Arti'E

Arti'E
Perpustakaan bag. II


__ADS_3

Aku penasaran dengan sikap Ayu, dia tidak seperti biasanya. Ia akan menjaga jarak dan tidak melakukan interaksi yang tidak dibutuhkan. Semenjak kejadian tadi malam, apakah terjadi sesuatu? Aku tidak bisa memikirkan jawabannya. Aku hanya bisa memasukkan diriku sebagai salah satu penyebab perubahan itu, dan Aku tidak menemukan alasan dari perubahan sifat miliknya.


Dengan sikap sedikit kegelisahan, gadis itu berdiri didepan kami lalu duduk dengan kedua kaki yang terlipat. Sebuah cara duduk yang anggun. Pelan, ia mendekatkan dagu dengan meja, menatap kearah Yuli lalu berpaling langsung kemataku. Ekspresi yang membuat jiwaku sedikit terganggu. Sedikit aku hanya memejamkan mata membalas tatapan Ayu.


Aku menutup buku merah yang belum dapat kuselesaikan, kuletakkan pada meja didepanku. Dengan jari telunjuk, Aku menekan kening gadis yang cemberut didepan kami, ditambah sedikit dorongan ringan.


"Masuk ke kelas"


Nada memerintah, Aku ingin Ayu segera masuk keruangan kelas untuk mengikuti pelajaran.


Gadis itu meraih tangan yang kugunakan untuk menekan keningnya. Sebuah sentuhan halus, diikuti oleh gerakan tangan kirinya. Saat ini tangan kananku tertahan karena tergenggam penuh oleh gadis ini. Aku mulai menatap mata Ayu, dia membalasnya. Berdiri, tanpa berkata-kata, ia meninggalkan kami berdua.


"Harusnya, Aku... Gak ikut campur kah?"


Yuli melihat kearahku dengan sebuah pertanyaan. Dia berharap aku segera menjawabnya, namun aku hanya akan diam.


"Kalian-, apa dari dulu sedekat ini?"


Melontarkan pertanyaan lain, mungkin harusnya aku menjawab saja dengan jujur.


"Tidak, tidak ada apa-apa diantara kami"


Aku mengatakan itu kemudian berdiri, bersiap untuk meletakkan buku yang kubaca kembali pada tempatnya.


"Maaf tapi gw gak percaya"

__ADS_1


"Gw berkata jujur, percaya atau engga. Tidak menguntungkan atau merugikan buatku"


Sebenarnya aku memang berkata jujur, dalam kalimat itu maksudku.


Yuli ikut berdiri dan memberikan hp yang ia pegang kepadaku.


"Yaudahlah, gw mau ke kelas aja"


Setelah menaruh buku pada tempatnya, sedikit aku menggeser beberapa buku lain agar lebih terlihat rapi dengan simetris.


Lebih dari 20 menit lagi sebelum jam sekolah hari ini akan berakhir. Aku membuka hp yang Yuli pinjam sebelumnya, menekan tombol 'Recent Apps' beberapa aplikasi coba dia buka. Tentu saja aku menguncinya, terutama aplikasi yang menurutku hanya aku yang boleh membukanya.


Beberapa aplikasi chating, sosial media yang kugunakan, Yuli membuka semuanya. Galeri foto tentu tidak luput dari incaran gadis itu, tentu aku sudah membuat persiapan sebelumnya. Yakni mengunci file privasi, membuat sebuah pola unik sebagai password yang hanya aku sendiri yang tahu. Walau aku membukanya beberapa kali didepan Ayu, dia tidak akan mengingat pola ini dengan mudah.


Sebuah pesan yang belum terbaca, sekitar beberapa puluh menit yang lalu. Seharusnya belum terbaca, tapi Yuli sudah membacanya duluan. Isinya hanya pemberitahuan dari Ketua Organisasi yang kuikuti agar aku hadir dalam rapat kerja sekolah sore ini.


Aku sudah kelas tiga ya? Waktu berjalan lambat atau hanya perasaanku saja. Aku menentukan beberapa hal setelah kelulusanku, pertama tentunya aku harus memisahkan diri dari keluarga, Aku ingin hidup sendiri dan mandiri. Aku membutuhkan kebebasan bergerak. Kedua, aku harus bisa mempunyai penghasilan yang mencukupi untuk kehidupan sehari-hari. Aku tidak akan ragu membuang sesuatu yang menurutku tidak perlu pada hari itu. Seperti, sebuah kisah pencintaan misalnya.


