
Sejenak Aku tersentak kaget karena Arfa yang mengendarai motor ini tiba tiba menekan rem dan goncangan akibat itu membuat tubuh bagian depanku bergerak dan spontan saja Aku merangkul tubuh Arfa dengan kedua tanganku.
Aku sedikit menggodanya apakah ia melakukan hal itu dengan sengaja, dan ia hanya tertawa. Sedangkan posisi kedua tanganku belum melepas genggaman pada pinggangnya.
Pagi tadi sebelum Aku menemui Arfa yang sedang membaca sesuatu dikelas, Aku menemui Ayu yang entah kebetulan apa yang membuatnya berada didepan area kelas jurusan kami, Aku hanya bisa menebak kalau itu ada hubungannya dengan Arfa.
Kami bertegur sapa kecil kemudian Aku mengajaknya untuk masuk menemui Arfa jika mau, tapi dia menolak.
"Nanti dia keburu diambil cewe lain loh Yu"
Aku mengatakan itu kepadanya dan sedikit tertawa. Sepertinya karena perkataanku itu dia seperti menahan sesuatu dalam dirinya yang tidak mampu ia ungkapkan. Lalu Aku lanjutkan dengan
"Kalo Ayu gamau, yaudah Yuli yang maju duluan"
Aku hanya berniat menggoda Ayu yang menjadi sahabatku, bukan berarti Aku mempunyai perasaan sesuatu terhadap Arfa, hanya saja... Aku memiliki rasa penasaran yang tinggi terhadap anak itu.
Dalam perjalanan kami bertukar pendapat dan beberapa candaan saling balas membalas. Aku juga meminta maaf jika Aku mengganggu waktunya bersama Ayu. Aku juga mengerti arti dibalik ekspresi wajah Ayu sore ini, tentunya sebagai wanita. Walaupun Aku belum pernah berada dalam posisi seperti itu.
Arfa, Aku tidak begitu mengenalnya ketika SMP tapi setauku dia selalu menjadi juara kelas bahkan lulus menjadi nomor tiga terbaik dalam satu angkatan kami. Aku hanya tahu sebatas itu. Setelah kami masuk SMK dan tahu dia satu sekolah denganku dulu, kami yang satu alumni dengan beberapa siswa lain menjadi lebih sering berinteraksi dan lebih dekat.
Dulu saat kelas satu Arfa masih menjadi siswa yang pendiam, namun kemampuan bicaranya bagus, itu dibuktikan saat ia memberikan presentasi materi yang diberikan guru pembimbing dan ia melakukannya dengan mudah, atau menurutku itu terlihat mudah. Dia masih kerap menjuarai kelas selama beberapa semester, hingga ia terlihat mulai menurun ketika kami kelas dua.
Tapi pagi tadi dia baru saja mendapat nilai sempurna dalam ulangan yang bahkan tidak ada diangkatan kami yang bisa mendapat nilai sempura itu.
"Mas, kamu pinter banget ya?"
Aku menekankan kalimat itu menjadi sebuah pertanyaan kepada Arfa, dia tetap berkonsentrasi melihat jalan yang kami lalui mengatakan tidak.
__ADS_1
"Ga juga"
Aku menganggapnya sebagai rendah diri, karena Aku tidak mempunyai bahan sanggahan untuk kalimat itu saat ini jadi Aku memilih diam.
Tidak lama kami akhirnya sampai dilokasi, tidak seperti sebelumnya Aku parkir ditempat umum. Kali ini Arfa tetap menggerakan motor ini hingga didepan rumah Irwan, memang seharusnya begitu kan? Kok dulu Aku tidak terfikir hal kecil seperti ini?.
Setelah kami memarkir motor pada samping jalan yang terlihat aman karena ada satu motor juga yang terparkir disana. Arfa mencoba memberikan kunci motor itu kepadaku, namun Aku katakan agar ia bawa saja karena nanti dia juga yang Akan mengendarainya saat kami pulang.
Arfa mengetuk pintu dengan nada tiga kali ketukan, dan tubuhnya tidak menghadap kedalam pintu melainkan mengarah kepadaku yang berada dibelakangnya. Beberapa detik dan tidak ada balasan, Arfa kembali mengetuk pintu dengan tiga kali ketukan lalu kembali menghadapkan tubuhnya membelakangi pintu.
Kemudian tidak lama setelah itu jawaban dari dalam rumah terdengar, bersamaan dengan suara jejak kaki seseorang yang berlari kearah kami. Ibu Irwan membuka pintu dan kaget melihat Arfa dan Aku datang.
"Mas Arfa... Neng Yuli, masuk-masuk silahkan"
Rupanya Ibu Ayu sudah kenal dengan Arfa? Kemudian ingatanku bekerja memutar memori lama dimana Arfa dan Pak Ahyar pernah mengantarkan Irwan pulang. 'Oh dari situ' kataku dalam hati.
