Arti'E

Arti'E
Sebuah Awal


__ADS_3

Hari sudah semakin malam, obrolan antara kami masih berlanjut. Ibuku meminta izin untuk keluar sebentar untuk membuat makanan ringan teman sebagai cemilan untuk mengobrol namun Arfa menolak dengan santun. Melihat itu Aku menyaut dan membiarkan Ibu keluar untuk segera membuatkan makanan ringan.


"Kamu.. kadang pemaksa juga ya"


Sembari menengok kearahku yang duduk diatas kasur, Arfa mengatakan itu dengan nada ringan. Aku melakukan itu secara spontan, karena menurutku jika tidak dia akan segera berpamitan dengan kami dan pulang. Aku tidak peduli, meskipun ini egois, Aku ingin lebih lama menghabiskan waktu bersama Arfa.


Dia meraih gelas yang berisi sirup dingin dan meminumnya dan kemudian bertanya sesuatu


"Apa jin itu masih suka mengganggumu?"


"Gak perlu Ayu jawab, Arfa juga udah tau kan"


"Aku tidak tahu" lalu ia menaruh gelas disebelah tempat duduknya.


"Bohong-"


Aku sangat percaya Arfa bisa menebak sampai batas tertentu apa yang Aku alami dan bukan berarti selama ini Aku diam tanpa bercerita apapun kepada dia.


"Aku hanya bisa menerka, dan terkaanku tidak akan dapat aku benarkan 100% benar sebelum aku mendengar dari mulut manismu itu sendiri"


Hah? Apa aku gk salah dengar? Spontan reaksiku benar benar memalukan, kulemparkan bantal yang ada dipangkuanku dan melemparkannya kearah Arfa. Dia meringis, menangkap bantal itu dan malah membenamkan wajahnya didalam bantal.


Sontak aku semakin panik dan merasa malu bukan main, suara aneh dari tenggorokanku keluar akibat reaksi yang tidak aku duga sama sekali. Dia malah tertawa kecil dan memangku bantal itu dengan santai.


"Wanginya benar benar membuatku nyaman"


"Udaaaaahh, jangan gitu ih"


Semakin digoda, aku semakin salah tingkah. Laki-laki didepanku ini benar benar pandai berbicara, Aku tahu dan sadar akan hal itu. Dia bisa menyamarkan sebuah kebenaran tanpa harus berbohong atau membuat sesuatu berjalan sesuai perkiraannya hanya dengan kemampuan berbicaranya yang sangat baik.


Aku benar benar senang. Tidak kusangka hari dimana aku sakit malah membuatku merasa bahagia. Aku tidak akan berkomentar apa apa bila dimasa depan aku sakit kembali, namun jika suasanya seperti ini akan terus terjadi, aku tidak akan menolaknya.


"Ayu... Suka sama kamu-"


Aku, tanpa kusadari sebuah kalimat begitu saja keluar dari tenggorokan. Meski dengan nada rendah, jika Arfa mendengarnya aku akan benar benar malu. Ia sedang memandangku ketika aku mengeluarkan kalimat itu. Aku berharap kalimat barusan tidak sampai ke telinga Arfa karena begitu pelan tanpa kesadaran aku mengucapkannya.


"Ya. Aku tau-"


Jawaban yang sangat ringan keluar dari mulut pria ini tanpa rasa bersalah. Akibatnya aku sedikit mengangkat kepalaku dan perlahan air mata keluar. Sekuat tenagan kutahan namun tiada daya, air mata ini tetap mengalir dengan rintihan kecil yang menyesakkan tenggorokan kutahan keluar.


Arfa berdiri, mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sebuah sapu tangan berwarna hijau bermotif, dilebarkannya dan diusapkan dengan halus pada salah satu mataku yang basah. Aku sadar ini bukan sapu tangan dengan kualitas kain yang bagus, tapi sentuhan halus ini membuatnya terasa nyaman ketika diusapkan. Bukannya berhenti, air mata ini malah bertambah deras karena perlakuan Arfa, namun ia tetap dengan gentle mengusapnya dengan sapu tangan.

__ADS_1


Menyadari sapu tangannya basah dan aku masih menangis, ia menyapu sisa sisa air mataku dengan kedua ibu jarinya dengan sedikit meremas kedua pipiku Arfa menyempatkan untuk menyentuh bibirku yang juga basah karena air mata.


