Arti'E

Arti'E
Sepulang Sekolah


__ADS_3

Jam pelajaran terakhir hampir selesai, Guru yang mengajar kami memanggilku untuk membantunya membawakan peralatan keruang guru. Pekerjaan yang biasa Aku lakukan, karena para guru sudah mengenalku dengan baik selama ini, dan Aku juga tidak keberatan.


Membawa dua tas yang berisi laptop dan beberapa alat pelengkap presentasi menuju ruang guru di lantai dua.


"Permisi"


Aku mengucapkan itu sembari berjalan melewati dua pintu yang terbuka. Beberapa guru yang sedang duduk dan melakukan kegiatan mereka menyapaku kembali. Sebagian dari mereka hanya didepan laptopnya dan entah melakukan apa dengannya. Sedangkan tiga guru kejuruan kami dipojok kiri belakang melambaikan tangannya kearahku, memanggil namaku.


Kebetulan meja kerja Guru yang peralatannya sedang kubawa ini searah dengan posisi mereka memanggilku. Hanya dua meja didepannya.


Yuli yang entah kenapa ada disana bersama guru kejuruan kami melambaikan tangan kearahku dengan menggerakan jari jari pada telapak tangan yang ia lambaikan.


Aku meletakan tas dan peralatan ini dengan pelan dan ingin mencoba apa yang ada dimeja ini menjadi lebih rapi karena kelihatannya sedikit berantakan. Tapi itu hanya menjadi niat tanpa bisa kulakukan. Yuli tiba tiba datang dan menarik tangan kiriku kearah mereka.


"Arfa, kamu populer banget ya di kalangan wanita"


Yang mengatakan itu adalah wali kelasku sendiri, ia menatap pada tangan Yuli yang belum melepaskan tanganku ketika kami sampai.


"Wajarlah bu, itu dia"


Guru matematika kami menyaut demikian dari arah yang berlawanan. Dia mengatakan hal itu dengan kedua tangannya memegang roti sandwich yang terlihat sudah ia gigit beberapa kali. Setelah mengatakan itu ia mengambil air minum didekatnya dan menghabiskan sisa roti dengan satu gigitan.


Rupanya wali kelasku memanggil untuk menanyakan apakah Aku ada kegiatan selepas jam sekolah ini. Dia meminta bantuanku untuk meng-input beberapa data siswa. Ini bukan pertama kalinya bagiku.


"Kami mau pergi bu abis ini, Aku udah janjian tadi sama Mas Arfa"


Aku menengok kearah Yuli yang menjawab hal itu tanpa melepaskan tanganku.


"Loh, Ibu kira kamu pacarnya Ayu dari kelas hijau kan?"


Saut salah satu guru kami yang lain, dia bahkan sampai memutar posisi dari mengetik sesuatu pada laptopnya dan menghadap kearah kami berdua.

__ADS_1


"Jangan selingkuh loh kamu"


Guru kami yang lain menimbal kalimat itu. Sedangkan Wali Kelasku hanya memutar kepala kearah dua guru lainnya yang sedari tadi membalas kalimat demi kalimat.


"Hahaha"


Pak Ahyar didepan tertawa melihat kami.


"Mereka cuma mau menjenguk Irwan kok ibu-ibu, gausah khawatir", imbuhnya.


Obrolan kami masih berlanjut, yang hanya berisi Aku menjawab beberapa pertanyaan pertanyaan menyeleweng mereka saja. Setelah itu kami berdua keluar dari ruang guru bersamaan.


Kami berdua berjalan dengan beberapa obrolan ringan tentang ulangan tadi pagi. Rupanya dari dua kelas kami, hanya Aku yang mendaparkan nilai sempurna seratus. Tidak ada siswa lain yang menjawab soal yang belum diajarkan itu. Yah, sebenarnya Aku juga tidak menjawabnya dengan benar sempurna, hanya karena Guru itu tahu Aku menjawab setengah benar, ia memberikan bonus 5 poin pada nilaiku menjadi 100.


Aku yakin murid yang lain kesulitan pada bagian essai yang mengharuskan siswa untuk mengingat kembali apa yang sudah diajarkan guru yang tidak ada dibuku atau materi yang sebelumnya diberikan. Aku hanya beruntung bisa mengingat hal-hal itu dan merangkainya dalam sebuah kalimat sebagai jawaban. Hanya seperti itu.


Menuruni beberapa anak tangga, kami akhirnya sampai dilantai satu dan melanjutkan perjalanan kami untuk mengambil perlengkapan dikelas. Karena kelas pertama yang akan kami lalui dari sini adalah ruang keasku dahulu beberapa teman-teman lain menyapa kami sembari berjalan. Lebih tepatnya karena itu Aku dan Yuli yang membuat mereka mungkin sedikit penasaran.


Aku tahu sekali dia cemburu, tapi itu tidak mengganggu prioritasku saat ini. Setelah Yuli menceritakan apa yang ia alami ketika menjenguk Irwan, Aku yakin sedang ada yang mengganggu dia dan itu bukan manusia. Apakah mahluk yang sama yang sudah kuusir saat dia kerasukan tempo lalu? Aku tidak tahu.


