
Kami melihat Arfa berjalan masuk kedalam kamar Irwan, kedua orang tua Irwan disampingku terlihat sangat khawatir, walau begitu Aku bisa merasakan mereka menaruh sebuah harapan kepada Arfa.
Darisini Arfa terlihat berdiri disamping Irwan yang masih terbaring, ia tetap diam berdiri disana. Rupanya ia mengangkat kedua tangannya seperti hendak berdoa dan bertahan dalam posisi itu cukup lama. Aku tidak bisa melihat apa yang ia gumamkan, karena yang terlihat hanyalah sebagian punggungnya saja.
Bahkan kedua orang tua Irwan disampingku ikut berdoa dengan gaya mereka. Melihat ini aku sedikit khawatir dan memutuskan untuk ikut masuk kedalam.
Begitu Aku masuk kedalam sana, Arfa sudah mulai bergerak. Masih berdiri pada posisi awal, ia meniup kedua telapak tangannya sebanyak tiga kali lalu mengusapkan keduanya bersamaan. Kemudian Aku bergerak lebih dekat, Arfa dengan tangan kanannya meraih kepala Irwan dan mengusapnya, gerakan yang hampir sama seperti kejadian sebelumnya.
" Ngiiiiiinngg!!! "
Berdengung lagi...
Telingaku..
Kali ini terasa lebih berat, Aku bahkan sampai meringkuk dan mencoba menutupi kedua telinga dengan tangan. Sesuatu seperti memaksa masuk kedalam tubuhku dan menarik jiwaku keluar secara paksa. Aku benar benar merasa jiwaku ditarik keluar dari raga manusiaku.
"Ini...??"
Begitu Aku sadar, Aku berada pada tempat yang sama ketika Aku datang pertama kali.
Dunia Ghaib.
Suasana yang sedikit berbeda, jika dulu Aku masuk warna yang dominan diruangan ini adalah abu-abu dan merah. Kali ini bertambah nuansa warna putih bergabung mencahayai ruangan kami berpijak.
Aneh...
Aku tidak bisa bergerak, Aku hanya melihat sosok wanita yang sama, ia masih menggenggam kepala burung hitam ditangannya dan pisau kecil ditangan lainnya.
Tanpa ekspresi, sosok wanita itu melihat kearah Arfa yang berada didepannya. Mereka saling memandang dan seperti berkomunikasi satu sama lain walau darisini mereka hanya terlihat berdiri diam.
Secara mendadak, sosok wanita itu melesat cepat kearah Arfa, dengan respon yang sama cepatnya Arfa menghalau mahluk itu hanya dengan satu tangan saja. Mahluk itu terpental kebelakang, ia masih melayang diatas tubuh Irwan yang masih terbungkus dalam kafan. Sepertinya dia tidak memiliki kesadaran seperti sebelumnya.
Sosok itu kembali mencoba menerjang kearah Arfa, dia mencobanya dari berbagai sisi. Dari depan, kiri, kanan, belakang, atas. Semuanya sia sia, Arfa terlihat sangat santai menghalaunya hanya dengan satu tangan yang sama secara berulang-ulang.
Mahluk itu melayang memutari kami, kali ini ekspresinya berubah dan ia terdengar seolah-olah menggeram.
Dari atas, dia menerjang kuat kearah yang sama berulang-ulang. Pada satu kesempatan, ketika mahluk itu bergerak dengan cepat dan Arfa dapat menebak kearah mana ia akan menerjang, Arfa lebih dulu menggerakan tangan kirinya bersiap untuk menghalau terjangan berikutnya. Namun kali ini, mahluk itu berhasil menancapkan pisau kecil pada telapak tangan Arfa. Pisau itu kecil, namun lebih dari cukup untuk menembus tangannya.
Dalam keadaan seperti itu, Arfa bergerak menarik mahluk itu kepadanya hanya dari kekuatan tangan kiri yang sudah tertembus pisau. Pada gerakan berikutnya, tangan kanan Arfa meraih leher mahluk astral itu dan mencengkeramnya dengan kuat.