Kami mendengar suara langkah kaki sedang menaiki tangga, Arfa berdiri perlahan dan mundur untuk duduk ditempat semula, tidak lama ibuku datang membawa makanan ringan dan kami lanjut mengobrol sembari memakan makanan yang sudah dibuat Ibuku.


Sudah hampir jam sebelas malam dan Arfa masih dikamarku mengobrol dengan ringan. Sungguh, Aku benar benar berharap agar kami bisa seperti ini selamanya. Tapi aku sudah sadar itu tidak mungkin.


"Sudah jam segini, Aku harus pulang"


"Jangaaan, iih-"


Dengan nada manja, aku menolak usulan dirinya sendiri. Aku hanya ingin sedikit egois, walau Arfa sudah lebih dari cukup sedari awal menerima keinginan egoisku.


"Tunggu sebentar lagi aja Nak Arfa, nanti Ayahnya Ayu jam 11 pulang -"


"Iya, biar Papa aja yang nganter Arfa sampe rumah. Lagian kalo pulang sekarang kan angkutan umum udah sedikit dan sepi"


Aku sedikit menyela perkataan Ibuku dan membeberkan beberapa fakta untuk mendukung keinginanku sendiri. Arfa menoleh kearahku dan tersenyum sedikit.


Semakin lama bersama Arfa tubuhku semakin ringan untuk kugerakkan. Perlahan Aku sudah mampu untuk bergerak dengan normal tanpa harus merasa pusing atau mual, akhirnya kami berpindah dari kamarku menuju ruang tamu dilantai bawah. Tidak lama setelah itu, Ayahku pulang.


"Istirahat yang cukup Ayu, biar bisa cepat kembali sekolah"


"Kalo besok, Arfa mau jemput Ayu, Ayu besok bisa langsung masuk sekolah"


"Hoo-"


Arfa hanya sedikit merespon ucapanku. Aku sadar Ayah dan Ibuku menengok kearah kami saat aku mengucapkan kalimat tadi.


"Kamu bisa pake motor kami Nak, biar dateng kesekolah bareng Ayu boncengan aja"


Nampaknya Ayahku setuju dan malah memberikan beberapa saran yang sangat mendukungku. Bagus Papa, Ayu sayang sama Papa pokoknya.


"Akan saya pikir pikir dulu, nanti aku kabari kalau memang bisa-"


"Laki laki itu harus segera memberikan kepastian loh, Nak Arfa"


Lagi, nasehat dari orang tuaku, kali ini dari Ibuku tercinta. Ayu benar benar menyayangi kalian, Mama, Papa.


"Baiklah, baiklah. Saya akan datang kesini besok untuk menjemput Ayu"


Menerima kekalahan, Arfa mengangguk pada saran dari kedua orang tuaku. Aku sangat senang dan bahagia karena malam ini tidak akan berakhir begitu saja, seharusnya.... Sedari dulu aku bermain agresif seperti ini, jika tidak mungkin pria ini akan diambil wanita lain yang merepotkan.

__ADS_1


***


Jam sebelas lewat, atau mungkin setengah dua belas malam. Aku mungkin tidak pernah keluar sampai semalam ini diusiaku yang muda, tapi ini pertama kalinya bagiku untuk pulang di waktu waktu seperti ini.


Setelah mengucapkan salam dan berpisah, Aku yang dibonceng Ayahnya Ayu mulai bergerak untuk mengantar Aku pulang.


"Maafkan anak saya Nak Arfa kalau dia sedikit memaksa"


Memang sih, aku rasa juga hari ini dia benar benar agresif tidak seperti biasanya. Kalau saja aku tidak menahan diri mungkin bisa merepotkan tadi.


"Biasanya dia anak yang penurut kok, tidak banyak maunya"


Belum aku sempat menjawab pernyataan pertama, Ayah Ayu melontarkan yang kedua dengan nada sama. Aku hanya menjawab sebagai basa basi saja dengan hormat kepada Beliau.


"Sebagai seorang Ayah, saya tau bagaimana perilaku anak gadis saya terhadap kamu Nak Arfa. Jadi, bisakah saya menitipkan anak saya?"


