Arti'E

Arti'E
Korban dari Ilmu Hitam


__ADS_3

Sekarang Aku dapat bergerak jika memasuki mode Indigo, dan selama memasuki mode Indigo itu kemampuan fisik dan indera kami meningkat drastis, seakan akan itu bukanlah tubuh kami, namun kami masih tetap leluasa bergerak dengan sempurna.


Jika menggunakan kekuatan fisik dalam mode itu bisa melampaui batasan fisik manusia yang dimiliki, setelah kembali normal barulah akan menerima efek kejut pada tubuh. Jika kaki terkilir saat dalam mode Indigo Aku tidak merasakan sakit. Namun setelah kembali pada tubuh manusiaku, rasa sakitnya akan langsung terasa.


Saat itu, beberapa waktu setelah obrolan kami. Berita tentang aalah satu kuburan ditemukan terbongkar, didalamnya terdapat mayat dan bagian tubuh burung gagak tanpa kepala dengan darah yang membekas pada leher si mayit.


Entah kenapa hari ini Irwan tidak masuk sekolah, karena penasaran Aku menelpon dia, tidak ada jawaban. Sebaiknya Aku bertanya kepada Arfa dan Ayu yang satu eskul dengan dia, semoga mereka tau tentang keadaan Irwan karena kelas Irwan hanya memberikan absen Alfa pada dirinya.


" Yu, ada waktu bentar ga?"


Ayu yang sedang berjalan menuju ruang eskul terhenti karena ucapanku.


"Ada apa?"


"Lu tau kabar Irwan gak, dia kenapa?"


"Engga tau Yul, ini juga gw baru mau ke eskul. Emang dia kenapa?"


"Hari ini dia gak masuk lagi, gak ada kabar. Gw telpon, gak diangkat"


"Mungkin juga sakit lagi kan kaya kemaren kemaren"


"Iya sih ya, mungkin aja. Mau jenguk dia gak Yu nanti malem?"


"Lah ngapain main malem malem? Maaf ya Yuli, gw gabisa. Ada urusan keluarga nanti malem"


"Kan bukan maen, njenguk Yu. Oh, yaudah gak apa. Kalau si Arfa mau gak ya nemenin gw?"


"Engga!"


Ayu tiba-tiba menjawab dengan nada tegas, setelahnya ia hanya tersenyum sedikit mengenai jawaban dia sendiri.


Yah, mau bagaimana lagi. Mungkin Arfa juga sibuk. Aku berpamitan dan melanjutkan aktifikas kami pada masing masing di eskul.


Sorenya, ketika hendak pulang Aku bertemu Arfa didekat gerbang, ia berjalan mengenakan earphone dan meminum kopi siap saji.


"Nunggu jemputan Mba?"


Dia melihatku yang berjalan pelan dan menegur dengan sapaan yang kami gunakan saat mengobrol dikantin waktu itu.


"Engga kok mas, Saya mah bawa kendaraan sendiri jadi langsung pulang aja. Apa mas mau ikut sama Saya?"


"Tidak, terima kasih banyak"


Dia menjawab dengan sopan dan senyuman kecil terlihat dibibir Arfa.


"Mas tau gak soal Irwan hari ini?"


"Yah, gatau. Gw bukan anak kelasnya dia, dan kami juga gak terlalu dekat. Bahkan di eskul dia aktif hanya sama beberapa orang, gw gak termasuk kayaknya"


"Ngomong-ngomong, kalau lu ngajak gw njenguk dia malem ini, gw juga gak bisa. Maaf ya"


Wah, belum mau Aku mengajukan pertanyaan, ia sudah menjawab dengan sebuah penolakan.


"Lu tau dari Ayu kalau gw mau njenguk Irwan dan niat ngajak elu?"


"Engga sih"


"Loh, terus darimana?"


Aku sedikit heran, karena jika bukan dari Ayu, lantas dari siapa dia mendapat informasi seperti ini?


"Tadi Ayu cuma nanya apa gw tau keadaan Irwan bagaimana, itu doang. Yah gw jawab engga, karena emang gw gak tau"


"Terus kok lu bisa tau kalau gw mau njenguk dia?"

__ADS_1


"Bukannya kalian berdua belakangan ini keliatan sering berduaan? Atau cuma firasat gue doang. Menurut gw, elu sebagai teman dekatnya tentu akan khawatir sama dia yang tiba-tiba gak masuk tanpa kabar. Karena lu berniat mengunjungi rumah seorang laki-laki, lu mungkin merasa butuh teman. Akhirnya Ayu, sahabatmu lu ajak. Gw rasa Ayu juga akan nolak, yaaah salah satu alasannya karena dia memang malam ini ada acara keluarga. Dan entah kenapa lu tiba-tiba terfikir nama gw dan mungkin akan mencoba ngajak gue. Begitu? Mungkin"


Mungkin? Apa dia bermain dengan otaknya semata untuk hal sepele seperti ini? Namun mengejutkan kalau ternyata perkiraan Arfa benar. Memang bukan omong kosong kenapa dulu dia juara sekolah saat kami SMP. Aku ingin tau kenapa dia tidak menjadi juara lagi saat ini.


