
Jika diperhatikan pada bagian kami kelas tiga, sebuah sangkar besar mengelilingi lapangan didepan kami, hanya dari beberapa sisi saja kita bisa masuk dan keluar. Sepertinya dibuat begitu sebagai bagian dari keamaan, agar bola tidak melambung keluar dan mengakibatkan kejadian yang tidak perlu.
Rupanya kelas tiga jurusan hijau sedang ada jam olahraga. Sebagian mereka sedang duduk beristirahat atau hanya melihat teman temannya bermain bola volly dan basket. Ada beberapa siswa yang masih berlari lari kecil memutari lapangan juga.
Aku tidak tertarik untuk masuk kedalam lapangan, Aku hanya akan menghampiri Hany disana yang sedang bermain berdua dengan teman wanitanya. Namanya, Aku tidak tahu. Namun wajahnya tentu Aku kenal, kami satu angkatan selama tiga tahun, tentunya.
Melihat rekan bermainnya memalingkan mata kearahku, Hany menengok kebelakang dan tersenyum kepadaku. Walau Hany dan Ayu sama sama dari jurusan hijau, mereka berbeda kelas. Tentunya tidak akan ada Ayu dilapangan untuk saat ini.
"Paa, jalan jalan aja. Lagi kosong ya?"
Hany memang tidak memanggilku dengan nama, namun menggunakan sebutan sebutan aneh. Aku tidak keberatan, jadi kenapa mempersoalkan hal seperti itu.
Seharusnya pakaian olahraga kami bisa disebut sopan dan aman. Namun, yah memang setiap orang berbeda-beda karateristik tubuh mereka. Karena Hany berasal dari eskul Volly dia mengenakan celana pendek dan kaos olahraga yang menurutku terlalu memperlihatkan sesuatu yang menarik. Aku berkedip sedikit dan membuka sebuah obrolan.
Dia berkata kalau hari ini eskul Volly ada latihan tanding dengan sekolah lain. Aku menjawab agar Hany dan Josef ikut dalam acara itu, karena Aku juga akan pergi sore ini mengunjungi Irwan. Kami membahas tentang rencana kami untuk tugas kesenian yang sebelumnya dibahas. Karena masih banyak waktu hingga minggu depan, tidak perlu terburu-buru. Aku juga menyarankan agar Anggi dan Angga yang akan berbelanja kebutuhan kami untuk tugas itu. Kalau mereka tidak sibuk juga sih.
Aku melirik kelantai tiga dimana kelas satu berada, tidak ada tanda-tanda keramaian disana. Berarti kelas satu pagi ini tidak ada yang kosong. Aku juga menyempatkan mata untuk melirik kearah kelas Ayu, pintunya tertutup. Sepertinya tidak ada siapa siapa dikelas.
"Oh, Ayu lagi di ruang lab. Tenang aja Paa dia ga akan hilang kok"
Aku menjawabnya dengan sedikit tertawa.
'Arfaaa'
Seseorang memanggilku dari depan kelas, rupanya itu temanku. Aku berpamitan dengan Hany dan dia melanjutkan permainannya. Dia suka berolahraga karena itulah stamina dan tubuhnya bagus untuk anak anak seumuran dia, tentu cocok dengan Josef yang masih kelas satu namun postur tubuhnya sudah sepantaran dengan kami kelas tiga atau bahkan lebih.
Rupanya ulangan sudah selesai dan salah satu temanku diperintah untuk memanggilku masuk. Ketika memasuki ruangan kelas, beberapa anak anak mulai kembali ke tempat duduk mereka setelah menyerahkan kertas ulangan. Aku kembali melirik monitor besar didepan kami, beberapa siswa dengan nilai 82, 75, 85 terpampang disana. Terheran, Aku melihat angka 100, nilai sempurna. Aku perhatikan lebih teliti, ternyata itu adalah nilai disebelah namaku sendiri.
__ADS_1
100? Apakah Guru mengoreksi ulang hasilnya? Jika menurut perhitunganku, memang ada satu soal yang tidak dijelaskan dari penjelasan materi atau bahan presentasi yang diberikan kepada kami. Tapi, jika ada dari kami yang benar benar membuat materi presentasi dengan bantuan internet, jika beruntung ada sedikit pembahasan mengenai soal pada ujian kali ini. Aku hanya sekilas membacanya dan mencoba menggali informasi tersebut dengan ingatan dan menuliskannya pada kertas. Jika nilai awalku 90 maka Aku berasumsi bahwa jawaban dari soal ini adalah salah, walau Aku sedikit percaya kalau jawabanku tidak sepenuhnya salah. Memberikan nilai 95 akan lebih masuk akal.
"Arfa, kamu dapat 100. Karena soal terakhir itu sebenarnya memang belum ibu ajarkan. Ibu berniat memberikan soal ini sebagai bonus"
Oh, ternyata begitu. Ketika Aku berjalan melewati Guru, dia berbicara seperti itu kepadaku.