"Tidak seharusnya bapak menitipkan anak gadis bapak kepada seorang remaja laki laki sembarangan"


"Haha, ya tentu saja. Saya tau, saya paham. Tapi, kamu berbeda dengan anak anak lainnya, sebagai orang dewasa Saya dan Ibunya Ayu melihat kamu sebagai laki laki yang sudah dewasa walau umur kamu itu sepantaran dengan anak gadis kami"


"Walaupun begitu saya masih laki laki"


Aku menjawab hal ini sebagai penekanan akan sesuatu, Aku ingin menghindari bahasan seperti ini tapi dengan suasanya tenang dan sedikitnya kendaraan yang lalu lalang membuat obrolan kami diatas sepeda motor masih dapat terdengar dengan jelas.


'Saya masih laki-laki' Aku menekankan kalimat ini sebagai peringatan bahwa sebuah kodrat yang Tuhan sudah berikan tidak dapat diubah, walau dengan kedewasaan atau apapun. Aku hanya ingin menggiring pemikiran paman ini kearah itu dan membuat keputusannya sendiri sebagai seorang ayah dari anak gadis yang sedang jatuh cinta.


Obrolan kami sedikit berlanjut dengan beberapa pertanyaan dalam kurung 'interogasi' dari seorang ayah kepada seorang pelajar laki laki, yaitu Aku.


Hampir dua puluh menit dan akhirnya sampai ketujuan. Aku turun dari motor dan mencoba meraih tangan kanan Paman ini, dan ia menyambutnya. Sebuah salam yang biasa dilakukan oleh seorang anak kepada orang tua atau orang yang lebih tua atau orang yang dituakan. Sebuah rangkaikan penghormatan, cium tangan. Itulah menurutku, pendapat pribadiku saja.


Sepertinya keluargaku sudah tidur semua, kupikir begitu. Tapi nampaknya Ayahku masih disana, menungguku didepan pintu dan mengobrol dengan temannya. Melihatku pulang ia menghampiri, mereka berdua saling mengobrol sebagai sesama 'seorang Ayah'. Ayahnya Ayu sedikit bercerita kalau Aku sangat membantu perkembangan kesehatan anak gadisnya dan dia sangat berterima kasih. Ayahku menawarkan untuk mampir sementara dan mengopi, tapi Ayah Ayu menolak.


Baguslah, akan semakin panjang malam bila kedua Ayah ini mengobrol sampai pagi. Ayah Ayu pamit dan pergi menjauh. Sedangkan Ayahku menoleh kearahku dan menyuruhku untuk bersiap tidur. Meskipun tidak dengan nada yang indah, atau lebih kearah memerintah. Namun aku tetap bisa merasakan sesuatu dalam perkataan Ayahku ini, ya tentu saja sebuah perasaan antara Ayah dan Anak.


Ayah dan Ibuku tidur dilantai satu, sedangkan lantai dua terpisah ruangan tanpa harus masuk kedalam lantai satu. Sebuah tangga menuju lantai dua ada didepan pintu ruang tamu, jadi aku tidak perlu untuk masuk kelantai satu. Hampir semua kebutuhanku sebagai pelajar juga sudah ada dilantai dua, jadi tidak masalah.


Setelah beberapa persiapan untuk istirahat, Aku berbaring diatas kasur dan kembali mengingat tindakan yang baru saja kulakukan kepada Ayu. Sebagai laki laki, normal maksudnya tentu saja jantungku berdetak dengan kencang dengan apa yang aku lakukan sendiri. Aku mencoba tetap tenang dan bersikap santai sekuat tenaga agar tidak terlihat kegugupan yang ada pada diriku.


Sebagai laki laki, dan pemuda. Ini adalah umur emas dimana pasti kami anak muda akan menikmati waktu muda dengan banyak hal, salah satunya tentu percintaan. Tapi, apakah aku benar benar membutuhkannya? Aku bertanya, jawaban dalam kepalaku tentu saja 'Ya, Kau membutuhkannya' tapi aku tidak menelan mentah mentah pemikiran ini dan mencari beberapa argumen lain untuk skenario kehidupan lain.


Biarlah aku bermain dengan pikiranku sendiri hingga aku nantinya akan tertidur.

__ADS_1


__ADS_2