Aku berjalan keluar dari Perpustakaan, setelah memakai sepatu. Aku melihat kedasar lantai satu, lapangan. Beberapa siswi sedang bermain bulu tangkis, basket. Sebagian lagi hanya duduk dan meminum minuman yang mereka beli di kantin. Dari sini aku bisa membayangkan apa yang mereka bicarakan, sesuatu yang aku tidak tertarik sama sekali.


Keadaan kelasku dapat sedikit terlihat disini, itu berada di sisi kanan, yang merupakan bagian tengah dari bangunan di lantai satu, sehingga aku bisa melihat kalau kelas masih dalam keadaan kosong pelajaran, tidak ada guru.


Hapeku bergetar, aku melihat layar dan ternyata Ayu mengirim sebuah pesan. Tanpa membukanya kita bisa melihat keseluruhan isi teks itu, hanya kelanjutan dari kecemburuan seorang wanita. Aku tidak tertarik untuk membalas pesan ini, jika dibutuhkan aku akan bicara langsung nanti. Untuk saat ini, biarkan dia dalam keadaan seperti itu. Aku menekan pesan dari Ayu, kemudian menutup layar hape. Aku hanya ingin memberikan informasi bahwa pesannya sudah kubaca.


Jam sekolah hari ini usai. Bel sudah berbunyi, beberapa lagu kebangsaan dan hymne sekolah di setel dengan speaker pada seluruh gedung sekolah. Lagu-lagu ini akan bertahan selama beberapa menit.

__ADS_1


Aku meringkuk pada kedua tanganku diatas meja tempat duduk. Beberapa teman lain sudah keluar, sebagian masih mengobrol, sebagian lain malah melanjutkan film yang belum selesai.


Aku mungkin akan bertahan dalam posisi ini selama beberapa menit untuk menghabiskan waktu. Aku maunya seperti itu. Rasa sakit pada pundak bagian kiri, sebuah cubitan dari seorang wanita didepanku. Aku membenarkan posisi duduk, melihat gadis dengan wajah cemberut yang sedang mencubitku.


"Sakit tau-"


Ayu mengeraskan cubitannya daripada sebelumnya, walau pada bagian wajahku tidak terlalu terlihat perubahan ekspresi. Aku hanya berusaha sebisa mungkin menahan 'Poker Face' didepan gadis ini.


"Ciiiee-"


Tentu saja, ini tindakan yang akan membuat perhatian kelas menuju kepada kami. Ayu merasa malu dengan kelakuannya sendiri, melepaskan cubitannya dan memilih untuk duduk dibangku tepat didepanku. Karena aku memang duduk di urutan bangku ketiga, jadi ada dua baris bangku didepanku yang kosong.


"Kapan nih kalian jadian?"


"Pajaknya dong, pajaknya"


Banyak sekali teriakan sejenis itu yang terdengar. Gadis didepanku banyak bertingkah, aku hanya menyaksikan bagaimana ia akan merespon hal ini. Pada akhirnya dia hanya tersenyum kearah mereka dan menjawab beberapa pertanyaan kecil dari mereka.


Beberapa gadis lain mendekati kami, yah aku akan membiarkan mereka melakukan sesukanya dan Ayu yang akan meladeninya. Kemudian, aku melanjutkan posisi meringkuk dan menutup mata. Tentu aku tidak akan tidur, aku hanya tidak suka ikut dengan obrolan sejenis ini.


Aku merasakan sensasi sentuhan pada kepalaku, seseorang menyentuh dengan lembut, sebuah gerakan membelai yang membuatku merasa nyaman.


Pikiranku teralihkan karena belaian lembut ini, aku tidak melakukan tindakan perlawanan sama sekali. Aku tau Ayu yang melakukannya, padahal dia sadar sedang mengobrol dengan gadis gadis lain didepanku.


Biarlah. Aku akan menikmati hal ini, jauh lebih baik daripada aku hanya tertidur menyedihkan dikelas hanya untuk menunggu waktu rapat kerja nanti sore. Sebuah sensasi belaian dari seorang wanita yang mungkin bukan yang pertama kalinya bagi tubuh manusiaku. Aku berfikir, apakah sewaktu aku kecil, aku diperlakukan selembut ini? Seharusnya-

__ADS_1


Tapi sepertinya tidak.


__ADS_2