Arti'E

Arti'E
Sebuah Awal bag. II


__ADS_3

Dini hari, setelah Aku selesai dengan rutinitas pagi sebelum berangkat sekolah. Awan masih terlihat gelap dengan pencahayaan buatan tanpa terlihat satelit bumi ada disana, nampaknya ia bersembunyi dibalik awan awan tinggi.


Seperti biasa, Aku berangkat sekolah tanpa berpamitan dengan orang tuaku, dalam skenario langka biasanya Ayahku ada disana untuk melakukan aktifitas sebagai orang tua. Namun, mereka hari ini belum terbangun. Aku tidak perlu membangunkan mereka hanya untuk alasan berpamit ingin berangkat sekolah. Walau dalam prespektif lain, hal ini adalah sebuah tindakan yang benar. Tapi tidak menurutku.


Sebuah jalan yang sudah bertahun-tahun kulewati hanya sedikit perbedaan dari awal kali aku disini. Perbedaan terbesarnya adalah sensasi, sangat berbeda perasaanku dulu saat datang kesini dan saat ini. Ini tidak penting juga.


Aku berjalan kurang lebih lima menit sebelum bisa dapat memberhentikan kendaraan umum yang ada di jalan besar. Aku memberhentikan salah satunya dan angkutan ini segera berjalan kearah sekolahku. Tidak seperti biasanya, Aku berhenti dan turun ditengah jalan. Kemudian kembali berjalan menyusuri jalan umum masuk kedalam sebuah pemukiman.


Sebuah rumah dengan cat luar berwarna hijau yang kutuju berada disebelah kiri jalan setelah memasuki gang yang hanya muat untuk beberapa sepeda motor berlalu lalang. Beberapa ibu rumah tangga terlihat sibuk melakukan aktifitasnya menjabat sebagai 'Ibu Rumah Tangga'. Apakah semua ibu rumah tangga memang seperti ini? Kira-kira bagaimana rasanya mempunyai Ibu seperti mereka? Entahlah, sebuah pemikiran bodoh menurutku.


Jujur saja, Aku tidak memperhatikan waktu dan malah tetap berjalan kerumah Ayu. Setidaknya dia mengkonfirmasi bahwa sudah siap untuk dijemput sebelumnya.


Sebelum Aku mengetuk pintu atau membunyikan bel rumah. Ibu Ayu sudah ada diruang tamu membereskan sesuatu sembari mengurus adik adik yang masih kecil. Hoo, mulia sekali wanita ini. Bahkan ia belum menyiapkan keperluan pribadinya, namun ia memprioritaskan anak anak sebelum kegiatan mereka dan Aku yakin Ayah Ayu sudah berangkat beberapa menit yang lalu, karena motor yang Beliau gunakan tidak terlihat. Hanya perkiraanku saja sih.


Setelah bertukar salam, perkiraanku ternyata benar bahwa Ayah mereka sudah berangkat beberapa menit yang lalu sebelum Aku datang. Aku hanya akan menunggu Ayu didepan rumah, menghabiskan waktu bermain dengan pikiranku sendiri.


Tidak lama, Ayu sudah keluar dengan menggendong tas khas miliknya yang berwarna biru dengan sedikit campuran hijau. Suara gesekan gantungan yang ia kenakan disalah satu sleting tas terdengar merdu. Merdu kah? padahal harusnya biasa saja, apa karena gantungan itu merupakan gantungan yang sama seperti yang kugunakan pada kunci rumah yang selalu kubawa?

__ADS_1


Kami berpamitan, Aku segera bersiap untuk mengendarai motor. Nampaknya Ayu sedikit bermain dengan kedua adik-adiknya, dari luar aku hanya bisa melihat dan bertanya-tanya. Apakah seharusnya saudara saling berperilaku seperti itu? Tidak menyiapkan jawaban, Aku membuang pikiran tidak berguna itu jauh jauh.


Ketika Ayu mulai naik kemotor, ia meletakkan tas gendong didepan untuk membatasi jarak antara kami berdua. Aku bisa memahami alasan dari tindakan gadis dibelakangku ini. Tapi ternyata tidak, setelah ia duduk dengan nyaman di jok belakang, ia menarik tasnya kembali dan menggendong sebagaimana mestinya.