Aku biarkan hal itu berada dikepalaku. Kami berpamitan masing-masing. Setelah jam 6 lewat Aku meminta izin keluar menjenguk teman yang sakit. Ayah mengizinkannya tanpa bertanya lebih lanjut. Beruntung buatku tanpa harus menjelaskan.


Aku sebenarnya tidak tahu dimana rumah Irwan, tapi disampingku Risa membantu mengarahkan harus kemana laju motorku ini. Sampailah pada sebuah tempat yang Risa tunjuk.


Tempatnya agak rindang karena beberapa pohon dan kebun disini. Aku melihat ada sebuah tempat untuk menaruh motor, Aku mengetahuinya karena disana sudah terparkir beberapa sepeda motor berjejer.


Aku mulai berjalan kaki dengan tetap Risa menuntun jalannya kepadaku. Melewati sebuah tempat seperti pintu masuk gang besar, terpampang jelas informasi nomor RT/RW seperti itu diatas.


Kurang lebih Aku berjalan dua menit dari tempat itu sembari memandangi sekeliling. Sudah agak sepi hanya ada beberapa anak laki laki yang sedang bermain kelereng, dan beberapa anak perempuan disana sedang bermain lompat tali sambil tertawa. Hanya suara tawa mereka yang terdengar, Aku tidak bisa melihat muka mereka walau Aku sudah mencobanya.


Setelahnya.. Secepat Aku berkedip, Oih.. Sekarang Aku sadar mereka bukan manusia.


"Ngiiing......"


Kupingku berdengung kencang, ini tanda bahwa Aku akan memasuki dunia lain. Saat Aku menutup kedua telinga dengan tangan, sedikit menundukan kepala, dalam hitungan detik, dengung itu menghilang.


Berganti dengan perasaan tidak menyenangkan muncul. Telinga untuk mendengar, mata melihat, kulit merasakan sensasi, hidung mencium aroma. Semua ini bukanlah berada pada tingkatan manusia.


Keadaan sekitar yang tadinya hanya sedikit gelap dengan penerangan lampu yang masih jelas terlihat berubah menjadi kabut dan nuansa abu abu pada langit yang seharusnya masih sedikit biru kini hilang berganti merah.


Banyak sosok bermunculan, sepertinya mereka penasaran dengan pendatang ini, yaitu Aku. Mereka hanya berdiam tanpa bergerak, ketika ada satu diantara mereka bergerak mendekat, ia kembali terhenti karena menyadari Risa ada bersamaku.


Aku memang mengatakan kalau sudah mulai terbiasa, namun rasa takut adalah manusiawi dan siapapun bisa merasakannya.


Perlahan, kaki kanan bergerak maju diiringi kaki berikutnya. Aku berjalan melewati sosok sosok itu, kemudian melihat sosok baru lainnya di depan.


Jalan yang lebar dengan penerangan minim, suasana penuh dengan warna merah dan abu abu diawan. Sebuah lampu taman berdiri pada salah satu sisi jalan. Anehnya, hanya ada satu lampu disana, untuk jalan yang lebar seperti ini, itu adalah hal yang aneh.


Kakiku berhenti melangkah ketika mendekati sebuah rumah, dalam dunia yang Aku lihat ini, itu adalah rumah tua yang usang, kupikir itu memiliki dua lantai. Tidak ada gerbang atau pembatas didepan rumah.


Kembali sedikit berjalan, pintu rumah yang tertutup terbuka dengan sendirinya secara perlahan. Aku berjalan, menghadap tepat kedalam sana, "Itu kotor sekali", pikirku.


Dinding disebelah kanan terdapat noda hitam yang menempel, apa itu? Lumpur? Lumut? Atau jamur?


Kembali melangkah, sesaat setelah salah satu kaki melewati garis pintu. Indera penciumanku yang sudah meningkat dalam mode Indigo ini mencium bau yang sangat tidak akan pernah disukai seorang manusia. Aku yakin jika Aku mencium bau ini di dunia manusia, baunya akan menusuk kedua lubang hidung dan merambat sampai ke otak, lalu Aku akan terjatuh dengan kedua lututku ditanah karena tak kuasa menahan bau itu.


