kaku, dan formal.


"Pas kejadian kemaren, gw masih punya kesadaran walaupun sedikit. Gw liat disebelah kiri pundak Kaka ada seorang wanita..."


"Namanya Risa".


Aku belum selesai berbicara, Yuli memotong kata kataku dan memberikan informasi nama dari sosok yang kulihat kemarin.


"Ini bukan Qarin punya gue. Paman gue yang ngasih pas gue masih kecil."


"Oooh.. Berarti firasat gw bener kalau kita itu punya persamaan. Gue juga dikasih Qarin sama orang lain, tapi bersamaan dengan itu ada lagi sosom lain yang muncul dan mengganggu"


"Jadi lu punya dua Qarin?"


"Entah deh, gak paham. Awal awal sih beberapa minggu yang lalu, pas uji nyali. Itu adalah interaksi mistis yang intens pertama seumur hidup"


"Bisa ceritain gak gimana kejadiannya?"


"Saat itu... Sebelum uji nyali, sekitar jam 10 malam siswa diberikan waktu buat istirahat di ruang yang tersedia. Tentu aja gue coba buat tidur. Lampu juga udah dimatiin".


________________________


Sebuah ruang kelas yang minim akan penerangan, sekitar 20 murid laki-laki tertidur dengan berbagai posisi. Mereka terlihat kelelahan dan pulas dalam mimpi. Kecuali satu siswa yang masih terbangun disana.


Walaupun ia terlihat gelisah, namun dia tetap tidak ingin membangunkan teman-temannya. Dia bergerak mengubah posisi tidurnya, kanan, kiri, terlentang, pada akhirnya sama saja.


Dia takut...


Ketika ia mencoba memejamkan mata, sebuah bayangan dalam kepalanya muncul. Menggambarkan pohon-pohon yang berada dibelakang kelas itu dengan berbagai tanaman lain, walau hanya terlihat siluet hitam sebuah pohon. Gerakan dari ranting ranting itu terlihat nyata, bahkan semakin lama ia perhatikan, otaknya akan memunculkan imajinasi berupa suara dari gesekan dedaunan disana.


Dia bukanlah laki laki penakut...


Tapi rasa takut adalah manusiawi...


Siapapun dapat mengalaminya...


Dia gelisah...


Setelah sekian lama mencoba memejamkan mata ia tetap tidak dapat terlelap, hanya ada bayangan pepohonan yang muncul dikepalanya begitu ia memejamkan mata. Dia merasa dibodohi, ia bangkit dari posisi tidur dan menengok kebelakang. Tidak dipercaya, itu benar benar sama seperti yang ada dikepalanya.

__ADS_1


Dia mencoba memperhatikan ranting yang bergerak dibawa angin, beberapa daun terlihat berguguran, suara angin terdengar jelas ditelinga menimbulkan suara gesekan dedaunan dan ranting dikepalanya.


Ia merasa dirinya bodoh karena merasa takut tanpa alasan, ia mencoba memalingkan pandangannya dari sana.


Tapi...


Dalam sekejap, sekilas saja muncul sosok yang terlihat disamping pepohonan itu.


Ia terjekut,


Jantungnya berdebar kencang,


Keringat dingin mulai mengalir dari kedua sisi kepalanya.


Dia mencoba memberanikan diri, dalam hati ia berhitung. Dan jika hitungannya mencapai angka 3, ia akan memalingkan wajah kesana.


Satu.


Dua..


Tiga...


Ia menghela nafas, ia belum berani menengok kebelakang. Kali ini ia mencoba mengulanginya.


Tiga...



Shock melihat apa yang ada didepan matanya, anak itu tidak bergerak bahkan tidak mampu untuk mengalihkan pandangannya dari sana. Kerah kaos yang ia gunakan sudah basah dengan keringat, dentungan detak jantung membuat kepalanya serasa kembang kempis.


__________________________


"Lagi ngapain kalian?"


Suara yang sudah kudengar sebelumnya, Aku menengok kebelakang dan terlihat seorang perempuan bernama Ayu datang mendekat.


"Oh ini, Irwan. Dia katanya mau join ke Organisasi Keagamaan"


"Kalau gak salah, lu bukannya udah masuk? Tempo hari gue cek data para kelas satu yang daftar jadi anggota, ada nama lu disana."


"Iya Kak Ayu, Saya udah daftar saat acara pengenalan eskul. Tapi emang belum bisa hadir dan bersapa dengan yang lainnya"


"Oh ya gak apa, emang kami kami ini ada yang sibuk. Ada juga yang sok sibuk sih. Kek si Yuli didepan lu itu, harusnya dia gak sibuk sibuk bener tapi selalu aja kelayapan kesana kemari"


"Yah, gue kan anak kelas tiga. Gue juga punya kesibukan tersendiri"


Mereka berdua berbicara sambil tersenyum dan saling mengejek.


Aku memiringkan kepala agar penglihatan sedikit jauh kesisi yang lain, ada Kak Arfa disana sedang membeli minuman. Dalam posisi ini, harusnya Yuli bisa tau kalau Kak Arfa masuk kekantin atau melewati kami berdua karena hanya ada dua pintu dari sekolah, dan satu pintunya lagi hanya arah kesebuah halaman belakang. Sama seperti Kak Ayu yang datang saat ini, harusnya Yuli sadar lewatnya Kak Arfa, apa mungkin Yuli terlalu fokus pada ceritaku sampai tidak menyadarinya?

__ADS_1


Satu kotak minuman kopi, itu yang dibeli Kak Arfa dan langsung menuju gerbang luar tanpa menengok kami bertiga. Bahkan dalam jarak seperti itu, harusnya bercandaan kedua gadis didepanku ini terdengar riuhnya sampai sana, tapi Kak Arfa acuh tak acuh tetap berjalan menuju gerbang depan.


__ADS_2