Kedua tangan gadis ini sedikit merangkul di pinggulku. Bau parfum yang tadi malam seharusnya tidak tercium, pagi ini sangat merusak konsentrasiku. Entah itu wangi parfum ataupun Shampo, sama saja. Apa gadis ini berdandan seperti ini setiap pagi hari hanya untuk bersekolah? Berfikir seperti itu, rentetan kejadian dan informasi mengenai Ayu dikepalaku diputar layaknya sebuah film layar lebar. Pada akhirnya kesimpulan muncul bahwa Gadis ini tidak setiap hari seperti ini, atau jujur Aku tidak pernah menemui dia dipagi hari dalam keadaan ia sudah berdandan.


Karena jarak antara rumah Ayu dan sekolah merupakan setengah dari perjalanan dari rumahku ke sekolah, tidak butuh waktu lama untuk segera sampai.


Kami memarkir kendaraan diluar gedung sekolah, karena peraturan sekolah dilarang parkir didalam gedung jika tidak mempunyai Surat Ijin Mengemudi, dan Aku tidak memilikinya begitu juga dengan Ayu. Namun sekolah tidak mengambil tindakan lebih lanjut dengan perkara ini, mungkin mereka memandang efektifitas dan kemudahan bagi siswa siswi mereka. Tentu sebuah peringatan akan keselamatan tidak hanya satu dua kali selalu di ingatkan oleh guru guru kami.


Sudah hampir jam enam, cahaya mulai merambat keluar dari balik balik awan dan menerangi jalan jalan yang manusia lalui.


Aku ingin membeli sebotol kopi dingin seperti biasa, tapi Ayu sedikit berlari kedepanku dan dengan cepat memesan dua kopi panas untuk diminum ditempat. Alasan kenapa Aku biasa membeli kopi dingin dalam botol adalah untuk keleluasaan meminum, Aku bisa meminumnya dimana Aku mau, tapi tidak dengan kopi panas. Aku harus meminumnya ditempat. Apa Gadis ini sengaja melakukannya?


Melihat dia bertingkah seperti itu, Aku tidak memberikan respon perlawanan. Aku hanya tetap berjalan ketempat duduk dimana Aku biasa duduk dipagi hari, beberapa petugas kantin dan siswa siswi yang biasa datang awal akan tahu Aku sering berada di bangku ini hampir setiap hari. Itu bukan sebuah masalah bagiku.


Aku sedikit penasaran kenapa Ayu masih disana dan tidak mengikutiku kesini. Apa yang dia lakukan?

__ADS_1


Hah?


Sepertinya dia yang akan membuat kopi itu sendiri. Gadis ini benar benar bertingkah aneh dari tadi malam, apa karena jatuh cinta bisa membuat watak dan sifat seseorang berubah? Atau memang karena hal yang lain yang tidak terlintas dalam pikiranku?


Aku daritadi memperhatikan gerak gerik seorang Gadis bernama Ayu, bohong jika sebagai laki-laki Aku tidak tertarik dengan wanita itu. Bagaimanapun, semakin lama aku memperhatikan, semakin tidak ingin aku melepaskan sorotan mataku darinya.


Dia menyadari pandanganku, kegelisahan terlihat dari tingkah lakunya sendiri. Tingkah itu semakin tidak teratur ketika penjaga kantin sedikit menggoda Ayu karena mereka menyadari Aku memperhatikan mereka berdua, khususnya Ayu.


Dengan menyandarkan sisi kepala pada kepalan tangan kanan dan memiringkannya. Aku tersenyum melihat seorang gadis berjalan membawa nampan dengan dua kopi panas diatasnya.


Dia tersenyum malu malu karena Aku memperhatikan gerak geriknya sedari tadi. Dia meletakkan salah satu cangkir kopi dengan tangan kanannya didepanku.


"Silahkan"


Suara lembut dan merdu darinya membangunkan kesadaran dalam lamunanku yang tidak berarti.


Sembari kami menghabiskan minuman, obrolan kecil kami berlanjut mencakup beberapa hal ringan. Penting maupun tidak penting, tapi dari raut wajah gadis didepanku ini, dia sangat menikmati obrolan kami. Bahkan sedari tadi dia hanya memainkan gelas kopi itu tanpa meminumnya. Padahal punyaku sudah hampir kuseruput habis.

__ADS_1


Satu dua siswa mulai bermunculan karena memang sudah waktunya akan ramai. Tapi, Ayu menghiraukan mereka dan tetap duduk bersamaku disini. Aku penasaran apa yang mereka pikirkan ketika melihat kami mengobrol, karena wanita didepanku ini bahkan orang yang hanya lewat akan menyadari dari raut wajah kebahagian yang selalu ia keluarkan dalam senyumannya.


Aku hanya sedikit penasaran dan berpikir seperti itu. Jawabannya? Aku tidak perlu.


__ADS_2