"Tapi, karena kamu memberikan jawaban yang hampir benar. Maka Ibu urungkan niat tadi dan tetap akan menilai soal itu seperti awalnya"
"Yaaaaahh"
Sorakan dari teman-teman sekelas langsung keluar. Mereka bahkan mengejekku karena menjawab hampir benar. Tentunya dengan nada bercanda dan tidak serius.
Padahal diantara mereka ada yang membuka hape, tapi nilai sempurna hanya ada satu di monitor. Apakah kalian ini benar benar bisa menyontek atau tidak?
Tidak terasa jam istirahat pertama berbunyi. Seperti dugaanku sebelumnya, kelas Yuli disebelah tidak ada yang keluar. Guru yang sama duduk dimeja depan, murid murid lainnya terlihat tenang mengerjakan apa yang ada dimeja mereka. Tidak ada yang saling bertukar kode, mencuri pandang, atau membuka hape. Benar benar merupakan kelas yang kompak, walau Aku tau diantara mereka ada beberapa murid yang memiliki kemampuan dan nilai rata rata yang rendah, namun mereka tidak melakukan sebuah tindakan seperti mencontek. I give the salute.
Pada pintu masuk, Ayu bersama dua temannya duduk melepas sepatu mereka. Entah perasaanku saja tau daritadi mereka memperhatikanku. Dari tempat mereka duduk, mereka akan dapat dengan mudah melihat Aku yang tadi berdiri didepan kelas Yuli, dan dengan jarak seperti ini sorakan 'cie' tadi akan terdengar sampai sini.
Aku berdiri didepan mereka, kedua teman Ayu tersenyum-senyum sendiri memperhatikan kami berdua. Aku duduk didepan mereka untuk melepas sepatu.
"Cie"
Suara halus seorang gadis didepanku, tepat setelah dia mencuri pandangan kepadaku, dia menggerutu dengan kalimat itu. Ketika Aku membalas pandangannya, ia langsung membuang wajah dengan cemberut. Karena tindakan dan ekspresi Ayu, sebuah perasaan aneh dan sedikit nakal muncul dikepalaku, jika ada kesempatan Aku akan mencubit kedua pipi itu.
Ayu, apa dia cemburu karena hal itu? Bahkan jika dia melihat Aku berhenti sejenak didepan kelas Yuli dan suara sorakan itu terdengar, harusnya dia tidak langsung mengerti apa yang terjadi, bisa saja... Apa saja.
Sepuluh menit berlalu, hanya tersisa kurang lebih dua puluh menit sebelum jam pelajaran berikutnya. Aku hendak mengenakan kembali dua sepatuku. Sepatuku terlihat lebih kusam daripada beberapa sepatu dilantai itu. Bukan berarti sepatuku kotor, hanya saja warna hitam sepatu ini sudah tidak lagi terlihat apik, atau kalah mengkilap dari sepatu sepatu lain disini. 'Apa urusanku!?' bantahku sendiri setelah memikirkan hal seperti itu.
__ADS_1
Ayu berjalan mendekat kemudian duduk pada bangku didepanku.
"Cie yang mau jalan berduaan"
Mendengar kalimat itu, didalam kepalaku bekerja mencari tahu apa yang ia maksudkan.
'Oh'.
Sedangkan dua teman Ayu sebelumnya mengambil sepatu mereka dan menjauhi kami setelah menyindir kami sebagai pasangan suami istri yang sedang bertengkar karena masalah sepele.
"Yah, bukan apa apa, cuma mau njenguk Irwan"
"Alesan"
Sedikit membanting sepatunya sendiri dari tangan, ekspresinya benar seperti orang yang kesal. Aku menatap wajah cemberut itu beberapa detik dan tanpa sadar Aku tersenyum. Melihatku tersenyum dia semakin kesal.
"Ngapain senyum senyum. Sebegitu senengnya kah mau jalan berdua?"
Kemudian dia kembali melempar sepatunya kebawah. Aku sudah selesai memakai sepatuku sendiri. Melihat dia melakukan hal seperti itu dua kali, Aku berdiri dan mendekati gadis itu. Aku tidak berniat untuk mengambilkan sepatu yang ia lempar barusan. Aku hanya ingin memenuhi hasrat yang tiba-tiba muncul.
Aku menurunkan posisiku sehingga wajah kami mendekati sejajar, walau wajahku masih diatasnya. Lalu menarik kedua pipi gadis didepanku dengan kedua tanganku.
Ekspresinya berubah, namun ia tetap membiarkan perlakuanku ini padanya hingga Aku sendiri yang melepasnya. Tentu Aku tidak mencubit dengan keras.
Setelah kulepas, dia mengembungkan kedua pipinya. Spontan membuat tangan kananku bergerak dan kembali mencubit pipi kirinya dengan sedikit meremas-remasnya. Dia sedikit meringis dan menjauhkan tanganku dari pipinya.
Aku tersenyum dan menjauh dari Ayu sebelum terlalu banyak orang yang melihat apa yang Aku lakukan barusan. Lain kali Aku harus bisa lebih menjaga sikap.
__ADS_1