Arti'E

Arti'E
Perpustakaan


__ADS_3

Keadaan mulai ramai walau masih ada waktu sebelum jam masuk sekolah dimulai. Beberapa teman melewati kami dan hanya tersenyum melihat kami berdua, beberapa diantaranya hanya meledek ringan. Aku yakin Ayu tidak menyadari hal itu, dia hanya fokus melakukan obrolan denganku dan sama sekali tidak menghiraukan sekitar.


Bahkan saat seorang gadis lain datang dari belakang dengan kedua tangan memegang gagang tas pada punggungnya. Ia berjalan santai dengan tersenyum penasaran, ia mendekati kami dan duduk disebelah kiri Ayu. Bahkan dengan ini, Ayu masih melanjutkan obrolan kecil dan hanya berfokus kepadaku.


Aku memperhatikan Yuli, teman semasa SMP-ku dan kami satu angkatan berbeda kelas di SMK ini. Sepertinya semenjak kejadian Irwan dikelas satu dulu, dia semakin saja penasaran denganku. Pandanganku sesekali teralihkan dari Ayu menuju Yuli, ya ampun dua wanita didepanku tersenyum dengan maksud yang berbeda-beda. Bagaimana pandangan teman-teman jika melihatku dalam keadaan ini ya?


Ayu yang memperhatikan gerakan mataku mulai teralihkan, itu juga karena Yuli mencoba mengambil gelas kopi didepannya yang hanya dia mainkan sedari tadi, padahal gelas kopiku sudah hampir habis.


"Eeehh-"


Ayu terkejut melihat sahabat dekatnya berada disamping dan menyeruput kopi yang ia buat.


"Kok enak"


"Itu Ayu sendiri yang buat"


'Manis seperti orangnya' kalimat ini ingin aku tambahkan sebagai jawaban ungkapan Yuli, tapi aku tahan.


"Pantes manis, kaya orangnya"


Rupanya kalimat yang coba kutahan diungkapkan juga oleh Yuli. Itu kalimat yang aman ketika dia yang mengucapkan, tapi bisa jadi salah paham jika keluar dari mulutku sendiri.


"Ya ampun, kalian udah kaya suami istri aja. Pagi-pagi udah asyik sendiri. Sadar gak kalo pada ngeliatin dari tadi?"


Jika itu pertanyaan diajukan kepadaku maka aku menyadarinya, Aku bahkan lebih berfokus pada keadaan sekitar tanpa menghiraukan apa yang Ayu sedari tadi ucapkan. Tapi nampaknya Yuli bertanya itu dengan menghadap kepada Ayu, jadi aku hanya akan diam.


"Eeeh? Udah siang ya. Kok Arfa gak ingetin sih"


"Ayuaja yang keasikan bicara"


Aku menjawab ringan sembari menyodorkan gelas kosong kepada Ayu. Ia meraihnya dan meletakkan diatas nampan yang masih ia pangku.


Sementara itu Yuli masih sedikit demi sedikit menyeruput kopi yang sudah lebih dingin dari sebelumnya. Dengan nada menggoda ia mengarahkan gelas itu kearahku, seakan menyuruhku meminum dari gelas yang sama yang dia gunakan. Ayu terlihat sedikit kesal dan meraih gelas itu dari tangan Yuli. Sedangkan ia hanya terbawa sedikit keras melihat reaksi Ayu yang demikian.


Tempat beralih, kami bertiga berbeda kelas. Ayu berada di Jurusan Hijau, Aku dan Yuli di Jurusan Kuning, walau begitu kelas kami berbeda. Saat memasuki kelas, tentu aku sudah memperkirakan bagaimana reaksi teman-temanku. Mereka menggodaku karena walau masih pagi tapi aku menghabiskannya dengan dua gadis yang bisa dibilang populer di sekolah kami.

__ADS_1


Hampir tengah hari, istirahat kedua sudah tiba. Dua jam terakhir sampai selesai hari hanya akan diisi dengan kekosongan. Salah satu guru kejuruanku sudah memberitahu kalau ia tidak dapat mengajar dan kami disuruh belajar mandiri.


Pada istirahat pertama aku diberitahu Yuli kalau siswa kelas satu, Irwan masih belum masuk. Ia pernah menjenguknya kemarin dan keadaannya masih belum terlihat akan membaik. Informasi yang apakah akan berguna bagiku atau tidak? Secara kebetulan juga, siswa nomor satu disekolah dari Kelas Jurusan Merah tidak masuk karena alasan sakit. Sepertinya itu sudah dua hari yang lalu, hari yang sama ketika Irwan juga tidak masuk karena sakit.


Jam masuk berdering, dua jam terakhir kehidupan sekolah untuk hari ini. Kami sebagai kelas tiga menempati kelas-kelas pada lantai satu, untuk jurusan kami setidaknya sekarang akan senggang atau kosong. Beberapa temanku menetep dikelas dengan aktifitas mereka masing masing, entah itu mengerjakan tugas, menonton film, ngerumpi, atau bahkan tidur. Walau biasanya aku masuk kedalam kategori siswa yang memilih tidur dikelas ketika jam kosong.


