
Setelah beberapa hari di rumah sakit akhirnya Naya di izinkan untuk pulang. Naya dan Dhika pun saling pandang kemudian tersenyum..
"Nay kamu hari ini boleh pulang? Oh iya kamu mau di siapkan apa biar aku kasih tahu orang rumah untuk menyiapkan nya."
Dhika menatap kearah Naya sembari bertanya.
Naya hanya tersenyum dan kemudian menggeleng..
"Gak usah Mas, aku gak mau apa apa, aku cuma mau untuk pulang dan itu sudah lebih dari cukup.."
Naya tak pernah banyak protes lagi..
Setelah Dhika menyelesaikan administrasi Dhika dan Naya langsung pulanh ke rumah mereka..
Sesampainya di rumah mereka Dhika langsung mengantar Naya kedalam kamarnya..
"Mas aku mau ke kamarku?"
Dhika menatap kearah Naya..
"Sekarang kamu tidur di kamar ini kamar kita."
ucap Dhika sembari tersenyum.
Dhika pun meletakan barang barang Naya kemudian membimbingnya ke temat tidur..
__ADS_1
"Kamu istirahat lah aku mau keluar sebentar ada urusan. Kalau kamu perlu apa apa kamu hubungi aku ya gak lama kok sore juga sudah pulang lagi."
Dhika berpamitan sembari mencium kening Naya...
Setelah Dhika pergi kesedihan kembali meyelimuti hati Naya karena sikap Dhika berubah seratus delapan puluh persen setelah Dhika tahu Naya sedang mengandung buah hatinya..
"Sayang kamu harus kuat dan cepat mengembang ya di rahim Bunda, nanti kalau saatnya Bunda pergi ada kamu yang temani Ayah."
Airmata Naya mengalir seperti anak sungai hatinya merasakan resah yang tak bisa dia jelaskan namun Naya gak mau egois mungkin Allah hanya ingin melihat Naya bahagia di akhir hidupnya..
"Aku gak boleh cengeng aku gak boleh sedih aku nikmati saja kebahagiaan ini setidaknya jika aku pergi Mas Dhika tidak akan merasakan kesedihan.."..
Setelah itu Naya memutuskan untuk sholat dan kembali kedalam kamarnya. Naya lebih merasakan nyaman berada di kamarnya sendiri daripada berada di kamar Dhika suaminya..
Sementara itu Andre yang telah mengantungi hasil tes Naya yang menunjukan bahwa Naya terkena kanker pun langsung menitikan airmata..
Andre yang sangat mencintai Naya dengan sangat tulus pun langsung ambruk ketika menerima hasil tes Nayaa..
Andre memutuskan untuk mengunjungi Naya dan juga Andre ingin meminta penjelasan dari Naya..
Andre memencet bel dan tak lama kemudian seorang Art membukakan pintu...
"Maaf cari siapa?" tanya seorang Art yang memang belum mengenal Andre..
"Maaf apakah Bu Naya ada? Saya temannya." ucap Andre sembari tersenyum..
__ADS_1
Tak lama kemudian Andre di suruh masuk dan setelah itu Naya juga keluar dari dalam kamarnya..
"Mas Andre ada perlu apa kesini? Mas nanti Mas Dhika pulang dia akan berfikir yang tidak tidak.."
Naya sedikit ketakutan saat melihat Andre berada di dalam rumahnya...
Andre pun tersenyum..
"Jangan khawatir Nay, aku sudah mengendalikannya. Dhika sedang rapat dan dia masih dua jam lagi untuk pulang. Nay maaf aku kesini cuma mau kasih ini.
Nay tolong jelaskan alasan kamu mempertahankan janin yang ada di rahim kamu, kamu tahu itu berbahaya untuk kamu Nay."
Andre menatap kearah Naya sembari mencari jawaban di mata Naya..
Naya pun tersenyum..
"Kamu sudah tahu Mas, oh iya kamu kan dokter jadi pasti kamu mudah untuk mengetahuinya.. Mas aku mempertahankan janin ini bukan tanpa alasan, ini adalah buah cintaku dan Mas Dhika. Jadi biarpun nanti aku pergi akan ada seseorang yang akan mendampingi san juga menjaga Mas Dhika..
Airmata Naya mulai meleleh ketika menjelaskan kepada Andre..
"Kamu itu memang aneh Nay,,aku gak habis pikir kenapa kamu kayak gini? Seharusnya kamu fokus pada kesembuhan kamu. Nay penyakit kamu itu masih bisa di sembuhakan tapi kenapa kamu memilih jalan ini NYa kenapa?"
Suara Andre semakin terdengar meninggi..
Naya hanya tersenyum dan kemudian tertawa..
__ADS_1
"Gak apa apa Mas aku hanya ingin menikmati sisa waktuku dengan Mas Dhika. Ini susah menjadi keputusanku Mas aku minta Mas mengerti."
Andre pun menyerah dengan keputusan Naya, Andre hanya bisa berharap Naya akan merubah naitnya tersebut...