Selama pandanganku mengarah mengitari keadaan dalam rumah ini. Aku terus melangkah entah kemana, kaki bergerak tanpa perlu menerima perintah dariku. Melewati lorong rumah itu, sebuah ruangan terlihat.


Jendela berbentuk persegi, cahaya seakan mencoba masuk dari luar sana, itu bukan cahaya berwarna putih melainkan sedikit merah. Lantai menunjukan bercak bercak cahaya yang sedari tadi mendobrak jendela.


Tepat di pinggir dinding, meja dari besi yang terlihat usang dan kotor, beralaskan kain kasar. Seseorang terbaring diatas meja itu, kepala, kaki dan tangannya terbungkus dalam beberapa lilitan kain berwarna putih, ikatan tali terbentuk pada ujung kaki, mata kaki, leher dan tempat lainnya. Sebuah bentuk yang sangat Aku kenal.


Pocong.


Sosok lain muncul dan mendekati orang yang sedang terbaring, dari mataku sosok itu terlihat seperti wanita yang sudah matang umurnya. Aku berfikiran seperti ini karena melihat proporsi tubuh sosok itu. Seperti sosok menyeramkan lainnya, mukanya tidak terlihat, karena memang dia tidak mengarahkan bagian mukanya kepadaku, Aku hanya melihat bagian punggung sosok itu.


Wanita itu berpakaian adat jawa, memakai kain warna putih yang gelap karena kotor, serta kain jarit untuk bagian bawah yang ia kenakan. Ia menggenggam seekor burung ditangan kirinya, tepat dileher, Aku bisa melihat burung itu bergerak. Sepertinya ia mencoba melawan genggaman sosok tersebut namun tidak berdaya, ia hanya mampu bergerak ringan.


Di tangan kanannya, ia memegang sebuah pisau. Tidak terlalu jelas, seperti pisau pramuka, ukurannya hampir sama. Itu adalah sebuah pisau kecil, namun berbentuk aneh, tidak seperti pisau biasanya.


Sosok itu menggenggam penuh burung itu tepat diatas wajah seseorang yang terbaring disana. Ia mulai mengarahkan pisau dengan tangan kanannya memotong leher si burung, perlahan burung itu semakin bergerak dahsyat setelah pisau mulai menggores lehernya. Kulihat burung itu terus bergerak dengan keras, namun pada akhirnya ia terjatuh. Semua anggota badan burung itu jatuh kecuali bagian kepala yang masih dalam genggaman sosok wanita itu.


Mendekat, dengan jelas Aku dapat melihat bahwa wajah seseorang yang terbaring disana itu penuh dengan darah burunf, darah itu mengalir kelantai, dan masih mengalir.


Jatuhnya anggota badan sang burung, menggerakan kepala seseorang yang terbungkus kain itu, entah ia menyadari kehadiranku atau tidak, kepalanya bergerak untuk melihat kearahku.


Shock.... dan seluruh tubuhku bergetar ketika melihat wajah itu. Matanya terbuka, darah burung mengalir masuk pada satu matanya yang terbuka, wajahnya lebam biru, mulutnya menganga dan darah gagak mengalir masuk dan keluar dari mulut itu atau mungkin itu adalah darahnya sendiri.


" Toloo...ngg "


...

__ADS_1


Aku bergetar lebih keras ketika melihat bibir itu mulai bergerak dan mengeluarkan rintihan kecil samar.


Irwan!


Dia disana...


Dia yang terbaring disana...


Kenapa ia dibungkus kain itu?...


" To....llloonn...gg "


...


Bibirnya bergerak lagi, Aku tahu apa yang coba ia katakan, ia masih meminta pertolongan.


"Too... "


Untuk ketiga kalinya ia ingin meminta pertolongan, namun mulutnya terhenti. Sosok wanita itu mulai mengangkat tangan kanannya, mengarahkan pisau yang ia gunakan untuk memotong leher burung sebelumnya sekarang tepat berada dileher Irwan. Semakin dekat pisau itu kelehernya, sudah terlihat jelas sosok tersebut ingin menggoreskan atau bahkan menyembelih leher Irwan.


Saat pisau itu menempel pada leher Irwan, leher yang sudah basah dengan darah burung sebelumnya kini mulai mengeluarkan darah segar yang baru. Sosok tersebut mulai menggerakkan tangannya keatas dan kebawah persis seperti seseorang menyembelih hewan.


Aku menangis, mengeluarkan air mata. Tubuhku sama sekali tidak dapat digerakkan. Aku ingin meminta tolong namun bibirku tak dapat bergerak kecuali karena bergetar bersama tubuhku.


"Irwan... Irwan... nak.."


