
Hari sudah mulai gelap, manusia terlihat ramai berjalan menjauh dari sebuah rumah ibadah, salah satunya adalah Pamanku, Aku memanggilnya Paman Sam, diambil dari namanya yang mengandung kata 'Syam', dan Beliau tidak keberatan akan hal itu, malah sebaliknya, ia terlihat senang.
Sore tadi, beberapa saat setelah Aku mandi dan mempersiapkan pekerjaan rumah membantu Ibu, Pamanku datang berkunjung. Beliau sangat dekat dengan setiap keluarga dan kerabat, perawakannya pun terlihat sangat dewasa, ya tentu saja, karena Paman sudah berkepala empat, memiliki istri namun belum dikaruniai anak.
Aku dan Pamanku cukup dekat, dia sering bercerita tentang kisah pribadinya menangani kasus-kasus mistis. Bagaimana mengatakannya? Pamanku biasa disebut oleh orang-orang sebagai 'Orang Pintar'.
Setelah jam menunjukan pukul delapan malam, Paman dan Ayah masih berbincang bincang, Aku berada disana membaca sebuah buku dengan sesekali menyimak percakapan mereka. Percakapan normal bagi orang yang sudah berumur seperti mereka jadi Aku tidak ambil pusing untuk terlalu memperhatikannya.
Terereret... Terereret... Terere re ret..
Nada panggilan handphone jadul terdengar, tidak ragu Aku tahu itu adalah milik Ayah. Sepertinya ada panggilan untuk beliau, orang tuaku memang memakai handphone jadul, mereka tidak mau menggunakan Smartphone karena mereka pikir itu menyusahkan. Karena itulah komunikasi antara kerabat sering dilakukan dengan telpon tanpa koneksi.
Ayah berdiri dan pamit kepada Paman untuk menerima telepon, Pamanku tersenyum menandakan ia setuju. Ibu juga sedang berada diluar, kami dapat melihat Ibu berbicara dengan tetangga sini.
"Neng Yuli, gimana sekolah kamu? Sekarang Kamu udah kelas tiga ya, sebentar lagi lulus, terus kuliah, terus nikah. Aduh.. aduh.. Anak lucu yang dulu Paman gendong, sebentar lagi malah menggendong anaknya sendiri"
Pamanku berkata demikian meledekku tersenyum.
"Engga ah, paman mah gitu. Yuli aja gak pernah punya pacar. Mungkin karena mereka gak tertarik sama Yuli "
Aku berbalik agak meledek dengan kalimat seperti itu, Aku sendiri menyadari kalau secara fisik Aku berada diatas rata rata. Maksudku, dari sepuluh orang, mungkin tujuh atau delapan akan mengatakan bahwa Aku itu cantik. Sudah ada beberapa anak laki laki yang mendekatiku, tapi Aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap mereka. Jadi, Aku abaikan saja.
"Neng.. Neng... Kamu itu toh ya cantik banget, paman bisa jatuh hati sama kamu kalau paman jadi teman sekelas kamu"
"*Paman bisa aja"
"Ngomong-ngomong, Aku mau cerita, tadi pagi adek kelas Aku ada yang kesurupan*"
__ADS_1
Aku mulai menceritakan kejadian tadi pagi kepada paman, dari awal hingga akhir. Akhir yang Aku maksud adalah saat Arfa mengusap wajah Irwan.
"Hmm.. Paman gak bisa ngasih tanggapan soal itu Neng. Tapi mungkin kalau teman kamu yang kesurupan itu memang ada Jin yang gangguin dia"
"Waduh, bahaya ngga tuh"
"Tergantung keadaan. Jin tetap bisa membuat kita melakukan sebuah keburukan atau sesuatu untuk mencelakakan diri kita secara fisik atau mental spiritual"
Pamanku kembali melanjutkan pembicaraan lebih dalam.
"Secara fisik tentu kamu paham kan, nah mental spiritual itu seperti kondisi mental kamu yang diserang dan hal ini bisa berakibat pada kerusakan fisik"
Setidaknya Aku langsung mengerti apa yang Paman maksud. Bahwa keadaan mental seseorang bila terganggu jelas akan berakibat buruk kepada fisik dikemudian hari, dua hal ini saling berkesinambungan.
