Arti Sebuah Pernikahan

Arti Sebuah Pernikahan
Bab 06


__ADS_3

Naya hanya bisa tersenyum sembari meratapi keputusan yang telah dia ambil, keputusan untuk menikahi Dhika anak dari majikannya...


"Ya Allah kuatkanlah aku dalam menjalani semua keputusan yang telah aku ambil, jangan pernah hilangkan iman dan takwaku kepadamu ya Allah." ucap Naya sembari menitikan airmata..


Sementara itu Dhika lebih memilih menghabiskan waktu atau menghabiskan malam pertama nya dengan teman temannya di club tanpa sepengetahuan Tuan Akhmad..


Naya hanya bisa menangis dalam hati tentang apa yang dia rasakan saat ini...


"Kuat Nay, kamu kuat.." ucap Naya mencoba menguatkan dirinya sendiri.


Dhika yang sedang asik menikmati malamnya pun yiba tiba saja mengingat bagaimana dengan perasaan Naya namun Dhika kembali untuk masa bodoh dengan semuanya..


"Maafkan Dhika Bunda,perasaan Dhika tak dapat di paksakan." ucap Dhika dalam hatinya..


Pada keesokan harinya, Dhika baru pulang pada pukul lima pagi, tentunya sebelum sang Ayah bangun..


Dhika melihat Naya yang sudah sibuk di dapur pun tak menegur, Dhika langsung berlalu pergi ke kamarnya dan langsung tidur..


Naya pun hanya tersenyum setelah melihat Dhika pulang..

__ADS_1


Naya pun sudah membulatkan tekadnya untuk menjalani semuanya sekuat hatinya..


Naya tak lagi memikirkan tentang perasaannya baginya yang terpenting amanah sang Bunda bisa dia jalani..


Naya pun melanjutkan pekerjaannya kemudian menyiapkan sarapan untuk sang Ayah mertua.


Tepat pukul tujuh pagi Tuan Akhmad pun kekaur dari dalam kamarnya dan langsung tersenyum menyaap sang menantu yang masih sibuk dengan urusannya..


Tuan Akhmad mendekat kearah Naya yanh sedang menyiapkan sarapan..


"Selamat pagi menantuku.." ucap Tuan Akhmad menyapa Naya..


"Pagi juga Ayah,,Ayah kok sudah bangun. Oh iya Ayah mau disiapkan sarapan apa?" tanya Naya sembari tersenyum...


Tuan Akhmad pun tersenyum..


"Apa aja Nak, oh iya mana suami kamu? Apa dia masih tidur?" tanya Tuan Akhmad lirih..


"Mas Dhika masih tidur Ayah.." ucap Naya menutupi kenyataan yang ada..

__ADS_1


Tuan Akhmad pun tersenyum...


"Semoga secepatnya Ayah bisa dapat cucu ya.." ucap Tuan Akhmad sembari tersenyum kemudian pergi meninggalkan Naya di dapur..


"Iya Ayah doain yang terbaik saja." ucap Naya sembari tersenyum..


Naya pun merasa sedih tak kala mengingat ucapan sang Ayah Mertua yang menginginkan cucu..


"Ayah tak tahu bagaimana Mas Dhika bersikap kepadaku,tapi sudahlah cukup Naya rasakan saja yang penting Ayah tahu kalau kami baik baik saja." ucap Naya tak terasa airmatanya jatuh menetes di kedua plupuk matanya..


Setelah selesai sarapan Tuan Akhmad langsung pergi menuju kantor sementara itu Naya sepeti bisa mengurus rumah. Sementara Dhika hanya beemalas malasan dirumah karena dia masih ingin libur bekerja..


Dhika pun pergi bersama teman temannya seperti bisaa Naya hanya bisa menatap kearah Dhika tanpa berani melarang..


"Aku mau pergi sama teman temanku kalau kamu berani ngadu yang macam macam sama Ayah awas aja kamu. Aku harap kamu selalu ingat apa posisi kamu di rumah ini." ucap Dhika sembari pergi..


Duri tajam serasa menusuk jantung Naya, ucapan Dhika sungguh membuatnya terluka? Naya tak pernah menyangka bahwa Dhika lelaki yang awalnya sangat baik kini berubah bahkan sesaat setelah dia menikahinya..


Lagi lagi Naya hanya bisa menarik nafas panjang dan membuangnya secara berlahan..

__ADS_1


"Sabar Naya kamu harus sabar.." ucap Naya mencoba menutupi rasa sakit di hatinya....


__ADS_2