Mahluk astral itu meronta-ronta, namun tangannya tidak melepaskan pisau yang menancap pada tangan Arfa, sebaliknya Arfa menarik lebih kencang tangan kirinya, sehingga mahluk itu ikut terbawa lebih dekat. Cengkraman tangan kanan Arfa tidak terlepas, melekat dengan kuat pada leher mahluk itu, sedangkan tangan lainnya masih menggenggam kepala burung hitam.
Dari tempatku berdiri, Aku hanya bisa melihat punggung Arfa dan tidak dengan wajahnya sehingga Aku tidak tahu ekspresi apa yang sedang ia keluarkan. Kalau dipikir-pikir sejak awal Arfa hanya diam berdiri disana tanpa bergerak satu langkahpun, bahkan ketika ia menghalau serangan mahluk itu ia hanya menggerakkan satu tangan secara berkala.
Dalam keadaan meronta-ronta, dari cengkraman tangan kanan Arfa pada leher mahluk itu tiba-tiba mengeluarkan asap abu-abu, persis seperti asap ketika ada api yang membakar sesuatu. Asap itu menjadi lebih terlihat, dan satu detik kemudian
"Wuuussshhh"
Api berkobar membakar mahluk astral itu, sekilas Aku bisa melihat kalau asal api itu timbul dari cengkraman Arfa kemudian menyebar dan membesar.
__ADS_1
"Gggrrrraaaaaaahhh"
Mahluk itu berteriak, meronta lebih keras. Arfa tidak mendiamkannya, ia kembali menarik tangan kirinya agar ia tidak semakin terbang menjauh.
Sayang sekali...
Mahluk itu cukup pintar untuk melepaskan tangan kanannya yang menggenggam pisau kecil itu. Arfa kini dapat menggerakan tangan kirinya dengan bebas, walau telapak tangan itu masih menancap sebuah pisau.
Berkatnya mahluk itu berhasil melepaskan cengkraman tangan kanan Arfa dan ia melayang menjauhi Arfa, tubuh sosok itu masih terbakar api yang sebelumnya muncul.
"Rrrraaaaaaaaaa..."
Mahluk itu berteriak, muncul angin yang berhembus deras darisana bersamaan dengan teriakannya. Aku yang tidak dapat bergerak secara spontan menutup mata.
Terjangan angin sudah tidak lagi terasa, mereda dan hilang. Aku membuka mata, dan hanya terlihat Arfa yang masih berdiri disana. Tangan kirinya masih tertusuk pisau dan tidak terlepas.
Mahluk itu..
Dimana dia...
Aku berusaha memfokuskan penglihatanku pada setiap sudut yang terjangkau, dia tidak ada dimana-mana. Apa Arfa berhasil mengalahkannya?
Bahkan dalam dunia ghaib, detak jantungku bisa secepat ini. Secara sadar aku bahkan dapat merasakannya dari luar.
Ketika fokusku kembali kepada Arfa yang sudah berada disamping Irwan, tangan kanannya meraih tubuh Irwan yang terbungkus kain putih. Gerakan yang cukup pelan terlihat seperti ia sangat berhati-hati akan sesuatu. Ia meletakan tangan kanannya dengan halus pada bagian tubuh Irwan yang dapat ia jangkau, dan
"Brrrrwwwwuuuuussshh"
'Arfa, apa yang kamu lakukan?' Pikirku dalam hati.
Kemudian sebuah dentuman angin kembali muncul dari arah mereka berdua. Kali ini aku sudah sedikit mendapatkan kesadarandan mulai dapat menggerakan tubuhku. Dengan tangan kanan, aku mencoba menghalau terjangan angin ini sehingga aku tidak perlu menutup mata seperti sebelumnya.
Kobaran api ini semakin membesar, Aku tidak merasakan suhu panasnya tapi jantungku berdebar kencang ketakutan. Api itu membakar tubuh Irwan, menjalar ketempat ia berbaring, kemudian semakin membesar dan api akhirnya berhasil menelan kedua temanku yang ada disana. Tidak berhenti, api itu masih berkobar dan membesar dan mengarah kepadaku. Dengan intensitas api seperti ini Aku yakin manusia akan terkena luka bakar tingkat tinggi dan mati. Jika ini adalah kebakaran, maka api sebesar ini dengan pasti akan melahap rumah ini dan tetangganya dengan mudah.