"Eneng gak perlu takut, kan Paman udah bilang dulu kalau Kamu itu Paman kasih penjaga, bahkan semenjak Kamu masih berumur 40 hari. Kamu udah paman kasih Qarin"
Aku agak terheran, sebenarnya Aku sudah tahu dari dulu soal kalau Pamanku memberikan Aku perlindungan, Ayah dan Ibu juga pernah membahasnya. Hanya saja Aku ingin mengetahui lebih lanjut tentang apa itu Qarin.
"Singkatnya, Qarin itu pendamping bagi setiap manusia, Dia bisa melindungi, membantu dalam kebaikan atau sebaliknya, mereka itu menyesesuaikan kemauan dari manusia yang menjadi Tuannya".
"Tapi apakah hal tidak mengharapkan imbalan lain? Melindungi dan membantu itu kan bukan pekerjaan mudah, emangnya Qarin sebaik itu ya mau ngasih jasa tanpa bayaran?"
"Haha, ya engga dong Neng. Soal itu Kamu gak usah khawatir, semua udah Paman yang atur kok".
Sepertinya saat Aku lahir, suasana saat itu begitu menggembirakan. Agak sedih sembari mengingat jasa kedua orang tuaku, Aku tidak melakukan hal baik kepada mereka, bahkan Aku bisa dibilang sering ngelunjak sama orang tua. Kupikir itu adalah kenakalan remaja.
"Temen kamu itu hebat berarti ya, bisa ngusir jin cuma sekali usap doang"
__ADS_1
Yang berkata demikian bukan Paman, melainkan Ayah. Sepertinya sambil menerima telepon, dia menyimak pembicaraan kami, dia berkata demikian sambil tetap berjalan kearah dapur.
"Iya, harusnya temen kamu itu Neng mungkin punya Ilmu? atau Jin pendamping yang sangat kuat sampai bisa ngusir Jin dalam tubuh Irwan dalam sekali usap"
"Engga tau deh, Aku gak deket deket banget sama Arfa"
"Emangnya si Arfa kalau disekolah gimana neng?"
Ayah baru saja kembali dari dapur, membawa cangkir berisi kopi yang baru, dia bertanya seperti itu.
"Gimana ya? Kami emang gak sekelas, tapi Aku tahu dia itu orangnya alim Yah. Temen temen Aku yang sekelas ama dia bilang gitu, dia rajin ketempat ibadah saat istirahat, dia ikut organisasi keagamaan dan dapat jabatan didalamya, dia beberapa kali ditunjuk untuk memainkan peran dalam acara keagamaan"
"Loh, kok malah gak Kamu deketin si Arfa itu.. gimana sih? Ayah malah setuju setuju aja kalau kamu pacaran sama dia Neng"
"Ayaaah, bahas gitu aja terus. Dia itu dideketin banyak cewe, salah satunya malah udah deket banget sama dia, Aku sering liat dia nempel banget sama Arfa, tapi yaah Aku diemin. Apa peduliku"
"Eneng eneng... laki-laki seperti itu tuh jaman sekarang wis langka, mungkin dari seratus laki laki yang Enenf temui hanya ada dua yang seperti itu"
Aku diam mendengarkan perkataan Ayah, Aku tak ingin dicap sebagai anak durhaka karena terus menjawab perkataan orang tua.
"Kalau Paman ya Neng, mungkin juga gak bisa seperti temen kamu itu yang bisa cuma sekali usap. Paman mungkin harus baca mantra dan butuh ini itu ini itu untuk mengusir, tapi tergantung Jin-nya juga, kalau dia tingkatannya ada dibawah Jin-nya Paman, ya Paman bisa langsung usir. Penak lah, koyo ngono iku"
Pembicaraan kami terus berlanjut seperti itu sampai jarum jam hampir menyentuh ke angka sepuluh dan dua belas. Pamanku yang disadarkan Ayah mulai bergegas untuk pulang. Paman akan langsung menuju rumah temannya dan pergi keluar kota untuk bertemu seorang 'Klien'.
"Yaudah Neng, pokok'e kalau ada yang berani macam macam sama Kamu, segera panggil Paman. Paman akan langsung bantu walaupun Paman gak ada dideket Kamu".
Itu adalah perkataan terakhir pamanku sebelum memberikan salam dan berlalu menjauh dari pintu rumah kami.
__ADS_1
Aku berfikir untuk besok menemui Arfa dan bertanya beberapa hal. Tapi, Aku sendiri tidak tahu harus bertanya bagaimana? atau memangnya Aku ingin bertanya apa? Biarlah. Jika besok bertemu, dan biarkan waktu yang menjawab, lebih baik Aku tidur lebih awal agar besok bisa berangkat lebih pagi.