Kali ini aku memutuskan untuk menghabiskan waktu didalam Perpustakaan, disana suasananya nyaman, sejuk dan tentu saja tidak ramai. Perpustakaan berada dilantai tiga, aku menaiki tangga sendirian dengan satu dua siswa yang berpapasan denganku. Walau seorang guru berpapasan denganku, selama ia tidak bertanya "Kamu kemana?" Mereka mungkin hanya akan berfikir aku sedang dipanggil guru, seperti biasanya.


Ruang guru berada dilantai dua, namun dengan posisi tangga yang merupakan sebuah ruang pada bangunan ini membuatku tidak harus melewati ruang guru.


Dilantai tiga, aku berbelok kekiri melewati dua ruangan kelas satu yang menjadi kelas Irwan. Sepertinya mereka sedang ada jam pelajaran yang diisi, kondisi kelas mereka sangat kondusif mendengarkan guru berbicara didepan.


Memasuki Perpustakaan, menuju meja pendaftaran. Aku sedikit melihat siapa yang datang hari ini pada buku registrasi, beberapa diantaranya aku kenal, sisanya aku hanya tahu nama dan mungkin tidak pernah berinteraksi.


Setelah menulis nama dan kelas, aku segera mencari spot bacaan yang biasanya. Itu berada ditengah ruangan dengan beberapa bangku tersedia beserta meja yang masih kosong. Aku mengambil sebuah buku berwarna merah dan mulai membacanya.


10 menit


15 menit berlalu


Tidak lama, seseorang menepuk pundakku sembari memanggil.


"Mas ya, di chat kok gak dibales-bales"


Ternyata Yuli, tidak heran dia juga bebas di jam ini karena kami satu jurusan.


"Kenapa?"


Masih dalam posisi membaca dengan sedikit mengalihkan pandangan kearah Yuli, ia kemudian duduk disebelah dan mengambil hp milikku. Ia mencoba membukanya namun aku tetap diam, tentu saja karena password hp ku tidak ada yang tahu, yah mungkin ada satu orang.


Dia menyodorkan layar hape kewajahku seperti isyarat dia ingin aku membukanya. Aku menolak.


"Cuma liat doang mas, yaelah. Ga, aku gak baca chatan mas sama Ayu"


Sepertinya itu memang tujuan awal gadis ini, dia ingin menjahiliku dengan membaca history chat kami. Yah, aku rasa itu adalah sebuah history yang tidak perlu dibuka oleh siapapun selain kami berdua. Aku juga menyuruh Ayu segera menghapus riwayat chat kami bila menurutku itu sedikit memiliki risiko. Walau sepertinya gadis itu tidak mendengarkanku.

__ADS_1


"Tetep aja itu privasi mba Yuli"


"Sebegitu gk maunya kah kamu? Padahal kita temen loh. Ya kan?"


Dia malah bertanya padaku untuk memastikan hubungan pertemanan kami hanya sepihak atau tidak. Aku mengambil hp milikku dan menempelkan sidik jari pada tempatnya, membuat layar hp menyala.


Yuli dengan sigap meraih dengan paksa dan memainkan hp milikku. Aku mencoba melanjutkan bacaan didepanku. Namun dia masih saja meminta sesuatu


"Dikuuunnciiii..."


Ya tentu saja, aplikasi chatting yang kugunakan memang kukunci. Kembali kuraih hp itu dan membukanya dengan satu tangan, sebuah gerakan jari yang cepat sehingga Yuli tidak dapat menebak apa dan apa yang aku ketik, bahkan jika bisa aku menggunakan kombinasi tombol hapus untuk menyamarkan gerakan jari dengan tombol.


Yuli terlihat cemberut. Aku meletakkan hp di meja dan dia mengambilnya.


"Di private doonngg.. iiih-"


Untuk kasus ini, aku tidak akan membukanya. Karena memang itu tidak diperlukan. Yuli asyik dengan hp itu cukup lama, aku hanya membaca buku yang sedari tadi terganggu untuk dilanjutkan.


"Arfa...-"


Sebuah suara lembut dan pelan memanggilku dari depan, aku sangat mengenal suara ini bahkan dari kejauhan. Ayu, kenapa dia datang kesini di jam pelajaran.


"Kalian ngapain?"


Ayu bertanya kearahku dan Yuli dengan berjalan sedikit tergesa gesa kearah kami.


"Duduk..?!"


Yuli menjawab sedikit gugup karena kaget dengan kehadiran Ayu yang tiba-tiba.


Pandangan kedua gadis ini bertemu dan tiba tiba suasana jadi semakin dingin.


"Aku lagi baca buku"


"Aku..??!"

__ADS_1


Ayu nampaknya mempertanyakan kalimat dimana Aku menggunakan bahasa 'Aku' dan 'Kamu' kepada Ayu, biasanya aku hanya menggunakan nama sendiri sebagai kata ganti 'Aku'. Sama seperti Ayu, hanya saja aku kelepasan.


__ADS_2