Padahal ada skenario dikepalaku kalau Ayu akan memaksa ikut bersama kami. Aku tidak mengajaknya bukan berarti dia tidak boleh ikut. Juga, sepertinya Ayu mendengar Yuli mengajaku jalan dari teman sekelasku, walau itu hanya salah paham. Jalan disini adalah untuk menjenguk Irwan, tidak lain. 'Aku sudah menjelaskannya padamu, Ayu' pikirku.


Yah hal ini mempermudah banyak hal dalam kepalaku. Kami berdua berpisah dan berjanji untuk bertemu didepan gerbang setelah kegiatan kami selesai.


Aku lupa untuk mengkonfirmasi kepada Angga atau Anggi apakah mereka bisa membelikan 'group kami' keperluan untuk tugas kesenian. Kami melewati ruang kelas mereka tadi, jadi Aku akan kembali.


Mereka berdua sedang duduk dan mengobrol dengan beberapa teman mereka didepan panggung bendera. Karena ruang kelas mereka tepat dibelakang posisi tiang bendera upacara berada, dan sebuah panggung mini dibuat disana untuk instruktur upacara atau acara acara lain.


Mereka menyapaku dan memberitahu kalau Ayu mencariku sebelumnya, Aku mengatakan sudah bertemu dengannya barusan. Tidak perlu menceritakan sikapnya yang sedang tidak baik itu kepada mereka. Kemudian mereka juga melihat Ayu berjalan keluar dengan wajah termenung dari seberang lapangan. Tentu saja hal pertama yang mereka tanyakan adalah 'Apa yang sudah Aku lakukan terhadap Ayu'. Aku tidak menjawab apa-apa dan bertanya keperluanku. Mereka meng-iyakan apa yang Aku katakan dan akan membeli peralatannya sepulang sekolah ini.


Aku kembali keruang kelasku dengan sedikit menarik nafas memikirkan apa yang harus Aku lakukan kepada Ayu, tapi prioritas tetaplah prioritas. Aku akan menjenguk Irwan terlebih dahulu, Ayu biarkan dia duduk dipojokan kepalaku untuk saat ini.

__ADS_1


15.25


Kegiatanku selesai untuk sore ini, langsung saja Aku berjalan menuju gerbang sekolah.


Melihat layar hape ditangan kananku, Ayu tidak mengirimkan pesan apapun, dia bahkan hanya membaca pesanku tanpa membalasnya. Tapi menumbangkan hati seorang gadis seperti Ayu, Aku sudah memikirkan beberapa rencana. Aku ragu kalau salah satu dari rencana dikepalaku ini akan gagal. Tapi itu untuk nanti, jika diperlukan.


Menaruh hape tadi didalam saku celana, dan berjalan menuju Pos Saptam, tentu ada Bapak Saptam seperti biasanya dan beberapa siswa laki-laki disana. Mereka adalah laki-laki dari jurusan merah, satu angkatan denganku, mereka terlihat seperti, Berandalan mungkin? Siswa yang bandel mungkin. Hubunganku dengan mereka tidak terlalu dekat semenjak kejadian di satu tahun yang lalu ketika kami masih duduk dikelas dua.


Aku melihat sekeliling, memastikan apakah Yuli sudah ada atau belum. Tidak lama, dia terlihat berhenti didepan gerbang mengendarai motor maticnya. Dia terlihat sedang memandang kelayar hape ditangannya, kemudian seperti tahu kalau Aku mengamatinya dari sini, ia menengok kearahku dan melambaikan tangan seperti saat ia berada diruang guru tadi.


Aku menghampirinya dan ia mempersilahkan Aku untuk mengendarai motor. Tentu Aku terima, perasaanku agak bagaimana jika dilihat dibonceng oleh seorang gadis. Aku merasa gerombolan laki-laki dibelakangku memperhatikan kami, tapi abaikan saja mereka.


"Lu udh tau alamatnya kan?"


"Udah kok, kan gw udh pernah kesana"


Ketika semua dirasa sudah siap, Aku dengan pelan menarik gas pada tangan kananku dan kami mulai berjalan. Karena jalanan disini lurus hingga jalan raya didepan, maka Aku sengaja mempercepat laju kendaraan kami.


Tanpa kusadari ada polisi tidur didepan kami, dengan sedikit terlambat Aku menekan rem pada kedua tanganku dengan memperhitungkan berapa gaya yang harus diberikan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Tentu saja karena semua itu terjadi dalam hitungan beberapa mili detik, guncangan pada motor tidak dapat dihindari.


"Aw, hati-hati mas"


Yuli menggerutu dibelakang karena kaget dan Aku merasakan sebuah sensasi lembut pada punggung belakangku.


"Sengaja yaaa?"


Yuli kembali menggodaku dengan kalimat itu dan sedikit tertawa.


Jujur itu bukan tujuanku, Aku bahkan tidak berfikir sampai situ. Tapi, jika memang seperti ini kurasa Aku akan dengan sengaja melakukannya lagi beberapa kali dilain kesempatan.


'Hei!!' pikirku untuk menghentikan pemikiran yang sia-sia ini.

__ADS_1


__ADS_2