"Neng Yuli... gausah repot repot"
Akhirnya beban pada tas punggungku berkurang.
Arfa dan Ibu Irwan masih saling bertanya kabar dan kenangan tempo lalu. Kemudian Arfa bertanya bagaimana keadaan Irwan saat ini. Rupanya ia masih terkapar dalam kamarnya dan belum bangun-bangun juga. Bukankah setelah Bapak Alim yang waktu itu sudah mengusir jin yang ada pada tubuh Irwan? Walau bahkan setelah itu Irwan memang belum bangun-bangun juga.
Seseorang datang kerumah ini, kami mendengar suara motor yang mendekat. Ibu Irwan mengatakan kalau itu suaminya yang pulang dari pasar membeli sesuatu.
Ia masuk memberi salam karena melihat dari jauh ada tamu dirumahnya, ia hanya mengenalku dan tidak mengenal Arfa. Apakah waktu Arfa mengantar Irwan saat itu suaminya tidak ada ditempat?
Bapa Irwan membawa sesuatu yang terbungkus dalam plastik hitam, ia menaruhnya dimeja dan duduk bersama kami. Mereka menceritakan bahwa guru spiritual Bapa Irwan ia disuruh membeli sesuatu berupa sesajen dan beberapa air mujarab. Setelah plastik itu dibuka, ternyata memang benar, ada beberapa kembang yang sudah biasa terlihat dalam sesajen dan sebuah kendi kecil yang sepertinya itu berisi air mujarab yang ia maksud.
__ADS_1
Tanpa sengaja penglihatanku tiba-tiba menatap wajah Arfa, dalam sejenak Aku melihat matanya dan entah sebuah perasaan aneh muncul dalam kepalaku mengatakan kalau itu bukan ekspresi Arfa yang biasanya. Ekspresi yang menunjukan emosi terpendam dalam diri Arfa. Namun begitu ia mengedipkan matanya, semua perasaan itu hilang dan dia hanya memperhatikan obrolan-obrolan kami sementara.
"Bapak.."
Ketika Bapak Irwan sedang menjelaskan apa yang guru spiritualnya katakan dan apa yang harus ia lakukan. Suara tegas namun tidak menunjukan emosi dari Arfa muncul, ia menatap Bapak Irwa dengan senyum diwajahnya.
Arfa bertanya, apakah sebelumnya, bahkan setelah ia melakukan apa yang gurunya itu perintahkan dan Irwan sembuh? Dijawab tidak. Karena memang Irwan pada awalnya hanya terlihat lebih baik, namun tidak lama hal itu kembali terjadi dan menjadi lebih buruk.
Arfa kembali menekankan sebuah kalimat, apakah ketika ia mengetahui hal itu dan sekarang melakukan hal yang sama berharap anaknya akan segera sembuh?
"Mustahil..."
Kata yang keluar dari mulut Arfa menjawab pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya.
Ekspresi wajah Sang Ayah mulai berubah, ia menundukan kepalanya mungkin sedang mencerna perkataan dari seorang remaja yang menjadi lawan bicaranya.
Aku berfikir betapa hebatnya anak ini, ia bisa memberikan sebuah argumen yang dapat mematahkan kepercayaan seseorang dan membuka pemikiran orang tersebut menjadi lebih sehat.
"Saya kesini setelah mendengar apa yang Yuli ceritakan. Bapak,... Bagaimana kalau Saya bisa memberikan harapan yang Bapak dan Ibu inginkan dan Bapak akan berhenti mengikuti guru yang Bapak percaya itu?"
Sang Ibu langsung menjawab dengan semangat, sebaliknya Sang Ayah terlihat masih memikirkan sesuatu sambil melihat sesaji dan kendi yang baru saja ia beli.
"Baiklah, jika Arfa bisa melakukan sesuatu untuk anak kami. Toh, Bapak melakukan ini karena Bapak tidak tahu harus bagaimana dan melakukan apa saja demi anaknya yang sedang sakit"
Arfa kemudian meminta untuk diantarkan keruangan dimana Irwan berada. Kedua orang tua itu berdiri, lalu berjalan sembari menunjukan kepada kami kamarnya. Arfa ikut berdiri dari tempat ia duduk, dan lagi, dalam sekilas Aku melihat Arfa seperti mengatakan sesuatu dari gerakan bibirnya, tidak bersuara dan Aku sendiri tidak tahu apa yang ia ucapkan. Itu hanya seperti tiga gerakan bibir untuk sebuah kalimat yang tidak aku tahu.
Ketika sampai didepan kamar Irwan, Arfa membuka pintu dan mengucapkan salam. Kemudian berkata kepada kami agar tidak ikut masuk kedalam kamar sedangkan ia masuk dan membiarkan pintu tetap terbuka. Mungkin agar kami bisa melihat apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Arfa : "Dari sini Bapak dan Ibu jangan ikut masuk dulu ya!"