Pada saat api membesar dan mengarah kepadaku, Aku mencoba melindungi diri dengan bodoh, dan dalam sekejap Aku merasa bahwa Risa tiba-tiba berada didepanku dan mencoba melindungiku.
Pada kesempatan berikutnya, Aku sudah kembali dalam tubuh manusiaku. Arfa berada didepanku dan baru saja selesai mengusap wajah Irwan, tangan kanannya berhenti begitu ia selesai.
Detak jantungku masih belum menurun, semua yang baru saja terjadi masih membekas dalam diriku. Efek secara mentalitas aku tetap mengalaminya hingga saat ini.
"Bukannya gue bilang jangan masuk?"
Arfa menyerongkan tubuhnya dan menanyakan hal itu kepadaku dengan wajah poker yang ia miliki, hanya saja, lebih dingin.
"Uhuk... uhukk.."
Suara batuk...
Irwan...
__ADS_1
Dia sudah sadar?
Kami menatap wajah Irwan dan sepertinya tidak terjadi apa apa. Namun, namun... Aku bisa menyadarinya kalau Irwan saat ini hanyalah tertidur biasa. Dia setidaknya sudah terlepas dari gangguan yang ia alami sebelumnya.
Arfa berjalan melewatiku tanpa berbicara padaku. Aku spontan mengikutinya dari belakang.
"Sudah selesai, Mas Arfa?"
Ekspresi terkejut Ayah dan Ibu Irwan yang bertanya-tanya kearah kami.
"Untuk saat ini"
Apa? Apa maksudnya untuk saat ini, Arfa?.
"Kamu masuk, berdoa, dan mengusap wajah anak kami, lalu keluar dan kamu bilang selesai untuk saat ini?"
Ayah dari Irwan sedikit menaikan nada bicaranya kepada Arfa. Dia hanya berkedip dan menatap balik mata lawan bicaranya.
"Saya bilang untuk saat ini, setidaknya mungkin dia akan sadar dalam waktu dekat"
"Jangan bercanda kamu ya!!!"
Nada suara yang lebih tinggi dari Ayah Irwan dan kali ini ia sudah meraih kerah seragam yang Arfa kenakan. Santainya, ia hanya berkedip dan menghela nafas.
"Mahh...."
"Paaah..."
Suara lirih Irwan dari dalam mengagetkan kami, tidak, bukan karena kerasnya suara. Namun karena itu datang dari Irwan yang membuat kami bertiga tertegun sebentar. Sedangkan kedua orang tuanya langsung berlari memasuki kamar.
Arfa tetap berdiri disana dan menyaksikan apa yang sedang terjadi. Saking senangnya kedua orang tua itu meneteskan air mata, Sang Ayah terlihat sedang memeluk anaknya yang baru saja bangkit dari tidur panjang.
Sedangkan si Ibu kembali keluar dan berlari kecil kearah Arfa, tanpa jeda ia meraih tangan kanannya dan berniat untuk mencium tangan itu sebagai bentuk penghormatan. Lebih cepatnya, Arfa menarik tangan kanan itu dan bergerak mundur satu langkah.
"Tidak perlu sampai seperti itu, Ibu"
Kedua tangan sang ibu masih mengusap air mata yang mulai mengalir.
"Irwan baru saja bangun, lebih baik Ibu berikan dia air minum"
Mengangguk, sang Ibu memutar tubuhnya hendak melakukan apa yang disarankan Arfa. Begitu ia mulai berjalan, Arfa kembali memanggil:
"Ibu, sesajinya akan saya ambil"
Ibu itu masih menahan tangis dan menganggukan kepala tanda setuju. Lalu ia bergegas kebelakang kami untuk mengambilkan air.
Setelah itu, Arfa berjalan keluar menuju ruang tamu. Aku tetap mengikutinya dari belakang.
"Yuli, bisa minta tolong ambil dan bawain plastik hitam berisi kendi dan sesaji itu?"
__ADS_1
Aku dari belakang tanpa memberikan isyarat apapun, setuju dan mengambil plastik berisi sesajen yang sebelumnya.