Suara lantang dan tersedu sedu seseorang menyadarkanku. Aku berdiri tepat didepan sebuah ruangan, satu tempat tidur dan beberapa orang didalamnya. Mereka semua menangis memperhatikan seseorang yang kejang-kejang diatas tempat tidurnya.


Itu adalah Irwan, hanya saja sekarang Aku melihatnya dalam dunia manusia. Sepertinya ketika jiwa dan kesadaranku berada di dunia ghaib, Risa menggerakkan tubuhku masuk kedalam rumah Irwan. Aku yang masih mengeluarkan air mata dan tubuhku bergetar keras menyaksikan apa yang sedang terjadi kepada Irwan.


" Ayo Pak, masuk sini pak. Ayo, itu anak Saya kenapa? "


Seorang wanita berlari diikuti laki laki berpakaian gamis dan kopiah berlari dibelakang. Wanita itu juga menangis dan bertanya soal anak laki lakinya. Dia adalah Ibu Irwan.


Kalimat pertama keluar dari laki laki bergamis itu yang berlari dengan kaget. Ia mulai menarik sedikit sarung yang ia kenakan, lalu duduk pada kedua lututnya. Ia mulai memegang tubuh Irwan. Orang itu mulai membacakan sesuatu sembari tangan kanannya memegang kepala Irwan.


Irwan semakin meronta ronta, ia mulai mengeluarkan suara tidak jelas. Semakin keras bacaan laki laki bergamis itu, semakin keras pula rontaan Irwan sampai sampai tempat tidur itu bergoyang dan berdecit.


"Bapak bapak, tolong bantu saya pegangin badan anak ini"


" Ba.. Baik pak "


Orang bergamis itu mengatakan demikian, dan tiga pria dewasa bergerak mendekat untuk memegang tubuh Irwan.


Orang itu kembali membacakan sesuatu, Irwan masih meronta dengan keras. Jelas terlihat ketiga pria dewasa itu kewalahan.


Salah satu pria yang memegangi Irwan terpental jatuh, kini kedua tangan Irwan terbebas. Irwan mulai bangkit dari tempat tidurnya. Dengan keras ia mengangkat tangan dan memukul pria bergamis didekatnya.


DUUUGG..!!!


Suara keras hantaman tangan Irwan mengenai kepala pria ity, kopiah yang ia kenakan kini terjatuh. Ia sedikit terdorong mundur karena gerakan itu dan terjatuh dari tempat ia duduk sebelumnya.


Tanpa mengambil perhatian kepada kopiahnya yang terjatuh, ia bangkit dan kembali mendekati Irwan.


Pria yang terjatuh sebelumnya ikut berdiri dan mendekat. Kini kedua tangan Irwan kembali terangkat, ia tidak mengarahkan kepada siapapun yang mendekat. Kemudian kedua tangan itu menggenggam erat lehernya sendiri, dengan suara serak, ia mengangkat wajahnya keatas, mata dan mulutnya menganga. Perlahan air liur mengalir dari mulut Irwan, lendir itu bahkan sampai berbusa.


Pria bergamis berteriak dan maju dengan cepat menahan cengkraman Irwan terhadap dirinya sendiri, setelah itu pria dewasa yang lain ikut membantu.


Kembali bacaan demi bacaan keluar dari laki laki bergamis, karena terjatuh tadi salah satu sandal yang ia kenakan terlepas dari kakinya. Karena sarung yang ia kenakan hanya sampao diatas mata kaki, terlihat kedua kaki itu memasang kuda-kuda sebagai pijakan dengan salah satu kaki yang tanpa alas.


Kedua tangan Irwan kini mulai dapat dijauhkan, butuh dua orang pria dewasa untuk menggerakkan genggaman itu. Salah satu pria yang memegang bagian bawah tubuh Irwan mulai bergeser dan membantu menahan tubuh bagian lain.


Tangan pria bergamis itu kini memegang leher Irwan sembari membacakan sesuatu, mulut Irwan masih mengeluarkan air liur dan busa dengan mata merah yang mengarah keatas. Pria itu terlihat seperti sedang kesulitan menarik sesuatu dari tubuh Irwan.


Pria bergamis itu berteriak, seakan akan tubuhnya sedang menggeser sesuatu agar terlepas dari tubuh Irwan, kuda-kuda yang ia pasang sebelumnya membantunya tidak mudah terpental atau terjatuh. Dia lalu menarik kuat kuat sesuatu dari tubuh Irwan sembari berteriak.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Irwan jatuh pingsan. Kami bersyukur dia masih bernafas, walau tidak ada tanda-tanda dia akan bangun dari tidurnya ini.


__ADS_2